Senin, 28 September 2026
10:37 WIB
TERKINI
Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Hukum Sorotan Tajam: Hunian Mewah di Area Asimilasi Lapas Cibinong Jadi Perdebatan Kolom Mahkamah Konstitusi Kubur Ambang Batas Pilpres, Desakan Tak Menghidupkan Kembali Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Hukum Sorotan Tajam: Hunian Mewah di Area Asimilasi Lapas Cibinong Jadi Perdebatan Kolom Mahkamah Konstitusi Kubur Ambang Batas Pilpres, Desakan Tak Menghidupkan Kembali Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal
Tempel 1

Tempel 1

komet berkala

250px-Tempel_1_%28PIA02127%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Nukleus komet 9P/Tempel 1 (hasil pencitraan wahana penabrak Deep Impact).

Tempel 1 (nama resmi: 9P/Tempel 1) adalah sebuah komet periodik yang ditemukan pada 3 April 1867 oleh Ernst Wilhelm Leberecht Tempel, seorang ahli astronomi di Marseille.

Pada saat ditemukan, Tempel 1 mencapai periphelion setiap 5,68 tahun. Komet ini kemudian diamati pada tahun 1873 dan 1879. Meskipun begitu, orbit Tempel 1 kadang membawanya hingga cukup dekat dengan Jupiter sehingga orbitnya berubah dan masa pengorbitannya pun turut berubah karenanya. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1881, memperpanjang masa pengorbitan hingga 6,5 tahun. Periphelionnya juga berubah, meningkat hingga 50 juta kilometer, dan mengakibatkannya terlihat kurang jelas dari Bumi. Akibatnya, ahli-ahli astronomi kehilangan jejaknya dan mengira bahwa ia telah hancur. Tempel 1 ditemukan kembali pada tahun 1960-an setelah ahli astronomi Amerika Brian G. Marsden melakukan perhitungan akurat terhadap orbit komet tersebut dengan turut menghitung akibat dari gangguan Jupiter. Masa pengorbitannya kini adalah 5,5 tahun.

Tempel 1 bukan merupakan komet yang terang; magnitudo maksimumnya hingga kini adalah 11, jauh di bawah kemampuan penglihatan mata telanjang. Ukurannya diyakini adalah 14 x 4 kilometer, berdasarkan pengukuran yang dilakukan Teleskop Hubble pada keadaan cahaya yang tampak dan Teleskop Spitzer dalam sinar inframerah. Menggabungkan pengamatan-pengamatan ini menghasilkan albedo yang rendah sebesar 4% dan memastikan tingkat rotasi sebanyak dua hari.

Misi luar angkasa Deep Impact

250px-HRIV_Impact.gif?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Animasi penabrakan Tempel 1 oleh Deep Impact.
250px-Tempel1_orbit.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Pada 4 Juli 2005 pukul 05:52 UTC, Tempel 1 ditabrakkan wahana penabrak NASA bernama Deep Impact. Teleskop-teleskop Bumi dan luar angkasa mengamati penerangan sebesar beberapa magnitudo setelah tabrakan terjadi sementara bagian pengamat Deep Impact merekam semburan yang terang dari lokasi tabrakan.

Rincian tepat mengenai kawah yang dihasilkan tabrakan tersebut masih belum diketahui. Diyakini bahwa kawah tersebut bisa mempunyai diameter mencapai 200 meter dan kedalaman sebesar 30–50 m, tetapi kawah tersebut bisa juga lebih kecil tergantung komposisi dan struktur Tempel 1. Tujuan misi Deep Impact adalah untuk mempelajari komposisi interior nukleus sebuah komet.

Lihat pula

Pranala luar

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Deep Impact (space mission).
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan