Minggu, 04 Oktober 2026
16:55 WIB
TERKINI
Lampung Musim Hujan Lampung 2026/2027: BMKG Prediksi Puncak Januari, Awalnya Mundur Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 4 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan Ringan Hukum Pakar Hukum Unila: Objektivitas Fakta Krusial dalam Kasus Diksar Mahepel Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Lampung Musim Hujan Lampung 2026/2027: BMKG Prediksi Puncak Januari, Awalnya Mundur Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 4 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan Ringan Hukum Pakar Hukum Unila: Objektivitas Fakta Krusial dalam Kasus Diksar Mahepel Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya
Tarian Garba

Tarian Garba

Bagikan:
250px-Navratri_garba_at_Ambaji_temple.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tarian Garba di Kuil Ambaji

Tarian Garba adalah tarian khas masyarakat Gujarat, India, yang berasal muasal dari tradisi Hindu. Nama “Garba” berasal dari kata dalam bahasa Sanskerta, yaitu garbha, yang bermakna “rahim” atau “kehidupan.” Tarian biasanya dilakukan membentuk bidang datar lingkaran, mengelilingi sebuah lentera bernama Garba Deep, atau di sekitar gambar Dewi Durga.[1] Lentera ini mempunyai makna dan menggambarkan arti dari kehidupan dan kehadiran unsur ilahi dalam diri manusia.

Pada festival Navratri, yang dirayakan selama sembilan malam, Garba menjadi simbol spiritual penting. Dalam pandangan Hindu, siklus hidup diwakili melalui gerakan para penari yang berputar dalam lingkaran, merepresentasikan kelahiran, kehidupan, kematian, dan kelahiran kembali.[2] Sementara para penari terus menerus bergerak, Dewi Durga yang menjadi pusat tarian tetap berada di tempatnya, menggambarkan keteguhan Tuhan di tengah perubahan yang tak henti.

Makna lain yang melekat pada lentera Garba Deep adalah simbol tubuh manusia yang di dalamnya bersemayam energi ilahi. Tarian ini pun dihormati sebagai bentuk penghargaan terhadap keyakinan bahwa setiap manusia memiliki percikan energi Dewi dalam dirinya.[3]

Musik dan busana

250px-Traditional_Folk_dance_garba_dress.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Busana tarian Garba

Musik untuk Garba biasanya melibatkan alat musik tradisional seperti dhol, tabla, dan harmonium. Lagu yang diiringi berupa bentuk pujian untuk Dewi Durga, sering dinyanyikan untuk memberi energi dan semangat kepada para penari. Penari Garba mengenakan pakaian tradisional yang berwarna cerah. Perempuan biasanya mengenakan “chaniya choli” yang dihiasi cermin dan bordiran, sementara pria mengenakan “kediyu” atau baju khas yang serasi. [4]

Garba dan Dandiya

250px-Rrrraas%21.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pertunjukan Dandiya Raas oleh para penari si Ithaca, New York, pada tahun 2004.

Selain tarian Garba, tarian lain yang sering dilakukan selama perayaan Navratri adalah Dandiya Raas. Meskipun terlihat mirip, Dandiya melibatkan penggunaan tongkat kecil yang disebut dandiya, yang dipukulkan secara berirama selama tarian berlangsung. Kedua tarian ini sering dilakukan secara bergantian selama festival, dan keduanya menjadi sebuah ikon dari perayaan Navratri, khususnya di Gujarat dan Maharashtra. Garba dan Dandiya telah menjadi bagian dari warisan budaya India dan kini bahkan dilakukan dalam komunitas India di seluruh dunia. [5]Termasuk tarian ini telah dipertunjukkan di acara Car Free Day (CFD) di Bundaran HI, Jakarta, pada September 2024.[6]

Referensi

  1. ↑ "Durga Puja | Festival, Mythology, Traditions, & Facts | Britannica". www.britannica.com (dalam bahasa Inggris). 2024-10-21. Diakses tanggal 2024-11-12.
  2. ↑ McDermott, Rachel Fell. “Durga Puja in Calcutta: Hindu Ritual as Process.” The Journal of Ritual Studies, vol. 9, no. 2, 1995, pp. 89-106.
  3. ↑ Saha, Sukanya (2022). "Garba: Traditional Significance and Modern Adaptations". Studies in Cultural Diversity and Innovation. No 2. ARF Journals.{{cite journal}}: |volume= memiliki teks tambahan
  4. ↑ "Garba: Where Culture Meets the Dance Floor". SARI. Australian National University. Diakses tanggal 2024-11-12.
  5. ↑ "UNESCO declares Gujarat's Garba as intangible cultural heritage". The Times of India. 2024-11-10. Diakses tanggal 2024-11-12.
  6. ↑ "Warga India Menari Garba di CFD Jakpus Disambut Antusias Pengunjung". Detik News. 15 September 2024. Diakses tanggal 13 November 2024.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan