Kamis, 15 Oktober 2026
23:36 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M

Taksonomi numerik

Bagikan:
Artikel ini membutuhkan lebih banyak rujukan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Taksonomi numerik" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(Desember 2025)

Taksonomi numerik adalah suatu sistem klasifikasi dalam sistematika biologi. Tujuannya adalah menyusun taksonomi biologis berdasarkan ciri-ciri morfologis. Dalam prosesnya, metode komputasi—terutama analisis klaster—digunakan secara intensif. Konsep taksonomi numerik dikembangkan pada tahun 1961 oleh Robert R. Sokal dan Peter Sneath (1923–2011) dalam buku Principles of Numerical Taxonomy.

Motivasi dan Praktik

Orientasi morfologis dalam taksonomi numerik sejak awal sudah berada dalam kontras dengan sebagian besar teori dan praktik taksonomi lainnya. Mayoritas sistematika biologi berorientasi pada perkembangan filogenetik. Penghindaran pertimbangan-pertimbangan evolusioner justru merupakan tujuan eksplisit Sokal dan Sneath. Sasarannya adalah mengembangkan suatu sistem taksonomi yang bersifat umum, sebisa mungkin bebas teori, dan dapat berlaku secara setara bagi berbagai disiplin seperti ekologi, biologi evolusi, dan paleontologi.[butuh rujukan]

Taksonomi numerik bergantung pada sejumlah besar ciri morfologis, yang semuanya harus dapat diamati dan diukur. Untuk setiap individu, tingkat kemunculan ciri-ciri tersebut ditentukan. Dengan metode komputasi yang kompleks, diharapkan dapat ditemukan ukuran objektif mengenai tingkat kemiripan antarindividu. Tingkat kemiripan tersebut kemudian dapat digunakan sebagai dasar bagi suatu sistem taksonomi.[butuh rujukan]

Kritik dan Penerimaan dalam Riset

Taksonomi numerik tidak berhasil menjadi arus utama dalam sistematika biologi. Di satu sisi, para ahli biologi evolusi menolak taksonomi yang sepenuhnya berorientasi morfologi sebagai sesuatu yang tidak realistis. Di sisi lain, terdapat keberatan ilmiah-teoretis yang serius terhadap konsep fenetik mengenai taksonomi objektif. Konsep spesies morfologis sebagian bersifat subjektif karena bergantung pada pemilihan dan pembobotan ciri-ciri morfologis, yang sering dipengaruhi oleh metodologi yang tersedia dan kepentingan penelitian tertentu.[butuh rujukan]

Selain itu, mayoritas taksonom saat ini berpendapat bahwa taksonomi harus berorientasi pada kriteria filogenetik. Karena algoritma klaster yang digunakan dalam taksonomi numerik tidak membedakan antara ciri konvergen dan homolog, metode ini dalam banyak kasus gagal merekonstruksi proses filogenetik (evolusioner) secara benar. Evolusi konvergen sering memengaruhi banyak ciri morfologis secara bersamaan (misalnya pada perbandingan antara burung dan kelelawar), sehingga penilaian kuantitatif semata dapat menyesatkan.[butuh rujukan]

Namun, permasalahan tersebut tidak menghilangkan fakta bahwa taksonomi numerik tetap digunakan secara sukses dalam beberapa bidang tertentu—terutama di bidang-bidang di mana konsep spesies lain tidak dapat diterapkan. Hal ini terjadi, misalnya, dalam paleontologi, di mana konsep spesies biologis Ernst Mayr sering tidak dapat digunakan karena biasanya tidak tersedia informasi tentang kemampuan reproduksi organisme.[butuh rujukan]

Meski demikian, klaim bahwa taksonomi numerik dapat menjadi metode taksonomi universal dapat dianggap telah gagal. Namun hal ini tidak berarti bahwa fenetik tidak dapat memiliki tempat permanen dalam pluralitas sistem taksonomi.[butuh rujukan]

Taksonomi Numerik dalam Linguistik

Mengikuti pendekatan Sokal/Sneath, klasifikasi juga dilakukan dalam berbagai bidang linguistik. Tujuannya, seperti dalam biologi, adalah menggunakan metode klasifikasi yang seobjektif mungkin. Dalam penerapannya pada pertanyaan-pertanyaan tipologi bahasa, berdasarkan ciri morfologis dan sintaktis bahasa, diperoleh hasil yang sebagian besar sejalan dengan klasifikasi historis.[1] Upaya klasifikatoris lainnya didasarkan pada sifat distribusional fonem-fonem bahasa.[2]

Referensi

  1. ↑ Altmann, Gabriel; Lehfeldt, Werner (1973). Allgemeine Sprachtypologie: Prinzipien und Meßverfahren. UTB Linguistik. München: Fink. ISBN 978-3-7705-0938-6.
  2. ↑ Altmann, Gabriel; Lehfeldt, Werner (1980). Einführung in die quantitative Phonologie. Quantitative linguistics. Bochum: Studienverlag Brockmeyer. ISBN 978-3-88339-150-2.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan