| Nieuws-, Handels en Advertentie-blad | |
| Tipe | Surat kabar mingguan (pada awal terbit) dan menjadi dua hari sekali. |
|---|---|
| Pemimpin redaksi | Louis Numa Hipolite Arthur Chatelin |
| Didirikan | 1859 |
| Bahasa | Bahasa Belanda |
| Pusat | Padang |
Sumatra Courant. Nieuws-, Handels- en Advertentie-blad adalah surat kabar mingguan berbahasa Belanda yang terbit di Kota Padang. Kantor redaksinya berada di Kampung Pondok. Surat kabar ini memuat berita tentang Sumatra dan Hindia Belanda, terutama menyangkut perdagangan. Surat kabar ini tercatat sebagai surat kabar pertama di Sumatra.[1]
Penerbitan surat kabar ini ditujukan untuk komunitas Eropa di Pantai Barat Sumatra, yang jumlahnya sekitar 1.300 orang pada awal dekade 1860-an.[2][3]
Sejarah
Padangsch Nieuws- en Advertentieblad
Padangsch Nieuws- en Advertentieblad diawali dengen penerbitan tiga nomor contoh. Nomor pertama terbit 17 Desember 1859. Adapun tahun pertama penerbitan dihitung dari 1860. Edisinya terbit sekali seminggu setiap Sabtu. Gerard mencatat, penerbitan surat kabar di Padang merupakan tantangan karena hanya memiliki komunitas Eropa yang begitu kecil dan terisolasi.[4]
Penerbitan Padangsch Nieuws- en Advertentieblad dilakukan oleh Roeland Henri van Wijk Roelandszoon, seorang pengusaha penerbitan di Padang yang berusia 28 tahun. Pada 12 November 1860, ia berkongsi dengan Pieter Bernhard van Zadelhoff, seorang pemilik toko buku, mendirikan penerbit baru. Namun, pada 15 Desember 1861, Roeland meninggal dunia.[3]
Sumatra Courant
Pada 14–15 Mei 1862, hak penerbitan Padangsch Nieuws- en Advertentieblad dilelang oleh agen ahli warisnya, J. Matthijssen.[5] Pieter Bernhard bekerja sama dengan W. F. Fabritius,[6] seorang pemilik mesin cetak, melanjutkan penerbitan surat kabar dan mengganti namanya menjadi Sumatra Courant pada pertengahan Juni 1862.[3]
Sumatra Courant masih terbit sekali seminggu hingga 1866.[4] Salah seorang penulis tetapnya adalah A. W. A. Scholte, seorang mantan pegawai tentara lapangan.[3] Menurut Gerard, Sumatra Courant juga memperkenalkan rubrik feuilleton. Di sini, E. Netscher menulis tentang perjalanannya ke Riau. Tulisan lainnya, yakni laporan mengenai Pulau Nias, perjalanan ke Siak, dan pengalaman di Lampung.[4]
Pada Mei 1867, Sumatra Courant diakuisisi oleh Louis Numa Hipolite Arthur Chatelin, seorang Indo pemilik mesin cetak. Dari penelusuran A.M. Harahap, nilai biaya akuisisi sekitar f2.500. Chatelin sekaligus bertindak sebagai pemimpin redaksi. Ia sebelumnya bekerja di Java-Bode dan bergabung dengan Sumatra Courant pada Februari 1866.[2] Pada 1868, frekuensi penerbitan Sumatra Courant ditingkatkan menjadi dua kali seminggu, yakni pada hari Rabu dan Sabtu.[4][2] Dalam catatan Gerard, Chatelin mengambil jarak dalam pertarungan politik antara konservatif dan liberal, tetapi mengakui keberpihakannya pada prinsip liberal, sebagaimana terlihat ketika ia membela Busken Huet, redaktur baru Java-Bode.
Sumatra Courant dikelola di bawah vennootschap sejak 1877. Pada 1878, H.A. Mess (yang awalnya merupakan assistant editor) mengambil alih kepemilikan surat kabar dan menjadikan Sumatra Courant terbit tiga kali seminggu.[7] Chatelin tetap bertindak sebagai pemimpin redaksi, tetapi sebentar. Untuk alasan yang "tidak jelas", ia absen dari redaksi dan muncul kembali pada pertengan 1880.[2]
Harga langganannya sebesar 15 gulden per semester.
Rubrik
Sumatra Courant menampilkan editorial Chatelin (khususnya tentang Sumatra dan berita umum Hindia Belanda) dan bertia mingguan. Surat kabar ini memiliki koresponden di Batavia serta Eropa. Selanjutnya, terdapat rubrik "Wetenschappelijke Kout", "Mengelwerk", dan "Kroniek".[2]
J. W. Young menjadi kontributor tetap untuk berita umum Tionghoa.[2] Ia yang kelak dikenal sebagai penulis Uit de Indo-Chineesche samenleving yang terbit pada 1895.
Pada 1883, Arnold Snackey bergabung dengan Sumatra Courant. Ia mengasuh rubrik "Taal-, land- en volkenkundige snippers" dan "Uit de Maleische pers". Ia juga sempat menjadi menjadi wakil pemimpin redaksi pada 1884.[2] A. Chatelin, putra Chatelin, bergabung pada 1883 dan menjabat wakil pemimpin redaksi pada 1889.
Rubrik seni dan sastra diperkenalkan tahun 1891. Sejak 1896, ditawarkan “Geïllustreerd Bijblad” untuk hari Minggu.
Akhir terbit
Pada 6 April 1899, Chatelin menulis di surat kabar menyampaikan "ucapan selamat tinggal". Sejak itu, ia tidak lagi menulis editorial. Kesehatan Chatelin memburuk sejak beberapa tahun sebelumnya sehiggga ia sering absen dari pekerjaaan, termasuk menulis editorial. Sementara itu, putranya, Chatelin junior hampir tidak pernah menulis editorial. Pada 6 April 1899, Chatelin menulis di surat kabar menyampaikan "ucapan selamat tinggal". Sejak itu, ia tidak lagi menulis editorial.
Sumatra Courant meningkatkan frekuensi terbit menjadi empat kali seminggu pada 26 September 1891 dan menjadi surat kabar harian sejak Mei 1897. Harga langganan diturunkan menjadi 10 gulden per semester.
Chatelin meninggal dunia karena sakit pada 7 Maret 1900 dalam usia 59 tahun.[2] Surat kabar ini berhenti terbit pada 11 Agustus 1900. Aset-asetnya dijual kepada Snelpersdrukkerij Insulinde.[2]
Menurut sejarawan Rusli Amran, Sumatra Courant melebur dengan surat kabar Nieuw Padangsch Handelsblad. Hasil penggabungan melahirkan surat kabar baru bernama De Padanger yang edisi pertamanya terbit pada 13 Agustus 1900.[1]
Lihat pula
Referensi
- 1 2 Amran, Rusli (1988). Padang riwayatmu dulu. Yasaguna.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Termorshuizen, Gerard (2001). Journalisten en heethoofden: een geschiedenis van de Indisch-Nederlandse dagbladpers, 1744-1905 (dalam bahasa Belanda). Nijgh & Van Ditmar. ISBN 978-90-388-7426-5.
- 1 2 3 4 Adam, Ahmat. Suara Minangkabau: Sejarah dan Bibliografi Akhbar dan Majalah di Sumatera Barat (dalam bahasa Melayu). The University of Malaya Press. ISBN 978-983-100-937-6.
- 1 2 3 4 Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen deel XXXVII.
- ↑ Padang Nieuws en Advertentieblad.
- ↑ Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar ... (dalam bahasa Belanda). Lands Drukkery.
- ↑ Amran, Rusli (1988). Padang riwayatmu dulu. Yasaguna.