Minggu, 25 Oktober 2026
00:56 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung
Pesisir Barat Sumatra

Pesisir Barat Sumatra

Bagikan:
Artikel ini bukan mengenai Dataran Tinggi Minangkabau.
Pesisir Barat Sumatra
Residensi di Hindia Belanda
1819–1942
250px-Sumatra%27s_Westkust.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peta Pesisir Barat Sumatra
Ibu kotaPadang
Sejarah
Sejarah 
• Pembentukan
1819
14 Februari – 28 Maret 1942
Didahului olehDigantikan oleh
krjKerajaan
Pagaruyung
Pendudukan Sumatera Barat oleh Jepang
Sekarang bagian dariSumatera Barat

Pesisir Barat Sumatra (bahasa Belanda: Sumatra's Westkust, disingkat SWK) merujuk pada daerah administratif di Hindia Belanda yang meliputi kawasan pesisir barat Sumatra, termasuk Kepulauan Mentawai, Nias, Banyak, dan Batu. Daerah ini awalnya berstatus keresidenan pada 1819, naik menjadi gouvernement mulai 1837, dan kembali menjadi keresidenan sejak 1914 hingga diduduki Jepang pada 1942. Pusat pemerintahan Pesisir Barat Sumatra terletak di Padang.

Saat berstatus gouvernement, Pesisir Barat Sumatra pernah menaungi sejumlah keresidenan, yakni Padangsche Bovenlanden, Padangsche Benedenlanden, Bengkulu, Tapanuli, Singkil, Rokan Hulu, Kampar, Kuantan Singingi, dan Kerinci. Saat ini, sebagian daerah Pesisir Barat Sumatra diwarisi oleh Provinsi Sumatera Barat, sementara sebagian lainnya digabungkan ke Provinsi Aceh (Singkil), Sumatera Utara (Kepulauan Batu, Nias dan Tapanuli), Riau (Rokan Hulu, Kampar, dan Kuantan Singingi), Jambi (Kerinci), dan Bengkulu.

Hingga tahun 1862, Pesisir Barat Sumatra dipimpin oleh perwira menengah, dan antara tahun 1862-1915 dipimpin oleh gubernur sipil. Pemimpin terkenal di daerah ini adalah Andreas Victor Michiels (1838-1849), Jan van Swieten (1849-1858), dan Elisa Netscher (1870-1878).

Kronik

Kediaman gubernur Westkust van Sumatra atau "pantai barat Sumatra" (litografi berdasarkan lukisan oleh Josias Cornelis Rappard, 1883-1889)

Pada awal bulan Oktober 1842, pengawas Eduard Douwes Dekker tiba di Pesisir Barat Sumatra.

Pendeta Marius Buys mengadakan lawatan di daerah ini antara tahun 1878-1879. Cetakannya diterbitkan sebagai cerita bersambung dalam Opregte Haarlemsche Courant antara tahun 1878-1882, dan kemudian diterbitkan sebagai buku.

Kelanjutan

Selama pendudukan tentara Jepang dari 1942 sampai 1945, daerah Pesisir Barat Sumatra yang berstatus keresiden dinamakan Sumatora Nishi Kaigan Shu.[1][2]

Daftar penguasa

Hindia Belanda

Penguasa yang pernah memerintah di Sumatra’s Westkust.[3][4][5]

Pendudukan Jepang

Rujukan

  1. ↑ "Sedjarah Minangkabau". Bhratara. 16 Agu 1970. Diakses tanggal 16 Agu 2024 – via Google Books.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |accessdate= and |date=
  2. ↑ Asnan, Gusti (16 Agu 2007). "Memikir ulang regionalisme: Sumatera Barat tahun 1950-an". Yayasan Obor Indonesia. Diakses tanggal 16 Agu 2024 – via Google Books.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |accessdate= and |date=
  3. ↑ "Perkembangan kota Padang 1870-1945". Diakses tanggal 16 Agu 2024.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |accessdate=
  4. ↑ Amran, Rusli (1988). Sumatera Barat, pemberontakan pajak, 1908. Gita Karya.
  5. ↑ Asnan, Gusti (2006). Pemerintahan daerah Sumatera Barat dari VOC hingga reformasi. Citra Pustaka. ISBN 978-979-25-3698-0.

Bibliografi

  • Buys, Marius. Twee jaren op Sumatra's Westkust, Amsterdam 1886
  • Gusti Asnan, Pemerintah Daerah Sumatera Barat dari VOC hingga Reformasi, Yogyakarta: Citra Pustaka, 2006.

Lihat pula

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan