Minggu, 04 Oktober 2026
15:07 WIB
TERKINI
Lampung Musim Hujan Lampung 2026/2027: BMKG Prediksi Puncak Januari, Awalnya Mundur Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 4 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan Ringan Hukum Pakar Hukum Unila: Objektivitas Fakta Krusial dalam Kasus Diksar Mahepel Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Lampung Musim Hujan Lampung 2026/2027: BMKG Prediksi Puncak Januari, Awalnya Mundur Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 4 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan Ringan Hukum Pakar Hukum Unila: Objektivitas Fakta Krusial dalam Kasus Diksar Mahepel Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya

Iskandar dari Johor

Sultan Johor

Bagikan:
Mahmud Iskandar
Al-Mutawakkil Alallah
Yang di-Pertuan Agong Malaysia Ke-8
Sultan Johor Darul Takzim
سلطان إسکندر إبن المرحوم سلطان إسماعيل
Yang di-Pertuan Agong ke-8
Berkuasa26 April 1984 – 25 April 1989[1]
PendahuluSultan Haji Ahmad Shah Al-Musta’in Billah Ibni Al-Marhum Sultan Abu Bakar Ri'Ayatuddin Al Mu'azzam Shah
PenerusSultan Azlan Muhibbuddin Shah Ibni Al-Marhum Sultan Yusuff Izzuddin Shah Ghafarullahu-lah
WaliTunku Mahkota Ibrahim Ismail
Sultan Johor ke-4
Berkuasa11 Mei 1981 - 22 Januari 2010
PendahuluSultan Ismail Al Khalidi
PenerusSultan Ibrahim Ismail
Lahir(1932-04-08)8 April 1932
Johor Bahru, Johor, Malaya Britania
Meninggal22 Januari 2010(2010-01-22) (umur 77)
Johor Bahru, Johor, Malaysia
Pemakaman23 Januari 2010
Mahmoodiah Royal Mausoleum, Johor Bahru, Johor
AyahSultan Ismail Al Khalidi Ibni Al Marhum Sultan Sir Ibrahim Al Masyhur
IbuSultanah Ungku Tun Aminah
PasanganKalsom binti Abdullah[2]
née Josephine Trevorrow (1956–1962)
Sultanah Zanariah Binti Almarhum Tengku Ahmad Panglima Raja (1961–2010)
Keturunan1. Tunku Puteri Kamariah Aminah Maimunah Iskandariah
2. Tunku Besar Zabedah Aminah Maimunah Iskandariah
3. Sultan Ibrahim Ismail
4. Tunku Azizah Aminah Maimunah Iskandariah
5. Tunku Mariam Zahrah
6. Tunku Norani Fatimah
7. Tunku Maimunah Ismailiah
8. Tunku Aris Bendahara Johor Tunku Abdul Majid
9. Tunku Muna Najiah
10. Tunku Aminah Kalsom Iskandariah
Nama lengkap
Mahmud Iskandar Al-Haj ibni Ismail Al-Khalidi[3]
Nama takhta
Duli Yang Maha Mulia Baginda Al Mutawakkil Alallah Sultan Mahmud Iskandar Al Haj Ibni Al-Marhum Sultan Sir Ismail Al Khalidi
Nama anumerta
Al Marhum Duli Yang Maha Mulia Baginda Al Mutawakkil Alallah Sultan Mahmud Iskandar Al Haj Ibni Al Marhum Sultan Sir Ismail Al Khalidi
WangsaWangsa Temenggong (Johor)
AgamaSunni Islam[1]

Duli Yang Maha Mulia Baginda Al Mutawakkil Alallah Sultan Iskandar Al Haj Ibni Al Marhum Sultan Sir Ismail Al Khalidi (8 April 1932 – 22 Januari 2010) merupakan Yang di-Pertuan Agong Malaysia yang ke-8, ia berkuasa dari tanggal 26 April 1984 hingga 25 April 1989. Sultan Iskandar berasal dari Johor Darul Ta'zim.

Keluarga

Merupakan putra sulung Sultan Ismail ibni Almarhum Sultan Ibrahim dengan permaisurinya Sultanah Aminah binti Ungku Ahmad, ia dinamai Tunku Mahmood Iskandar.

Sultan Iskandar telah bercerai dengan Josephine Trevorrow, dan kemudiannya menikah dengan Tengku Zanariah binti Tengku Panglima Raja Ahmad dari kerabat negeri Kelantan. Tengku Zanariah adalah istrinya yang bergelar sebagai Raja Permaisuri Agong dan Permaisuri Johor.

Tokoh kontroversial

Sebelum menjabat sebagai Sultan atau Yang Dipertuan Agong, dari periode tahun 1980-an hingga awal 1990-an, reputasinya sedikit banyak dirusak oleh sejumlah dugaan insiden kontroversial yang sesekali mendapat perhatian media. Salah satu insiden paling awal adalah hilangnya statusnya sebagai Putera Mahkota atau Tunku Mahkota Johor pada tahun 1961 yang baru sebelumnya baru ia jabat selama 2 tahun diduga karena perilaku buruknya[4] setelah laporan rahasia yang menyebutkan bahwa ia memenjarakan polisi diketahui oleh Sultan. Setelah kejadian itu, adik laki-lakinya, Tunku Abdul Rahman diangkat sebagai pewaris takhta Johor dengan gelar Tunku Mahkota. Pada 1966, Sultan Ismail melantik Tunku Mahmud Iskandar sebagai Raja Muda yang merupakan sebuah pangkat yang berada pada garis ke-2 suksesi pewaris takhta dibawah adiknya[5]

Terkait pengangkatannya sebagai Tunku Mahkota Johor untuk yang kedua kalinya mendapat penolakan dari beberapa kelompok yang mempertanyakan keabsahan keputusan tersebut karena mereka menyaksikan bahwa pengangkatan Tunku Mahmud Iskandar dilakukan disaat Sultan Ismail telah mengalami koma. Menurut catatan Sultan Ismail mengalami koma sejak 8 Mei 1981 tepatnya 3 hari sebelum kematiannya.

Perselisihan ini kemudian berlanjut disaat Menteri Besar Johor Tan Sri Dato' Othman Saat mempertanyakan legitimasi Sultan Iskandar atas takhta negeri Johor. Sebagai bentuk tindak lanjut dari sikap Menteri Besar Othman Saat, Sultan Iskandar kemudian mengeluarkan titah untuk mengosongkan kantor Menteri Besar dalam 24 jam tak lama setelah kemangkatan Sultan Ismail. Selain itu juga, Sultan Iskandar kemudian mencabut hak atas tanda kehormatan yang telah diberikan kepada Othman Saat dan diminta untuk mengembalikan seluruh tanda kehormatan tersebut.[6] Atas perintah Sultan Johor itu, Othman Saat kemudian melakukan pengosongan kantor Menteri Besar walaupun Sultan Iskandar kemudian tidak melakukan pemecatan seperti yang dia katakan sebelumnya. Tan Sri Othman Saat kemudian baru mengundurkan diri dari jabatan Menteri Besar pada tahun 1982.

Kemangkatan

Sultan Iskandar mangkat pada 22 Januari 2010 pukul 19.15 di Rumah Sakit Spesialis Puteri, Johor Bahru. Baginda mangkat setelah sebelumnya pada pagi hari ia dirawat karena sakit pada usia 77 tahun.[7] Kemangkatan Sultan Johor itu kemudian diumumkan secara resmi oleh Menteri Besar Johor saat itu, Dato' Abdul Ghani Othman pada pukul 23.20 dan diumumkan bahwa bendera Johor Darul Takzim dikibarkan separuh tiang mulai pukul 06.00 hingga 18.00 malam. Jenazah Almarhum Sultan Iskandar kemudian dibawa ke Istana Besar, Johor Bahru untuk disemayamkan serta memperbolehkan untuk kepada seluruh kalangan baik kerabat diraja, pejabat, dan rakyat untuk memberikan penghormatan terakhir. Jenazahnya kemudian dibawa ke Makam Diraja Mahmoodiah pada 23 Januari 2010 pada pukul 14.00.

Di antara yang turut hadir adalah Yang Dipertuan Agong Al Wathiqu Billah Tuanku Mizan Zainal Abidin dan Raja Permaisuri Agong Sultanah Nur Zahirah, Sultan Brunei Sultan Hassanal Bolkiah, Raja Perlis Tuanku Syed Sirajuddin Putra Jamalulail, Sultan Pahang Sultan Haji Ahmad Shah Al Musta'in Billah, Sultan Kedah Sultan Abdul Halim Mu'adzam Shah, Sultan Perak Sultan Azlan Muhibbuddin Shah, Sultan Selangor Sultan Sharafuddin Idris Shah, Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan Tuanku Muhriz, Pemangku Raja Perlis Tuanku Syed Faizuddin Putra Jamalullail, Tengku Mahkota Pahang Tengku Abdullah, dan Tengku Mahkota Kelantan Tengku Muhammad Faris Petra. Perdana Menteri, Dato' Sri Najib Razak yang saat itu melakukan kunjungan ke India mempersingkat kunjungan nya dan menghadiri pemakaman almarhum Sultan Iskandar. Selain itu, turut hadir pula Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong dan Menteri Senior Goh Chok Tong.

Tanda Kehormatan

Tanda Kehormatan Johor

Tanda Kehormatan Malaysia

Tanda Kehormatan Luar Negeri

Selama memangku jabatan Yang di-Pertuan Agong Malaysia ke-8 sejak 1984 hingga 1989, Baginda Al-Mutawakkil Alallah Sultan Iskandar telah menerima berbagai tanda kehormatan luar negeri yang dianugerahkan kepadanya sebagi bentuk pengakuan atas peran aktif dan strategisnya selama memimpin negara, diantaranya.[11]

NegaraTanggalTanda KehormatanPita HarianPost Nominal
 Brunei1988Darjah Kerabat Mahkota Brunei[12]60px-BRU_Royal_Family_Order_of_the_Crown_of_Brunei.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnailDKMB
1972Darjah Kerabat Laila Utama[13]60px-Family_Order_of_Laila_Utama_of_Brunei_ribbon_bar.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnailDK
 Indonesia1987Bintang Republik Indonesia Adipurna[14]60px-Pita_%28Ribbon%29_Bintang_Republik_Indonesia_Adipurna.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
 Jerman1986Grand Cross Special Class of the Order of Merit of the Federal Republic of Germany[13]60px-GER_Bundesverdienstkreuz_9_Sond_des_Grosskreuzes.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
 Korea Selatan3 November 1988Grand Order of Mugunghwa[13]60px-Grand_Order_of_Mugunghwa_%28South_Korea%29_-_ribbon_bar.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnailGOM
 Mali6 Mei 1985Grand Cross of the National Order of Mali60px-Mali_Ordre_national_du_Mali_GC_ribbon.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
 Thailand17 Desember 1985Knight of the Most Auspicious Order of the Rajamitrabhorn[15]60px-Order_of_the_Rajamitrabhorn_%28Thailand%29_ribbon.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnailKRM
 YordaniaGrand Cordon with Brilliants of the Supreme Order of the Renaissance[13]60px-JOR_Order_of_the_Renaissance_GC.SVG.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Referensi

  1. 1 2 Karim et al. (1990), pg 359
  2. ↑ The Who's who in Malaysia (1967), pg 198
  3. ↑ Tan, Chee Khoon (1985), pg 29
  4. ↑ Johore and the Origins of British Control, Nesalamar Nadarajah, pg 128
  5. ↑ Tengku is spelled as in Johor. Tengku Ahmad Rithauddeen: His Story, K.N. Nadarajah, pg 50
  6. ↑ "Sultan Titah Serah Pingat" (PDF). Berita Harian (dalam bahasa Malay). Perdana Leadership Foundation. 4 Mei 1982. Diakses tanggal 16 Oktober 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. ↑ "Sultan of Johor passes away (Updated)". The Star. Malaysia. 23 Januari 2010. Diarsipkan dari asli tanggal 23 Januari 2010. Diakses tanggal 22 Januari 2010.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. ↑ "2 kehormata kpd Menteri Besar Johor". Berita Harian. 28 Oktober 1959. hlm. 8.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. ↑ Johore Sultan honours 456 on his birthday. New Straits Times. 28 Oktober 1975.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  10. ↑ "DK I 1985". awards.selangor.gov.
  11. ↑ Wan Teh, Wan Hashim (1999). "Anugerah dan Pengiktirafan". Diakses tanggal 2025-12-31.
  12. ↑ "Brunei award for King". The Straits Times. 8 Agustus 1988.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  13. 1 2 3 4 "Johor di Persada Global – Portal Kesultanan Johor". Portal Kesultanan Johor. Johor Royal Council.
  14. ↑ "King Confers Award on President Suharto". Malaysian Digest. Vol. 18, no. 2. Kuala Lumpur: Federal Department of Information, Malaysia. Februari 1987. hlm. 3.{{cite magazine}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  15. ↑ แจ้งความสำนักนายกรัฐมนตรี เรื่อง ถวายเครื่องราชอิสริยาภรณ์ราชมิตราภรณ์ แด่ สมเด็จพระราชาธิบดีแห่งประเทศมาเลเซีย (PDF) (dalam bahasa Thai). ratchakitcha.soc.go.th. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 31 Desember 2014. Diakses tanggal 31 Desember 2014.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Lihat pula

Pranala luar

Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Sultan Ahmad Shah
(Sultan Pahang)
Yang di-Pertuan Agong
(Raja Malaysia)

26 April 1984 – 25 April 1989
Diteruskan oleh:
Sultan Azlan Shah
(Sultan Perak)
Didahului oleh:
Sultan Ismail
Sultan Johor
1973-2010
Diteruskan oleh:
Sultan Ibrahim Ismail
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan