Rabu, 04 November 2026
07:10 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare

Ali Ri'ayat Syah III dari Aceh

Bagikan:
Sultan Aceh yang memerintah pada 1604–1607Templat:SHORTDESC:Sultan Aceh yang memerintah pada 1604–1607
Ali Ri'ayat Syah III
علي رعاية شاه الثالث
Sultan Aceh
Sultan Kesultanan Aceh
BerkuasaApril 1604 – 4 April 1607
PenobatanApril 1604
PendahuluAlauddin Ri'ayat Syah Sayyid al-Mukammil
PenerusIskandar Muda
Sultan Muda dan penguasa pendamping Aceh
Berkuasaawal abad ke-17 – April 1604
SultanAlauddin Ri'ayat Syah Sayyid al-Mukammil
Wakil Sultan Aceh di Pidie
Berkuasasebelum 1601
PenerusSultan Husain
Lahirtidak diketahui
Kesultanan Aceh
Meninggal4 April 1607
kemungkinan Bandar Aceh Darussalam, Kesultanan Aceh
Pemakaman
tidak diketahui
AyahAlauddin Ri'ayat Syah Sayyid al-Mukammil
Ibutidak diketahui
Pasangantidak diketahui
Keturunantidak diketahui
Nama lengkap
Sultan Ali Ri'ayat Syah bin Sultan Alauddin Ri'ayat Syah
WangsaDarul Kamal
AgamaIslam Sunni
Kedudukan dan pemerintahan
Urutan historiografi modernSultan Aceh ke-11
Urutan tradisionaldapat dihitung sebagai Sultan Aceh ke-15 apabila penguasa Aceh sebelum Ali Mughayat Syah turut dimasukkan
Nama sebelum bertakhtaSultan Muda
Gelar takhtaAli Ri'ayat Syah
Ibu kotaBandar Aceh Darussalam
IstanaDalam Darud Dunia
Pendahuluayahnya, Alauddin Ri'ayat Syah Sayyid al-Mukammil
Peneruskemenakannya, Perkasa Alam/Iskandar Muda
Jabatan sebelum bertakhta
Penguasa pendampingMembantu menjalankan pemerintahan ketika ayahnya telah lanjut usia dan sakit
PidieSejumlah literatur Indonesia menyebutnya pernah menjadi wakil sultan di Pidie sebelum digantikan Sultan Husain sekitar 1601; keterangan ini tidak dinyatakan setegas itu dalam semua sumber lama
Kedudukan dinastiPutra sultan dan salah seorang calon utama pewaris takhta
Karier dan konflik militer
Kesetiaan40px-Flag_of_the_Aceh_Sultanate.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Kesultanan Aceh
Kedudukan militerSultan dan pemegang kekuasaan tertinggi atas angkatan perang Aceh
Masa komando1604–1607
Konflik utama
Kronologi
sebelum 1601Diduga pernah menjadi wakil sultan di Pidie menurut tradisi historiografi Indonesia
sekitar 1601Menjadi penguasa pendamping bagi ayahnya; Sultan Husain ditempatkan di Pidie
April 1604Ayahnya turun takhta atau digulingkan; Ali dinobatkan sebagai sultan
Desember 1604Utusan Aceh dari Republik Belanda tiba kembali
1605Paceklik dan konflik dengan Sultan Husain; Perkasa Alam ditangkap
akhir Juni 1606Armada Martim Afonso de Castro menyerang Aceh
17 Januari 1607Perjanjian dagang Aceh–VOC menurut sejumlah sumber Indonesia
4 April 1607Wafat mendadak; Perkasa Alam naik takhta sebagai Iskandar Muda

Sultan Ali Ri'ayat Syah III (Jawoë: علي رعاية شاه; meninggal 4 April 1607), yang sebelum bertakhta dikenal sebagai Sultan Muda, adalah Sultan Aceh yang memerintah sejak April 1604 hingga wafatnya. Dalam daftar yang memulai urutan Kesultanan Aceh dari Ali Mughayat Syah, ia merupakan sultan kesebelas. Dalam penomoran tradisional yang turut memasukkan beberapa penguasa Aceh, Meukuta Alam, dan Darul Kamal sebelum penyatuan kesultanan, ia dapat ditempatkan sebagai penguasa kelima belas.[1][2]

Pemerintahannya berlangsung hanya sekitar tiga tahun, tetapi mencakup beberapa peristiwa penting: pengambilalihan pemerintahan dari ayahnya yang telah lanjut usia, bencana kemarau dan kelaparan, pemberontakan Pidie, penahanan Perkasa Alam—kelak Sultan Iskandar Muda—serangan besar Portugis pada 1606, serta meluasnya hubungan dagang Aceh dengan VOC. Masa pemerintahannya merupakan tahap terakhir pergolakan dinasti sebelum tampilnya Iskandar Muda dan dimulainya masa ekspansi terbesar Kesultanan Aceh.[3][4]

Tidak banyak keterangan langsung mengenai kehidupan pribadi Ali. Tahun lahir, identitas ibunya, pasangan, keturunan, bentuk fisik, lokasi makam, dan sebab kematiannya tidak diketahui secara pasti. Sebaliknya, kehidupannya lebih banyak direkonstruksi melalui Hikayat Aceh, Bustan al-Salatin, laporan Portugis dan Belanda, serta telaah kritis para sejarawan modern.

Nama, gelar, dan penomoran

Sebelum menjadi sultan, Ali dikenal dengan gelar Sultan Muda. Dalam konteks ini, gelar tersebut tidak boleh disamakan dengan Sultan Muda yang menjadi sultan bayi Aceh pada 1579. Sebutan itu menunjukkan kedudukannya sebagai pangeran utama atau penguasa muda yang mendampingi sultan tua. Setelah naik takhta, ia mengambil gelar Sultan Ali Ri'ayat Syah. Angka urut “III” merupakan penomoran historiografi modern untuk membedakannya dari Ali Ri'ayat Syah I dan Ali Ri'ayat Syah II; angka tersebut bukan bagian yang terbukti terdapat dalam gelar sezamannya.

Sejumlah karya Indonesia menyebutnya hanya sebagai Sultan Muda Ali Riayat Shah. Djajadiningrat juga mencatat kekacauan penyebutan antara “Ali Ri'ayat Syah” dan “Ali Mughayat Syah” dalam beberapa salinan atau rekonstruksi silsilah. Karena itu, setiap koin, naskah, atau tradisi yang hanya memuat nama “Ali” tidak dengan sendirinya dapat dihubungkan dengan sultan ini.[5]

Asal-usul dan keluarga

Ali adalah putra Alauddin Ri'ayat Syah Sayyid al-Mukammil, sultan Aceh yang berkuasa sejak 1589. Ayahnya dikatakan berasal dari garis penguasa Aceh abad ke-15 dan merupakan putra Almalik Firman Syah, putra Muzaffar Syah. Garis keluarga ini dalam sejumlah tradisi dikaitkan dengan lingkungan Darul Kamal, walaupun penggunaan nama wangsa yang tetap untuk keluarga kerajaan Aceh awal tidak selalu konsisten.[6]

Susunan anak-anak Sayyid al-Mukammil yang biasa diberikan dalam rekonstruksi modern adalah:

  • Maharaja Diraja, yang meninggal sebelum ayahnya;
  • Ali atau Sultan Muda, kemudian Sultan Ali Ri'ayat Syah III;
  • Sultan Husain, penguasa bawahan Aceh di Pidie;
  • Sultan Abangta Meurah Upah, yang juga meninggal sebelum ayahnya;
  • Raja Putri;
  • Putri Raja Indrabangsa.

Putri Raja Indrabangsa menikah dengan Mansur Syah, seorang keturunan Alauddin al-Qahhar melalui Sultan Abdul Jalil. Perkawinan ini melahirkan Perkasa Alam. Dengan demikian, Perkasa Alam merupakan kemenakan Sultan Ali dari pihak ibu, sementara dari pihak ayah ia berasal dari cabang keturunan Ali Mughayat Syah. Gabungan dua garis dinasti tersebut kemudian menjadi salah satu dasar legitimasi Perkasa Alam ketika naik takhta sebagai Iskandar Muda.[7][8]

Sumber-sumber yang tersedia tidak menyebutkan pasangan atau anak Sultan Ali. Ketiadaan nama keturunan dalam kronik tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa ia tidak pernah menikah atau tidak mempunyai anak; hal itu hanya menunjukkan bahwa tidak ada keturunannya yang diketahui memainkan peranan penting dalam suksesi Aceh.

Sebelum menjadi sultan

Wakil sultan di Pidie

Sejumlah literatur sejarah Indonesia menyatakan bahwa Sultan Muda mula-mula ditempatkan sebagai wakil ayahnya di Pidie. Karena pemerintahannya di sana dianggap tidak memuaskan, ia disebut ditarik kembali ke Bandar Aceh sekitar 1601 untuk membantu ayahnya di pusat pemerintahan. Sultan Husain, yang sebelumnya dikatakan berada di Pasai, kemudian dipindahkan ke Pidie.[9]

Keterangan tersebut terutama diturunkan dari karya Mohammad Said dan penulis Indonesia kemudian. Sumber yang lebih dekat kepada tradisi Hikayat Aceh lebih tegas menyebut Sultan Muda sebagai penguasa pendamping bagi ayahnya, tetapi tidak selalu memberikan kronologi jabatan Pidie yang sama. Karena itu, kedudukannya sebagai wakil di Pidie dapat dicantumkan sebagai rekonstruksi, bukan sebagai jabatan yang tanggal awal dan akhirnya telah terbukti secara epigrafis.

Penguasa pendamping

Pada awal abad ke-17, Sayyid al-Mukammil telah lanjut usia dan kesehatannya menurun. Sultan Muda kemudian menjalankan sebagian tugas pemerintahan sebagai penguasa pendamping. Kedudukan ini memberinya akses kepada istana, angkatan perang, pejabat pelabuhan, dan jaringan orang kaya, tetapi juga menempatkannya dalam persaingan langsung dengan saudara serta kemenakannya.[10]

Tidak ada pertempuran sebelum masa pemerintahannya yang dapat dipastikan dipimpin sendiri oleh Sultan Muda. Oleh sebab itu, riwayat militernya sebelum 1604 sebaiknya tidak diperluas dengan kampanye yang sebenarnya berlangsung pada masa ayahnya tanpa bukti mengenai keterlibatan pribadi Ali.

Naik takhta

Pada April 1604, Sayyid al-Mukammil berhenti memerintah dan Sultan Muda naik takhta sebagai Ali Ri'ayat Syah. Sumber-sumber memberikan dua penafsiran berbeda. Satu versi menyebut sultan tua secara sukarela menyerahkan pemerintahan karena usia dan penyakit. Versi lain menyatakan bahwa Sultan Muda menggulingkan ayahnya dan kemudian menahannya.[10][9]

Tradisi yang sangat bermusuhan terhadap Ali bahkan menggambarkannya sebagai pangeran yang tamak dan tidak sabar memperoleh takhta. Namun, gambaran moral tersebut berasal dari karya sejarah kemudian dan mungkin dipengaruhi oleh usaha mempertinggi citra Iskandar Muda sebagai pemulih kerajaan. Fakta yang relatif pasti hanyalah bahwa peralihan berlangsung pada April 1604, sedangkan Sayyid al-Mukammil meninggal sekitar setahun kemudian, bukan pada saat Ali naik takhta.

Sejumlah kronologi modern menambahkan bahwa Ali menahan tokoh-tokoh yang dianggap dapat mengancam kekuasaannya, termasuk ayahnya, Perkasa Alam, dan bahkan Malahayati. Penahanan Perkasa Alam memiliki dasar dalam tradisi istana, tetapi penahanan Malahayati serta rincian pemenjaraan ayahnya tidak didukung secara merata oleh sumber-sumber utama.

Pemerintahan

Kemarau, kelaparan, dan wabah

Tahun-tahun pemerintahan Ali ditandai kemarau panjang. Gagal panen yang menyertainya menimbulkan qahath atau kelaparan dan menyebabkan banyak kematian. Sejumlah karya Indonesia juga menyebut merebaknya wabah penyakit, meskipun kronik tidak memberikan nama penyakit, jumlah korban, atau wilayah yang paling terdampak.[10][11]

Krisis pangan itu memperburuk ketegangan politik dan mengurangi kemampuan pemerintah mengerahkan sumber daya. Sumber yang mendukung Iskandar Muda menggambarkan keadaan tersebut sebagai bukti ketidakmampuan Sultan Ali. Akan tetapi, tidak ada data yang cukup untuk menentukan sejauh mana kelaparan itu dapat diatasi melalui kebijakan istana atau apakah bencana tersebut terutama disebabkan keadaan iklim di luar kendali sultan.

Sejumlah narasi kemudian menyebut perampokan, pemerasan, dan gangguan keamanan semakin sering terjadi. Pernyataan seperti itu harus dibaca sebagai gambaran umum tentang melemahnya kewibawaan pusat, bukan sebagai statistik kriminal yang dapat diverifikasi.

Konflik dengan Sultan Husain di Pidie

Pada 1605, hubungan Sultan Ali dengan saudaranya, Sultan Husain, memburuk. Husain memerintah Pidie sebagai penguasa bawahan Aceh dan memiliki basis kekuasaan sendiri. Pada saat yang sama, Perkasa Alam berselisih dengan Sultan Ali. Kesalahan atau tindakan yang menyebabkan perselisihan itu tidak dijelaskan dengan seragam; Hikayat Aceh cenderung menggambarkan Perkasa Alam sebagai pemuda pemberani yang menjadi sasaran kecurigaan pamannya.[3]

Perkasa Alam melarikan diri ke Pidie dan memperoleh perlindungan Sultan Husain. Ali menuntut agar ia diserahkan kepada pemerintah pusat, tetapi Husain menolak. Penolakan itu berkembang menjadi pemberontakan terbuka. Husain memerintahkan Perkasa Alam memimpin pasukan Pidie menuju Bandar Aceh.

Pasukan Pidie akhirnya menolak bertempur melawan sultan. Tidak diketahui apakah penolakan tersebut disebabkan kesetiaan kepada istana, perpecahan internal, atau lemahnya dukungan terhadap Perkasa Alam. Kampanye berakhir tanpa pertempuran besar yang diketahui. Perkasa Alam ditangkap, dibawa ke Bandar Aceh, dan dipenjarakan.[10][12]

Konflik ini memperlihatkan bahwa kekuasaan sultan bergantung pada kesetiaan penguasa daerah dan pasukannya. Ia juga membuktikan bahwa sebelum 1607 Perkasa Alam belum menguasai dukungan seluruh tentara Aceh sebagaimana kemudian digambarkan dalam legenda kepahlawanan.

Hubungan luar negeri

Kelanjutan hubungan dengan Belanda

Hubungan Aceh dengan pelaut Belanda dibuka pada masa Sayyid al-Mukammil. Setelah bentrokan pada pelayaran pertama Cornelis dan Frederik de Houtman, hubungan membaik dan para pedagang Belanda diizinkan mendirikan pos dagang. Dua utusan Aceh kemudian dikirim ke Republik Belanda. Salah seorang meninggal di Middelburg, sedangkan seorang lainnya diterima oleh Pangeran Maurits dari Nassau.[13]

Utusan yang masih hidup dibawa kembali oleh armada Belanda dan tiba di Aceh pada Desember 1604. Pada waktu itu Ali telah menjadi sultan. Karena pengiriman misi tersebut dilakukan oleh ayahnya, perjalanan itu tidak tepat disebut sebagai kedutaan yang seluruhnya diprakarsai Sultan Ali. Namun, penerimaan utusan yang kembali dan kelanjutan perdagangan Belanda berlangsung pada masa pemerintahannya.

Keterbukaan Aceh kepada VOC memberikan jalan untuk memperoleh senjata, barang dagangan, dan penyeimbang terhadap Portugis. Sebaliknya, Belanda memandang Aceh sebagai pelabuhan penting bagi perdagangan lada serta pangkalan alternatif terhadap Melaka Portugis.

Perjanjian 17 Januari 1607

Sejumlah literatur Indonesia mencatat sebuah perjanjian antara Sultan Ali dan wakil VOC pada 17 Januari 1607. Perjanjian itu dikatakan terdiri dari sebelas ketentuan, antara lain:

  • pembebasan atau pengurangan sejumlah pungutan bagi pedagang Belanda;
  • izin mendirikan tempat tinggal atau faktori yang dapat dijaga sendiri;
  • izin membawa pegawai ahli dan keluarga pedagang;
  • pembatasan terhadap orang Eropa lain untuk tinggal di lingkungan faktori tanpa persetujuan Belanda;
  • janji kerja sama menghadapi ancaman Portugis.

J.K.J. de Jonge dikutip oleh penulis Indonesia sebagai pihak yang menilai perjanjian tersebut sangat menguntungkan VOC. Namun, penerapannya diragukan. Sultan Ali meninggal kurang dari tiga bulan kemudian dan Iskandar Muda tidak melanjutkan semua konsesi pendahulunya.[14]

Nama wakil Belanda dalam literatur Indonesia ditulis dengan beberapa ejaan, antara lain Olivier van de Vijvere atau “Oliver van de Vivere”. Ejaan dan jabatan tepatnya masih perlu diperiksa terhadap naskah kontrak atau arsip VOC asli.

Hubungan dengan Portugis

Hubungan Aceh–Portugis telah memburuk sejak akhir pemerintahan Sayyid al-Mukammil. Portugis meminta izin membangun benteng di muara Krueng Aceh, sebuah lokasi yang akan memungkinkan mereka mengawasi pelayaran ke ibu kota. Permintaan tersebut ditolak. Perdagangan Aceh dengan Belanda kemudian dipandang sebagai ancaman tambahan bagi kepentingan Portugis di Selat Malaka.[15]

Dari sudut Portugis, penyerangan ke Aceh merupakan bagian dari operasi lebih besar untuk menghentikan perkembangan VOC di Asia Tenggara. Dari sudut Aceh, pembangunan benteng asing di muara sungai berarti ancaman langsung terhadap kedaulatan ibu kota.

Serangan Portugis tahun 1606

Persiapan Portugis

Pada 1605, Raja Felipe III memerintahkan Martim Afonso de Castro, Raja Muda Portugis di India, memimpin ekspedisi besar dari Goa. Tujuan utamanya adalah menghadapi Belanda, menghukum Johor karena bersekutu dengan VOC, dan memaksa Aceh memberikan konsesi benteng.[16]

Armada berangkat dari Goa pada 22 April 1606 dan meninggalkan Kochi pada 19 Mei. Kekuatan awalnya terdiri atas sekitar:

  • 15 atau 16 kapal layar besar;
  • dua kapal dagang besar tujuan Makau;
  • satu karavel;
  • empat galias;
  • 21 sampai 23 fusta dan galiot;
  • sedikitnya 3.000 orang, yang sebagian besar merupakan prajurit.

Sebagian kapal kecil dan sedikitnya dua kapal besar telah hilang atau tertinggal sebelum armada mencapai Aceh. Meski demikian, pasukan tersebut masih merupakan salah satu armada Portugis terbesar yang dikerahkan di Asia pada awal abad ke-17. Biaya ekspedisi diperkirakan melebihi satu juta cruzado.[17]

Perundingan dan pendaratan

Armada Portugis tiba di perairan Aceh pada akhir Juni 1606. De Castro menuntut tempat bagi pembangunan benteng. Pihak Aceh berpura-pura melanjutkan perundingan sambil memperkuat pertahanan pelabuhan. Setelah persiapan selesai, meriam Aceh menembaki armada Portugis.[18]

Portugis melancarkan pendaratan amfibi. Karena muara dan gosong pelabuhan telah dipertahankan, mereka harus mendarat melalui pantai terbuka. Pasukan Portugis berhasil memperoleh kedudukan sementara di darat, tetapi mengalami kerugian berat. Salah satu laporan menyebut sekitar 200 prajurit terbaik mereka tewas.[19]

Sumber-sumber lama dan tradisi setempat kadang menyatakan Portugis sempat merebut satu benteng pantai dan dua meriam Aceh. Identifikasi benteng itu berbeda-beda. Literatur Aceh kemudian menamakannya Kuta Lubok atau Kuta Lubuk di kawasan Krueng Raya/Lamreh, sedangkan beberapa kronologi populer menempatkannya di Ulee Lheue. Perbedaan lokasi ini belum sepenuhnya terselesaikan.

Pembebasan Perkasa Alam

Menurut Hikayat Aceh, Perkasa Alam yang masih dipenjara meminta dibebaskan dan diberi kesempatan melawan Portugis. Ia dikisahkan mengatakan bahwa lebih baik mati melawan orang asing daripada membusuk dalam penjara pamannya. Sultan Ali mengabulkan permintaan tersebut dan mengizinkannya bergabung dengan pertahanan Aceh.[4]

Perkasa Alam kemudian memainkan peranan penting dalam serangan balasan. Sumber istana menggambarkannya memimpin pasukan dengan keberanian luar biasa sehingga kedudukan Portugis dapat ditekan. Episode ini merupakan salah satu unsur utama pembentukan citra kepahlawanannya.

Tidak jelas apakah Sultan Ali turut memimpin langsung di lapangan. Sebagai sultan, ia merupakan pemegang komando tertinggi, tetapi sumber naratif memberikan peranan tempur utama kepada Perkasa Alam. Karena itu, pertempuran 1606 dapat dicantumkan dalam riwayat pemerintahan Ali, tetapi tidak boleh secara otomatis disebut sebagai kemenangan yang dipimpin sendiri olehnya.

Penarikan pasukan Portugis

Perlawanan Aceh, besarnya korban, dan kedudukan Portugis yang tidak aman membuat operasi berlarut. De Castro kemudian menerima berita bahwa armada VOC di bawah Cornelis Matelieff de Jonge bersama Johor sedang mengepung Melaka. Ia menarik pasukannya dari Aceh dan berlayar menuju Melaka.[20][21]

Dengan demikian, kegagalan Portugis disebabkan gabungan beberapa faktor:

  1. pertahanan dan perlawanan pasukan Aceh;
  2. sulitnya pendaratan di pantai yang telah diperkuat;
  3. jatuhnya banyak prajurit Portugis;
  4. kebutuhan mendesak menyelamatkan Melaka;
  5. terlambatnya pelayaran dan berkurangnya kekuatan armada sebelum mencapai Aceh.

Aceh berhasil mempertahankan kemerdekaan dan Portugis tidak memperoleh benteng yang dimintanya. Namun, penyebutan hasil itu sebagai pemusnahan total armada Portugis tidak tepat, sebab sebagian besar armada masih berlayar ke Melaka dan kemudian bertempur melawan VOC.

Tradisi Kuta Lubok dan pasukan gajah

Dalam tradisi sejarah populer Aceh, pertempuran digambarkan berlangsung di Kuta Lubok. Perkasa Alam dikatakan menyerang menggunakan gajah perang, membunuh 300 prajurit Portugis, dan merebut kembali benteng. Sebagian cerita juga menyebut Malahayati dan pasukan perempuan istana mendesak sultan membebaskan Perkasa Alam.[22]

Angka 300, penggunaan gajah, nama Kuta Lubok, dan keterlibatan Malahayati tidak semuanya muncul dalam bentuk yang sama pada sumber Portugis. Kajian militer modern hanya memastikan perlawanan Aceh yang kuat, sekitar 200 korban Portugis menurut salah satu laporan, kedudukan Portugis yang rapuh, dan penarikan pasukan setelah berita pengepungan Melaka. Oleh karena itu, rincian tambahan tersebut lebih tepat ditempatkan sebagai tradisi lokal dan historiografi kepahlawanan.

Agama dan kehidupan intelektual

Pemerintahan Ali berlangsung dalam lingkungan istana yang telah berkembang sebagai pusat studi Islam dan sastra Melayu. Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani sering dikaitkan dengan masa peralihan akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17, meskipun kronologi kehidupan Hamzah Fansuri masih diperdebatkan. Tidak ada bukti yang cukup untuk menyatakan Sultan Ali secara khusus mengangkat atau memecat salah seorang dari mereka.

Menurut Bustan al-Salatin, pada masa ini datang Syekh Muhammad Jilani Hamid dari Gujarat. Ia mengajarkan tasawuf dan terlibat dalam penyelesaian atau pembahasan persoalan a'yan tsabitah yang sebelumnya diperdebatkan oleh Syekh Abu al-Khayr dan Syekh Muhammad al-Yamani. Kronik tidak memberikan uraian lengkap tentang isi perdebatan atau keputusan akhirnya.[23][24]

Keterangan tersebut memperlihatkan bahwa, meskipun istana mengalami krisis politik, hubungan intelektual Aceh dengan Gujarat, Yaman, dan pusat-pusat keilmuan Samudra Hindia tetap berlangsung.

Wafat dan perebutan takhta

Tanggal dan sebab kematian

Bustan al-Salatin menyatakan Sultan Ali meninggal pada hari Rabu, 6 Zulhijah 1015 H, yang disepadankan dengan 4 April 1607. Tanggal ini diterima secara luas dalam historiografi Aceh.[23][25]

Sumber utama hanya menggambarkan kematiannya sebagai mendadak. Penyakit, usia, dan keadaan fisiknya tidak dijelaskan. Lokasi kematiannya biasanya diasumsikan berada di lingkungan istana Bandar Aceh, tetapi lokasi tepat dan tempat pemakamannya tidak diketahui.

Naiknya Perkasa Alam

Kemenangan pertahanan 1606 meningkatkan wibawa Perkasa Alam. Ibunya, Putri Raja Indrabangsa, dikisahkan mempersiapkan dukungan bagi putranya dengan memberikan uang kepada saudagar, orang kaya, pejabat, dan tokoh istana.[25]

Ketika Sultan Ali meninggal, Perkasa Alam bergerak cepat:

  • ia memperoleh kesetiaan penjaga istana melalui pemberian;
  • menjanjikan kedudukan atau keuntungan kepada para pejabat;
  • memperoleh dukungan sejumlah orang kaya;
  • menekan atau mengancam kadi yang menolak penobatannya;
  • menguasai istana sebelum pesaing dari daerah tiba.

Pada hari yang sama, ia dinobatkan sebagai Sultan Iskandar Muda. Kecepatan tersebut menunjukkan bahwa persiapan politik telah dilakukan sebelum kematian Ali, tetapi bukan bukti langsung bahwa Perkasa Alam merencanakan kematian pamannya.[25][26]

Nasib Sultan Husain

Sultan Husain mempunyai klaim dinasti yang kuat karena merupakan saudara sultan yang wafat dan penguasa Pidie. Beberapa pejabat disebut mula-mula lebih menganggap Husain berhak atas takhta. Akan tetapi, ia belum berada di ibu kota saat Ali meninggal.

Dalam laporan yang dihubungkan dengan Augustin de Beaulieu, pengaruh Putri Raja Indrabangsa memungkinkan Perkasa Alam dinobatkan sebelum Husain tiba. Husain kemudian ditangkap dan ditahan. Ia akhirnya disingkirkan oleh pemerintahan Iskandar Muda. Peristiwa ini mengakhiri pusat kekuasaan dinasti pesaing di Pidie dan membuka jalan bagi konsolidasi kerajaan.[26]

Numismatik dan silsilah yang diperdebatkan

Koin Ali Ri'ayat Syah

Aceh telah menggunakan deureuham atau dirham emas sebagai lambang kekuasaan dan alat perdagangan. Secara logis, Sultan Ali mungkin mengeluarkan uang selama tiga tahun pemerintahannya. Akan tetapi, identifikasi koinnya bermasalah karena tiga sultan memakai gelar Ali Ri'ayat Syah.

Katalog Hulshoff Pol tidak memberikan tipe koin tertentu kepada Ali III. J. Leyten berpendapat bahwa tidak adanya koin yang dapat dikenali tidak harus berarti ia tidak pernah mencetak uang; kemungkinan koinnya tercampur dengan keluaran Ali Ri'ayat Syah I atau II. Namun, pendapat tersebut belum menghasilkan atribusi yang diterima secara umum.[27]

Koin yang diperdagangkan di pasar barang antik sebagai “koin Ali Ri'ayat Syah III bin Alauddin” tidak dapat dijadikan bukti tanpa pemeriksaan asal-usul, berat, tulisan, cetakan, dan perbandingan dengan koleksi museum.

Hubungannya dengan silsilah Iskandar Muda

Koin Iskandar Muda dan cap sembilan lapis Sultanah Taj al-Alam menimbulkan persoalan lain. Sebagian benda menyusun garis keturunan Iskandar Muda melalui seorang “Sultan Ali Ri'ayat Syah”, sedangkan Hikayat Aceh menempatkannya sebagai cucu Sayyid al-Mukammil melalui Putri Raja Indrabangsa dan sebagai kemenakan Ali III.

Leyten mengemukakan beberapa kemungkinan:

  1. nama Ali dan Alauddin tertukar dalam penyalinan silsilah;
  2. silsilah cap disederhanakan untuk tujuan legitimasi;
  3. hubungan yang dimaksud merupakan hubungan pengasuhan atau politik, bukan ayah biologis;
  4. tradisi kronik telah menyusun ulang bagian tertentu dari silsilah kerajaan.

Hipotesis bahwa Putri Raja Indrabangsa sebenarnya putri Ali III—yang akan menjadikan Iskandar Muda cucunya—bertentangan dengan kronologi dan silsilah standar. Oleh karena itu, hipotesis tersebut tidak dapat dimasukkan sebagai fakta keluarga, tetapi penting dicatat sebagai masalah historiografi dan numismatik.[28]

Historiografi

Jenis sumber

Sumber Waktu dan sudut pandang Informasi utama Keterbatasan
Hikayat Aceh Kronik istana yang memuliakan Iskandar Muda Silsilah, konflik Pidie, penahanan dan kepahlawanan Perkasa Alam Cenderung memperbesar keutamaan Iskandar Muda dan mengurangi citra lawannya
Bustan al-Salatin Disusun Nuruddin ar-Raniri sejak 1638 Kelaparan, ulama, tanggal wafat, dan urutan sultan Ditulis sekitar tiga dasawarsa setelah kematian Ali
Laporan Portugis Berasal dari lingkungan ekspedisi 1606 Armada, tujuan benteng, pendaratan, korban, dan penarikan Berpusat pada tindakan Portugis dan tidak selalu mengenali tokoh Aceh
Arsip serta laporan Belanda Catatan perdagangan dan diplomasi Kepulangan utusan, perdagangan, perjanjian, dan situasi Selat Malaka Nama serta gelar Aceh sering ditulis dalam ejaan yang berubah-ubah
Djajadiningrat, Penth, Lombard, dan Hadi Kajian filologis serta sejarah modern Rekonstruksi kronologi dan perbandingan sumber Tetap bergantung pada kronik yang sebagian bersifat panegirik
Sejarah populer Indonesia Abad ke-20 dan ke-21 Kuta Lubok, pasukan gajah, Malahayati, penikaman dan kisah kepahlawanan Sering mencampurkan sumber lama, tradisi lisan, dan interpretasi nasionalis

Penggulingan atau pengunduran diri ayahnya

Kabar bahwa Ali menggulingkan dan memenjarakan ayahnya cukup luas dalam historiografi Indonesia. Versi lain menyatakan Sayyid al-Mukammil mengundurkan diri karena usia dan penyakit. Tidak terdapat dokumen penobatan yang menyelesaikan perbedaan ini. Redaksi netral yang paling aman adalah bahwa Ali mengambil alih pemerintahan pada April 1604 dalam keadaan ayahnya telah lanjut usia, sementara sifat sukarela peralihan tersebut diperdebatkan.

Kabar penikaman atau pembunuhan

Beberapa karya Indonesia menyebut Ali ditikam dalam perebutan kekuasaan dengan saudaranya, Raja Pidie. Versi ini berbeda dari Djajadiningrat dan tradisi Bustan al-Salatin, yang hanya mencatat kematian mendadak pada 4 April 1607.[29]

Tidak diketahui sumber primer sezaman yang menyatakan Sultan Husain menikam Ali. Tidak ada pula bukti yang dapat menghubungkan Perkasa Alam dengan kematiannya. Karena itu, dugaan penikaman, pembunuhan, atau peracunan hanya dapat dicantumkan sebagai kabar dalam historiografi kemudian, bukan sebagai sebab kematian yang pasti.

Perkasa Alam sebagai pahlawan tunggal

Hikayat Aceh menjadikan pembebasan dan kemenangan Perkasa Alam sebagai titik balik utama perang 1606. Laporan Portugis membenarkan kuatnya perlawanan Aceh, tetapi tidak selalu menyebut Perkasa Alam dengan jelas. Penarikan Portugis juga disebabkan berita serangan VOC–Johor terhadap Melaka.

Dengan demikian, kepahlawanan Perkasa Alam mungkin memiliki dasar historis, tetapi kemenangan tidak dapat dipisahkan dari pertahanan kolektif Aceh, benteng pelabuhan, artileri, pasukan istana, dan tekanan strategis di Melaka.

Malahayati dan pasukan perempuan

Tradisi modern menghubungkan Malahayati dengan pertahanan Aceh pada 1606. Ada pula kronologi populer yang menyatakan Sultan Ali membentuk kesatuan Sukey Kawai Istana pada 1605, beranggotakan sipa'i inong di bawah Laksamana Meurah Ganti dan Laksamana Muda Cut Meurah Inseuen.

Klaim tersebut belum ditemukan dalam sumber utama yang lazim digunakan untuk biografi Ali—Djajadiningrat, Penth, Hadi, dan kajian Portugis modern. Ia juga berpotensi mencampurkan keberadaan pengawal perempuan di istana Sayyid al-Mukammil dengan organisasi militer pada masa Ali. Sampai sumber naskah atau arsipnya dapat ditunjukkan, rincian nama kesatuan dan komandannya sebaiknya dicatat sebagai tradisi populer yang belum terverifikasi.

Pelepasan Aru

Beberapa kronologi modern menyatakan Aru memanfaatkan kekacauan 1604 untuk melepaskan diri dari hegemoni Aceh. Situasi Aru memang berubah-ubah dan wilayah itu berulang kali diperebutkan Aceh dan Johor. Namun, belum ada bukti yang cukup untuk menghubungkan suatu deklarasi kemerdekaan Aru secara khusus dengan penobatan Sultan Ali.

Penilaian pemerintahan

Sultan Ali sering dinilai sebagai penguasa lemah yang berada di antara pemerintahan panjang ayahnya dan masa kejayaan Iskandar Muda. Penilaian tersebut sebagian dibentuk oleh kronik istana penerusnya. Pemerintahannya memang tidak menghasilkan penaklukan besar, tetapi ia juga menghadapi keadaan yang berat: kelaparan, perebutan takhta, pemberontakan daerah, dan invasi Portugis.

Beberapa tindakan penting tetap dapat dikaitkan dengan pemerintahannya:

  • ia mempertahankan pusat kerajaan dalam konflik dengan Pidie;
  • pemerintahannya menggagalkan tujuan Portugis mendirikan benteng;
  • perdagangan Belanda tetap diizinkan;
  • hubungan keilmuan dengan Gujarat dan dunia Samudra Hindia terus berlangsung;
  • pembebasan Perkasa Alam, walaupun kemudian merugikan dinastinya, membantu pertahanan Aceh;
  • kegagalan Portugis pada 1606 ikut menyediakan keadaan strategis yang diwarisi Iskandar Muda.

Ali juga menjadi penghubung antara dua tahap sejarah Aceh: tahap kerajaan yang masih dikuasai persaingan banyak cabang dinasti dan tahap monarki lebih terpusat di bawah Iskandar Muda.

Kronologi ringkas

Tahun/tanggal Peristiwa
sebelum 1601 Menurut sejumlah sumber Indonesia, menjadi wakil sultan di Pidie.
sekitar 1601 Ditarik ke Bandar Aceh dan menjadi penguasa pendamping bagi ayahnya; Sultan Husain ditempatkan di Pidie.
April 1604 Sayyid al-Mukammil turun takhta atau digulingkan; Sultan Muda menjadi Ali Ri'ayat Syah.
Desember 1604 Utusan Aceh yang dikirim ke Republik Belanda pada masa pemerintahan ayahnya kembali ke Aceh.
1605 Kemarau, kelaparan, dan konflik dengan Sultan Husain; Perkasa Alam ditangkap dan dipenjarakan.
akhir Juni 1606 Armada Martim Afonso de Castro menyerang Aceh; tujuan Portugis memperoleh benteng gagal.
17 Januari 1607 Perjanjian dagang dengan VOC menurut sejumlah sumber Indonesia; pelaksanaan perjanjian tidak jelas.
Rabu, 4 April 1607 Sultan Ali wafat mendadak; Perkasa Alam menguasai istana dan naik takhta sebagai Iskandar Muda.

Dalam budaya populer

Sultan Ali dikatakan tampil dalam film Laksamana Keumalahayati (2007) dan diperankan oleh Nizar Zulmi. Informasi pemeran tersebut beredar dalam sejumlah daftar daring, tetapi masih memerlukan dukungan katalog film, kredit produksi, atau sumber pers yang dapat dipercaya.[butuh rujukan]

Catatan

Referensi

  1. ↑ Djajadiningrat 1911, hlm. 174–175.
  2. ↑ Encyclopaedie 1917, hlm. 75.
  3. 1 2 Hadi 2004, hlm. 70.
  4. 1 2 Penth 1969, hlm. 47–48.
  5. ↑ Leyten 2004, hlm. 80, 100.
  6. ↑ Djajadiningrat 1911, hlm. 162–168.
  7. ↑ Penth 1969, hlm. 20–27.
  8. ↑ Lombard 2006, hlm. 167–170.
  9. 1 2 Hamidah 2016, hlm. 50–51.
  10. 1 2 3 4 Djajadiningrat 1911, hlm. 174.
  11. ↑ Lombard 2006, hlm. 271.
  12. ↑ Penth 1969, hlm. 45–47.
  13. ↑ Djajadiningrat 1911, hlm. 169–170.
  14. ↑ Hamidah 2016, hlm. 55–57.
  15. ↑ Pinto 2012, hlm. 265.
  16. ↑ Murteira 2021, hlm. 143–145.
  17. ↑ Murteira 2021, hlm. 144–145.
  18. ↑ Murteira 2021, hlm. 145.
  19. ↑ Murteira 2021, hlm. 145–146.
  20. ↑ Murteira 2021, hlm. 146.
  21. ↑ Borschberg 2010, hlm. 181–185.
  22. ↑ Hamidah 2016, hlm. 52–54.
  23. 1 2 Ar-Raniri 1966, Bab II, Fasal 13.
  24. ↑ Hamidah 2016, hlm. 59–60.
  25. 1 2 3 Djajadiningrat 1911, hlm. 175.
  26. 1 2 Lombard 2006, hlm. 168–170.
  27. ↑ Leyten 2004, hlm. 100.
  28. ↑ Leyten 2004, hlm. 80, 100–106.
  29. ↑ Hamidah 2016, hlm. 50.

Daftar pustaka

  • Ar-Raniri, Nuruddin (1966). Iskandar, Teuku (ed.). Bustan al-Salatin: Bab II, Fasal 13. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
  • Borschberg, Peter (2010). Hugo Grotius, the Portuguese and Free Trade in the East Indies. Singapura: NUS Press. ISBN 9789971694678.
  • Djajadiningrat, Raden Hoesein (1911). "Critisch overzicht van de in Maleische werken vervatte gegevens over de geschiedenis van het Soeltanaat van Atjeh". Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde (dalam bahasa Belanda). 65: 135–265.
  • "Atjeh". Encyclopaedie van Nederlandsch-Indië. Vol. 1. 's-Gravenhage dan Leiden: Martinus Nijhoff dan E.J. Brill. 1917.
  • Iskandar, Teuku (1958). De Hikajat Atjéh (dalam bahasa Belanda). 's-Gravenhage: Martinus Nijhoff.
  • Lombard, Denys (2006). Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1607–1636). Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
  • Murteira, André (2021). "Portuguese Military Expeditions to Southeast Asia, 1597–1606". Dalam Carvalhal, Hélder; Murteira, André; de Jesus, Roger Lee (ed.). The First World Empire: Portugal, War and Military Revolution. Abingdon: Routledge. hlm. 137–151. doi:10.4324/9780429346965-12. ISBN 9780367365486.
  • Penth, Hans (1969). Hikajat Atjeh: Die Erzählung von der Abkunft und den Jugendjahren des Sultan Iskandar Muda von Atjeh (Sumatra) (dalam bahasa Jerman). Wiesbaden: Otto Harrassowitz.
  • Pinto, Paulo Jorge de Sousa (2012). The Portuguese and the Straits of Melaka, 1575–1619: Power, Trade and Diplomacy. Singapura: NUS Press. ISBN 9789971695705.

Pranala luar

Ali Ri'ayat Syah III dari Aceh
Garis Sayyid al-Mukammil
Lahir: Tidak diketahui 4 April 1607
Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Alauddin Ri'ayat Syah Sayyid al-Mukammil
Sultan Aceh
April 1604 – 4 April 1607
Diteruskan oleh:
Iskandar Muda
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan