Rabu, 28 Oktober 2026
21:37 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Hikayat Aceh

Hikayat Aceh

Bagikan:
Hikayat Aceh
Perpustakaan Nasional Indonesia, Perpustakaan Universitas Leiden
page1-250px-Hikayat_Aceh_Or._1954_%28Leiden%29.pdf.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Naskah Hikayat Aceh di Perpustakaan Universitas Leiden.
Juga dikenal sebagaiHikayat Aceh (dinamai oleh H.H. Juynboll)
Tarikh As-Shalihin wa Sabil as-Sa’irin (dinamai oleh Syamsuddin as-Sumaṭrānī)
Hikayat Iskandar Muda
TarikhTidak diketahui; diperkirakan sekitar abad 17 M (antara 1606-1636)
AsalKesultanan Aceh
BahasaMelayu (Abjad Jawi)
PenulisTidak diketahui; diyakini ditulis oleh:
Ukuran≈ 195 cm × 155 cm (77 in × 61 in) Ms. A (Cod. Or. 1954)
21 cm × 165 cm (8,3 in × 65,0 in) Ms. B (Cod. Or. 1983)
215 cm × 35 cm (85 in × 14 in) Ms. C (Katalog ID: 219142)
KeadaanBagus, tulisan masih bisa dibaca; 281 halaman terdapat di Perpustakaan Universitas Leiden koleksi: Ms. A (Cod. Or. 1954)
Bagus, tulisan masih bisa dibaca; 227 halaman terdapat di Perpustakaan Universitas Leiden koleksi: Ms. B (Cod. Or. 1983)
Bagus, tulisan masih bisa dibaca; 92 terdapat di Perpustakaan Nasional Indonesia koleksi: Ms. C (Katalog ID: 219142)
AksaraAbjad Arab, Abjad Jawoë
IsiHikayat, petualangan, wiracarita, epos
EksemplarTiga salinan manuskrip (tersimpan di Leiden (2) dan Jakarta (1):
1. Ms. A (Cod. Or. 1954) di Leiden
2. Ms. B (Cod. Or. 1983) di Leiden
3. Ms. C (Katalog ID: 219142) di Jakarta
Sebelumnya disimpan di
Masuk dalam koleksiMs. A (Cod. Or. 1954),
Ms. B (Cod. Or. 1983)
Ms. C (Katalog ID: 219142)
Artikel utama: Warisan Ingatan Dunia
page1-250px-Hikayat_Aceh_Or._1954_%28Leiden%29.pdf.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Naskah Hikayat Aceh di Perpustakaan Universitas Leiden

Hikayat Aceh adalah karya manuskrip yang menceritakan kehidupan Sultan Iskandar Muda (1590–1636) ketika menjadi sultan di Kerajaan Aceh Darussalam.[1] Naskah ini ditulis pada abad ke-17 dengan bahasa Melayu menggunakan aksara Arab.[2] Saat ini hanya terdapat tiga salinan naskah Hikayat Aceh, dengan dua salinan berada di Universitas Leiden, Belanda dan satu salinan di Perpustakaan Nasional Jakarta.

Naskah Hikayat Aceh dipercaya ditulis oleh Sultan Safiyyat al-Din Syah, putri Sultan Iskandar Muda.[1] Naskahnya tidak lengkap karena bagian awal dan bagian penutup naskah ini tidak ada. Judul naskah ini diberikan oleh Juynboll, seorang peneliti Belanda, pada tahun 1899 yang diambil dari penggalan cerita dalam naskah ini.

Pada tanggal 18 Mei 2023, naskah Hikayat Aceh resmi ditetapkan sebagai Warisan Ingatan Dunia UNESCO.[3]

page1-250px-Hikayat_Aceh_%3B_Tariq_al-Salikin_wa-Sabil_al-Musayirin_Or._1983_%28Leiden%29.pdf.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Hikayat Aceh ; Tariq al-Salikin wa-Sabil al-Musayirin Or. 1983 (Leiden)

Lihat Juga

Referensi

  1. 1 2 "UNESCO Recognizes Manuscripts First Voyage Around the Globe and Hikayat Aceh as World Heritage - Leiden University". www.student.universiteitleiden.nl. Diakses tanggal 2023-10-12.
  2. ↑ ZULKARNAINI (2023-06-14). "Hikayat Aceh dan Memori Dunia". kompas.id. Diakses tanggal 2023-10-12.
  3. ↑ "UNESCO Memory of the World Register". www.unesco.org. 2023. Diakses tanggal 2023-10-12.{{cite web}}: |first= tidak memiliki |last=
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan