Rabu, 23 September 2026
10:39 WIB
TERKINI
Berita Terkuak: Modus Dua Pria Raup Jutaan dari Konten Mesum 'A Day in My Life' Berita Fenomena Bau Tak Sedap Malam Hari di Transjakarta Koridor 8 Jadi Sorotan Berita Bupati Boltara Sirajudin Lasena Terjaring OTT KPK, Proyek Jalan Disorot Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Berita Terkuak: Modus Dua Pria Raup Jutaan dari Konten Mesum 'A Day in My Life' Berita Fenomena Bau Tak Sedap Malam Hari di Transjakarta Koridor 8 Jadi Sorotan Berita Bupati Boltara Sirajudin Lasena Terjaring OTT KPK, Proyek Jalan Disorot Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis

Stunde Null

istilah yang digunakan Jerman untuk tengah malam pada 8 Mei 1945

Stunde Null (Jerman:[ˈʃtʊndəˈnʊl], "Jam Nol") adalah istilah yang mengacu pada tengah malam tanggal 8 Mei 1945 di Jerman.[1] Ini menandai berakhirnya Perang Dunia II dan awal Jerman baru, non-Nazi.[2] Istilah ini dicetuskan sebagai upaya Jerman untuk melepaskan diri dari Nazi.[2] Denazifikasi kemudian diprakarsai oleh pasukan Sekutu yang menduduki Jerman.

Istilah ini menyiratkan "pemutusan mutlak dengan masa lalu dan awal baru yang radikal" atau "menyapu bersih tradisi dan kebiasaan lama".[1] Warga Jerman pada saat itu tinggal di negara yang hancur yang kira-kira 80 persen infrastruktur Jerman membutuhkan perbaikan atau rekonstruksi[3]yang melahirkan gagasan bahwa Jerman harus memasuki fase sejarah baru. Menurut para ahli [siapa?], kontroversi muncul ketika keluarga yang terkena dampak Perang Dunia II dan Holokaus mulai menuduh Jerman berusaha menghindari hukuman atau rasa bersalah setelah perang.

Stunde Null juga menandai berakhirnya hubungan bangsa Jerman dengan rezim Nazi. Seiring waktu, budaya stunde null bertujuan untuk menciptakan masyarakat Jerman yang 'tanpa ras', sangat berbeda dengan masyarakat Nazi yang sangat rasialis.[2] Tetapi, tujuan ini kurang efektif karena masih terdapat masalah yang terkait dengan ras di Jerman,[2] dan rasisme institusional juga tersebar luas di Jerman diduduki Sekutu, yang mencoba "mendidik kembali" bangsa Jerman, yang dipandang oleh banyak pihak sebagai bangsa munafik.

Lihat juga

Referensi

  1. 1 2 Brockmann, Stephen (1996). "German Culture at "Zero Hour"". Carnegie Mellon University Research Showcase @ CMU: 8–36.
  2. 1 2 3 4 Chin, Fehrenbach, Eley, Grossmann (2009). After the Nazi Racial State. Michigan: University of Michigan Press. hlm. 5–20. ISBN 9780472033447.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  3. Rumler, Frank (2012-11-21). "Rebuilding Post War Germany: A Century-Long Project". Berlin Germany Life: City Info Guide (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari asli tanggal 2017-07-18. Diakses tanggal 2016-12-10.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan