Sabtu, 03 Oktober 2026
21:40 WIB
TERKINI
Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan
Solar Orbiter

Solar Orbiter

Bagikan:
Solar Orbiter
250px-Solar_Orbiter_vision.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ilustrasi Solar Orbiter mengorbit Matahari
Jenis misiHeliofisika
OperatorBadan Antariksa Eropa (ESA) / NASA
ID COSPAR2020-010A
Nomor SATCAT45167
Situs webSolar Orbiter – ESA
Masa misi7 tahun (nominal), dengan kemungkinan perpanjangan 3 tahun
PabrikanAirbus Defence and Space
Massa peluncuran1.800 kg
Massa muatan209 kg
Dimensi2,5 × 3,1 × 2,7 m
Daya180 W
Tanggal peluncuran10 Februari 2020, 04:03 UTC
RoketAtlas V 411 (AV-087)
Lokasi peluncuranCape Canaveral, SLC-41
KontraktorUnited Launch Alliance
Mulai operasi ilmiahNovember 2021
OrbitHeliosentris, elips
Perihelion0,28 AU (sekitar 42 juta km)
Aphelion0,91 AU (sekitar 136 juta km)
Inklinasi orbit24° (misi nominal); hingga 33° (misi lanjutan)
Periode orbit168 hari
Teleskop utamaReflektor Ritchey–Chrétien
Diameter160 mm
Panjang fokus2,5 m
Panjang gelombangCahaya tampak, ultraviolet, dan sinar-X

Solar Orbiter (disingkat SolO) adalah wahana antariksa untuk penelitian Matahari dan heliosfer yang dikembangkan oleh Badan Antariksa Eropa (ESA) dengan kontribusi dari NASA. Misi ini dirancang untuk mempelajari Matahari dari jarak yang sangat dekat sekaligus mengukur lingkungan ruang angkasa di sekitarnya. Salah satu tujuan utamanya adalah memahami bagaimana Matahari menghasilkan dan mengendalikan heliosfer, yaitu wilayah luas yang dipengaruhi oleh angin surya dan medan magnet Matahari.[1]

Solar Orbiter melakukan pengamatan dari orbit elips mengelilingi Matahari. Pada titik terdekatnya, wahana dapat berada sekitar 0,28 satuan astronomi (AU), atau sekitar 42 juta kilometer, dari Matahari. Jarak tersebut menempatkannya di dalam orbit Merkurius. Dari posisi ini, instrumen Solar Orbiter dapat memperoleh pengamatan Matahari dengan resolusi tinggi sekaligus melakukan pengukuran langsung terhadap partikel, plasma, medan magnet, serta gelombang di lingkungan heliosfer bagian dalam.[2]

Keistimewaan lain misi ini adalah kemampuannya mengamati wilayah kutub Matahari dari sudut pandang yang berada di luar bidang ekliptika. Dengan bantuan manuver gravitasi menggunakan Venus, kemiringan orbit Solar Orbiter secara bertahap ditingkatkan sehingga wilayah kutub Matahari dapat diamati dengan lebih baik. ESA menyebut misi ini sebagai misi pertama yang memperoleh pandangan dekat terhadap wilayah kutub Matahari dari lintasan di luar bidang ekliptika.[1]

Tujuan ilmiah

Tujuan umum Solar Orbiter adalah melakukan penelitian jarak dekat dan beresolusi tinggi terhadap Matahari serta heliosfer bagian dalam. Pengamatan tersebut menggabungkan dua pendekatan yang saling melengkapi, yaitu pengamatan in situ terhadap lingkungan di sekitar wahana dan pengamatan penginderaan jauh terhadap permukaan serta atmosfer Matahari.[3]

Empat pertanyaan ilmiah utama yang menjadi dasar misi ini adalah:

Pertanyaan ilmiah Fokus penelitian
Bagaimana dan dari mana angin surya serta medan magnet korona berasal? Menelusuri sumber angin surya dan hubungan medan magnet Matahari dengan heliosfer.
Bagaimana peristiwa transien Matahari memengaruhi heliosfer? Mempelajari bagaimana letusan dan perubahan aktivitas Matahari memengaruhi lingkungan ruang angkasa.
Bagaimana letusan Matahari menghasilkan radiasi partikel berenergi tinggi? Meneliti sumber, percepatan, dan penyebaran partikel energetik.
Bagaimana dinamo Matahari bekerja? Mempelajari pembentukan dan evolusi medan magnet Matahari serta hubungannya dengan heliosfer.

Dengan menggabungkan pengukuran langsung dan pengamatan dari jauh, Solar Orbiter dapat menghubungkan fenomena yang terjadi pada Matahari dengan kondisi plasma dan medan magnet yang kemudian teramati di ruang antarplanet. Pendekatan tersebut penting untuk memahami pembentukan angin surya, pemanasan korona, percepatan partikel, serta berbagai fenomena yang berkaitan dengan cuaca antariksa.[1]

Wahana antariksa

Solar Orbiter merupakan wahana yang distabilkan pada tiga sumbu dan dirancang untuk terus mengarahkan instrumennya ke Matahari. Karena beroperasi sangat dekat dengan Matahari, wahana dilengkapi pelindung panas khusus yang berada di sisi yang menghadap Matahari. Pelindung tersebut dirancang untuk mengurangi paparan langsung terhadap radiasi dan panas Matahari.[4]

Wahana ini memiliki massa peluncuran sekitar 1.800 kg, dengan muatan ilmiah sekitar 209 kg. Dimensinya sekitar 2,5 × 3,1 × 2,7 meter dan sistem tenaganya menghasilkan sekitar 180 watt. Sejumlah teknologi pada Solar Orbiter dikembangkan berdasarkan pengalaman dari misi BepiColombo menuju Merkurius, termasuk panel surya dan sistem antena yang dirancang untuk menghadapi lingkungan bersuhu tinggi.[2]

Panel surya Solar Orbiter dapat diputar pada sumbu longitudinalnya. Mekanisme ini memungkinkan panel disesuaikan terhadap arah datangnya radiasi Matahari sehingga risiko pemanasan berlebih dapat dikurangi. Wahana juga memiliki baterai untuk menyediakan energi tambahan pada kondisi tertentu, termasuk ketika terjadi periode gerhana selama lintasan dekat planet.[4]

Komunikasi

Sistem telemetri, pelacakan, dan perintah Solar Orbiter menggunakan komunikasi pita-X untuk menghubungkan wahana dengan Bumi. Sistem tersebut mendukung pengiriman telemetri, penerimaan perintah, serta pengukuran jarak.

Pada tahap awal misi dan sebagai sistem cadangan, wahana menggunakan antena berpenguatan rendah. Ketika operasi ilmiah berlangsung, komunikasi utama menggunakan antena berpenguatan sedang dan tinggi yang dapat diarahkan. Antena berpenguatan tinggi dirancang agar dapat beroperasi dalam berbagai posisi relatif terhadap Bumi dan dilengkapi perlindungan terhadap panas Matahari.[5]

Sebagian besar data ilmiah disimpan terlebih dahulu dalam memori di dalam wahana. Data kemudian dikirim ke Bumi ketika tersedia kesempatan komunikasi dengan stasiun bumi. Selama operasi ilmiah nominal, pengiriman data berlangsung selama beberapa jam pada setiap periode komunikasi dan dapat ditambah sesuai kebutuhan misi.[5]

Operasi misi menggunakan infrastruktur komunikasi jarak jauh ESA, termasuk jaringan stasiun pelacakan ESTRACK. Pusat Operasi Misi berada di European Space Operations Centre (ESOC) di Darmstadt, Jerman, sedangkan Science Operations Centre berada di European Space Astronomy Centre (ESAC) di Villanueva de la Cañada, Spanyol.[5]

Instrumen ilmiah

Muatan ilmiah Solar Orbiter terdiri atas 10 instrumen. Instrumen tersebut dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu instrumen in situ yang mengukur kondisi lingkungan di sekitar wahana dan instrumen penginderaan jauh yang mengamati Matahari dari kejauhan.[6]

Instrumen in situ

Instrumen Nama lengkap Fungsi utama
SWA Solar Wind Plasma Analyser Mengukur sifat dasar plasma angin surya, termasuk kepadatan, kecepatan, suhu, dan komposisi ion.
EPD Energetic Particle Detector Mengukur komposisi, waktu kedatangan, dan distribusi partikel berenergi tinggi.
MAG Magnetometer Mengukur medan magnet heliosfer dengan ketelitian tinggi.
RPW Radio and Plasma Waves Mengukur medan listrik, medan magnet, dan gelombang radio serta plasma.

SWA digunakan untuk mengukur sifat dasar ion dan elektron dalam angin surya serta komposisi ion berbagai unsur. Data tersebut membantu menentukan karakteristik angin surya ketika bergerak dari wilayah dekat Matahari menuju heliosfer bagian dalam.[2]

EPD mengukur partikel energetik dan digunakan untuk mempelajari sumber, mekanisme percepatan, serta proses transportasi partikel. MAG mengukur medan magnet di sekitar wahana, sedangkan RPW melakukan pengukuran terhadap gelombang elektromagnetik dan elektrostatik di dalam plasma.[6]

Instrumen penginderaan jauh

Instrumen Nama lengkap Fungsi utama
PHI Polarimetric and Helioseismic Imager Memetakan medan magnet dan kecepatan pada fotosfer serta melakukan pengamatan helioseismologi.
EUI Extreme Ultraviolet Imager Menghasilkan citra lapisan atmosfer Matahari dalam ultraviolet ekstrem.
SPICE Spectral Imaging of the Coronal Environment Melakukan spektroskopi pencitraan ultraviolet ekstrem terhadap korona.
STIX Spectrometer Telescope for Imaging X-rays Mengamati emisi sinar-X dari Matahari dan mempelajari aktivitas lontaran energi.
Metis Koronagraf Mengamati struktur dan dinamika korona dalam cahaya tampak dan ultraviolet.
SoloHI Solar Orbiter Heliospheric Imager Mengamati angin surya dan gangguan transien melalui cahaya yang dihamburkan elektron.

PHI digunakan untuk memperoleh pengukuran medan magnet vektor pada fotosfer serta kecepatan garis pandang. Data tersebut juga mendukung penelitian helioseismologi untuk mempelajari bagian dalam Matahari.[6]

EUI menghasilkan citra lapisan atmosfer Matahari dalam ultraviolet ekstrem. Pengamatan ini membantu menghubungkan fenomena pada permukaan Matahari dengan struktur atmosfer bagian luarnya. SPICE menggunakan spektroskopi ultraviolet ekstrem untuk mengukur sifat plasma dan membantu menghubungkan komposisi angin surya dengan daerah asalnya di Matahari.[6]

STIX mengamati emisi sinar-X pada rentang sekitar 4–150 keV dan digunakan untuk menentukan waktu, lokasi, intensitas, serta karakteristik spektrum elektron yang dipercepat selama suar Matahari. Metis merupakan koronagraf yang mengamati korona dalam cahaya tampak dan ultraviolet, sedangkan SoloHI mengamati struktur aliran angin surya serta gangguan seperti lontaran massa korona.[1]

Institusi yang terlibat

Pengembangan dan pengoperasian instrumen Solar Orbiter melibatkan lembaga penelitian serta universitas dari berbagai negara. Beberapa institusi utama yang terlibat antara lain:

Instrumen Institusi utama
SWA Mullard Space Science Laboratory, Britania Raya
EPD University of Alcalá, Spanyol; Kiel University, Jerman
MAG Imperial College London, Britania Raya
RPW Observatoire de Paris, Prancis
PHI Max Planck Institute for Solar System Research, Jerman; Instituto de Astrofísica de Andalucía, Spanyol
EUI Royal Observatory of Belgium, Centre Spatial de Liège, dan sejumlah lembaga Eropa
SPICE Institut d'astrophysique spatiale dan Rutherford Appleton Laboratory
STIX FHNW, Swiss; Space Research Centre of the Polish Academy of Sciences; Leibniz-Institut für Astrophysik Potsdam
Metis University of Florence, INAF, dan Max Planck Institute for Solar System Research
SoloHI United States Naval Research Laboratory

Solar Orbiter juga melibatkan peneliti dan perusahaan dari Republik Ceko. Pada saat peluncurannya, misi ini menjadi salah satu proyek antariksa dengan keterlibatan ilmuwan dan perusahaan Ceko terbesar dalam beberapa dekade.[7]

Sejarah misi

Pengembangan sebelum peluncuran

Kontrak senilai sekitar €319 juta untuk membangun wahana Solar Orbiter diberikan kepada Astrium UK pada April 2012. Pelindung panas wahana menjalani pengujian pemanasan selama dua minggu pada Juni 2014. Jadwal peluncuran kemudian mengalami beberapa perubahan, dari rencana awal pada 2017 hingga akhirnya ditetapkan pada 2020.[8]

Pada 2018, wahana dikirim ke fasilitas IABG di Jerman untuk menjalani kampanye pengujian lingkungan sebelum peluncuran. Tahap tersebut mencakup pemeriksaan berbagai sistem guna memastikan wahana mampu bertahan terhadap kondisi peluncuran dan operasi di ruang angkasa.

Peluncuran

Solar Orbiter diluncurkan menggunakan roket Atlas V 411 dari Kompleks Peluncuran Antariksa 41 di Cape Canaveral, Florida, pada 10 Februari 2020 pukul 04:03 UTC. Wahana terpisah dari tahap atas Centaur sekitar 53 menit setelah lepas landas dan beberapa menit kemudian ESA menerima sinyal pertama dari Solar Orbiter.[9]

Fase jelajah

Setelah peluncuran, Solar Orbiter memasuki fase jelajah yang berlangsung hingga 2021. Selama periode ini, wahana menggunakan bantuan gravitasi Venus dan Bumi untuk mengubah lintasan dan secara bertahap memasuki orbit operasional yang lebih dekat dengan Matahari.[10]

Pada Juni 2020, Solar Orbiter mendekati Matahari hingga sekitar 77 juta kilometer dan menghasilkan citra dengan detail yang pada saat itu merupakan salah satu pengamatan terdekat terhadap Matahari. Pada periode yang sama, wahana juga melintasi ekor komet C/2019 Y4 (ATLAS). Pada Desember 2021, Solar Orbiter kembali melintasi ekor komet, kali ini C/2021 A1 (Leonard).

Pada Agustus 2021, Solar Orbiter dan wahana BepiColombo melakukan bantuan gravitasi Venus hanya berselang sekitar 33 jam. Kedua wahana melakukan pengamatan terhadap lingkungan magnetik, plasma, dan partikel di sekitar Venus sehingga menghasilkan pengukuran dari dua lokasi yang berbeda.[11]

Operasi ilmiah utama

Operasi ilmiah utama Solar Orbiter dimulai pada November 2021. Selama misi nominal, bantuan gravitasi Venus digunakan secara berulang untuk meningkatkan kemiringan orbit wahana. Peningkatan tersebut memungkinkan Solar Orbiter memperoleh pandangan yang semakin baik terhadap wilayah lintang tinggi dan kutub Matahari.[12]

2022

Pada 7 Maret 2022, Solar Orbiter memperoleh citra beresolusi tinggi dari seluruh cakram Matahari dan korona. Pengamatan tersebut memberikan gambaran rinci mengenai struktur permukaan dan atmosfer Matahari.[13]

Pada September 2022, data Solar Orbiter digunakan dalam penelitian mengenai fenomena magnetic switchback, yaitu perubahan arah medan magnet yang terjadi di dalam angin surya. Pada tahun yang sama, Solar Orbiter dan Teleskop Surya Daniel K. Inouye melakukan pengamatan terkoordinasi terhadap Matahari untuk menghubungkan struktur permukaan dengan fenomena di korona.[14]

Solar Orbiter juga bekerja bersama Parker Solar Probe milik NASA untuk mempelajari pemanasan korona. Kedua wahana menyediakan data dari jarak yang berbeda sehingga memungkinkan para ilmuwan membandingkan kondisi atmosfer Matahari dengan pengukuran langsung angin surya.[15]

2024

Pada Maret 2024, Solar Orbiter dan Parker Solar Probe melakukan pengamatan Matahari pada periode ketika kedua wahana berada dekat dengan titik terdekatnya masing-masing. Data Solar Orbiter digunakan bersama data Parker Solar Probe untuk mempelajari hubungan antara aktivitas Matahari dan plasma angin surya.

Pada Mei 2024, wilayah aktif Matahari yang dikenal sebagai AR3664 menghasilkan aktivitas matahari yang sangat kuat. Solar Orbiter mengamati wilayah tersebut ketika posisinya berada di sisi Matahari yang tidak menghadap Bumi. Pada 20 Mei 2024, instrumen Solar Orbiter merekam salah satu suar Matahari terkuat yang diamati selama siklus Matahari ke-25.[16]

Instrumen EPD mendeteksi peningkatan partikel berenergi, sedangkan Metis mengamati lontaran massa korona. MAG kemudian mendeteksi perubahan lingkungan magnetik ketika gangguan tersebut mencapai lokasi wahana. Penggabungan pengamatan Solar Orbiter dengan data dari Solar Dynamics Observatory memungkinkan wilayah aktif tersebut dilacak selama sekitar 94 hari atau lebih dari tiga rotasi Matahari.

Pada 30 September 2024, ketika berada pada perihelion kesembilan, Solar Orbiter mengamati suar Matahari kelas M7.7 menggunakan EUI, PHI, SPICE, dan STIX. Pengamatan tersebut menghasilkan salah satu rekaman paling rinci mengenai perkembangan suar Matahari dan memberikan bukti mengenai proses yang digambarkan sebagai magnetic avalanche sebelum terjadinya suar.[17]

2025

Pada Februari 2025, Solar Orbiter menyelesaikan bantuan gravitasi Venus keempat. Manuver tersebut meningkatkan kemiringan orbitnya hingga sekitar 17° dan membawa wahana keluar dari bidang orbit utama planet-planet di Tata Surya.[18]

Pada 11 Juni 2025, ESA merilis gambar dan video pertama wilayah kutub selatan Matahari yang direkam Solar Orbiter pada Maret 2025. Pengamatan tersebut merupakan pencapaian penting karena wahana dapat melihat Matahari dari sudut pandang sekitar 15° di bawah ekuator Matahari, bukan hanya dari bidang ekliptika tempat sebagian besar observatorium sebelumnya mengamati Matahari.[19]

Pada September 2025, penelitian berbasis data Solar Orbiter menghasilkan katalog partikel elektron energetik matahari dan mengidentifikasi dua kelompok peristiwa yang berbeda. Salah satunya berkaitan dengan suar Matahari yang kuat, sedangkan kelompok lainnya berkaitan dengan lontaran massa korona.

Pada November 2025, hasil awal pengamatan kutub selatan Matahari menunjukkan bahwa pola pergerakan struktur magnetik di lintang tinggi memiliki karakteristik yang berbeda dari yang diperkirakan sebelumnya. Data PHI dan EUI menunjukkan pergerakan medan magnet menuju kutub dengan kecepatan sekitar 10–20 meter per detik.[20]

2026

Pada Januari 2026, ESA dan Indian Space Research Organisation (ISRO) menyelenggarakan lokakarya heliofisika di India yang membahas data dari Solar Orbiter, Aditya-L1, dan Proba-3. Pertemuan tersebut menyoroti bagaimana pengamatan dari berbagai titik pandang dapat saling melengkapi dalam penelitian Matahari.[21]

Pada 12 Agustus 2026, data Solar Orbiter juga digunakan untuk membantu memprediksi penampakan korona Matahari selama gerhana Matahari total yang melintasi sebagian wilayah Bumi. ESA menggunakan pengamatan dan pemodelan untuk memperkirakan struktur korona yang dapat terlihat selama peristiwa tersebut.[22]

Lintasan orbit

Lintasan Solar Orbiter dirancang menggunakan serangkaian bantuan gravitasi dari Venus dan Bumi. Manuver tersebut secara bertahap mengubah ukuran dan kemiringan orbit sehingga wahana dapat mendekati Matahari sekaligus memperoleh sudut pandang yang semakin tinggi terhadap kutubnya.[10]

Tanggal Peristiwa Jarak dari Matahari / planet Inklinasi orbit
15 Juni 2020 Perihelion pertama 0,52 AU 7,7°
27 Desember 2020 Bantuan gravitasi Venus pertama 7.500 km dari Venus
10 Februari 2021 Perihelion kedua 0,49 AU
9 Agustus 2021 Bantuan gravitasi Venus kedua 7.995 km dari Venus
12 September 2021 Perihelion ketiga 0,59 AU
27 November 2021 Terbang lintas Bumi 460 km dari Bumi
26 Maret 2022 Perihelion keempat 0,32 AU
4 September 2022 Bantuan gravitasi Venus ketiga 6.000 km dari Venus
12 Oktober 2022 Perihelion kelima 0,29 AU
10 April 2023 Perihelion keenam 0,29 AU
7 Oktober 2023 Perihelion ketujuh 0,29 AU
4 April 2024 Perihelion kedelapan 0,29 AU
30 September 2024 Perihelion kesembilan 0,29 AU
18 Februari 2025 Bantuan gravitasi Venus keempat 379 km dari Venus 17°
31 Maret 2025 Perihelion kesepuluh 0,29 AU
16 September 2025 Perihelion kesebelas 0,29 AU
3 Maret 2026 Perihelion kedua belas 0,29 AU
18 Agustus 2026 Perihelion ketiga belas 0,29 AU
24 Desember 2026 Bantuan gravitasi Venus kelima 950 km dari Venus 24°
6 Februari 2027 Perihelion keempat belas* 0,28 AU
6 Juli 2027 Perihelion kelima belas* 0,28 AU
3 Desember 2027 Perihelion keenam belas* 0,28 AU
18 Maret 2028 Bantuan gravitasi Venus keenam* 350 km dari Venus 33°
7 Mei 2028 Perihelion ketujuh belas* 0,33 AU
4 Oktober 2028 Perihelion kedelapan belas* 0,33 AU
3 Maret 2029 Perihelion kesembilan belas* 0,33 AU
10 Juni 2029 Bantuan gravitasi Venus ketujuh* 350 km dari Venus
11 Agustus 2029 Perihelion kedua puluh* 0,37 AU
8 Januari 2030 Perihelion kedua puluh satu* 0,37 AU
6 Juni 2030 Perihelion kedua puluh dua* 0,37 AU
3 September 2030 Bantuan gravitasi Venus kedelapan* 2.650 km dari Venus

*Lintasan yang ditandai dengan tanda bintang merupakan bagian dari skenario misi lanjutan dan bergantung pada perpanjangan operasi misi.

Hasil ilmiah

Sejak peluncurannya, Solar Orbiter telah menghasilkan berbagai hasil penelitian mengenai Matahari, korona, angin surya, medan magnet, dan partikel energetik. Hasil tersebut berasal dari kombinasi pengamatan penginderaan jauh dan pengukuran in situ.

Salah satu keunggulan utama misi ini adalah kemampuannya menghubungkan fenomena yang diamati di permukaan atau atmosfer Matahari dengan kondisi plasma yang kemudian diukur oleh wahana. Pendekatan tersebut membantu para ilmuwan menelusuri hubungan antara sumber angin surya dan karakteristiknya ketika bergerak melalui heliosfer.[1]

Solar Orbiter juga memberikan data yang melengkapi pengamatan Parker Solar Probe. Parker Solar Probe dapat mendekati Matahari lebih dekat, sedangkan Solar Orbiter memiliki kemampuan penginderaan jauh yang lebih luas dan secara bertahap memperoleh sudut pandang yang lebih tinggi terhadap kutub Matahari. Penggabungan data kedua misi memungkinkan penelitian dilakukan dari lokasi dan perspektif yang berbeda.[15]

Publikasi dan pembaruan

Hasil penelitian Solar Orbiter telah diterbitkan dalam berbagai publikasi ilmiah, termasuk sejumlah edisi khusus jurnal Astronomy & Astrophysics yang membahas misi, hasil fase jelajah, dan hasil fase operasi ilmiah nominal. Komunitas ilmiah Solar Orbiter juga menerbitkan pembaruan penelitian secara berkala melalui berbagai saluran ilmiah dan laman ESA.

Galeri

  • Ilustrasi Solar Orbiter mengorbit Matahari
    Ilustrasi Solar Orbiter mengorbit Matahari
  • Lencana misi Solar Orbiter
    Lencana misi Solar Orbiter

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 Solar Orbiter overview, European Space Agency, diakses 2 Oktober 2026.
  2. 1 2 3 Solar Orbiter factsheet, European Space Agency, diakses 2 Oktober 2026.
  3. ↑ The Solar Orbiter Mission, ESA Science Operations, diakses 2 Oktober 2026.
  4. 1 2 Solar Orbiter spacecraft, European Space Agency, diakses 2 Oktober 2026.
  5. 1 2 3 Solar Orbiter mission operations, European Space Agency, diakses 2 Oktober 2026.
  6. 1 2 3 4 Solar Orbiter instruments, European Space Agency, diakses 2 Oktober 2026.
  7. ↑ Launch of the Solar Orbiter mission, Výzkumné infrastruktury, diakses 13 Mei 2026.
  8. ↑ ESA contracts Astrium UK to build Solar Orbiter, European Space Agency, April 2012.
  9. ↑ ESA's Solar Orbiter blazes a trail to the Sun, European Space Agency, 10 Februari 2020.
  10. 1 2 Solar Orbiter perihelia and flybys, European Space Agency, diakses 2 Oktober 2026.
  11. ↑ Sights and sounds of a Venus flyby, European Space Agency.
  12. ↑ Solar Orbiter, European Space Agency, diakses 2 Oktober 2026.
  13. ↑ Zooming into the Sun with Solar Orbiter, European Space Agency, 29 Maret 2022.
  14. ↑ Solar Orbiter solves magnetic switchback mystery, European Space Agency, 2022.
  15. 1 2 ESA and NASA team up to study solar wind, European Space Agency.
  16. ↑ Can't stop won't stop: Solar Orbiter shows the Sun raging on, European Space Agency, diakses 8 November 2025.
  17. ↑ Magnetic Avalanche on the Sun, Max Planck Institute for Solar System Research, diakses 2 Februari 2026.
  18. ↑ Solar Orbiter gets world-first views of the Sun's poles, European Space Agency, 16 Juni 2025.
  19. ↑ Solar Orbiter gets world-first views of the Sun's poles, European Space Agency, 16 Juni 2025.
  20. ↑ Sun: First Glimpse of Polar Magnetic Field in Motion, Max Planck Institute for Solar System Research, 7 November 2025.
  21. ↑ ISRO and ESA jointly organise ISRO-ESA Heliophysics Workshop, ISRO, Januari 2026.
  22. ↑ How ESA mimics and models the 2026 total solar eclipse, European Space Agency, 12 Agustus 2026.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan