Rabu, 30 September 2026
18:02 WIB
TERKINI
Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh
Salahuddin Wahid

Salahuddin Wahid

ulama, politisi, dan tokoh HAM asal Indonesia

Bagikan:
Salahuddin Wahid
Salahuddin_wahid_2004_election.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail_unscaled
Salahuddin sebagai calon Wakil Presiden, 2004
Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia
Masa jabatan
1998 –30 September 1999
PresidenBacharuddin Jusuf Habibie
Informasi pribadi
Lahir(1942-09-11)11 September 1942
Meninggal2 Februari 2020(2020-02-02) (umur 77)
DKI Jakarta, Indonesia
Suami/istriFarida
Anak3, termasuk Irfan Wahid
AlmamaterInstitut Teknologi Bandung (ITB)
PekerjaanUlama, Politikus, Aktivis
Dikenal karena
Adik dari Presiden Indonesia ke-4 K.H. Abdurrahman Wahid
JulukanGus Solah

Salahuddin Wahid atau biasa dipanggil Gus Solah (11 September 1942 – 2 Februari 2020)[1] adalah seorang aktivis, ulama, politisi, dan tokoh Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia. Ia pernah menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada masa awal reformasi 1998.[2]

Salahuddin juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Komnas HAM. Bersama kandidat presiden Wiranto, ia mencalonkan diri sebagai kandidat wakil presiden pada pemilu presiden 2004. Langkahnya terhenti pada babak pertama, karena menempati urutan ketiga.[3]

Salahuddin Wahid merupakan putra dari pasangan K.H. Wahid Hasyim (ayah) dengan Sholehah (ibu), dan adik kandung dari mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Ayahnya adalah putra dari pendiri Nahdlatul Ulama (NU), K.H. Hasyim Asy'ari.

Salahuddin meninggal dunia [4] di RS. Harapan Kita, Jakarta, pada hari Minggu, 2 Februari 2020, sekitar pukul 20:55 WIB, setelah sebelumnya mengalami masa kritis usai menjalani bedah jantung.[5]

Kehidupan awal dan keluarga

Salahuddin Wahid lahir di Jombang, Jawa Timur pada 11 September 1942. Ayahnya adalah Wahid Hasyim, dan kakeknya adalah Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Ia bersekolah di sekolah-sekolah umum di Jakarta, lulus dari SMPN 1 Cikini dan SMAN 1 Jakarta, sebelum mendapatkan gelar arsitektur dari Institut Teknologi Bandung.[6][7]

Ia menikahi Farida, putri[8] mantan Menteri Agama Saifuddin Zuhri dan saudara perempuan menteri di jabatan yang sama Lukman Hakim Saifuddin, pada tahun 1968. Pasangan ini memiliki tiga anak. Anak pertamanya bernama Irfan Asy'ari Sudirman Wahid atau Ipang Wahid.[9]

Karier

250px-Salahuddin_Wahid%2C_Seminar_Nasional_Peran_Pesantren_dalam_Pembangunan_Kesehatan.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Salahuddin Wahid, 2019

Setelah lulus dari studinya, Salahuddin bekerja di bidang arsitektur dan memiliki posisi pimpinan di perusahaan konstruksi, tetapi meninggalkan peran ini setelah krisis keuangan Asia.[10] Antara 1998 dan 1999, Salahuddin bertugas di Majelis Permusyawaratan Rakyat.[11] Menyusul jatuhnya Soeharto, beberapa partai politik didirikan yang terkait dengan NU, termasuk Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Kebangkitan Ummat (PKU). Saudara laki-laki Salahuddin dan kemudian presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bergabung dengan PKB, sementara Salahuddin bergabung dengan PKU. Keduanya terlibat dalam debat publik yang diterbitkan oleh surat kabar Media Indonesia selama Oktober 1998, dengan topik visi ayah mereka untuk negara tersebut.[12] Gus Dur berpendapat bahwa Hasyim mendukung Pancasila, sementara Salahuddin berpendapat bahwa ia mendukung negara yang berdasarkan pada Islam.[12] Wahid meninggalkan PKU pada September 1999.[7]

Pada 1999, Wahid mencalonkan diri sebagai Ketua PBNU. Dia menempatkan ketiga di putaran pertama pemungutan suara, tetapi mundur dari putaran kedua.[13] Kemudian, pada tahun 2002 ia menjadi wakil ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM). Dalam organisasi tersebut, ia memimpin tim yang menyelidiki Wiranto untuk pelanggaran HAM di Timor Timur setelah referendum kemerdekaan 1999, yang pada akhirnya mengeluarkan kesimpulan yang membebaskan tanggung jawab Wiranto atas pelanggaran signifikan.[11] Dia juga memimpin tim pencari fakta yang terkait dengan pelanggaran hak asasi manusia selama kerusuhan Mei 1998 dan di kamp-kamp Buru.[7]

Wiranto kemudian memilih Wahid sebagai pasangannya dalam Pemilihan umum Presiden Indonesia 2004. Wahid mewakili PKB, yang berkoalisi dengan Golkar, partai pendukung Wiranto.[11] Wahid mengundurkan diri dari komite PBNU dan KOMNAS HAM untuk ikut serta dalam pemilihan.[7] Pasangan ini menempati posisi ketiga dengan 22,15 persen suara, mencegah mereka maju ke putaran kedua yang kemudian dimenangkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla.[14]

Sejak 2006 hingga kematiannya, Salahuddin membina Pondok Pesantren Tebuireng yang didirikan oleh kakeknya.[15]

Kematian

Pada Januari 2020, Salahuddin menjalani ablasi di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta. Ia kemudian dirujuk kembali ke rumah sakit karena melaporkan masalah setelah prosedur, yang membutuhkan operasi pada tanggal 31 Januari. Kondisinya tidak membaik setelah operasi dan ia meninggal pada pukul 20.55 WIB pada 2 Februari.[1][16] Jasadnya akan diterbangkan pada pagi hari tanggal 3 Februari ke Jombang, di mana pemakamannya dijadwalkan pada sore hari. Dia akan dimakamkan di tanah pemakaman Tebuireng, di kompleks yang sama di dekat orang tua, kakek-nenek, dan saudaranya, Abdurrahman Wahid.[17]

Referensi

Catatan Kaki

  1. 1 2 Danu Damarjati (2 Februari 2020). "Innalilahi Wa Inna Ilaihi Raji'un, Gus Solah Wafat". Detik.com.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ "Dr. (H.C.) Ir. H. Salahuddin Wahid" Diarsipkan 2014-04-26 di Wayback Machine. Konvensirakyat.com. Diakses 26/4/2014.
  3. ↑ "Profil Salahuddin Wahid" Merdeka.com. Diakses 26/4/2014.
  4. ↑ Sur/Sur. "Gus Solah Meninggal Dunia". www.cnnindonesia.com. Diakses tanggal 2 Februari 2020.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ Inggied Dwi Wedhaswary. "Gus Solah Meninggal Dunia". www.kompas.com. Diakses tanggal 2 Februari 2020.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑ "Profil Gus Solah". VIVA. Diakses tanggal 26 April 2019.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. 1 2 3 4 "Pengasuh Pesantren Tebuireng Periode Ketujuh KH. Salahuddin Wahid (2006-sekarang)". tebuireng.online. Pesantren Tebuireng. Diakses tanggal 26 April 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. ↑ Sugendal, Zainuddin (2022-11-02). "Nyai Farida Salahuddin Wahid: Lindungi Anak melalui Komunikasi". Tebuireng Initiatives. Diakses tanggal 2023-01-21.
  9. ↑ Abdurrahman, Syarif (2022-10-30). "Kunci Kesuksesan Gus Sholah Tebuireng". Tebuireng Initiatives. Diakses tanggal 2023-01-21.
  10. ↑ Triraharjo, Mardiansyah (12 Maret 2019). "Mengenal Sosok KH Salahuddin Wahid, Sang Pembaharu Pesantren Tebuireng". Radar Jombang. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-10-11. Diakses tanggal 11 Oktober 2019.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  11. 1 2 3 Mujani, Saiful; Liddle, R. William; Ambardi, Kuskridho (2018). Voting Behaviour in Indonesia since Democratization: Critical Democrats (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 59–61. ISBN 9781108421799.
  12. 1 2 Bush 2009, hlm. 125–127. sfn error: tanpa target: CITEREFBush2009 (bantuan)
  13. ↑ Bush 2009, hlm. 164–166. sfn error: tanpa target: CITEREFBush2009 (bantuan)
  14. ↑ Ananta, Aris; Arifin, Evi Nurvidya; Suryadinata, Leo (2005). Emerging Democracy in Indonesia (dalam bahasa Inggris). Institute of Southeast Asian Studies. hlm. 82–83. ISBN 9789812303226.
  15. ↑ Abedillah, Hilmi (2021-02-06). "Pemikiran Pendidikan Islam KH. Salahuddin Wahid (2)". Tebuireng Initiatives. Diakses tanggal 2023-01-21.
  16. ↑ "Mantan Wakil Ketua Komnas HAM Gus Sholah Tutup Usia". CNBC Indonesia. 2 Februari 2020.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  17. ↑ Kristian Erdianto; Krisiandi (2 Februari 2020). "Jenazah Gus Sholah Akan Dimakamkan di Tebuireng". Kompas.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Pranala luar

  • Salahuddin Wahid di X
  • Muktamar NU Sebentar Lagi, Ini Pesan Gus Sholah - Tebuireng Initiatives
  • Ciri khas dan pola berpikir Gus Sholah Ada Berapa? - Tebuireng Initiatives
Keluarga
Kakek
Orang tua
K.H. Wahid Hasyim (ayah) dan Hj. Sholehah (ibu)
Pasangan dan saudara
Sinta Wahid (istri) · Salahuddin (adik) · Lily (adik) · Hasyim (adik)
Generasi ke-2
Alissa (anak) · Yenny (anak) · Dhohir Farisi (menantu) · Anita (anak) · Inayah (anak) · Halim (keponakan) · Imin (keponakan)  · Saiful (keponakan)  · Irfan Wahid (keponakan)
120px-President_Abdurrahman_Wahid_-_Indonesia.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Masa pemerintahan
← Didahului: B. J. Habibie
Digantikan: Megawati Soekarnoputri →
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan