Sabtu, 24 Oktober 2026
21:56 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung

Skandal valas

Fasatrade

Bagikan:
Ruang obrolan rahasia

"Dont want other numpty's in mkt to know [about information exchanged within the group], but not only that is he gonna protect us like we protect each other…"

— Pendapat seorang pedagang Citibank tentang calon anggota baru di ruang obrolannya[1][2]

Skandal valas (biasa disebut forex probe) adalah skandal keuangan yang melibatkan pengungkapan dan penyelidikan bank-bank yang bersekongkol selama satu dasawarsa untuk memanipulasi nilai tukar demi keuntungannya sendiri. Regulator pasar di Asia, Swiss, Britania Raya, dan Amerika Serikat mulai melakukan investigasi pada pasar valuta asing (valas) yang sirkulasinya mencapai $5,3 triliun per hari setelah Bloomberg News melaporkan pada Juni 2013 bahwa para pedagang valas mengaku melakukan front-running pada pesanan klien dan memalsukan nilai patok valuta asing WM/Reuters dengan bersekongkol bersama rekan-rekannya dan melakukan perdagangan sebelum dan ketika proses pergantian nilai patok terjadi selama 60 detik. Tindakan ini dilakukan setiap hari di pasar mata uang spot dan terjadi selama hampir satu dasawarsa menurut pengakuan para pedagang valas.[3]

Investigasi

Hal yang menjadi sumber investigasi skandal ini adalah transkrip ruang obrolan elektronik yang digunakan pedagang valas senior bersama para pesaingnya di bank-bank lain untuk membahas jenis dan volume perdagangan yang hendak mereka manfaatkan. Ruang obrolan elektronik ini diberi nama "The Cartel", "The Bandits’ Club", "One Team, One Dream", dan "The Mafia".[4][5][6] Diskusi di ruang obrolan ini diselingi lelucon tentang memanipulasi pasar valuta asing serta alkohol, obat-obatan terlarang, dan perempuan.[7] Pihak regulator berfokus pada satu ruang obrolan eksklusif yang diberi nama The Cartel atau The Mafia. Ruang obrolan tersebut digunakan oleh para pedagang paling berpengaruh di London dan keanggotaannya sangat eksklusif. Salah satu anggota The Cartel adalah Richard Usher, mantan pedagang senior Royal Bank of Scotland (RBS) yang menjadi kepala pedagangan valuta asing spot JPMorgan pada tahun 2010; Rohan Ramchandani, kepala perdagangan spot Eropa Citigroup; Matt Gardiner, pedagang yang pindah ke Standard Chartered setelah bekerja di UBS dan Barclays; dan Chris Ashton, kepala perdagangan spot di Barclays. Dua di antaranya, Usher dan Ramchandani, merupakan anggota kelompok pedagang utama Bank of England Joint Standing Committee yang beranggotakan 13 orang.[8]

Sedikitnya 15 bank, termasuk Barclays, HSBC, dan Goldman Sachs, mengungkapkan adanya investigasi oleh pihak regulator. Barclays, Citigroup, dan JPMorgan Chase mendiskors atau mencutikan semua pedagang valas senior. Deutsche Bank, bank pinjaman terbesar di benua Eropa, mematuhi permintaan informasi dari para regulator.[8][9] Barclays, Citigroup, Deutsche Bank, HSBC, JPMorgan Chase, Lloyds, RBS, Standard Chartered, UBS, dan Bank of England telah mendiskors, mencutikan, atau memecat kurang lebih 40 karyawan valas pada Juni 2014.[6][10][11][12] Citigroup juga sudah memecat kepala divisi perdagangan valuta asing spot Eropa, Rohan Ramchandani; Ramchandani merupakan anggota kelompok pedagang utama Bank of England Joint Standing Committee yang beranggotakan 13 orang.[13] Reuters melaporkan bahwa ratusan pedagang di seluruh dunia bisa terkena dampak skandal ini.[14]

Denda

Pada tanggal 20 Mei 2015, lima bank mengaku bersalah atas tuduhan kejahatan berat oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat dan menyetujui pembayaran denda bernilai total $5,7 miliar. Empat di antaranya, Barclays, Citigroup, JP Morgan, dan Royal Bank of Scotland, mengaku bersalah atas tuduhan manipulasi pasar asing. Meski bank-bank lain sudah didenda duluan setelah investigasi bulan November 2004, Barclays belum dilibatkan dan dijatuhi denda senilai $2,4 miliar. UBS juga mengaku bersalah atas tuduhan penipuan transfer dan menyetujui pembayaran denda senilai $203 juta. Bank keenam, Bank of America, meski tidak dinyatakan bersalah, dijatuhi denda $204 juta karena melakukan praktik berbahaya di pasar asing.[15][16]

Penangkapan

Pada tanggal 19 Desember 2014, proses penangkapan pertama orang-orang yang terlibat skandal ini dimulai. Penangkapan mantan pedagang RBS terjadi di Billericay, Essex, dan dilakukan oleh City of London Police dan Serious Fraud Office.[17]

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ McCoy, Kevin (12 November 2014). "Forex traders plotted strategy in secret chats". USA Today. Diakses tanggal 13 November 2014.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ "FCA Final Notice 2014: JPMorgan Chase Bank N.A." Financial Conduct Authority. Diakses tanggal 13 November 2014.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ Liam Vaughan, Gavin Finch and Ambereen Choudhury (12 Juni 2013). "Traders Said to Rig Currency Rates to Profit Off Clients". Bloomberg News. Diakses tanggal 21 Januari 2014.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ Liam Vaughan, Gavin Finch and Bob Ivry (2013-12-19). "Secret Currency Traders' Club Devised Biggest Market's Rates". Bloomberg News. Diakses tanggal 2014-02-03.
  5. ↑ Katie Martin and David Enrich (2013-12-19). "Forex Traders Said to Have Colluded in Effort to Profit". Wall Street Journal. Diakses tanggal 2014-02-03.
  6. 1 2 "Forex Chatrooms Show Traders Shared Order, Price Details: Report". NDTV Profit. Reuters. 19 Juni 2014. Diakses tanggal 1 Juli 2014.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. ↑ David Enrich and Katie Martin (2013-11-01). "Currency Probe Widens as Major Banks Suspend Traders". Wall Street Journal. Diakses tanggal 2014-02-03.
  8. 1 2 Daniel Schäfer, Alice Ross and Delphine Strauss (2013-11-12). "Foreign exchange: The big fix". Financial Times. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-01-22. Diakses tanggal 2014-02-03.
  9. ↑ Gaspard Sebag and Aoife White (19 Desember 2013). "Banks Said to Snitch on FX Rivals in Race to Avoid Fines". Bloomberg News. Diakses tanggal 21 Januari 2014.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  10. ↑ Alice Ross, Daniel Schäfer and Gina Chon (2014-01-15). "Deutsche Bank suspends traders amid global forex probe". Financial Times. Diakses tanggal 2014-02-03.
  11. ↑ Nicholas Comfort and Karin Matussek (2014-01-30). "Deutsche Bank Said to Suspend Moraiz in Currency Probe". Bloomberg News. Diakses tanggal 2014-02-03.
  12. ↑ Daniel Schäfer, Patrick Jenkins, Mike Mackenzie, Kara Scannell, Alex Barker, Camilla Hall, Caroline Binham and Delphine Strauss (16 Februari 2014). "Forex in the spotlight". Financial Times. Diakses tanggal 18 Februari 2014.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  13. ↑ Bases, Daniel (2014-01-10). "Citi's European spot forex head trader Ramchandani out amid probe". Reuters. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-02-15. Diakses tanggal 2014-02-03.
  14. ↑ Jamie McGeever (2014-01-15). "Deutsche Bank, Citi feel the heat of widening FX investigation". The Globe and Mail. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-01-16. Diakses tanggal 2014-02-03.
  15. ↑ Friefeld, Karen; Slater, Steve; Bart, Katharina (20 Mei 2015). "Major banks admit guilt in forex probe, fined $6 billion". Reuters. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-05-22. Diakses tanggal 20 Mei 2015.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  16. ↑ "Record fines for currency market fix". BBC. 20 Mei 2015. Diakses tanggal 20 Mei 2015.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  17. ↑ Salmon, James (21 Desember 2014). "First arrest in forex scandal: Former RBS trader held on suspicion of rigging £3.5trillion foreign exchange market". The Daily Mail. Diakses tanggal 22 Desember 2014.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Pranala luar

Bank of America

Regulasi dan standar perbankan
Lara belakang
Pilar 1: Modal pengatur
Pilar 2: Tinjauan pengawasan
Pilar 3: Keterbukaan pasar
Portal Bisnis dan Ekonomi

Barclays

Citigroup

HSBC

JPMorgan

RBS

UBS

Pemerintahan

Templat:Krisis ekonomi 2008

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan