Selasa, 20 Oktober 2026
01:00 WIB
TERKINI
Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global

Silappatikaram

Bagikan:

Silappadikaram (Tamil: சிலப்பதிகாரம், Cilappatikāram, IPA: [ʧiləppət̪ikɑːrəm] ?, diterbitkan kembali sebagai Kisah Sebuah Gelang Kaki[1]) adalah salah satu dari Lima Epos Besar Kesusatraan Tamil menurut tradisi sastra Tamil kemudian.[2] Seorang pangeran penyair Jainisme dari Kodungallur dekat Kochi (bagian dari Tamilakam kuno, kini di Kerala saat ini), disebut dengan nama samaran Ilango Adigal, dikaitkan dengan karya ini.[3] Dia terkenal sebagai saudara Vel Kelu Kuttuvan, Raja Dinasti Chera.[4]

Sebagai sebuah karya sastra, Silappatikaram sangat dihormati oleh orang Tamil. Karya ini berisi tiga bab dan total 5270 baris puisi. Epos tersebut berkisah tentang Kannagi, yang telah kehilangan suaminya karena kesalahan hukum di istana Dinasti Pandya, melampiaskan pembalasan dendamnya terhadap kerajaannya.[5]

Silappatikaram kemungkinan berasal dari awal Era Umum,[6] meskipun pengarangnya mungkin telah membangun sebuah cerita rakyat yang sudah ada sebelumnya untuk menyusun kisah ini. Cerita tersebut melibatkan tiga kerajaan Tamil di zaman kuno, yang diperintah oleh Dinasti Chola, Pandya, dan Chera. Silappatikaram memiliki banyak referensi tentang peristiwa dan kepribadian historis, walaupun belum diterima sebagai sumber sejarah yang dapat diandalkan oleh banyak sejarawan karena masuknya banyak peristiwa dan prestasi yang berlebih-lebihan terhadap raja-raja Tamil kuno.

Latar historis dan sosial

Pada akhir zaman Sangam (abad kedua – ketiga EU), negeri Tamil berada dalam kebingungan politik. Orde tiga dinasti Tamil yang lebih tua digantikan oleh invasi Kalabhra. Raja-raja yang baru ini dan yang lainnya menganjurkan agama Buddha dan Jaina. Ilango Adigal, penulis Silappatikaram, mungkin hidup pada periode ini dan merupakan salah satu dari sejumlah besar penulis Jainisme dan Buddhis dalam puisi Tamil.[3] Penulis-penulis ini, yang mungkin dipengaruhi oleh keyakinan kehidupan kebiaraan mereka, menulis buku berdasarkan nilai moral untuk menggambarkan kesia-siaan kesenangan duniawi. Silappatikaram menggunakan monolog, sebuah gaya yang diambil dari kesusastraan Sangam. Silappatikaram tidak menggunakan kebiasaan mengenai pembagian negeri menjadi bagian dari deskripsi kehidupan di antara berbagai komunitas pahlawan pria dan wanita.[7] Epos tersebut menyebutkan malam hari, terutama di musim semi, sebagai waktu utama yang memperparah perasaan rindu pada mereka yang berpisah.[7] Pola ini hanya ditemukan di karya Sanskerta kemudian oleh Kalidasa (abad ke-4 EU).[7]

Catatan

  1. ↑ Cilappatikaram : The Tale Of An Anklet. Penguin Books India. Diakses tanggal 13 April 2014.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)Silappatikaram figuratively means 'the chapter on the anklet'
  2. ↑ Mukherjee 1999, p. 277
  3. 1 2 A Survey of Kerala History. A Sreedhara Menon. 2007. p. 84. ISBN81-264-1578-9.
  4. ↑ Rajarajan, R.K.K. (2016) Masterpieces of Indian Literature and Art - Tears of Kaṇṇaki: Annals and Iconology of the ‘Cilappatikāram’. Sharada Publishing House, New Delhi. Pages xix + 412, photos 143, ISBN978-93-83221-14-1. https://www.academia.edu/30222114/Masterpieces_of_Indian_Literature_and_Art_-_Tears_of_Ka%E1%B9%87%E1%B9%87aki_Annals_and_Iconology_of_the_Cilappatik%C4%81ram_
  5. ↑ "Silappathikaram Tamil Literature". Tamilnadu.com. 22 Januari 2013. Diakses tanggal 2017-11-30.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Pemeliharaan CS1: layanan pengarsipan yang sudah usang (link)
  6. ↑ Ilango Adigal's epic is dated to probably belong to beginning of christian era
  7. 1 2 3 Nadarajah 1994, p. 310

Referensi

Rajarajan, R.K.K. (2016) Masterpieces of Indian Literature and Art - Tears of Kaṇṇaki: Annals and Iconology of the ‘Cilappatikāram’. Sharada Publishing House, New Delhi. Pages xix + 412, photos 143, ISBN 978-93-83221-14-1.

Bacaan lebih lanjut

Pranala luar

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Silappatikaram.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan