Sabtu, 24 Oktober 2026
09:07 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada
Shahrokh Shah

Shahrokh Shah

raja Afshariyah keempat dan terakhir (1748–1796)

Bagikan:
Shahrokh Shah
شاهرخ‌شاه
Syah
250px-Nader_Shah_Afshar_and_his_court%2C_India_or_Iran%2C_18th_century_%28cropped_2%29_%28cropped%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Detail Shahrokh Mirza, abad ke-18, oleh Ali Ashraf
Syah Iran
Penguasa Khorasan
Naik tahta pertama1 Oktober 1748 – 14 Januari 1750
PendahuluAdel Shah
PenerusSuleiman II (Dinasti Safawiyah)
Naik tahta kedua20 Maret 1750 – 1796
PendahuluSuleiman II
PenerusAgha Mohammad Khan Qajar (Dinasti Qajar)
LahirMaret 1734
Meninggal1796 (umur 62)
Damghan
AyahReza Qoli Mirza Afshar
IbuFatemeh Soltan Begom
PasanganSeorang wanita Jalayir
KeturunanNasrollah Mirza
Nader Mirza
DinastiDinasti Afshariyah
AgamaSyiah Dua Belas Imam

Shahrokh Mirza (bahasa Persia:شاهرخ‌میرزا‎; 1734–1796), yang lebih dikenal dengan gelar dinastinya Shahrokh Shah (شاهرخ‌ شاه‎), adalah raja (syah) dari dinasti Afshariyah yang memerintah bagian barat Khorasan (yang kira-kira setara dengan Provinsi Khorasan saat ini)[1] dari tahun 1748 hingga 1796, dengan jeda selama dua bulan. Ia merupakan cucu dari penakluk Iran, Nader Shah (berkuasa 1736–1747), dan putra dari Reza Qoli Mirza Afshar serta istrinya yang berasal dari dinasti Safawiyah, Fatemeh Soltan Begom, saudari Tahmasp II, syah Safawiyah kedua terakhir di Iran. Garis keturunan separuh Safawiyah yang dimilikinya membuat Shahrokh menonjol di antara kerabat Afshariyah-nya dan digunakan untuk memperkuat legitimasi kakeknya.

Setelah pembunuhan Nader Shah pada tahun 1747, keponakannya, Ali-qoli Khan (yang mengambil nama takhta Adel Shah), naik tahta di Mashhad dan memerintahkan pembantaian semua keturunan Nader Shah yang berada di benteng Kalat. Shahrokh dibiarkan hidup jika sewaktu-waktu garis keturunannya dari Safawiyah dapat berguna, dan ia pun ditahan di benteng tersebut sebagai tawanan. Ketika Adel Shah tengah menghadapi pemberontakan adik laki-lakinya, Ebrahim Mirza, sekelompok pemimpin suku Turk, Kurdi, dan Arab memanfaatkan ketidakhadirannya untuk mengangkat Shahrokh sebagai raja. Baik Adel Shah maupun Ebrahim akhirnya dikalahkan dan dibunuh, tetapi tak lama kemudian Shahrokh digulingkan oleh sekelompok pemimpin suku yang memberontak, yang lalu mengangkat pengklaim takhta Safawiyah, Mir Sayyed Mohammad (yang mengambil nama takhta Suleiman II), sebagai raja. Shahrokh dibuat buta atas hasutan Mir Alam Khan Khuzayma dan bangsawan-bangsawan terkemuka lainnya, meskipun hal itu sangat bertentangan dengan kehendak Suleiman II. Sekelompok konspirator yang dipimpin oleh pemimpin suku Turko-Mongol, Yusuf Ali Khan Jalayir, akhirnya menggulingkan Suleiman II dan mengembalikan Shahrokh ke atas takhta.

Nama

Nama "Shahrokh" (Persia: شاهرخ‎) diberikan kepadanya oleh kakeknya, Nader Shah (berkuasa 1736–1747), sebagai penghormatan kepada Shah Rukh, putra dan pewaris penguasa Turko-Mongol, Timur Lenk (berkuasa 1370–1405).[2][3] Tindakan ini dilakukan oleh Nader Shah sebagai cara untuk menampilkan dirinya sebagai penakluk yang setara dengan Timur.[4]

Kehidupan awal

Setelah penobatan pangeran Safawiyah, Tahmasp II, sebagai syah Iran pada tahun 1730, Nader Shah menikahi salah satu saudari Tahmasp II, sementara putra sulungnya, Reza Qoli Mirza Afshar, menikahi saudari lainnya, Fatimeh Soltan Begom. Pada bulan Maret 1734, Shahrokh lahir dari pernikahan antara Reza Qoli Afshar dan Fatimeh Soltan Begom. Kabar kelahiran tersebut sampai ke istana di Isfahan tepat pada hari Nowruz (Tahun Baru Iran), dan Nader Shah kemudian mengangkat Shahrokh sebagai penguasa kota Herat.[5] Dengan kelahiran Shahrokh yang memiliki darah setengah Safawiyah, Nader Shah dapat memperkuat legitimasi kekuasaannya.[6]

Referensi

  1. ↑ Perry 1991, hlm. 71.
  2. ↑ Tucker 2006, hlm. 13.
  3. ↑ Perry 1979, hlm. 21–22.
  4. ↑ Axworthy 2006, hlm. 134.
  5. ↑ Barati 2019, hlm. 51–52.
  6. ↑ Tucker 2006, hlm. 75.

Bibliografi

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan