Rabu, 07 Oktober 2026
12:00 WIB
TERKINI
Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Direktur RSUDAM Imam Ghozali Tanggapi Isu Mutasi: Siap Mengabdi Sesuai Kompetensi Lampung Timur Ceceran Minyak Misterius Kembali Cemari Pantai Cemara Lampung Timur Bandar Lampung Mendiktisaintek Brian Yuliarto Optimis Itera Jadi Institut Teknologi Terbaik Asia Tenggara Hukum Pengiriman 1,68 Juta Batang Rokok Ilegal Terbongkar di Tol Tulang Bawang Hiburan No Na Kibarkan Merah Putih: Video Musik 'Work' Tembus UK Music Video Awards 2026 Regional Duel Sengit Barito Putera dan Tira Persikabo Ramaikan Panggung Liga 1 Regional Barito Putera Taklukkan Persebaya Surabaya dengan Skor Tipis 1-0 Regional Evakuasi Korban Tabrakan Speedboat Paspampres di Palangkaraya Dilakukan Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Direktur RSUDAM Imam Ghozali Tanggapi Isu Mutasi: Siap Mengabdi Sesuai Kompetensi Lampung Timur Ceceran Minyak Misterius Kembali Cemari Pantai Cemara Lampung Timur Bandar Lampung Mendiktisaintek Brian Yuliarto Optimis Itera Jadi Institut Teknologi Terbaik Asia Tenggara Hukum Pengiriman 1,68 Juta Batang Rokok Ilegal Terbongkar di Tol Tulang Bawang Hiburan No Na Kibarkan Merah Putih: Video Musik 'Work' Tembus UK Music Video Awards 2026 Regional Duel Sengit Barito Putera dan Tira Persikabo Ramaikan Panggung Liga 1 Regional Barito Putera Taklukkan Persebaya Surabaya dengan Skor Tipis 1-0 Regional Evakuasi Korban Tabrakan Speedboat Paspampres di Palangkaraya Dilakukan

Seni lingkungan

Bagikan:

Seni lingkungan adalah bentuk praktik seni yang berkaitan dengan alam dan melibatkan pendekatan historis maupun karya kontemporer dengan fokus ekologi sosial.[1] Perkembangannya menunjukkan pergeseran dari perhatian pada bentuk artistik formal, misalnya penggunaan tanah sebagai bahan karya berskala besar, menuju keterlibatan dengan sistem, proses, dan fenomena yang berkaitan dengan isu masyarakat dan lingkungan.[2] Pada tahun 1990-an muncul pendekatan yang menggabungkan aspek sosial dan ekologis secara lebih langsung, termasuk perhatian terhadap etika dan pemulihan lingkungan.[3][4][5] Seni lingkungan kemudian menjadi tema dalam berbagai pameran internasional seiring meningkatnya perhatian terhadap dampak sosial dan budaya dari perubahan iklim. Istilah ini sering dikaitkan dengan isu ekologis, meskipun cakupannya lebih luas dan menekankan hubungan seniman dengan alam melalui penggunaan material alami.[6]

Sejarah

Akar seni lingkungan dapat ditelusuri hingga lukisan gua periode Paleolitikum yang menggambarkan unsur-unsur alam penting bagi manusia awal seperti hewan dan figur manusia. Walaupun lukisan lanskap belum ditemukan pada masa tersebut, karya-karya itu menunjukkan pengamatan awal terhadap alam.[7] Dalam perkembangan berikutnya, tradisi seni lanskap berperan dalam membentuk dasar seni lingkungan modern. Lukisan yang dibuat langsung di lokasi membantu seniman mengamati lingkungan secara dekat, termasuk kondisi cuaca dan perubahan cahaya. Hal ini tampak pada lukisan langit karya John Constable serta seri Houses of Parliament oleh Claude Monet yang memperlihatkan perhatian terhadap suasana dan cahaya.[8][9] Pada era kontemporer, seniman seperti Diane Burko menggambarkan fenomena alam dan perubahan jangka panjangnya untuk menyoroti isu lingkungan.[10][11] Alexis Rockman menampilkan lanskap yang menunjukkan hubungan manusia dengan makhluk hidup lain melalui teknologi, termasuk rekayasa genetika.[12]

Perkembangan Modern

Seni lingkungan berkembang sebagai gerakan pada akhir 1960-an dan awal 1970-an. Pada tahap awal, praktiknya banyak berkaitan dengan seni patung, terutama karya seni tempat, seni tanah, dan Arte povera. Gerakan ini muncul sebagai tanggapan terhadap kritik terhadap bentuk patung tradisional yang dianggap kurang sesuai dengan konteks lingkungan alam. Pada Oktober 1968 Robert Smithson menyelenggarakan pameran berjudul Earthworks di Dwan Gallery di New York. Banyak karya dalam pameran tersebut berukuran besar atau memiliki bentuk yang tidak mudah dipindahkan, sehingga sebagian karya ditampilkan melalui dokumentasi foto. Para seniman yang terlibat dalam gerakan ini bekerja langsung di lingkungan luar ruang sebagai bagian dari praktik artistik mereka di luar ruang galeri. Karya-karya tersebut dibuat dengan memanfaatkan lanskap sebagai lokasi dan elemen fisik dalam proses penciptaannya. Perubahan ini menandai perluasan dalam metode produksi, pendokumentasian, dan definisi karya seni, serta menambah variasi pendekatan dalam melihat keterhubungan antara seni dan lingkungan.[13][14][15]

Referensi

  1. ↑ "A Profusion of Terms". greenmuseum.org. Diakses tanggal 2025-11-21.
  2. ↑ Boettger, Suzaan (1999-05-07). "Suzaan Boettger. Review of "Land and Environmental Art (Themes and Movements)" by Jeffrey Kastner and Brian Wallis". caa.reviews. doi:10.3202/caa.reviews.1999.2. ISSN 1543-950X.
  3. ↑ Gablik, Suzi (2004). Has Modernism Failed? (dalam bahasa Inggris). Thames & Hudson. ISBN 978-0-500-28484-1.
  4. ↑ Gablik, Suzi (1992). The Reenchantment of Art (dalam bahasa Inggris). Thames and Hudson. ISBN 978-0-500-27689-1.
  5. ↑ Matilsky, Barbara C. (1992). Fragile Ecologies: Contemporary Artists' Interpretations and Solutions (dalam bahasa Inggris). Rizzoli International. ISBN 978-0-8478-1592-0.
  6. ↑ Weintraub, Linda. "Linda Weintraub: Untangling "Eco" from 'Enviro"". lindaweintraub.com (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2025-11-21.
  7. ↑ "The Landscape in Art: Nature in the Crosshairs of an Age-Old Debate - ARTES MAGAZINE". ARTES MAGAZINE (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-21.
  8. ↑ Thornes, John E. (2008-11-21). "A Rough Guide to Environmental Art". Annual Review of Environment and Resources (dalam bahasa Inggris). 33 (Volume 33, 2008): 391–411. doi:10.1146/annurev.environ.31.042605.134920. ISSN 1543-5938.{{cite journal}}: |issue= memiliki teks tambahan
  9. ↑ House, John; Monet, Claude (1988). Monet: nature into art (Edisi Third print). New Haven: Yale University Press. ISBN 978-0-300-03785-2.
  10. ↑ Burko, Diane (2020-11-26). "Making The Invisible Visible: How an artist can translate/transform scientific data into a comprehensible visual language". doi.org. Diakses tanggal 2025-11-21.
  11. ↑ Brouder, Patrick; Lundmark, Linda (2012-11-28). A (Ski) Trip into the Future. Dordrecht: Springer Netherlands. hlm. 149–161. ISBN 978-94-007-5883-4.
  12. ↑ "Alexis Rockman - Magazine - Art in America". www.artinamericamagazine.com. Diakses tanggal 2025-11-21.
  13. ↑ Kastner, Jeffrey; Wallis, Brian, ed. (1998). Land and environmental art. Themes and movements. London: Phaidon Press. ISBN 978-0-7148-3514-3.
  14. ↑ Lippard, Lucy R. (1995). Overlay : contemporary art and the art of prehistory. Internet Archive. New York : New Press : Distributed by Norton. ISBN 978-1-56584-238-0.
  15. ↑ Beardsley, John; Grubb, Nancy, ed. (1989). Earthworks and beyond: contemporary art in the landscape. Abbeville modern art movements (Edisi 2. expanded ed). New York: Abbeville Press. ISBN 978-0-89659-963-5.{{cite book}}: |edition= memiliki teks tambahan
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan