Artikel ini perlu dikembangkan agar dapat memenuhi kriteria sebagai entri Wikipedia. Bantulah untuk mengembangkan artikel ini. Jika tidak dikembangkan, artikel ini akan dihapus. |
Gaya atau nada penulisan artikel ini tidak mengikuti gaya dan nada penulisan ensiklopedis yang diberlakukan di Wikipedia. Bantulah memperbaikinya berdasarkan panduan penulisan artikel. (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini) |

Cukup sulit untuk mendefinisikan seni Indonesia, karena negara ini sangat beragam. Negara kepulauan yang luas ini terdiri dari 17.000 pulau,[1] sekitar 922 di antaranya berpenghuni permanen[2] oleh lebih dari 600 kelompok etnis,[3][4] yang berbicara lebih dari 700 bahasa.[5]
Indonesia juga memiliki sejarah yang panjang, dengan setiap periode meninggalkan karya seni yang khas. Mulai dari lukisan gua masa prasejarah dan patung leluhur megalitikum dari Sulawesi Tengah, tradisi ukiran kayu suku Toraja dan suku Asmat, seni Hindu-Buddha yang anggun dari peradaban Jawa klasik yang menghasilkan Borobudur dan Prambanan, lukisan Bali dan seni pertunjukan Bali yang hidup, serta seni Islam dari Aceh hingga seni kontemporer karya seniman Indonesia modern; baik keragaman maupun sejarah Indonesia turut menambah kompleksitas dalam mendefinisikan dan mengidentifikasi apa itu seni Indonesia.[6]
Seni rupa Indonesia adalah:[7]
- Tidak membeda-bedakan disiplin ilmu
- Menghilangkan sikap spesialis
- Mendambakan kretivitas
- Menerapkan perkembangan yang berpredikat Indonesia
- Membebaskan diri dari keterikatan bentuk, sehingga condong bersifat eksperimental dan main-main.
Karya seni rupa daerah di Nusantara merupakan perwujudan dari pola hidup, kepercayaan, atau nilai-nilai yang ada di daerah setempat.[8] Kesenian berasal dari kata seni yang berarti rasa indah bila dinikmati orang dengan mempergunakan indra mata dan telinga, dapat juga berarti rasa nikmat bila orang menggunakan indra pengecap. Untuk seni rupa, hanya dibatasi pada seni patung, seni hias, dan seni bangunan saja. Seni sastra, seni pertunjukan, seni tata boga tidak dibicarakan, karena sudah di luar bidangnya.[9]
Ideologi Dan Estetika Seni Rupa Indonesia
Melihat latar belakang pembentukan seni itu perkembangan praktik seni di Indonesia dibayangi dua ideologi seni.[10] Ideologi seni Barat dan ideologi seni Indonesia.[11] Ada ikatan di antara kedua ideologi seni itu.[11] Kedua ideologi itu bertumpu pada dasar yang sama.[11] Keduanya bersentuhan pula dengan pemikiran seni pada estetika, filsafat tentang keindahan.[11] Ideologi seni Indonesia tidak mengubah persepsi terhadap estetika tentang hubungan pengalaman merasakan keindahan dengan ungkapan seni.[11] Ini membuat ideologi seni Indonesia dekat dengan estetika, dan pembahasan seni yang diturunkan mempersoalkan kepekaan inilah seni yang menjadi sumber keahlian dalam memunculkan manifestasi seni.[11] Karena itu dalam perkembangan praktik-praktik seni dari dulu sampai sekarang ideologi seni indonesia menjadi dasar semua bentuk praktik seni seni tari, seni sastra, seni musik.[11]
Seni Rupa Awal Kemerdekaan
Kemerdekaan yang diperoleh bangsa Indonesia juga terasa sebagai suatu kebebasan dalam mengeluarkan pendapat, berorganisasi, beraliran.[12] Seniman yang ikut pindah ke Yogyakarta menjadikan perjuangan mempertahankan kemerdekaan sebagai tema lukisnya.[12] Presiden Soekarno yang menaruh minat besar terhadap seni meminta kepada Agus Djaja menghimpun pelukis untuk nantinya dapat mewujudkan museum seni lukis (1946).[12] Seniman Bandung pun pindah ke Yogyakarta dan berhimpun dalam sanggar Seniman Masyarakat di bawah pimpinan Affandi (1946) yang merupakan organisasi seniman pertama setelah merdeka dan memiliki potensi tinggi sebagai seniman-pejuang.[12]
Seni rupa
Seni lukis
- Classic painting, depicting the story of Jaratku
- Indonesian women planting rice in Java, W.J. Tohdjiwa
- landscape painting of rice fields and buffalo, I. Tomblos
Arca/Candi
Komplek berarti kelompok yang terdiri dari beberapa unsur.[9] Komplek candi berarti suatu kelompok candi atau sebuah candi dengan unsur lain yang merupakan satu kesatuan.[9] Berdasarkan pengelompokannya, candi di Indonesia dapat dibedakan atas beberapa buah.[9]
- Candi Tunggal
Candi tunggal merupakan suatu candi tunggal yang dengan lingkungannya merupakan satu kesatuan.[9]
- Kelompok Terkonsentrasi
Kelompok terkonsentarasi merupakan komplek percandian yang terdiri dari sejumlah besar candi dengan candi induk sebagai pusatnya.[9]
- Kelompok Tersebar
Kelompok tersebar merupakan komplek percandian juga, namun letaknya tersebar, tetapi dari kondisi masing-masingcandi diketahui bahwa masing-masing merupakan satu kesatuan juga.[9]
- Kelompok Terpadu
Kelompok terpadu merupakan komplek percandian terdiri dari tiga halaman dengan candi induknya terdapat di bagian belakang.[9]
- Architectural fragment with a demon's head; 13th-14th century; Philadelphia Museum of Art (USA)
- Statue of Ganesha, a Hindu deity; 1275-1300; Museum Volkenkunde, Leiden
- Statue of Durga Mahishasuramardini; 1275-1300; Museum Volkenkunde, Leiden.
Sinema
Seni fungsional
Seni fungsional mengacu pada objek-objek yang terutama memiliki kegunaan praktis. Seni fungsional mencakup benda-benda yang berkaitan dengan kebutuhan dan keperluan dasar manusia—seperti pakaian, tempat tinggal, perkakas, dan benda-benda berguna lainnya—yang sering kali dihias dengan cara-cara yang tidak selalu berkaitan dengan fungsi praktis benda itu sendiri. Contoh utama benda fungsional sehari-hari yang berkembang menjadi karya seni meliputi tekstil dan tenunan; kerajinan anyaman dari serat tumbuhan; serta perkakas dan wadah, seperti anyaman bambu dan rotan. Salah satu contoh seni fungsional yang paling rumit pengerjaannya adalah struktur hunian tradisional dalam arsitektur vernakular Indonesia.
Anyaman

Tekstil

Persenjataan

Tembikar

Arsitektur

Seni pertunjukan

Tari
Drama
Wayang

Seni musik
Seni bela diri

Seni kuliner
Galeri
- Indonesian art
- Asmat totem-like bisj poles
- Batak tribal mask
- Nias tribal art statues
- Toraja wood carving
- Silver Manjushri, Java art, c. 9th century
- A Pair of Loro Blonyo
- Javanese silverware
- Javanese Gunungan
- Balinese golden kris hilt, with gems
- Sundanese wayang golek
- Balinese topeng (masks)
- Contemporary Balinese wooden sculpture
- Classic Balinese painting
- Raden Saleh's romantic depiction of boar hunting
- Hudoq Mask of the Dayak People
Lihat pula
Referensi
- ↑ (dalam bahasa Indonesia) Dari 17.504 Pulau di Indonesia, 16.056 telah diverifikasi PBB - Eko Prasetya - Merdeka - 19 Agustus 2017
- ↑ Based on "Seminar Nasional Penetapan Nama Pulau-pulau Kecil Dalam Prespektif Sejarah" or "National Seminary of Name For Little Islands From History Side", 16 to 18 July 2008 at Palembang, South Sumatra, Indonesia
- ↑ Ananta, Aris; Arifin, Evi Nurvidya; Hasbullah, M Sairi; Handayani, Nur Budi; Pramono, Agus (2015). Demography of Indonesia's Ethnicity. Institute of Southeast Asian Studies. hlm. 12, 27–28. ISBN 978-981-4519-87-8.
- ↑ "Mengulik Data Suku di Indonesia". Badan Pusat Statistik. 18 November 2015. Diakses tanggal 12 Februari 2020.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Lewis, M. Paul (2009). "Ethnologue: Languages of the World, Sixteenth edition". SIL International.
- ↑ Indonesia, Aplikasi. "arti indonesia adalah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI Online". aplikasi-indonesia.com. Diakses tanggal 2020-12-25.
- ↑ "Pendidikan Seni Seni Rupa", Grasindo, 9797324303, 9789797324308.
- ↑ Harry Sulastianto, dkk, "Seni dan Budaya", PT Grafindo Media Pratama, 9797583414, 9789797583415.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 Supartono Widyosiswoyo, "
- ↑ name="Ikatan Silang">Jim Supangkat, Rizki Akhmad Zaelani, "Ikatan silang budaya: seni serat Biranul Anas", Kepustakaan Populer Gramedia, 2006, 9799100593, 9789799100597.
- 1 2 3 4 5 6 7
- 1 2 3 4 Supartono Widyosiswoyo, "Sejarah Seni Rupa Indonesia II", Universitas Trisakti.
Bacaan lebih lanjut
- Tara Sosrowardoyo (1998). Indonesian Art. Periplus Editions (HK) Limited. ISBN 9789625933207. Museum Nasional (Indonesia)
- Koes Karnadi (2006). Modern Indonesian art: from Raden Saleh to the present day. Koes Artbooks. ISBN 9789798704024.
Pranala luar
Topik Indonesia | |
|---|---|
| Sejarah Nusantara (pra-Indonesia) | |
| Sejarah Indonesia | |
| Geografi | |
| Politik dan pemerintahan | |
| Ekonomi | |
| Demografi | |
| Budaya | |
| Simbol | |
| Flora dan fauna | |
| Lainnya | |