Museum Volkenkunde di Leiden | |
![]() | |
| Nama sebelumnya | Museum Etnologi Nasional di Leiden, Museum Volkenkunde |
|---|---|
| Didirikan | 1837 |
| Lokasi | Leiden, Belanda |
| Koordinat | 52°09′47″N 4°28′57″E / 52.163056°N 4.4825°E / 52.163056; 4.4825 |
| Wisatawan | 76.318 (2008) |
| Direktur | Wayne Modest & Marieke van Bommel |
| Situs web | leiden.wereldmuseum.nl |
Wereldmuseum Leiden (juga dikenal sebagai Museum Volkenkunde) adalah museum nasional etnologi dan Rijksmuseum di Leiden, Belanda.[1] Lokasi museum ini terletak tidak jauh, sekitar lima menit jalan kaki dari Stasiun Leiden Centraal. Per tahun 2014, museum ini, bersama dengan Wereldmuseum Amsterdam di Amsterdam, dan Wereldmuseum Rotterdam, bersama-sama membentuk Museum Nasional van Wereldculturen.[2]
Koleksi

Koleksi Museum Volkenkunde sebagia besar merupakan benda-benda peninggalan periode Hindia Belanda di Indonesia.[3] Selain itu, koleksinya ada yang berasal dari wilayah Afrika, Tiongkok, Jepang, Korea, Amerika Latin, Amerika Utara, Oseania, dan Asia.[butuh rujukan] Benda-benda dalam koleksi Museum Volkenkunde menampakkan tema yaitu kehidupan manusia sebagai suatu seni.[4] Cerita yang mewujudkan tema universal seperti perayaan, duka cita, dekorasi, doa, cinta, dan konflik. Tema-tema yang memiliki satu kesamaan: tema-tema tersebut menunjukkan bahwa terlepas dari perbedaan kita semua adalah manusia.
Sejak tahun 2017, Wereldmuseum secara keseluruhan memiliki hampir 450.000 objek, 260.000 foto, serta sekitar 350.000 materi film dan video dokumenter. Di Museum Volkenkunde, hanya sedikit koleksi yang ditampilkan, selebihnya bisa diakses lewat katalog koleksi secara daring.[5]
Koleksi Blomhoff
Sebagai Opperhoofd (atau kepala pedagang) untuk Perusahaan Hindia Timur Belanda (Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC) di Pulau Dejima di Pelabuhan Nagasaki dari tahun 1817 hingga 1823, Jan Cock Blomhoff merupakan sosok yang unik. Meskipun ada kebijakan "pintu tertutup" Jepang bagi orang Barat (sakoku), ia tetap membawa istrinya, Titia, dan anak-anaknya untuk bergabung dengannya.[6] Seperti yang sudah diduga, pihak Jepang menanggapi hal itu dengan mengusir Blomhoff beserta keluarganya; namun pengalaman tersebut justru memperluas ragam barang-barang rumah tangga dan benda-benda lain yang ia kumpulkan selama tinggal di Jepang.
Koleksi Fischer
Johannes Gerhard Frederik van Overmeer Fischer memulai kariernya sebagai pegawai administrasi di Dejima dan kemudian dipromosikan menjadi kepala gudang (pakhuismeester). Selama masa tinggalnya di Jepang, akses Fischer terhadap budaya Jepang memang terbatas; namun dalam lingkaran pergaulannya, ia berhasil mengumpulkan sejumlah besar benda-benda "biasa" yang kemungkinan besar terlewatkan oleh orang lain. Benda-benda ini dibawa kembali ke Belanda pada tahun 1829. Pada tahun 1833, ia menerbitkan Bijdrage tot de kennis van het Japansche rijk (Kontribusi terhadap pengetahuan tentang Kekaisaran Jepang).[7]
Koleksi Siebold
Sebagai seorang dokter yang mempraktikkan kedokteran Barat di Nagasaki (1823–1829), Philipp Franz von Siebold menerima pembayaran dalam bentuk barang berupa berbagai benda dan artefak yang kemudian menarik perhatian akademis yang tak terduga di Eropa. Benda-benda sehari-hari ini kemudian menjadi dasar koleksi etnografi miliknya yang besar, yang terdiri dari barang-barang rumah tangga sehari-hari, cetakan kayu, perkakas, dan benda-benda buatan tangan yang digunakan oleh masyarakat Jepang pada akhir zaman Edo. Informasi lebih lanjut mengenai materi ini diterbitkan dalam buku Siebold berjudul Nippon. Minat profesionalnya terutama tertuju pada peralatan yang digunakan dalam praktik pengobatan tradisional Jepang.[8] Sejak tahun 2005, sebuah museum terpisah yang berlokasi di salah satu bekas rumah Siebold, SieboldHuis, menyimpan sebagian dari koleksi tersebut.
"Dekolonisasi" koleksi
Pada tahun 2023, Wereldmuseum Leiden sedang dalam proses memulangkan beberapa karya seni Indonesia yang paling terkenal.[9] Salah satu kandidat lain untuk dipulangkan adalah "Plakat Leyden", sebuah plakat ikat pinggang Maya penting dari Guatemala yang menurut sebagian orang seharusnya dikembalikan ke negara tersebut, di mana benda itu dianggap sebagai kebanggaan nasional.
Pada tahun 2025, museum tersebut setuju untuk memulangkan 119 artefak, termasuk beberapa Patung Perunggu Benin, ke Nigeria.[10]
Rujukan
- ↑ "About Volkenkunde". Volkenkunde in Leiden (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2023-06-04.
- ↑ Smartsheet Inc. (2021). "The National Museum of World Cultures Makes Reporting and Communication Simple Across its Disparate Team" (PDF). Smartsheet (dalam bahasa Inggris). lembaran pertama. Diakses tanggal 20 Mei 2025.
{{cite web}}: line feed karakter dalam|title=pada posisi 72 - ↑ NFD (14 Maret 2023). "Sekelumit Indonesia di Museum Volkenkunde, Belanda". Arsip Nasional Republik Indonesia. Diakses tanggal 20 Mei 2025.
- ↑ Pinto-Rodrigues, Anne (2018). "The Volkenkunde Museum, Leiden" (PDF). Passage Edisi September/Oktober 2018 (dalam bahasa Inggris): 7.
- ↑ "Our collection". Volkenkunde in Leiden (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2023-06-04.
- ↑ Bersma Rene. (2002). Titia, the First Western Woman in Japan.
- ↑ Frederiks, Johannes. (1888). Biographisch woordenboek der Noord-en Zuidnederlandsche letterkunde, p. 250.
- ↑ Alpen, Jan. (1995) Oriental Medicine: An Illustrated Guide to the Asian Arts of Healing, p. 7.
- ↑ "Alles over de restitutie aan Indonesië".
- ↑ "The Netherlands agrees to return more than 100 artifacts to Nigeria looted during colonial times". AP News. 20 Februari 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
