Minggu, 01 November 2026
17:51 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Sejarah Madagaskar

Sejarah Madagaskar

Bagikan:
Bagian dari seri mengenai
Sejarah Madagaskar
250px-Atlas_Van_der_Hagen-KW1049B13_070-INSULA_LAVRENTII%2C_Vulgo_MADAGASCAR.jpeg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Pulau Madagaskar telah dihuni lebih dari dua ribu tahun, gelombang manusia pendatang terutama dari Austronesia dan Bantu, selama berabad-abad kedua kelompok tersebut menciptakan etnis Malagasi, yang merupakan campuran yang hampir sama dari kedua kelompok tersebut. Mereka berbicara bahasa Malagasi, sebuah bahasa Austronesia dengan pengaruh Bantu, Prancis, dan Arab.[1][2][3]

Pada Abad Pertengahan, lebih dari selusin etnis yang berbeda telah mendiami pulau itu, muncul beberapa politik pemerintahan di bawah seorang kepala suku setempat. Beberapa komunitas, seperti Sakalava, Merina, dan Betsimisaraka, bertransformasi dengan mendirikan kerajaan kuat, yang memperoleh kekayaan dan kekuasaan melalui perdagangan dengan orang Eropa dan Arab. Antara abad ke-16 dan ke-18, aktivitas bajak laut di daerah pesisir Madagaskar sangat umum.[4][5]

Pada pergantian abad ke-19, Raja Andrianampoinimerina menyatukan kembali Kerajaan Imerina dengan ibu kotanya di Antananarivo. Putranya, Radama I Agung, memperluas kekuasaannya ke wilayah-wilayah lain di pulau itu dan merupakan penguasa Malagasi pertama yang diakui oleh negara-negara asing sebagai penguasa Kerajaan Merina. Selama pemerintahan Ratu Ranavalona I (1828–1861), kerajaan tersebut semakin meluas hingga mencakup sebagian besar pulau. Ia juga berusaha memberantas pengaruh Eropa dan Kristen di negara tersebut.[6][7][8]

Kekristenan dijadikan agama negara di bawah Ratu Ranavalona II (berkuasa 1868–1883). Pada tahun 1880-an, Prancis mengklaim pulau tersebut dengan mendirikan Protektorat pada tahun 1890, Britania Raya menyetujuinya. Namun Kerajaan Madagaskar yang menolak klaim sepihak status protektorat Prancis, menyebabkan Perang Prancis-Hova yang berakhir dengan jatuhnya ibu kota pada bulan September 1895 ke tangan Prancis. Konflik berlanjut dalam pemberontakan Menalamba melawan pemerintahan Prancis yang dikalahkan pada tahun 1897. Monarki dibubarkan, ratu Ranavalona III diasingkan, dan Madagaskar akhirnya menjadi koloni Prancis.

Meskipun pemerintah Prancis menghapus perbudakan pada tahun 1896 di sana, rakyat Malagasi diwajibkan untuk melakukan kerja paksa di perkebunan yang dikelola Prancis, sementara akses ke pendidikan atau pekerjaan terampil terbatas. Beberapa perkumpulan rahasia nasionalis militan muncul sebagai oposisi terhadap pemerintahan Prancis, yang paling menonjol adalah Vy Vato Sakelika yang dibentuk pada tahun 1913. Banyak orang Malagasi direkrut untuk berperang membela Prancis selama Perang Dunia Pertama (1914–1918) dan Perang Dunia Kedua (1939–1945). Britania Raya merebut Madagaskar dari Prancis Vichy dalam Pertempuran Madagaskar, lalu mengembalikannya kepada Prancis yang sah.

Usai perang dunia kedua, nasionalis militan melancarkan pemberontakan besar pada tahun 1947 yang ditumpas secara brutal pada tahun 1949. Republik Malagasi didirikan pada 1958 sebagai republik otonom dalam Komunitas Prancis, kemudian memperoleh kemerdekaan penuh tahun 1960. Tahun 1975 Republik Demokratik Madagaskar yang berhaluan sosialis dibentuk dari hasil referendum. Madagaskar kembali mengalami perubahan politik tahun 1992 yang mengakhiri negara sosialis menjadi negara multi partai. Krisis politik Madagaskar tahun 2009 hingga Kudeta Madagaskar 2025 mengubah politik Madagaskar menjadi pemerintahan junta militer.

Referensi

  1. ↑ Heiske, Margit; Alva, Omar; Pereda-Loth, Veronica; Van Schalkwyk, Matthew; Radimilahy, Chantal; Letellier, Thierry; Rakotarisoa, Jean-Aimé; Pierron, Denis (2021). "Genetic evidence and historical theories of the Asian and African origins of the present Malagasy population". Human Molecular Genetics (dalam bahasa Inggris). 30 (R1): R72–R78. doi:10.1093/hmg/ddab018. PMID 33481023.
  2. ↑ "6. Dominion over Palm and Pine", Anthony Reid and the Study of the Southeast Asian Past, ISEAS Publishing, 2012-12-31, hlm. 101–122, doi:10.1355/9789814311977-008, ISBN 978-981-4311-97-7, diakses tanggal 2025-10-14
  3. ↑ Cox, Murray P.; Nelson, Michael G.; Tumonggor, Meryanne K.; Ricaut, François-X.; Sudoyo, Herawati (2012-07-22). "A small cohort of Island Southeast Asian women founded Madagascar". Proceedings. Biological Sciences. 279 (1739): 2761–2768. doi:10.1098/rspb.2012.0012. ISSN 1471-2954. PMC 3367776. PMID 22438500.
  4. ↑ Beale, Philip (2006). "From Indonesia to Africa: Borobudur Ship Expedition". ZIFF Journal. 3: 17–24.
  5. ↑ Manguin, Pierre-Yves (September 1980). "The Southeast Asian Ship: An Historical Approach". Journal of Southeast Asian Studies. 11 (2): 266–276. doi:10.1017/S002246340000446X. JSTOR 20070359. S2CID 162220129.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑ Pierron, Denis; Razafindrazaka, Harilanto; Pagani, Luca; Ricaut, François-Xavier; Antao, Tiago; Capredon, Mélanie; Sambo, Clément; Radimilahy, Chantal; Rakotoarisoa, Jean-Aimé; Blench, Roger M.; Letellier, Thierry (2014-01-21). "Genome-wide evidence of Austronesian–Bantu admixture and cultural reversion in a hunter-gatherer group of Madagascar". Proceedings of the National Academy of Sciences (dalam bahasa Inggris). 111 (3): 936–941. Bibcode:2014PNAS..111..936P. doi:10.1073/pnas.1321860111. ISSN 0027-8424. PMC 3903192. PMID 24395773.
  7. ↑ Sanger Institute (Mei 4, 2005). "The cryptic past of Madagascar: Human inhabitants of Madagascar are genetically unique". Diarsipkan dari asli tanggal Maret 3, 2011. Diakses tanggal April 30, 2006.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. ↑ Cox, Murray P.; Nelson, Michael G.; Tumonggor, Meryanne K.; Ricaut, François-X.; Sudoyo, Herawati (2012). "A small cohort of Island Southeast Asian women founded Madagascar". Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences. 279 (1739): 2761–2768. doi:10.1098/rspb.2012.0012. PMC 3367776. PMID 22438500.
Sejarah Afrika menurut negara
Negara
berdaulat
Afrika Utara
Afrika Barat
Afrika Tengah
Afrika Timur
Afrika Selatan
Negara dengan
pengakuan terbatas
Dependensi dan
wilayah lain
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan