| Sanusi Daris | |
|---|---|
| Lahir | 1925 Kalosi, Hindia Belanda |
| Meninggal | 1988 (umur 62–63) Sabah, Malaysia |
| Pengabdian | Indonesia (1945-1953) Negara Islam Indonesia (1953-1962) Republik Persatuan Islam Indonesia (1962-1965) Republik Federasi Sulawesi |
| Dinas/cabang | Tentara Republik Indonesia Tentara Islam Indonesia |
| Lama dinas | 1945-1982 |
| Perang/pertempuran | Revolusi Nasional Indonesia Pemberontakan Darul Islam |
Sanusi Daris (1925-1988) adalah seorang tokoh militer yang menjadi Komandan DI/TII. Dia juga bersembunyi selama 17 tahun setelah kematian Abdul Kahar Muzakkar.
Kehidupan dan karier awal
Sanusi lahir di Kalosi dari pasangan Gata dan Tiha. Sehari-hari, dia dipanggil Utji. Dia memiliki darah bangsawan Kerajaan Alla. Karena memiliki darah bangsawan, dia dapat bersekolah.[1]
Pada usia 20 tahun, Sanusi menjadi guru sekolah rakyat di Kalosi. Beberapa bulan kemudian, dia pindah ke Malua dan bekerja sebagai guru. Di Malua, dia berkenalan dengan tokoh Muhammadiyah bernama Sialla.[1]
Karier militer
Revolusi Nasional Indonesia
Ketika Revolusi Nasional pecah, Sanusi berprofesi sebagai guru di Malua. Dia ikut serta dalam usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dia bergabung dengan laskar bersenjata di bawah kepemimpinan Puang Tambone.[2]
Sanusi bergabung dengan Batalion Wolter Monginsidi di bawah kepemimpinan Andi Sose. Di dalam batalion, dia menjabat sebagai komandan pasukan. Sebagai komandan, dia selalu berada pada garis terdepan yang membawa bendera di setiap pertempuran.[2]
Darul Islam
Sanusi bergabung dengan TKR pada tahun yang tidak diketahui.[3] Kemudian, dia bergabung dengan Gerakan Darul Islam pada tahun 1953 dan dia dikenal sebagai sosok yang kebal terhadap senjata.[4] [5] Dia menjadi Komandan Batalyon Rante Mario di Baraka dan Komandan Pasukan Khusus DI/TII, Momoc Ansharullah.[6][7] Selain itu, dia juga diangkat sebagai Penjabat Residen Bayangan Sulawesi Barat pada tanggal 15 Januari 1954.[8]
Sebagai Komandan DI/TII, Sanusi memilih untuk menerapkan pendekatan kekeluargaan di wilayah kekuasannya. Berkat pendekatan tersebut, dia dapat merekrut penduduk setempat untuk bergabung dengan pasukannya.[6] Pada bulan Mei 1959, Dia menjadi wakil DI/TII dalam perundingan kerja sama militer dengan Jan Willem Gerungan. Perundingan tersebut menghasilkan pembentukan Staf Gabungan Pertahanan Militer Bersama (SGPM) di mana dia diangkat sebagai panglimanya sedangkan Gerungan sebagai deputi panglima.[9]
Kemudian, Sanusi menjadi Komandan Komando Tempur II Latimojong, yang mencakup wilayah Duri dan Palopo Selatan, dan juga menjadi Menteri Muda Pertahanan, ketika Kahar mendirikan Republik Persatuan Islam Indonesia (RPII) pada tahun 1962.[7]
[10]
Mengasingkan diri
Seusai kematian Muzakkar, Sanusi bersama dengan pengikutnya memutuskan untuk bersembunyi di gua yang terletak di daerah Duri.[11] Alasan dia memilih untuk bersembunyi ialah karena Kahar Muzakkar memberikan mandat untuk melakukannya dan agar dia bisa menerapkan hukum Islam sepenuhnya.[12] Tempat persembunyiannya dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Sansudaris.[11] Para penduduk desa mengetahui tempat bersembunyinya, namun memilih untuk tidak membahasnya untuk melindungi dia.[12]
Ketika bersembunyi, dia menjabat sebagai Perdana Menteri Republik Persatuan Sulawesi (RPS). Setelah Presiden RPS, Kaso Abdul Gani, meninggal dunia pada 13 Juli 1976, dia diangkat menjadi presiden.[13] Pada kabinet RPS-nya, dia mengangkat orang-orang bekas DI/TII sebagai menterinya seperti Jufri Tambora, Nurdin Pisof, dan M. Ali AT mantan komandan DI/TII.[14] Dia juga kadang-kadang keluar dari persembunyiannya untuk menghadiri acara pernikahan di malam hari atau menjenguk kerabatnya.[12]
TNI mencoba membujuk dia dan pengikutnya untuk keluar dari persembunyian dengan mengirimkan tiga tokoh agama Enrekang dari tahun 1969-1970. Para tokoh agama ini mencoba untuk meyakinkannya bahwa jihad bisa dilakukan dengan mendidik anak muda melalui pesantren. Namun dia tetap lebih memilih tinggal dipersembunyian.[15]
Keluar dari persembunyian dan kehidupan akhir
Setelah istri Sanusi mendengar berita penangkapan pengawalnya pada awal September 1982, Solli Chalik, Sanusi keluar dari gua dan memilih untuk bersembunyi di rumah kakaknya. Namun, dia merasa kurang nyaman tinggal di rumah kakaknya dan lebih memilih bersembunyi di gubuk di tengah sawah.[16]
Pada tanggal 5 Oktober 1982, petugas menemukan keberadaan Sanusi dan menangkapnya di Kampung Lalle, Massulowalie.[17] Setelah itu, pemerintah menangkapnya dan menginterogasinya secara brutal.[13] Dua tahun berikutnya, dia menjalani proses pengadilan di Makassar dan dijatuhi hukuman 2 tahun 3 bulan setelah terbukti melakukan tindak pidana subversi dengan mendirikan gerakan Republik Federasi Sulawesi.[18] Namun, dia kemudian dibebaskan pada tahun 1984 berkat campur tangan M. Jusuf.[13][15]
Setelah bebas dari tahanan, Sanusi pindah ke Jawa ditemani oleh santri Pondok Pesantren Al Mu'min bernama Andi Mohamed Taqwa. Setibanya di Jawa, Taqwa memperkenalkan Sanusi kepada Abdullah Sungkar. Dari pertemuan dengan Sungkar, mereka sepakat untuk mendirikan Gerakan Republik Persatuan Indonesia.[19]
Sanusi dan Sungkar kemudian beremigrasi dari Indonesia dan memutuskan untuk menetap di Negeri Sembilan. Sanusi lalu pindah ke Sabah pada tahun yang tidak diketahui.[19] Di Sabah, ia tetap menjaga hubungan dengan jaringan Ponpes Al Mu'min. Dia meninggal di Sabah pada tahun 1988.[20]
Referensi
- 1 2 Pilang 2013, hlm. 172.
- 1 2 Pilang 2013, hlm. 174.
- ↑ Harvey 1989, hlm. 224.
- ↑ Pilang 2013, hlm. 168.
- ↑ Bugis Citra Media, Bugis Citra Media. "Menelusuri Ilmu Kebal". bugiscitramedia.com. Bugis Citra Media. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
- 1 2 Aisyah, Nur; Patahuddin, Patahuddin; Ridha, H. M. Rasyid (2018). "Baraka : Basis Pertahanan DI/TII di Sulawesi Selatan (1953-1965)". Jurnal Pattingalloang. 5 (2): 59.
- 1 2 Juhanis 2006, hlm. 116.
- ↑ Ansar, Widia Astuti; Ahmadin, Ahmadin; Ridha, Rasyid (2017). "BULUKUMBA DI TENGAH PERGOLAKAN DI/TII 1952-1965" (PDF). Jurnal Pattingalloang. 4 (3): 10.
- ↑ Harvey 1989, hlm. 312.
- ↑ Gonggong, Anhar (1990). Abdul Qahhar Mudzakkar dan Gerakan DI/TII di Sulawesi Selatan, 1950-1965 (Doktor Ilmu Sastra tesis). Universitas Indonesia. hlm. 394.
- 1 2 Matanasi, Petrik. "Legenda Kahar Muzakkar, Terbunuh tapi Dianggap Masih Hidup". tirto.id. Tirto. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
- 1 2 3 Juhanis 2006, hlm. 117.
- 1 2 3 Bakti, Andi.F (1 Februari 2005). "Chapter 2: The History of the Bloggs Family". Dalam Zurbuchen, Mary S. (ed.). Beginning to Remember: The Past in the Indonesian Present. University of Washington Press. hlm. 125.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Juhanis 2006, hlm. 119.
- 1 2 Juhanis 2006, hlm. 118.
- ↑ "MENGADILI "PRESIDEN RFS"". Tempo. 4 Agustus 1984. Diakses tanggal 16 Agustus 2026.
- ↑ "Setelah sembunyi hampir 20 tahun: Bekas Menlu DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar menyerah". Kompas. 10 Oktober 1982. Diakses tanggal 16 Agustus 2026.
- ↑ "Dihukum, Presiden dan Sekretaris Negara Republik Federasi Sulawesi". Kompas. 2 November 1984. Diakses tanggal 16 Agustus 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 ICG 2002, hlm. 10.
- ↑ ICG 2002, hlm. 11.
Bibliografi
- Juhanis, Hamdan (Juli 2006). The Struggle for Formalist Islam in South Sulawesi: From Darul Islam (DI) to Komite Persiapan Penegakan Syariat Islam (KPPSI) (Doctor of Philosophy tesis). Australian National University.
{{cite thesis}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Harvey, Barbara Sillars (1989). Pemberontakan Kahar Muzakkar : Dari tradisi ke DI/TII. Jakarta: Grafiti Pers.
- ICG (8 Agustus 2002). AL-QAEDA IN SOUTHEAST ASIA: THE CASE OF THE “NGRUKI NETWORK” IN INDONESIA. International Crisis Group (Laporan). Jakarta and Brussels.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Pilang, Abdul Rahman (2013). "Leadership of Sanusi Daris in the Dynamics Community of Duri Enrekang Regency". Journal of Sociological Research. 4 (2). doi:10.5296/jsr.v4i2.4067.