Samsudin Hardjakusumah | |
|---|---|
| Lahir | Raden Muhammad Syamsudin Dajat Hardjakusumah 6 Mei 1942 (umur 84) |
| Nama lain | Sam Bimbo |
| Almamater | Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung |
| Pekerjaan | aktor, pemusik, penyanyi |
| Masa aktif | 1954–sekarang |
| Pasangan menikah | Rubaah Samsudin |
| Anak | 4 |
Raden Muhamad Syamsudin Dajat Hardjakusumah (lahir 6 Mei 1942 atau lebih dikenal dengan Sam Bimbo[1]) adalah salah satu musikus Indonesia dari kelompok musik bersaudara Bimbo. Sarjana Seni Rupa ITB lulusan tahun 1968 ini beristrikan Rubaah Samsudin dan kini dianugerahi 4 orang anak dan 4 cucu. Anaknya yang bungsu bernama Asri Dewi Lestari atau Achi Hardjakusumah adalah penyanyi cilik tahun 1990an yang kemudian menjadi salah satu personel grup musik wanita asal Bandung, SHE.
Sam yang dipengaruhi oleh Barry Gibb, Everly Brothers, Cliff Richard, Tommy Steele, the Mills Brothers dan Paul Anka adalah anak pertama dari 7 bersaudara sekaligus menjadi pimpinan grup ini. Ian pernah menerima penghargaan dari Presiden Amerika Serikat dan Rusia, yaitu Ronald Reagen & Leonid Brezhnev. Tahun 1982 Sam menerima penghargaan atas lagu yang mengusung tema mencegah Perang Dunia III.
Dalam bidang seni lukis, Sam pernah mengadakan pameran tunggal di Indonesia tahun 1970, 1992, dan 2007 Diarsipkan 2007-09-28 di Wayback Machine. Ia juga menyelenggarakan pameran tunggal di Bangkok 1971 dan Pameran bersama di Bandung, Yogyakarta, Bali dan Jakarta 1995 - 2005. Dirinya pernah juga melukis lukisan dinding berukuran 10 x 30 m untuk Kedutaan Indonesia di Bangkok, lukisan berukuran 8 x 12 m di Gedung Parlemen Indonesia, dan lukisan berukuran 3 x 1,5 m di Singapura. Terdapat 20 lukisan kaligrafinya dikoleksi oleh Nakajima di Jepang.
Biografi
Sam memulai karir profesionalnya di Bandung sejak tahun 1954 dengan berposisi sebagai pemain gitar melodi untuk mendirikan band bernama Puspa Irama bersama adiknya Acil pada vokal dan gitar pengiring serta tiga orang Ebet Kadarusman pada bass, Jarzuk Arifin pada organ dan Isa Tartusi pada drum. Kemudian pada tahun 1956, Ebet keluar karena ingin berhijrah ke Australia dan kekosongan itu digantikan oleh Wibisono Ismail bergabung dengan Puspa Irama sebagai pembetot bas tetap sedangkan Sam mengambil alih sebagai penyanyi utama dan pemain gitar pengiring sementara Acil mengambil alih sebagai pemain gitar melodi.
Kemudian pada tahun 1958, Jarzuk, Isa dan Wibisono telah mengundurkan diri karena ingin mendirikan grup band bernama Blues Boys yang berganti namanya menjadi Blues Swingers dan Arulan bersama Sjahrul G. Bajumi. Band ini masih bertahan dengan menyisakan dua orang termasuk Sam dan Acil. Tak lama kemudian, Sam berkenalan dengan Yessy Wenas bergabung sebagai pemain gitar melodi tetap. Untuk posisi bassist dan drummer yang ditinggalkan Wibisono Ismail dan Isa Tartusi, Jusuf Kartolo dan Imam Kartolo telah masuk menggantikannya sementara Acil kembali mengambil alih sebagai pemain gitar pengiring. Setelah masuknya Yessy, Jusuf dan Imam, Sam mengusulkan namanya The Alulas, group ini berhasil menjadi pemenang festival band yang diadakan di Hotel Homann Bandung.
Kemudian pada tahun 1961, Jusuf Kartolo dan Imam Kartolo mengundurkan diri dari The Alulas. Jusuf Kartolo menjadi seniman ludruk, aktor dan pelawak sedangkan Imam Kartolo menjadi seniman dan penulis lagu. Setelah ditinggalnya Jusuf dan Imam, Sam, Acil dan Yessy. Tak lama kemudian, Sam, Acil dan Yessy bertemulah dengan Indradi alias Dodo bergabung sebagai penabuh drum dan diajak dua orang Memet Slamet (vokal) dan Iwan Abdurachman (gitar melodi) bergabung sebagai anggota tetap sedangkan adiknya Acil masih menjadi penyanyi dan merangkap posisi sebagai pemain gitar bass sementara dua orang itu Yessy mengambil alih posisi pada gitar pengiring sekaligus merangkap sebagai penyanyi dan Sam berfokus pada penyanyi utama dan band ini berganti namanya menjadi Aneka Nada.
Kemudian pada tahun 1962, Guntur Soekarnoputra telah bergabung sebagai pemain gitar melodi tetap, karena mereka kebetulan sama-sama kuliah di ITB. Sedangkan Iwan mengambil alih posisi pada bass sementara Acil juga masih menjadi penyanyi dan merangkap posisi sebagai pemain gitar melodi. Aneka Nada anggotanya kala itu terdiri dari Sam (vokal), Acil (vokal dan gitar melodi), Guntur (gitar melodi), Iwan Abdurachman (bass), Yessy Wenas (gitar pengiring dan penyanyi), Indradi alias Dodo (drummer), dan Memet Slamet (vokal). Bahkan Sam dan Acil terinspirasi duet vokal ala Everly Brothers sementara dua orang itu Memet Slamet dan Yessy Wenas juga terpengaruh duet vokal ala Kalin Twins. Aneka Nada banyak memainkan musik berirama Amerika Latin yang berirama Cha-Cha seperti lagu Trio Los Ponchos. Sedikit-sedikit ada juga lagu Barat yang berirama rock, tetapi tidak banyak karena ada larangan musik ngak ngik ngok pada masa itu. Band ini berhasil membuat rekaman pertama berjudul Kampungku yang direkam oleh Lokananta di Solo.[2] Lagu itu kemudian diputar di RRI Bandung dan kota lainnya yang membuat mereka cukup dikenal. Namun setelah album pertama ini terjadi perubahan formasi personil satu-persatu, di mana Iwan Abdurachman terpaksa mengundurkan diri dan memilih melanjutkan sekolahnya. Dalam formasi yang baru ini, posisi bass kembali dirangkap oleh adiknya Acil sekaligus vokalis pada tahun 1963.
Pada tahun 1964, Sam, Acil dan Dodo juga mengasuh Band Aneka Nada Yunior yang antara lain didukung adik laki-lakinya Jaka pemain gitar melodi dan Iwan Abdurachman pemain bass, teman sebangku Jaka di SMP, Jaka dan Iwan merupakan mantan anggota band Nada Melody. Selain itu, Sam juga melatih adik-adik perempuannya, yaitu Yani, Tina dan Iin, aktif bermusik sejak kecil ikut terkena pengaruh ala musik pop Connie Francis untuk bernyanyi dalam trio Yanti Bersaudara. Trio ini sempat populer pada paruh kedua era 1960-an dengan lagu seperti Abunawas.[3]
Ketika Yanti Bersaudara berjaya, band Aneka Nada malah bubar pada tahun 1965. Perbedaan visi di antara mereka membuat band ini tidak bisa dipertahankan. Sam dan Acil sempat vakum untuk beberapa saat. Sementera Yessy Wenas, Guntur Soekarno, Dodo, dan Memet Slamet membentuk sebuah band baru bernama Kwartet Bintang. Band ini sempat terkenal dengan lagu-lagu band ini seperti Puteri Malu, Si Gareng, Taman Rindu, dll cukup dikenal masyarakat saat itu.[4]
Di tengah kesuksesannya, Iin, Yani, dan Tina menggagas untuk memberi hadiah gitar kepada ketiga kakak laki-lakinya. Mereka memesan tiga gitar pada pembuat gitar terkenal di Bandung, yaitu Oen Peng Hok, di bilangan Jalan Kopo. Gitar Peng Hok itu dimaksudkan mereka sebagai pemacu semangat untuk ketiga abangnya. Sejak itu tiga bersaudara itu semakin giat berlatih. Mereka mulai berlatih memainkan lagu-lagu Latin. Akhirnya Sam dan adiknya Acil membentuk sebuah band sendiri dengan mengajak adik laki-laki mereka Jaka. Sam, Acil dan Jaka dari gaya Elvis Presley diubah ke Everly Brothers, Cliff Richard, Tommy Steele, the Mills Brothers, Paul Anka dan Bee Gees. Bahkan, mereka sampai merasa perlu ke depan muka sebelah tanpa bibir.
Pada tahun 1966, Sam, Acil dan Jaka banyak mendapat saran dari seorang temannnya FR. Pattirane, yang membukakan cakrawala mereka dalam bermusik, khususnya dalam hal harmoni.[5] Nama Bimbo sendiri diberikan oleh Hamid Gruno, Sutradara TVRI. Bermula pada tahun 1966, ketika muncul di TVRI, band ini belum ada nama. Oleh Hamid Gruno disuruh memakai saja nama Bimbo, Artinya: Bagus laah! Sebab itu mereka pun pun kemudian selalu mengidentikkan diri dengan "Bagus". Sejak itu mereka menggunakan nama Trio Los Bimbos yang masih berbau Latin.
Pada tahun 1967, belakangan mereka mengubah nama Trio Los Bimbos ini menjadi Trio Bimbo agar lebih berkesan lokal. Pada awalnya Trio Bimbo banyak dipengaruhi Musik Latin. Menurut mereka lagu-lagu Latin itu dekat dengan tembang Sunda. Lagu Latin banyak pakai Perkusi dan tembang Sunda banyak pakai Gendang. Kedekatannya juga pada nada minor yang dominan[3]
Pada tahun 1969 Trio Bimbo pernah mencoba menawarkan konsep musiknya untuk direkam di perusahaan rekaman Remaco. Namun demo mereka ditolak mentah mentah oleh Remaco. Alasannya musik yang diusung Trio Bimbo yaitu pop dibasuh nuansa Latin Flamenco, agak kurang lazim di Indonesia. Meski mengecewakan tetapi hal itu tidak mengendorkan semangat mereka untuk terus bermain musik sembari melanjutkan pendidikan mereka yang masih berjalan.
Trio Bimbo pernah dikontrak selama tiga bulan untuk bernyanyi di Ming Court Hotel di bilangan Orchard, Singapura. Di sana mereka bermain hampir tiap malam menghibur tamu-tamu hotel yang berasal dari berbagai negara maupun warga Singapura sendiri. Mendekati kontrak mereka hampir selesai, Bimbo pun waktu itu sebenarnya hampir bubar. Acil dan Jaka harus pulang menyelesaikan kuliah mereka. Sam yang memang sudah lulus dari Jurusan Seni Rupa ITB pun tak ingin sendiri berlama-lama di negeri orang. Lalu mereka pun mencoba membuat sebuah album buat kenang-kenangan. Sebelum pulang ke Indonesia, Bimbo sempat merekam album di perusahaan rekaman Polydor dengan label Fontana, Singapura, 1970.
Rekaman di Kinetex Studio itu melibatkan seniman jazz Maryono pada flute dan saksofon, serta Mulyono pada piano. Kebetulan keduanya juga dikontrak main di Singapura. Album itu memuat 12 lagu antara lain Melati dari Jayagiri dan Flamboyan gubahan Iwan Abdulrachman. Tak disangka, setelah dirilis ke pasaran album tersebut ternyata meledak. Sebuah ironi bagi grup yang pada tahun 1969 ditolak mentah mentah oleh Remaco di Indonesia, justru mendapat pengakuan di negeri jiran. Pada back cover album ini terdapat sebuah liner notes yang antara lain berbunyi: ”Menyanyi adalah media seni yang paling cepat menyentuh perasaan seseorang. Tanpa melalui kata-kata, seseorang bisa dibawa hanyut.” Dan pada kenyataannya, pendengar memang terhanyut menyimak olah vokal yang menjuntai dari Trio Bimbo ini. Kehadiran Trio Bimbo saat itu memang membuat pendengarnya seolah deja vu dengan aura ala Trio Los Panchos maupun Brother Fours. Bahkan timbre vokal Acil yang rendah, seolah kembaran dari Andy Williams yang bernuansa male golden voice.
Pada sisi A album ini, Trio Bimbo menyanyikan lagu-lagu Indonesia yang tengah ngetop saat itu seperti ”Manis Dan Sajang” karya almarhum Tonny Koeswoyo yang merupakan hits Koes Plus tahun 1969 dari album “Dheg Dheg Plas”, serta dua lagu sahabat Djaka, Iwan Abdulrachman ”Melati Dari Jayagiri” dan ”Flamboyan“. Kelak dua lagu ini menjadi semacam trademark Bimbo dalam lagu-lagu bersemburat romansa. Dua lagu ini bisa dibilang prototipe dari lagu ballada Bimbo. Jika diamati torehan liriknya, memang sarat personifikasi, terasa begitu personal dan Puitik.
Pada sisi B album tersebut, Trio Bimbo menyanyikan sederet hits mancanegara seperti ”El Condor Pasa” dan ”Cecilia” (Simon & Garfunkel), ”Light My Fire” (The Doors), ”Once There Was A Love” (Jose Feliciano), ”Wichita Lineman” (Glenn Campbell), serta lagu ”I Have Dreamed” dari karya musik Broadway ”The King And I” karya Richard Rodgers dan Oscar Hammerstein II.[6]
Album pertama Trio Bimbo berbentuk kaset dan Piringan hitam hanya dicetak terbatas. Meski begitu merupakan pintu masuk Trio Bimbo ke belantika musik Indonesia.
Kesuksesan rilis album I itu menjadikan mereka mulai dikenal oleh pecinta musik nasional. Mereka pun kemudian bersemangat untuk meluncurkan album-album berikutnya. Perusahaan Remaco pun mengubah keputusannya. Mereka manarik Bimbo untuk bekerja sama dalam merekam dan memasarkan album-album Bimbo berikutnya. Di era tahun '70-an, Bimbo memang identik dengan lagu-lagu balada yang cenderung berpola minor dengan lirik-lirik puitis. Hal ini menjadikan mereka unik dan disukai para penggemarnya. Prinsip mereka adalah pemusik ingin berkarya dengan bagus dan ingin diterima masyarakat. Hingga meluncurlah berbagai album secara susul menyusul ke pasaran memenuhi keinginan para pecintanya yang seolah menantikan terbitnya album baru Bimbo. Hubungan kerja Bimbo dengan Remaco berakhir tahun 1978. Tak lama sebelum kemudian Remaco tutup. Setelah itu, mereka berpindah ke studio-studio rekaman lain yang telah menanti untuk bekerja sama dengan mereka.
Pada tahun 1971, Bimbo mulai diperkuat oleh Iin Parlina adik perempuan ke-7 (bungsu) mereka. Iin sebelumnya tergabung dalam kelompok Yanti Bersaudara bersama kedua kakak perempuannya Yani (anak ke-5) dan Tina (anak ke-6). Setelah Yani dan Tina menikah, Yanti Bersaudara pun bubar. Iin yang masih memiliki minat untuk benyanyi diajak bergabung dalam grup Bimbo bersama ketiga abangnya sejak 1971. Setelah menambah personelnya dengan Iin Parlina, Trio Bimbo berubah nama menjadi Trio Bimbo & Iin. Dan kemudian berubah nama menjadi Bimbo sejak 1973 hingga sekarang
Album
- Warisan (2012)
Filmografi
Film
| Tahun | Judul | Peran | Keterangan |
|---|---|---|---|
| 1973 | Ambisi | Sebagai Bimbo | |
| 1975 | Semalam di Malaysia | Victor Abdullah | |
| 1977 | Tante Sun | Sam Bimbo | |
| 1986 | Memble tapi Kece | ||
| 2008 | The Tarix Jabrix | Ayah Ciko dan Coki | |
| 2010 | Bebek Belur | Pak Sam |
Referensi
- ↑ Situs Resmi Sam Bimbo[pranala nonaktif permanen]
- ↑ https://dennysakrievinylfantasy.wordpress.com/2013/10/10/ada-guntur-sukarno-putra-dalam-kwartet-bintang/
- 1 2 http://hurek.blogspot.co.id/2007/07/bimbo-legenda-dari-bandung.html[pranala nonaktif permanen]
- ↑ https://www.youtube.com/watch?v=C3kVbOovI0A
- ↑ http://kita.kompas.com/tokoh/detail/16/bimbo[pranala nonaktif permanen]
- ↑ https://dennysakrie63.wordpress.com/2011/04/03/40-tahun-album-trio-bimbo-1971/