Kamis, 22 Oktober 2026
20:48 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Jejak Multidisiplin Anshori Djausal Terekam dalam Pameran Kayu Ara di Lampung Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Jejak Multidisiplin Anshori Djausal Terekam dalam Pameran Kayu Ara di Lampung Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal
Saleh Suaidy

Saleh Suaidy

ulama Indonesia yang dikenal sebagai pengusul Kementerian Agama

Bagikan:
Infobox orangSaleh Suaidy
250px-Saleh_Suaidy.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Suntingan nilai di Wikidata
Biografi
Kelahiran1 Agustus 1913 Suntingan nilai di Wikidata
Tigo Balai Suntingan nilai di Wikidata
Kematian27 Agustus 1976 Suntingan nilai di Wikidata (63 tahun)
Jakarta Suntingan nilai di Wikidata
Tempat pemakamanTPU Tanah Kusir Suntingan nilai di Wikidata
Data pribadi
Kelompok etnikOrang Minangkabau Suntingan nilai di Wikidata
Kegiatan
Pekerjaanulama,guru,jurnalis Suntingan nilai di Wikidata
Bekerja diKementerian Agama Suntingan nilai di Wikidata
Partai politikMajelis Syuro Muslimin Indonesia Suntingan nilai di Wikidata

K.H. M. Saleh Suaidy bin Madjo Nan Tinggi (1 Agustus 1913 – 27 Agustus 1976) adalah seorang ulama Indonesia yang dikenal sebagai pengusul Kementerian Agama. Awalnya bekerja sebagai guru dan wartawan, ia terjun ke politik melalui Partai Masyumi setelah kemerdekaan.[1] Ia aktif menulis soal agama di majalah Islam Kiblat. Jelang akhir hayatnya, ia menjadi pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta.[2]

Kehidupan awal

Lahir di Jorong Andaleh, Matur, Agam pada 1 Agustus 1913, Saleh Suaidy menyelesaikan pendidikan dasarnya di Kutaraja. Saat berusia 16 tahun, ia sempat magang menjadi juru tulis di Kontrolir Kutaraja. Sejak 1930, ia pindah ke Surabaya untuk melanjutkan pendidikannya di sekolah milik Al-Irsyad. Salah seorang gurunya yakni Syekh Ahmad Surkati.[3] Begitu tamat, ia bekerja sebagai guru di Madrasah Al-'Islaah (1934-1943) dan Madrasah Al-Irsyad di Purwokerto (1943-1947).[4]

Karier

Karier jurnalistiknya dimulai saat menjadi pemimpin umum majalah Islam Al-'Islaah di Bangkalan pada 1934. Sebelum itu, ia hanya menjadi koresponden dan agen surat-surat kabar di Surabaya (1930-1933). Saat di Al-'Islaah, ia pernah dipenjara karena menulis artikel berjudul “Karam dalam Gelombang Perbudakan". Al-'Islaah akhirnya dibredel pada 1936 dan baru muncul kembali dengan nama Perbaikan pada 1943.[5] Perbaikan terbit di Yogyakarta, sebelum pindah ke Jakarta sejak 1951. Du luar Jawa, majalah ini beredar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Maluku. Pemimpin redaksinya dijabat oleh Firdaus A.N. dengan anggota Mr. Sudjono, Moenawar Chalil, Wali Al Fattah, M. A. Lubis, dan Mas'uddin Noor.

Selama di Bangkalan, Saleh Suaidy juga aktif di Pergerakan Penyadar dan Komite Petisi Soetardjo. Setelah kemerdekaan, ia bergabung dengan Partai Masyumi. Pada masa revolusi fisik, ia dipercaya menjadi Wakil Ketua Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Banyumas (1945-1947).[6] Ia juga menjadi utusan Banyumas di Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Dalam kapasitasnya terakhir, ia mengusulkan Kementerian Agama bersama K.H. Abudardiri, M. Sukoso dan M. Sukoso Wirjosaputro.[7]

Saleh Suaidy menyampaikan usulan pembentukan Kementerian Agama kepada Badan Pekerja (BP) KNIP dalam sidang tanggal 11 November 1945. Kutipan perkataannya: "Supaya dalam Negeri Indonesia yang sudah merdeka ini, janganlah hendaknya urusan agama hanya disambilkan kepada Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan saja, tetapi hendaklah Kementerian Agama yang khusus dan tersendiri."[8] Usulan ini diterima BP-KNIP dan akhirnya disetujui oleh Presiden Soekarno dengan mengangkat H.M. Rasjidi sebagai Menteri Agama RI pertama.[1][9][7]

Sejak 1948, Saleh Suaidy diangkat menjadi pegawai Kementerian Agama. Salah satu tugas awalnya yakni memimpin rombongan misi haji pertama bersama Mohammad Adnan untuk menggalang dukungan negara-negara Arab dan dunia Islam terhadap perjuangan Indonesia mempertahankan kemerdekaan.[10][11]

Sebagai ulama, Saleh Suaidy fokus pada masalah hukum Islam. Dalam Kongres Muslimin Indonesia di Yogyakarta pada 22-29 Desember 1949, ia hadir mengusulkan perlunya majelis fatwa bagi umat Islam yang berwenang memberi fatwa tentang hukum Islam untuk jadi pedoman bagi masyarakat dan pemerintah. Ia aktif menulis soal hukum Islam baik mengenai ibadah maupun muamalah di majalah Islam Kiblat yang terbit sejak 1953. Di majalah tersebut, ia juga duduk sebagai wakil pemimpin redaksi.[12] Dalam Kongres Himpunan Seni Budaya Islam (HSB) pada 15-17 Desember 1961 di Jakarta, ia hadir menyampaikan pidatonya berjudul "Mengembangkan Kebudajaan dan Kesenian Menurut Adjaran Islam".[13]

Pada masa Orde Baru, ia dipercaya menjadi Sekretaris Panitia Penggunaan Uang Zakat yang diketuai oleh Idham Chalid. Panitia itu dalam perkembangannya melahirkan Badan Amil Zakat Nasional.[14][15]

Akhir kehidupan

Ia penisun dengan jabatan terakhir Kepala Jawatan Penerangan Agama.[16][17] Setelah itu, ia aktif dalam kepengurusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta.

Pada 1973, ia sempat bertugas sebagai mubalig Majelis Kebangsaan yang berada di bawah Perdana Menteri Malaysia Tun Abdul Razak.[18]

Saleh Suaidy meninggal dunia di kediamannya, Jl. Radio Dalam, Kebayoran Baru, Jakarta pada 27 Agustus 1976.[12] Jenazahnya dimakamkan di TPU Tanah Kusir hari yang sama. Menteri Agama Mukti Ali menyebut bahwa berdirinya Kementerian Agama antara lain adalah jasa dari Saleh Suaidy.[19] Atas jasanya, ia mendapat gelar sebagai Perintis Kemerdekaan Indonesia (1967).

Karya tulis

  • Pelbagai Mazhab Ekonomi (Kapitalisme Socialisme, Komunisme dan Islamisme)
  • Pokok2 Kenegaraan Islam
  • Islam dan Komunisme
  • Dalam Negara Tiongkok Komunis
  • Peladjaran dari Komunis di Rusia
  • Persoalan Negara Islam

Referensi

  1. 1 2 John Muhammad Rasuly Suaidy [ed], dkk. (2018). Memerdekakan Islam: Jejak Perjuangan H.M. Saleh Suaidy Ulama Perintis Kemerdekaan Indonesia. Jakarta: Prakarsa Media Visindo.
  2. ↑ Fuad Nasar (2024-01-12). "Apa dan Siapa K.H.M. Saleh Suaidy, Tokoh Pengusul Kementerian Agama - PANJI MASYARAKAT Cakrawala". PANJI MASYARAKAT (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2024-07-29.
  3. ↑ https://books.google.co.id/books?id=gi01EAAAQBAJ&pg=PA172
  4. ↑ Biographie wartawan Indonesia. Kementerian Penerangan, Biro Dokumentasi & Research. 1958. hlm. 83–84.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. ↑ https://www.google.co.id/books/edition/Daftar_harian_majalah_seluruh_Indonesia/1wAoAAAAMAAJ
  6. ↑ https://www.google.co.id/books/edition/Biographie_wartawan_Indonesia/teQ7AAAAMAAJ
  7. 1 2 Ikhlas beramal. Departemen Agama. 2004.
  8. ↑ https://www.datatempo.co/MajalahTeks/detail/ARM2018061265097/gedung-besar-di-jalan-thamrin
  9. ↑ https://kemenag.go.id/artikel/sejarah
  10. ↑ Majalah haji. Direktorat Jenderal Bimas Islam dan Urusan Haji, Departemen Agama R.I. 1980.
  11. ↑ https://kemenag.go.id/kolom/haji-dan-diplomasi-penguatan-moderasi-beragama-untuk-dunia-C2Dzc
  12. 1 2 Pers Indonesia. Ditjen PPG Departamen Penerangan. 1974.
  13. ↑ M. H. T. Sutedja-Liem (2012-01-01). Heirs to World Culture: Being Indonesian, 1950-1965 (dalam bahasa Inggris). BRILL. ISBN 978-90-04-25351-3.
  14. ↑ Fuad Nasar (2018). CAPITA SELECTA ZAKAT: Esei-Esei Zakat Aksi Kolektif Melawan Kemiskinan. Gre Publishing. ISBN 978-602-7677-40-1.
  15. ↑ Tempo. Badan Usaha Jaya Press Jajasan Jaya Raya. 1980.
  16. ↑ Pers Indonesia. Ditjen PPG Departamen Penerangan. 1974.
  17. ↑ Indonesia Madjelis Pertimbangan Kesehatan dan Sjaraʻ (1956). Soal bedah-majat. Djambatan.
  18. ↑ Fuad Nasar (2023-04-28). Jejak Pengabdian Ulama - Pelopor Penasihatan Perkawinan. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. ISBN 978-623-6421-50-5.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  19. ↑ "Napak Tilas Hari Amal Bakti Kementerian Agama". UIN IB Padang. 2024-01-05. Diakses tanggal 2024-07-29.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan