Sabtu, 10 Oktober 2026
00:34 WIB
TERKINI
Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Hukum Pujianto Divonis 8 Bulan Penjara: Perdagangan Ajinomoto Palsu Merugikan Konsumen Lampung Lampung Diprediksi Cerah Berawan, Hujan Lokal Sambangi Beberapa Wilayah Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Hukum Pujianto Divonis 8 Bulan Penjara: Perdagangan Ajinomoto Palsu Merugikan Konsumen Lampung Lampung Diprediksi Cerah Berawan, Hujan Lokal Sambangi Beberapa Wilayah

Sakai sambayan

Bagikan:

Sakai sambayan adalah salah satu nilai kearifan lokal dalam falsafah hidup masyarakat Lampung yang menekankan sikap gotong royong, saling membantu, kerja sama, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai ini merupakan salah satu unsur dalam Piil Pesenggiri, falsafah hidup yang menjadi bagian penting dari kebudayaan masyarakat Lampung.[1]

Sakai sambayan diwujudkan melalui berbagai bentuk partisipasi sosial, seperti membantu pekerjaan anggota masyarakat, bekerja bersama dalam kegiatan pertanian, mempersiapkan upacara adat, menyelenggarakan pesta perkawinan, serta kegiatan kemasyarakatan lainnya.[2][3]

Pengertian

Istilah sakai sambayan digunakan untuk menggambarkan prinsip saling membantu dan bekerja sama dalam kehidupan masyarakat Lampung. Dalam kajian mengenai masyarakat adat Lampung, nilai ini dipahami sebagai bentuk kerja sama yang dilakukan secara kekeluargaan untuk membantu menyelesaikan pekerjaan yang sulit dilakukan secara perseorangan.[3]

Sakai sambayan tidak hanya berkaitan dengan tenaga. Bentuk partisipasi dapat berupa bantuan tenaga, materi, maupun dukungan lainnya sesuai dengan kebutuhan kegiatan yang dilakukan bersama.[3][2]

Nilai tersebut menempatkan hubungan antara individu dan masyarakat sebagai bagian penting dalam kehidupan sosial. Seseorang diharapkan berpartisipasi dalam kegiatan bersama dan memberikan bantuan kepada anggota masyarakat yang membutuhkan.[4]

Kedudukan dalam Piil Pesenggiri

Sakai sambayan merupakan salah satu unsur yang umum ditempatkan dalam konsep Piil Pesenggiri. Dalam kajian mengenai masyarakat Lampung, Piil Pesenggiri dijelaskan melalui sejumlah nilai yang berkaitan dengan kehormatan pribadi, hubungan sosial, penghormatan terhadap tamu, kehidupan bermasyarakat, serta kerja sama.[5]

Dalam masyarakat Pepadun, istilah sakai sambayan digunakan sebagai salah satu nilai yang berkaitan dengan kerja sama dan saling membantu. Kajian mengenai masyarakat Lampung juga menunjukkan bahwa masyarakat Saibatin memiliki konsep yang memiliki fungsi sosial serupa meskipun terdapat perbedaan istilah dan konteks adat.[3]

Karena itu, sakai sambayan dapat dipahami sebagai nilai sosial yang melampaui pembagian kelompok adat. Penerapannya ditemukan dalam berbagai lingkungan masyarakat Lampung dan tidak terbatas pada satu jenis kegiatan adat.[1]

Bentuk pelaksanaan

Sakai sambayan diwujudkan melalui kegiatan yang membutuhkan partisipasi banyak orang. Bentuknya dapat berubah sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan lingkungan tempat nilai tersebut diterapkan.[2]

Pertanian

Dalam masyarakat Lampung, gotong royong dapat dilakukan dalam berbagai pekerjaan pertanian, termasuk kegiatan menanam dan memanen. Kegiatan tersebut membutuhkan kerja sama antaranggota masyarakat sehingga pekerjaan dapat diselesaikan secara bersama-sama.[2]

Praktik kerja bersama dalam kegiatan pertanian menunjukkan bahwa sakai sambayan tidak terbatas pada kegiatan seremonial, tetapi juga berkaitan dengan kebutuhan ekonomi dan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Perkawinan

Sakai sambayan juga diterapkan dalam penyelenggaraan perkawinan adat Lampung. Persiapan kegiatan perkawinan dapat melibatkan banyak anggota keluarga dan masyarakat, mulai dari persiapan tempat, perlengkapan, konsumsi, hingga pelaksanaan kegiatan adat.[6]

Kajian mengenai perkawinan adat Lampung menunjukkan bahwa nilai sakai sambayan berkaitan dengan prinsip tolong-menolong, musyawarah, kebersamaan, dan solidaritas sosial yang muncul dalam berbagai tahapan kegiatan adat.[6][7]

Begawi

Dalam pelaksanaan Begawi adat, sakai sambayan dapat terlihat melalui keterlibatan anggota masyarakat dalam mempersiapkan dan menjalankan kegiatan adat. Penelitian mengenai masyarakat Tiyuh Karta, Tulang Bawang Udik, Tulang Bawang Barat, menunjukkan adanya praktik kerja sama dalam pelaksanaan begawi adat.[3]

Dalam penelitian tersebut, kerja sama dipahami sebagai bentuk gotong royong untuk menyelesaikan pekerjaan yang berat dan sebagai sarana membangun hubungan sosial antarmasyarakat.[3]

Kegiatan sosial

Sakai sambayan juga diterapkan dalam berbagai kegiatan sosial masyarakat, termasuk pembangunan dan pemeliharaan fasilitas bersama serta kegiatan kemasyarakatan lainnya.[8]

Dalam konteks masyarakat modern, penerapan sakai sambayan juga dapat berkembang mengikuti perubahan bentuk interaksi sosial. Kajian mengenai masyarakat Lampung mencatat penerapannya dalam kegiatan sosial, adat, keagamaan, dan bentuk kolaborasi masyarakat yang lebih baru.[8]

Sakai sambayan dalam masyarakat adat

Penelitian terhadap masyarakat adat di Desa Maja, Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan, menunjukkan bahwa praktik sakai sambayan masih berlangsung dalam kehidupan sehari-hari, meskipun pelaksanaannya dapat dipengaruhi oleh perubahan jumlah penduduk, perubahan pola pikir, serta frekuensi sosialisasi nilai tersebut kepada masyarakat.[1]

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan sakai sambayan tidak selalu terikat oleh waktu dan tempat tertentu. Praktiknya dapat berlangsung sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan keluarga dalam lingkungan sosial setempat.[1]

Hal tersebut menunjukkan bahwa sakai sambayan merupakan nilai yang dapat beradaptasi dengan perubahan sosial tanpa kehilangan prinsip dasar berupa kerja sama dan saling membantu.

Sakai sambayan dan hubungan sosial

Sakai sambayan memiliki hubungan dengan pembentukan solidaritas sosial. Melalui kegiatan bersama, anggota masyarakat dapat membangun hubungan, berbagi tanggung jawab, serta memberikan dukungan kepada anggota masyarakat lainnya.[9]

Penelitian di Desa Kedaloman, Kabupaten Tanggamus, menghubungkan aktualisasi sakai sambayan dengan keterlibatan warga dalam kegiatan masyarakat. Partisipasi dalam kegiatan bersama, termasuk gotong royong, dapat menjadi salah satu bentuk keterlibatan warga dalam kehidupan sosial.[9]

Dalam konteks ini, sakai sambayan tidak hanya dipahami sebagai bantuan kepada orang lain, tetapi juga sebagai mekanisme sosial yang mendorong keterlibatan masyarakat dalam kegiatan bersama.

Perubahan dalam masyarakat modern

Perubahan sosial dan modernisasi memengaruhi bentuk pelaksanaan sakai sambayan. Meskipun pola kehidupan masyarakat mengalami perubahan, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa nilai tersebut masih digunakan dalam berbagai kegiatan sosial masyarakat Lampung.[8]

Kajian terhadap masyarakat Desa Maja menunjukkan bahwa pertambahan penduduk, perubahan pola pikir, dan kurangnya sosialisasi merupakan beberapa faktor yang dapat menghambat pelaksanaan dan pelestarian sakai sambayan.[1]

Di sisi lain, bentuk kerja sama masyarakat dapat berkembang mengikuti kebutuhan baru. Sakai sambayan dapat diterapkan dalam kegiatan sosial dan lingkungan, termasuk kegiatan yang berkaitan dengan kepentingan bersama.[4]

Sakai sambayan dalam pelestarian lingkungan

Nilai sakai sambayan juga dikaji dalam konteks pengelolaan lingkungan dan mitigasi perubahan iklim. Penelitian Oktasari pada masyarakat di Margakaya, Pringsewu, menunjukkan bahwa nilai kerja sama tersebut dapat mendukung kegiatan masyarakat dalam menghadapi persoalan lingkungan, termasuk pencegahan banjir.[4]

Dalam penelitian tersebut, kegiatan berbasis masyarakat menunjukkan bahwa sakai sambayan dapat menjadi landasan sosial bagi tindakan kolektif. Pelaksanaannya terutama didorong oleh inisiatif masyarakat, bukan semata-mata oleh kebijakan formal.[4]

Penerapan tersebut memperlihatkan bahwa nilai budaya lokal dapat digunakan dalam konteks persoalan kontemporer tanpa mengubah prinsip dasarnya sebagai kerja sama dan saling membantu.

Sakai sambayan dalam pendidikan

Sakai sambayan juga digunakan sebagai sumber pembelajaran mengenai kearifan lokal. Sejumlah penelitian pendidikan mengembangkan bahan pembelajaran yang mengangkat nilai tersebut sebagai contoh gotong royong dan kehidupan bermasyarakat.[10]

Penelitian lain mengembangkan modul elektronik berbasis kearifan lokal sakai sambayan untuk pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan tingkat sekolah dasar. Pengembangan tersebut menggunakan konsep gotong royong sebagai salah satu tema utama.[11]

Selain itu, penelitian mengenai tradisi Sekura di Batu Brak, Lampung Barat mengkaji nilai sakai sambayan sebagai bagian dari nilai Piil Pesenggiri dan kaitannya dengan pembelajaran Bahasa Lampung di sekolah menengah.[12]

Dalam perkawinan dan kehidupan keluarga

Dalam perkawinan adat Lampung, sakai sambayan dapat diwujudkan melalui keterlibatan keluarga dan masyarakat dalam mempersiapkan serta melaksanakan rangkaian kegiatan adat. Nilai tersebut berhubungan dengan kerja sama antarkeluarga dan anggota masyarakat.[6]

Kajian mengenai falsafah hidup dalam perkawinan adat Lampung juga menempatkan sakai sambayan bersama nilai Piil Pesenggiri lainnya sebagai bagian dari nilai sosial dan budaya yang diwariskan melalui praktik adat.[13]

Nilai tersebut juga muncul dalam kajian mengenai berbagai prosesi perkawinan masyarakat Lampung, baik dalam lingkungan adat Pepadun maupun Saibatin.[6]

Hubungan dengan nilai keagamaan

Sakai sambayan juga telah dikaji dalam hubungannya dengan konsep saling menolong dalam ajaran Islam. Penelitian Syafira dan rekan-rekan membahas hubungan nilai ta'awun atau saling membantu dengan tradisi sakai sambayan dalam masyarakat Lampung.[14]

Kajian tersebut menemukan adanya kesesuaian antara prinsip saling membantu dalam ajaran Islam dan nilai kerja sama yang terdapat dalam sakai sambayan. Hubungan tersebut dapat dipahami dalam konteks masyarakat Lampung yang memiliki sejarah panjang interaksi antara adat dan agama.[14]

Perbedaan istilah

Dalam berbagai publikasi, istilah ini ditemukan dalam beberapa bentuk penulisan, antara lain sakai sambayan dan sakai sembayan. Perbedaan ejaan tersebut muncul dalam sumber akademik, pendidikan, dan dokumentasi budaya.[5][2]

Istilah sakai sambaian juga digunakan dalam penelitian mengenai sistem gotong royong masyarakat Lampung Timur.[2]

Perbedaan bentuk penulisan tersebut tidak selalu menunjukkan perbedaan konsep. Dalam berbagai kajian, istilah-istilah tersebut digunakan untuk merujuk pada nilai kerja sama, tolong-menolong, dan gotong royong dalam kehidupan masyarakat Lampung.

Pelestarian

Pelestarian sakai sambayan dilakukan melalui praktik sosial, kegiatan adat, pendidikan, dan dokumentasi kebudayaan. Keberlangsungan nilai tersebut bergantung pada kemampuan masyarakat untuk meneruskannya dalam kehidupan sehari-hari sekaligus menyesuaikannya dengan perubahan sosial.[1]

Pendidikan menjadi salah satu jalur pewarisan nilai karena sakai sambayan dapat digunakan sebagai materi pembelajaran mengenai kearifan lokal, kewarganegaraan, bahasa, dan kehidupan sosial.[10][11]

Pemerintah daerah Lampung juga menggunakan istilah sakai sambayan dalam konteks pembangunan dan kolaborasi multipihak. Pemerintah Provinsi Lampung pada 2025 mengaitkan nilai tersebut dengan kebutuhan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, komunitas, dan berbagai pihak dalam pembangunan berkelanjutan.[15]

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 Abdulsyani, Abdulsyani; Pairulsyah; Suwarno; Damayantie, Anita (2020). "Nilai Kearifan Lokal Sakai Sambayan (Studi pada Kehidupan Masyarakat Adat di Desa Maja, Kecamatan Kalianda Lampung Selatan)". Sosiologi: Jurnal Ilmiah Kajian Ilmu Sosial dan Budaya. 22 (1). doi:10.23960/sosiologi.v22i1.50.
  2. 1 2 3 4 5 6 Rostiyati, Atik (2012). "Sakai Sambaian: Sistem Gotong Royong di Lampung Timur". Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research. 4 (1): 95–110.
  3. 1 2 3 4 5 6 Wulandari, Heni Tri; Arif, Suparman; Pratama, Rinaldo Adi (2022). "Implementasi Sakai Sambayan dalam Upacara Begawi Adat Lampung pada Masyarakat Tiyuh Karta Kecamatan Tulangbawang Udik Kabupaten Tulang Bawang Barat". Seminar Nasional Pendidikan Sejarah. Universitas Lampung.
  4. 1 2 3 4 Oktasari, Ratih (2025). "The Value of Local Wisdom in Lampung Community of Piil Pesenggiri "Sakai Sambayan" Towards the Climate Change Mitigation Policy". Aksara: Jurnal Bahasa dan Sastra. 26 (1).
  5. 1 2 Badiah, Siti; Meisuri (2024). "Implementasi Nilai-Nilai Piil Pesenggiri Sebagai Basis Moderasi Beragama pada Masyarakat Adat Pepadun di Bandar Lampung". Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama. 18 (2). doi:10.24042/al-adyan.v18i2.30458.
  6. 1 2 3 4 Alghani, Muhammad (2025). "Prinsip-Prinsip Sakai Sambayan pada Perkawinan Adat Lampung". Causa: Jurnal Hukum dan Kewarganegaraan. 15 (12): 461–470.
  7. ↑ Syaputra, Perdy Pratama (2025). "Nilai-Nilai Sosial dalam Prosesi Perkawinan Adat Lampung". Causa: Jurnal Hukum dan Kewarganegaraan.
  8. 1 2 3 Ariyanti, Rina; Putri, Dilla Desiana (2025). "Implementasi Nilai Sakai Sambayan dalam Kehidupan Sosial Masyarakat Lampung Modern". Jurnal Manajemen Pendidikan. 13 (2). doi:10.33751/jmp.v13i2.12891.
  9. 1 2 Pradanna, Satrio Alpen; Abdulkarim, Aim; Malihah, Elly; Hidayat, Obby Taufik (2023). "Actualization of Sakai Sambayan Local Wisdom Values in Strengthening Citizen Engagement in Kedaloman Village, Tanggamus Regency". ARISTO. 11 (2): 331–347. doi:10.24269/ars.v11i2.6881.
  10. 1 2 Palyanti, Mega; Sari, Dessy Kemala; Saputra, M. Tegar Alvian; Musriani, Ani (2024). "Menerapkan Makna Sakai Sambayan sebagai Nilai Kearifan Lokal Masyarakat Lampung dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia: Perspektif Pendidikan Islam". Bulletin of Community Engagement. 4 (2): 218–227. doi:10.51278/bce.v4i2.1358.
  11. 1 2 Rozi, Ariyanto (2026). Pengembangan E-Modul Berbasis Kearifan Lokal Lampung (Sakai Sambayan) pada Pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Kelas IV SD/MI (Tesis). UIN Raden Intan Lampung.
  12. ↑ Yoga, Dimbara Arpan (2025). Nilai Piil Pesenggiri Sakai Sambayan Rik Nemui Nyimah Delom Tradisi Sekura di Kecamatan Batu Brak Rik Implikasini Terhadap Pembelajaran Bahasa Lampung di SMA (Tesis). Universitas Lampung.
  13. ↑ Mahyuza, Alfath Aldi; Hasan, Zainudin (2025). "Cermin Falsafah Hidup Orang Lampung dalam Tradisi Perkawinan Adat". Jurnal Multidisiplin Ilmu Akademik. 2 (6). doi:10.61722/jmia.v2i6.7024.
  14. 1 2 Syafira, Klara; Ghozali, Abdul Malik; Windari, Fitri; Yanuri, Rohmat (2025). "The Value of Mutual Assistance (Ta'awun) in the Qur'an and Its Relevance to the Sakai Sambayan Tradition of the Lampung Community". QiST: Journal of Quran and Tafseer Studies. 4 (2). doi:10.23917/qist.v4i2.13219.
  15. ↑ "Sakai Sambayan Multi Pihak Dorong Lampung Inklusif Menuju Pembangunan Berkelanjutan 2025–2029". Bappeda Provinsi Lampung. 2025-11-28. Diakses tanggal 14 September 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan