Senin, 05 Oktober 2026
00:14 WIB
TERKINI
Lampung Musim Hujan Lampung 2026/2027: BMKG Prediksi Puncak Januari, Awalnya Mundur Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 4 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan Ringan Hukum Pakar Hukum Unila: Objektivitas Fakta Krusial dalam Kasus Diksar Mahepel Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Lampung Musim Hujan Lampung 2026/2027: BMKG Prediksi Puncak Januari, Awalnya Mundur Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 4 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan Ringan Hukum Pakar Hukum Unila: Objektivitas Fakta Krusial dalam Kasus Diksar Mahepel Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya
Sabuk alpida

Sabuk alpida

Bagikan:
Sabuk Orogenik Alpin Himalaya
330px-Alpiner_Gebirgsg%C3%BCrtel.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peta zona seismik Sabuk Alpida
Titik tertinggi
PuncakGunung Everest
Ketinggian884.886 m (2.903.169 ft)
Dimensi
Panjang15.000 km (9.300 mi)
Geografi
osm-intl,10,a,a,250x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Sabuk_alpida&revid=27635160&groups=_ded5ac2ddd859844a6c6b0304ecbc086ff955a27&parser=parsoid
NegaraIndonesia, Myanmar, Bhutan, Nepal, India, Tiongkok, Uzbekistan, Tajikistan, Kirgistan, Pakistan, Afganistan, Iran, Armenia, Azerbaijan, Georgia, Turki, Bulgaria, Rumania, Yunani, Italia, Balkan, Spanyol, Aljazair, Maroko, Portugal
Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara, Jawa, Sumatra, Pegunungan Himalaya, Pegunungan Iran, Kaukasus, Turki, Yunani, Italia, Laut Mati, Laut Mediterania, Portugal, dan Samudra Atlantik

Sabuk alpida atau Sabuk Orogenik Alpin Himalaya (bahasa Inggris:Alpide Belt atau Alpine-Himalayan orogenic belt) adalah sabuk seismik Mediterania dan sabuk orogenik yang mencakup jajaran pegunungan yang membentang hingga lebih dari 15.000km di sepanjang batas Selatan Benua Eurasia dan Utara Benua Afrika, membentang dari Jawa dan Sumatra, melalui Semenanjung Indochina, Himalaya dan Transhimalaya, pegunungan Iran, Lembah Celah Yordania, Kaukasus, Anatolia, Mediterania, Pegunungan Atlas, dan keluar ke Atlantik. Ini mencakup, dari barat ke timur, rentang utama Pegunungan Atlas, Pegunungan Alpen, Pegunungan Kaukasus, Alborz, Hindu Kush, Karakorum, dan Pegunungan Himalaya.

Sabuk alpida adalah kawasan zona gempa bumi paling aktif kedua di dunia, setelah Lingkaran Api Pasifik (Cincin Api Pasifik), dengan 17% dari gempa bumi terbesar di dunia terjadi di daerah ini.

Zona seismik Alpida mempunyai reputasi sebagai pembunuh. Meskipun hanya sekitar 17% gempa bumi besar di dunia terjadi di wilayah ini, sebagian besar korban jiwa akibat gempa bumi sepanjang sejarah terjadi di zona ini. Hal ini terutama disebabkan oleh konstruksi yang lemah dan banyaknya jumlah penduduk di wilayah tersebut. Beberapa gempa bumi mematikan di daerah ini termasuk Gempa bumi Asia Selatan 2005 yang membunuh sekitar 87.000 jiwa, lalu Gempa bumi Bam 2003 di Tenggara Iran menewaskan sekitar 34.000 orang, Gempa bumi Sichuan 2008 di Tiongkok membunuh 87.000 jiwa, Gempa bumi Turki–Suriah 2023 yang membunuh sekitar 60.000 jiwa,[1] dan peristiwa baru-baru ini Gempa bumi Myanmar 2025 menewaskan lebih dari 5.000 jiwa.[2]

Sabuk Alpida terbuat secara sendirinya oleh Lempeng tektonik yang sedang berlangsung hampir sama seperti Alpin orogenis. Sabuk ini adalah hasil penutupan dari Mesozoikum ke Kenozoikum yang masih baru-baru ini dan proses tabrakan antara banyak lempeng bumi di antaranya Lempeng Afrika, Lempeng Arab, dan Lempeng Indo-Australia yang bergerak ke arah utara dengan lempeng eurasia.[3]

Beberapa gunung berapi aktif terkenal yang berada di daerah ini di antaranya adalah; Krakatau, Tambora, Merapi hingga Etna, Stromboli dan Vesuvius di Italia.

Peristiwa besar

Letusan gunung berapi

Letusan Gunung Tambora pada tahun 1815 merupakan letusan gunung berapi terbesar di Indonesia dan dunia dalam sejarah modern. Supervulkan Toba dan Krakatau termasuk dalam daftar jajaran vulkanik Sabuk Alpida. Pegunungan Himalaya, pegunungan Zagros, pegunungan Kaukasus, pegunungan Alpen, dan pegunungan Atlas juga termasuk dalam jajaran vulkanik Sabuk Alpida.

Letusan gunung berapi terbesar sejak 1800
VEI Nama Lokasi Korban tanggal
7 Letusan Tambora 1815 Indonesia, Sumbawa 71,000+ 01815-07-1515 Juli 1815
6 Letusan Krakatau 1883 Indonesia 36,417 01883-08-2727 Agustus 1883
5 Letusan Gunung Agung 1963 Indonesia, Bali 1,148 01963-03-1717 Maret 1963
5 Letusan Gunung Galunggung 1822 Indonesia, Jawa Barat 4,011 01822-10-088 Oktober 1822

Gempa bumi

Indonesia terletak di antara Cincin Api Pasifik di sepanjang pulau-pulau timur laut yang berbatasan dengan Samudra Pasifik dan termasuk Pulau Papua terutama bagian utara pulau Papua dan sabuk Alpida di sepanjang selatan dan barat Sumatra, Jawa, dan Kepulauan Nusa Tenggara (Bali, Flores, dan Timor). Gempa bumi Samudera Hindia 2004, salah satu gempa bumi terkuat yang pernah tercatat, terletak di lepas pantai Sumatra di dalam jajaran Sabuk Alpida.

Wilayah cakupan

Asia

Beberapa kota-kota besar di Asia memiliki risiko gempa bumi tinggi di antara lain; Jakarta, Chengdu, Kathmandu, Delhi, Patna, Islamabad, dan Teheran.

Eropa dan Afrika Utara

Beberapa kota-kota besar di Eropa memiliki risiko gempa bumi tinggi di antara lain; Istanbul, Izmir, Catania, Napoli, Roma, Bukares, dan Athena.

Lihat pula

Rujukan

  1. ↑ "All about the Alpide Belt that makes Turkey a hotbed for devastating earthquakes" [Semua tentang Sabuk Alpida yang menjadikan Turki sarang gempa bumi dahsyat]. theprint.in (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 7 Mei 2024.
  2. ↑ "Why Myanmar Is One Of The Most Earthquake-Vulnerable Countries" [Mengapa Myanmar Merupakan Salah Satu Negara Paling Rentan Gempa Bumi]. Times of India (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 7 April 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/0031920190901987
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan