Senin, 28 September 2026
22:31 WIB
TERKINI
Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Internasional Profesor Biao Xiang: Idola Gen Z China yang Berani Bahas Kecemasan Hidup Berita Pelaku Injak Al-Qur'an di Lebak Divonis Penjara, Wajib Minta Maaf Publik Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Internasional Profesor Biao Xiang: Idola Gen Z China yang Berani Bahas Kecemasan Hidup Berita Pelaku Injak Al-Qur'an di Lebak Divonis Penjara, Wajib Minta Maaf Publik Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto

Romantisisme Jerman

Romantisisme Jerman adalah fenomena gerakan intelektual yang dominan dalam ranah kefilsafatan, seni, dan budaya di keseluruhan negara berbahasa Jerman pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19. Dibandingkan dengan romantisisme Inggris, romantisisme Jerman berkembang lebih akhir. Seiring dengan perkembangan Weimarer Klassik, berbanding terbalik dengan roman keseriusan romantisisme Inggris, romantisisme Jerman lebih memiliki roman cerah dan diwarnai humor.

Fenomena Romantisisme Jerman umumnya berdiri sebagai reaksi atas revolusi industri, sikap angkuh dan melulu intelektual yang terus-menerus digaungkan abad pencerahan, dan rasionalisasi ilmiah atas alam.[1] Romantisisme Jerman memicu sintesis baru pada berbagai aspek dalam seni, filsafat, dan ilmu alam.[2] Gerakan tersebut kian memuncak yang umumnya dengan menekankan penonjolan konflik dan ketegangan antara dunia banal dan proyeksi supernatural.[2]

Pengaruh

Revolusi Prancis

Romantisisme Jerman, dan gerakan romantisisme secara umum, lahir di masa yang sama dengan gerakan revolusi Prancis. Geliat revolusi Prancis berdampak kuat pada penulis-penulis dan pemikir Jerman. Peperangan era Napoleon berdampak kuat dengan membuat ambruk sebagian besar Germania, mengakibatkan derita panjang dan rekonstruksi ulang baik infrastruktur maupun struktur kemasyarakatan sebagian besar wilayah dan negara minor Jerman.[2] Gejolak perubahan yang masif tersebut mengakibatkan perubahan kultur wilayah Jerman yang membangkitkan gerakan kultur baru yang unik dengan melawan rasionalisme Prancis.

Idealisme Jerman

Gerakan filososfis idealisme Jerman berkaitan erat dengan Romantisisme dan politik revolusioner abad pencerahan dan memainkan peran sentral dalam kelahiran gerakan romantisisme Jerman. Idealisme Jerman, selain sebagai reaksi atas Kant, berkembang pesat sebagai reaksi atas krisis kultur dan subjektivitas manusia dengan semangat pendasaran objektivitas dan dunia fisikal.[3]

Roman idealisme Jerman secara umum memiliki sentral intelektual di Tübingen, Hamburg, dan Berlin yang diawali dengan karya Fichte dengan mendefinisikan hubungan subjek–objek (Ich–Nicht Ich).[4] Kemudian, sebagai antitesis Fichte, Schelling menyatakan argumen dengan menunjukkan hubungan resiprokal atas alam (dunia objektif) dan budi (dunia subjektif)[5] yang berpengaruh besar pada literatur Jerman kala itu dengan merampungkan problem Goethe mengenai problem pemisahan dualisme keberadaan dan mengevaluasi kembali peran imajinasi dan kreativitas manusia.[2][6]

Rujukan

  1. ↑ Casey, Christopher (2008-10-30). "Grecian Grandeurs and the Rude Wasting of Old Time": Britain, the Elgin Marbles, and Post-Revolutionary Hellenism". Foundations. III (1).[pranala nonaktif permanen]
  2. 1 2 3 4 Ryan, Judith; Bahr, Ehrhard (2015-05-07). "German Literature". Encyclopædia Beitannica. Diakses tanggal 2017-10-06.
  3. ↑ Pinkard, Terry (2002). German Philosophy 1760–1860: The Legacy of Idealism. Cambridge University Press.
  4. ↑ Fichte, Johann G. (1982). Foundations of the Science of Knowledge. Cambridge University Press.
  5. ↑ Schelling, Friedrich W. J. (2009). Ideen zu einer Philosophie der Natur. Kessinger Publishing.
  6. ↑ Richard, Robert J. (2006-05), Friedman, M.; Nordmann, A. (ed.), "Nature is the Poetry of Mind", The Kantian Legacy in Nineteenth-Century Science, The MIT Press{{citation}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
Ikon rintisan

Artikel bertopik seni ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Ikon rintisan

Artikel bertopik sastra ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan