Senin, 09 November 2026
03:15 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis

Romantisisme Jerman

Bagikan:

Romantisisme Jerman adalah fenomena gerakan intelektual yang dominan dalam ranah kefilsafatan, seni, dan budaya di keseluruhan negara berbahasa Jerman pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19. Dibandingkan dengan romantisisme Inggris, romantisisme Jerman berkembang lebih akhir. Seiring dengan perkembangan Weimarer Klassik, berbanding terbalik dengan roman keseriusan romantisisme Inggris, romantisisme Jerman lebih memiliki roman cerah dan diwarnai humor.

Fenomena Romantisisme Jerman umumnya berdiri sebagai reaksi atas revolusi industri, sikap angkuh dan melulu intelektual yang terus-menerus digaungkan abad pencerahan, dan rasionalisasi ilmiah atas alam.[1] Romantisisme Jerman memicu sintesis baru pada berbagai aspek dalam seni, filsafat, dan ilmu alam.[2] Gerakan tersebut kian memuncak yang umumnya dengan menekankan penonjolan konflik dan ketegangan antara dunia banal dan proyeksi supernatural.[2]

Pengaruh

Revolusi Prancis

Romantisisme Jerman, dan gerakan romantisisme secara umum, lahir di masa yang sama dengan gerakan revolusi Prancis. Geliat revolusi Prancis berdampak kuat pada penulis-penulis dan pemikir Jerman. Peperangan era Napoleon berdampak kuat dengan membuat ambruk sebagian besar Germania, mengakibatkan derita panjang dan rekonstruksi ulang baik infrastruktur maupun struktur kemasyarakatan sebagian besar wilayah dan negara minor Jerman.[2] Gejolak perubahan yang masif tersebut mengakibatkan perubahan kultur wilayah Jerman yang membangkitkan gerakan kultur baru yang unik dengan melawan rasionalisme Prancis.

Idealisme Jerman

Gerakan filososfis idealisme Jerman berkaitan erat dengan Romantisisme dan politik revolusioner abad pencerahan dan memainkan peran sentral dalam kelahiran gerakan romantisisme Jerman. Idealisme Jerman, selain sebagai reaksi atas Kant, berkembang pesat sebagai reaksi atas krisis kultur dan subjektivitas manusia dengan semangat pendasaran objektivitas dan dunia fisikal.[3]

Roman idealisme Jerman secara umum memiliki sentral intelektual di Tübingen, Hamburg, dan Berlin yang diawali dengan karya Fichte dengan mendefinisikan hubungan subjek–objek (Ich–Nicht Ich).[4] Kemudian, sebagai antitesis Fichte, Schelling menyatakan argumen dengan menunjukkan hubungan resiprokal atas alam (dunia objektif) dan budi (dunia subjektif)[5] yang berpengaruh besar pada literatur Jerman kala itu dengan merampungkan problem Goethe mengenai problem pemisahan dualisme keberadaan dan mengevaluasi kembali peran imajinasi dan kreativitas manusia.[2][6]

Rujukan

  1. ↑ Casey, Christopher (2008-10-30). "Grecian Grandeurs and the Rude Wasting of Old Time": Britain, the Elgin Marbles, and Post-Revolutionary Hellenism". Foundations. III (1).[pranala nonaktif permanen]
  2. 1 2 3 4 Ryan, Judith; Bahr, Ehrhard (2015-05-07). "German Literature". Encyclopædia Beitannica. Diakses tanggal 2017-10-06.
  3. ↑ Pinkard, Terry (2002). German Philosophy 1760–1860: The Legacy of Idealism. Cambridge University Press.
  4. ↑ Fichte, Johann G. (1982). Foundations of the Science of Knowledge. Cambridge University Press.
  5. ↑ Schelling, Friedrich W. J. (2009). Ideen zu einer Philosophie der Natur. Kessinger Publishing.
  6. ↑ Richard, Robert J. (2006-05), Friedman, M.; Nordmann, A. (ed.), "Nature is the Poetry of Mind", The Kantian Legacy in Nineteenth-Century Science, The MIT Press{{citation}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
Ikon rintisan

Artikel bertopik seni ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Ikon rintisan

Artikel bertopik sastra ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan