Jumat, 09 Oktober 2026
20:48 WIB
TERKINI
Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Hukum Pujianto Divonis 8 Bulan Penjara: Perdagangan Ajinomoto Palsu Merugikan Konsumen Lampung Lampung Diprediksi Cerah Berawan, Hujan Lokal Sambangi Beberapa Wilayah Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Hukum Pujianto Divonis 8 Bulan Penjara: Perdagangan Ajinomoto Palsu Merugikan Konsumen Lampung Lampung Diprediksi Cerah Berawan, Hujan Lokal Sambangi Beberapa Wilayah
Rahman Tolleng

Rahman Tolleng

Bagikan:
Rahman Tolleng
250px-Rahman_Tolleng%2C_Sorgemagz.com_-_Rahman_Tolleng_Bagian_3%2C_Tentang_Kapitalisme_dan_Demokrasi.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lahir
Abdul Rahman Tolleng

(1937-07-05)5 Juli 1937
Meninggal29 Januari 2019(2019-01-29) (umur 81)[1]
Masa aktif1955–2019
Dikenal karenaAktivis 66
GerakanGerakan mahasiswa angkatan 66
Pasangan menikahTati Rahman

Abdul Rahman Tolleng (5 Juli 1937 – 29 Januari 2019) adalah seorang aktivis dan politisi asal Indonesia. Rahman pernah menjabat sebagai anggota DPR Gotong Royong (DPR-GR)/Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada tahun 1968 hingga 1971 dan kemudian menjadi anggota DPR/MPR dari tahun 1971 sampai 1974.[2] Ia merupakan aktivis mahasiswa eksponen angkatan 66 yang turut menentang kekuasaan Orde Lama.

Biografi

Menentang Orde Lama

Ia memulai kegiatan aktivismenya sejak merantau ke Pulau Jawa pada tahun 1955. Ketika itu, ia mulai berkuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan apoteker, ia pun merintis dan bergabung dengan Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMSos) yang didirikan pada 21 Oktober 1955 dan berafiliasi dengan Partai Sosialis Indonesia (PSI).[3] Ketika Presiden Soekarno mengeluarkan dekret pada bulan Juli 1959, Rahman mengkritisi dekret tersebut dengan menganggapnya sebagai akal-akalan dan sebuah hal yang menggelikan dari Soekarno untuk melanggengkan kekuasaannya lewat sebuah sistem pemerintahan baru yang disebut sebagai Demokrasi Terpimpin.[3] Ia kemudian menjadi buruan aparat rezim Orde Lama karena sikap kritisnya tersebut, akan tetapi kritikannya itu akhirnya terbukti ketika MPRS mengangkat Soekarno sebagai presiden seumur hidup pada tahun 1963.

Di bawah rezim Orde Lama, Rahman termasuk kalangan aktivis yang menentang hegemoni Nasionalis, Agama, dan Komunis (Nasakom) yang digelorakan Presiden Soekarno. Pasca meletusnya Gerakan 30 September 1965, muncul gelombang unjuk rasa mahasiswa yang begitu banyak menentang Soekarno. Rahman juga ikut di dalamnya, ia ikut aktif di dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) di Bandung. Kemudian, ia naik sebagai salah seorang Ketua Presidium KAMI Pusat.[4]

Pertengahan tahun 1966, ia bersama Riandi dan Awan Karmawan Burhan menginisiasi media mingguan Mahasiswa Indonesia.[4] Rahman menjadi pemimpin redaksi di mingguan tersebut, ia juga menjabat sebagai pemimpin umum, ia pun memakai nama samaran Iwan Ramelan, selain nama aslinya.[5] Media itu segera dikenal luas sebagai koran intelektual yang berisi pandangan-pandangan kritis mengenai perpolitikan nasional dan arah masa depan bangsa. Media itu, pada mulanya, juga menjalin hubungan baik dengan berbagai kekuatan antikomunis saat itu, terutama militer. Rahman menempatkan Brigjen Soegandhi yang memangku jabatan Kepala Penerangan Hankam dan Prof Oemi Abdurrahman, dekan Fakultas Publisistik Unpad sebagai penasihat media mingguan ini.[5] Namun sayang, pada tahun 1974, Mahasiswa Indonesia dibredel oleh rezim Orde Baru.

Referensi


Ikon rintisan

Artikel bertopik biografi politikus Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan