Sabtu, 24 Oktober 2026
02:25 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada
Pusat awan padat

Pusat awan padat

Bagikan:
250px-Ana_2009-08-12_1540Z.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Badai Tropis Ana (2009) dengan CDO berukuran kecil
Bagian dari seri mengenai
Siklon tropis
250px-Kate_2003-10-04_1420Z_%28alternate%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Tutupan awan padat pusat (bahasa Inggris: central dense overcast, disingkat CDO) dari siklon tropis atau siklon subtropis yang kuat adalah daerah pusat badai petir besar yang mengelilingi pusat sirkulasinya, yang disebabkan oleh pembentukan dinding matanya. Bentuknya dapat berupa bulat, bersudut, oval, atau tidak beraturan. Fitur ini muncul pada siklon tropis yang memiliki kekuatan badai tropis atau badai topan. Seberapa jauh pusat badai tertanam di dalam CDO, serta perbedaan suhu antara puncak awan di dalam CDO dan mata badai, dapat membantu menentukan intensitas siklon tropis menggunakan teknik Dvorak. Menentukan lokasi pusat di dalam CDO dapat menjadi masalah pada badai tropis yang kuat dan badai topan minimal karena lokasinya dapat terhalang oleh tutupan awan tinggi CDO. Masalah penentuan lokasi pusat ini dapat diatasi dengan menggunakan citra satelit gelombang mikro.

Setelah siklon menguat hingga mencapai intensitas badai topan, sebuah mata muncul di pusat CDO, yang menandai pusat tekanan rendah dan medan angin siklonalnya. Siklon tropis dengan intensitas yang berubah-ubah memiliki lebih banyak petir di dalam CDO-nya dibandingkan dengan badai berkondisi tunak (steady state). Pelacakan fitur awan di dalam CDO menggunakan citra satelit yang diperbarui secara berkala juga dapat digunakan untuk menentukan intensitas siklon. Kecepatan angin berkelanjutan maksimum tertinggi dalam siklon tropis, serta curah hujan terberatnya, biasanya terletak di bawah puncak awan terdingin dalam CDO.

Karakteristik

250px-Rafael_2012-10-15_1315Z.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Badai tropis Rafael yang menampilkan contoh CDO.

CDO merupakan wilayah badai petir luas yang mengelilingi pusat siklon tropis dan subtropis yang lebih kuat, yang tampak cerah (dengan puncak awan dingin) pada citra satelit.[1][2][3] CDO terbentuk karena perkembangan dinding mata di dalam siklon tropis.[4] Bentuknya dapat berupa bulat, oval, bersudut, atau tidak beraturan.[5] Perkembangannya dapat didahului oleh pita konvektif berbentuk huruf C yang sempit dan padat. Pada awal perkembangannya, CDO sering kali berbentuk bersudut atau oval, yang kemudian membulat, membesar, dan terlihat lebih halus seiring menguatnya siklon tropis.[6] Bentuk CDO yang lebih bulat terjadi pada lingkungan dengan tingkat geser angin vertikal yang rendah.[2]

Angin terkuat di dalam siklon tropis cenderung terletak di bawah konveksi terdalam di dalam CDO, yang terlihat pada citra satelit sebagai puncak awan terdingin.[7] Radius angin maksimum biasanya berada di lokasi yang sama dengan puncak awan terdingin di dalam CDO,[7] yang juga merupakan area tempat curah hujan siklon tropis mencapai intensitas maksimumnya.[8] Untuk siklon tropis dewasa yang berkondisi tunak, CDO hampir tidak mengandung aktivitas petir, meskipun petir lebih umum ditemukan pada siklon tropis yang lebih lemah dan pada sistem yang intensitasnya berfluktuasi.[9]

Mata

Artikel utama: Mata badai
250px-Winston_2016-02-12_1200Z.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Siklon Winston di Belahan Bumi Selatan dengan CDO besar yang mengelilingi matanya

Mata adalah wilayah cuaca yang sebagian besar tenang di pusat CDO pada siklon tropis yang kuat. Mata dari suatu badai berbentuk hampir melingkar, biasanya berdiameter 30–65 km (19–40 mi). Mata ini dikelilingi oleh dinding mata, yaitu cincin badai petir menjulang yang mengelilingi pusat sirkulasinya. Tekanan barometrik terendah dari siklon terjadi di mata, dan dapat mencapai 15% lebih rendah daripada tekanan atmosfer di luar badai.[10] Pada siklon tropis yang lebih lemah, mata tidak terlalu terlihat jelas atau bahkan tidak ada, serta dapat tertutup oleh keawanan yang disebabkan oleh limpasan awan sirus dari tutupan awan padat pusat di sekitarnya.[10]

Penggunaan sebagai indikator kekuatan siklon tropis

250px-Dvorak1984DevelopmentalPatterns.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pola perkembangan umum yang terlihat selama perkembangan siklon tropis, beserta intensitasnya menurut teknik Dvorak

Dalam estimasi kekuatan satelit Dvorak untuk siklon tropis, terdapat beberapa pola visual yang dapat dibentuk oleh siklon yang menentukan batas atas dan batas bawah intensitasnya. Pola tutupan awan padat pusat (CDO) adalah salah satu dari pola-pola tersebut. Pola tutupan awan padat pusat ini memanfaatkan ukuran CDO. Intensitas pola CDO dimulai dari T2,5, yang setara dengan intensitas minimum badai tropis, yaitu 64 km/h (40 mph). Bentuk tutupan awan padat pusat juga dipertimbangkan. Semakin jauh pusat badai tertanam di dalam CDO, semakin kuat badai tersebut dinilai.[5] Fitur pita awan dapat dimanfaatkan untuk menentukan pusat siklon tropis secara objektif, menggunakan spiral logaritmik sepuluh derajat.[11] Penggunaan saluran 85–92 GHz dari citra satelit gelombang mikro berorbit polar dapat menentukan lokasi pusat di dalam CDO secara pasti.[12]

Siklon tropis dengan angin berkelanjutan maksimum antara 105 km/h (65 mph) dan 160 km/h (100 mph) dapat memiliki pusat sirkulasi yang terhalang oleh keawanan pada citra satelit kasat mata dan inframerah, sehingga membuat diagnosis intensitasnya menjadi tantangan.[13] Angin di dalam siklon tropis juga dapat diestimasi dengan melacak fitur-fitur di dalam CDO menggunakan citra satelit geostasioner pemindaian cepat, yang gambarnya diambil dalam interval beberapa menit alih-alih setiap setengah jam.[14]

Referensi

  1. ↑ American Meteorological Society (Juni 2000). "AMS Glossary: C". Glossary of Meteorology. Allen Press. Diakses tanggal 2006-12-14.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. 1 2 Landsea, Chris (2005-10-19). "What is a "CDO"?". Atlantic Oceanographic and Meteorological Laboratory. Diakses tanggal 2006-06-14.
  3. ↑ Hebert, Paul H.; Kenneth O. Poteat (Juli 1975), A Satellite Classification Technique For Subtropical Cyclones, National Weather Service Southern Region Headquarters, hlm. 9{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ Elsner, James B.; A. Birol Kara (1999-06-10). Hurricanes of the North Atlantic: Climate and Society. Oxford University Press. hlm. 3. ISBN 978-0195125085.
  5. 1 2 Dvorak, Vernon F. (Februari 1973). "A Technique For the Analysis and Forecasting of Tropical Cyclone Intensities From Satellite Pictures". NOAA Technical Memorandum NESS. 45. National Oceanic and Atmospheric Administration: 5–8. Diakses tanggal 2024-07-04.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑ Dvorak, Vernon F. (Mei 1975). "Tropical Cyclone Intensity Analysis and Forecasting From Satellite Imagery". Monthly Weather Review. 103 (5): 422. Bibcode:1975MWRv..103..420D. doi:10.1175/1520-0493(1975)103<0420:tciaaf>2.0.co;2.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. 1 2 Hsu, S. A.; Adele Babin (Februari 2005). "Estimating the Radius of Maximum Winds Via Satellite During Hurricane Lili (2002) Over the Gulf of Mexico" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2012-02-06. Diakses tanggal 2007-03-18.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. ↑ Muramatsu, Teruo (1985). "The Study on the Changes of the Three-dimensional Structure and the Movement Speed of the Typhoon through its Life Time" (PDF). Tech. Rep. Meteorol. Res. Inst. Number 14: 3. Diakses tanggal 2009-11-20.
  9. ↑ Demetriades, Nicholas W.S.; Martin J. Murphy & Ronald L. Holle (2005-06-22). "Long Range Lightning Nowcasting Applications For Meteorology" (PDF). Vaisala. Diakses tanggal 2012-08-12.
  10. 1 2 Landsea, Chris & Sim Aberson (2004-08-13). "What is the "eye"?". Atlantic Oceanographic and Meteorological Laboratory. Diakses tanggal 2006-06-14.
  11. ↑ Velden, Christopher; Bruce Harper; Frank Wells; John L. Beven II; Ray Zehr; Timothy Olander; Max Mayfield; Charles “Chip” Guard; Mark Lander; Roger Edson; Lixion Avila; Andrew Burton; Mike Turk; Akihiro Kikuchi; Adam Christian; Philippe Caroff & Paul McCrone (September 2006). "The Dvorak Tropical Cyclone Intensity Estimation Technique: A Satellite-Based Method That Has Endured For Over 30 Years" (PDF). Bulletin of the American Meteorological Society. 87 (9): 1195–1214. Bibcode:2006BAMS...87.1195V. CiteSeerX 10.1.1.669.3855. doi:10.1175/bams-87-9-1195. S2CID 15193271. Diakses tanggal 2012-09-26.{{cite journal}}: Kutipan menggunakan parameter usang |citeseerx=Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  12. ↑ Wimmers, Anthony J.; Christopher S. Velden (September 2012). "Objectively Determining the Rotational Center of Tropical Cyclones in Passive Microwave Satellite Imagery". Journal of Applied Meteorology and Climatology. 49 (9): 2013–2034. Bibcode:2010JApMC..49.2013W. doi:10.1175/2010jamc2490.1.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  13. ↑ Wimmers, Anthony; Chistopher Velden (2012). "Advances in Objective Tropical Cyclone Center Fixing Using Multispectral Satellite Imagery". American Meteorological Society. Diakses tanggal 2012-08-12.
  14. ↑ Rogers, Edward; R. Cecil Gentry; William Shenk & Vincent Oliver (Mei 1979). "The Benefits of Using Short-Interval Satellite Images To Derive Winds For Tropical Cyclones". Monthly Weather Review. 107 (5): 575. Bibcode:1979MWRv..107..575R. doi:10.1175/1520-0493(1979)107<0575:tbousi>2.0.co;2. hdl:2060/19790002501.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan