Senin, 26 Oktober 2026
11:12 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung
Psikosis pascapersalinan

Psikosis pascapersalinan

masalah mental pada ibu setelah melahirkan

Bagikan:
Keadaan darurat psikiatrik yang jarang terjadi, dimulai secara tiba-tiba dalam dua minggu pertama setelah melahirkanTemplat:SHORTDESC:Keadaan darurat psikiatrik yang jarang terjadi, dimulai secara tiba-tiba dalam dua minggu pertama setelah melahirkan
Psikosis pascapersalinan
Nama lainPsikosis nifas
250px-Figure_1._Incidence_of_Psychoses_among_Swedish_First-Time_Mothers.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tingkat psikosis di kalangan ibu yang baru pertama kali melahirkan di Swedia
SpesialisasiPsikiatri Sunting ini di Wikidata
GejalaHalusinasi, delusi, goncangan suasana hati, kebingungan, kegelisahan, perubahan kepribadian[1]
PenyebabGenetik dan lingkungan
Faktor risikoRiwayat keluarga, gangguan bipolar, skizofrenia, kehamilan sulit[1]
PengobatanAntipsikotik, penstabil suasana hati, antidepresan
Frekuensi0.005%

Psikosis pascapersalinan (PPP), yang juga dikenal sebagai psikosis nifas atau psikosis peripartum, adalah kondisi di mana gejala psikotik muncul secara tiba-tiba segera setelah persalinan, umumnya dalam dua minggu pertama tetapi kurang dari empat minggu setelahnya.[2] PPP tergolong dalam "Brief Psychotic Disorder" dalam Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental, Volume V (DSM-V).[3] Gejalanya meliputi delusi, halusinasi, gangguan dalam bicara (seperti bicara yang tidak koheren), dan/atau perilaku motorik yang tidak normal (seperti katatonia).[3] Gejala lain yang sering terkait dengan PPP termasuk kebingungan, ketidakaturan pikiran, gangguan tidur yang parah, fluktuasi suasana hati (termasuk depresi, agitasi, mania, atau kombinasi di antaranya), serta ciri-ciri kognitif seperti perubahan kesadaran (waxing and waning) atau disorientasi.[2][4]

Penyebab PPP masih belum dipahami sepenuhnya, meskipun bukti untuk kategori besar gangguan kejiwaan pascapersalinan (misalnya, depresi pascapersalinan) semakin menunjukkan bahwa perubahan hormonal dan respons imun tubuh mungkin berperan,[5] sebagaimana faktor genetik dan gangguan irama sirkadian.[6] Meskipun faktor-faktor risikonya belum dipastikan, beberapa penelitian menyarankan bahwa kurangnya tidur, kehamilan pertama (primiparitas), dan riwayat PPP sebelumnya dapat berkontribusi.[2] Tinjauan terkini menambahkan bukti bahwa riwayat diagnosis psikiatrik sebelumnya, khususnya gangguan bipolar, baik pada individu maupun keluarganya, dapat meningkatkan risiko PPP setelah persalinan.[2][6][7][8] Saat ini, belum ada alat skrining atau penilaian standar untuk mendiagnosis PPP; diagnosis biasanya ditetapkan oleh dokter yang merawat berdasarkan gejala yang dialami pasien, dengan menggunakan kriteria diagnostik DSM-V sebagai panduan (lihat Diagnosis).[2][6]

Meskipun kejadian PPP hanya sekitar 1 hingga 2 dari setiap 1.000 kelahiran,[2][4] perkembangan cepat gejala psikotik, terutama yang melibatkan delusi kesalahan identifikasi atau paranoia,[9] meningkatkan kekhawatiran terhadap keselamatan ibu dan bayi. Oleh karena itu, PPP dianggap sebagai keadaan darurat psikiatri, sering kali memerlukan perawatan rawat inap segera.[2][4][6] Perawatan mungkin mencakup penggunaan obat-obatan seperti benzodiazepin, litium, dan antipsikotik, serta prosedur seperti terapi elektrokonvulsif (ECT).[2][4][6] Dalam kasus-kasus di mana seorang wanita hamil memiliki riwayat gangguan bipolar atau episode PPP sebelumnya, penggunaan obat profilaksis (terutama lithium) selama atau segera setelah melahirkan telah terbukti dapat mengurangi kejadian episode psikotik atau bipolar pada periode pasca melahirkan.[2][4][6]

Referensi

  1. 1 2 "Postpartum psychosis". 11 Februar1 2021. {{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
  2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Osborne LM (September 2018). "Recognizing and Managing Postpartum Psychosis: A Clinical Guide for Obstetric Providers". Obstetrics and Gynecology Clinics of North America. 45 (3): 455–468. doi:10.1016/j.ogc.2018.04.005. PMC 6174883. PMID 30092921.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 American Psychiatric Association. DSM-5 Task Force (2017). Diagnostic and statistical manual of mental disorders: DSM-5 (Edisi Fifth). New Delhi: American Psychiatric Association Publishing. ISBN 978-93-86217-96-7. OCLC 1030754444.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Nama numerik: daftar penulis (link)
  4. 1 2 3 4 5 Rodriguez-Cabezas L, Clark C (September 2018). "Psychiatric Emergencies in Pregnancy and Postpartum". Clinical Obstetrics and Gynecology. 61 (3): 615–627. doi:10.1097/GRF.0000000000000377. PMC 6143388. PMID 29794819.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ Dye C, Lenz KM, Leuner B (2021). "Immune System Alterations and Postpartum Mental Illness: Evidence From Basic and Clinical Research". Frontiers in Global Women's Health. 2: 758748. doi:10.3389/fgwh.2021.758748. PMC 8866762. PMID 35224544.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: nomor artikel sebagai nomor halaman (link)
  6. 1 2 3 4 5 6 Hutner LA, Catapano LA, Nagle-Yang SM, Williams KE, Osborne LM, ed. (2021). Textbook of Women's Reproductive Mental Health. Washington, D.C.: American Psychiatric Association Publishing. ISBN 978-1-61537-386-4. OCLC 1289371393.
  7. ↑ Nguyen K, Mukona LT, Nalbandyan L, Yar N, St Fleur G, Mukona L, et al. (September 2022). "Peripartum Complications as Risk Factors for Postpartum Psychosis: A Systemic Review". Cureus. 14 (9): e29224. doi:10.7759/cureus.29224. PMC 9495292. PMID 36159350.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Pemeliharaan CS1: nomor artikel sebagai nomor halaman (link)
  8. ↑ Perry A, Gordon-Smith K, Jones L, Jones I (Januari 2021). "Phenomenology, Epidemiology and Aetiology of Postpartum Psychosis: A Review". Brain Sciences. 11 (1): 47. doi:10.3390/brainsci11010047. PMC 7824357. PMID 33406713.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. ↑ Lewis G, Blake L, Seneviratne G (September 2022). "Delusional Misidentification Syndromes in Postpartum Psychosis: A Systematic Review". Psychopathology. 56 (4): 285–294. doi:10.1159/000526129. PMID 36116435. S2CID 252341410.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan