Minggu, 18 Oktober 2026
06:35 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten
Krisis Thailand 2013–2014

Krisis Thailand 2013–2014

Bagikan:
Protes Politik Thailand 2013
330px-Protesters_at_Democracy_Monument%2C_November_2013.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Demonstran di Tugu Demokrasi pada 30 November 2013
Tanggal4 November 2013–sekarang
LokasiThailand
Statussedang berlangsung
Pihak terlibat
Gerakan Demokrasi Rakyat dan gerakan-gerakan lainnya
Tokoh utama

Nattawut Saikua

Tida Tawornseth
Jumlah
100.000–400.000 (di Bangkok)[1][2]
70.000[3]
21.000 petugas kepolisian dan 2.700 tentara (di Bangkok)[3][4]
Jumlah korban
Korban jiwa4[a]
Cedera256 [5]

Protes anti pemerintah sedang berlangsung di Thailand sejak awal November 2013. Setelah stabilitas yang cukup memuaskan selama 3 tahun, demonstrasi di Bangkok kembali terjadi sebagai bentuk ketidakpuasan kepada Perdana Menteri Yingluck Shinawatra, dipicu oleh RUU amnesti yang diusulkan untuk mempermudah kembalinya mantan perdana menteri, Thaksin Shinawatra, yang sedang diasingkan. RUU ini disahkan oleh Partai Pheu Thai yang mendominasi DPR pada 1 November, dan menimbulkan perlawanan dari Partai Demokrat dan gerakan yang mendukung pemerintah, Kaos Merah. RUU tersebut kemudian ditolak oleh Senat pada 11 November, tetapi unjuk rasa, yang dipimpin oleh Suthep Thaugsuban, semakin menjadi-jadi.

Pada 20 November 2013, Mahkamah Konstitusi menyatakan bahwa perubahan terhadap UUD kerajaan adalah tidak sah. Namun, Partai Pheu Thai tidak menyetujui keputusan tersebut karena mereka beranggapan bahwa MK tidak memiliki dasar hukum yang kuat. Unjuk rasa anti pemerintah terus meningkat sampai akhir pekan, tetapi Kaos Merah juga menggelar unjuk rasa yang mendukung pemerintah. Pada 25 November, para pengunjuk rasa mulai mengepung balai-balai pemerintahan. Selama ini, unjuk rasa digelar damai, sampai terjadinya bentrokan antara kelompok anti pemerintah dengan kelompok pendukung pemerintah pada 30 November dan 1 Desember yang mengakibatkan 4 orang tewas dan 57 terluka. Meningkatnya protes pada 1 Desember ditunjukkan dengan terjadinya bentrokan antara demonstran dengan aparat kepolisian, yang menembakkan gas air mata dan meriam air untuk menghalau para demonstran yang berjalan menuju Thamniap Ratthaban, dengan 119 orang terluka. Pada 3 Desember, aparat kepolisian mulai membubarkan barisan mereka dan memperbolehkan para pengunjuk rasa untuk memasuki kawasan yang dilarang sebagai penghormatan terhadap Hari Ulang Tahun Raja Bhumibol Adulyadej,[6] walaupun demonstran akan tetap melanjutkan gerakan mereka untuk memberantas "pengaruh Thaksin influence" dari pemerintahan Kerajaan Thailand.

Catatan

  1. ↑ The 4 fatalities were from clashes between anti-government and pro-government protesters on 30 November–1 December.

Referensi

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai 2013–14 Thai political crisis.
  1. ↑ Kocha Olarn (27 November 2013). "Thai anti-government protesters target more ministries". CNN.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ Thomas Fuller (26 November 2013). "Demonstrations in Bangkok Raise Concerns About Stability of Thailand". New York Times.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 "Thailand clashes: PM forced to flee as violent demonstrations escalate". The Guardian. 1 Desember 2013. Diakses tanggal 1 Desember 2013.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ "Thai Security Chief claims protesters have not seized state buildings". Voice of Russia. 1 Desember 2013. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-08-06. Diakses tanggal 1 Desember 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ Thomas Fuller (3 Desember 2013). "Thai Police Retreat, Restoring Some Calm to Capital". New York Times.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑ "CNN:Tensions Ease in Thailand as Police Remove Barriers". 2013.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan