Jumat, 25 September 2026
04:38 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Otomotif EXOBOT: Bukti Ambisi Arab Saudi di Pasar Mobil Listrik Dunia Olahraga Modernisasi Pendataan Atlet: KONI Lampung Buka Pendaftaran Daring Porprov X 2026 Olahraga Porprov X Lampung 2026: Pendaftaran Peserta Resmi Dibuka Secara Daring Eropa & Amerika Delegasi AS Walk Out Saat Presiden Iran Kecam Serangan di Sidang PBB Eropa & Amerika Presiden Iran Kecam AS di PBB: Kami Korban Terorisme, Bukan Pelaku Internasional Ekspresi Tak Terduga Donald Trump Kala Pesawat Pengebom B-1 Meraung di Udara Hukum Mobil Halangi Ambulans Pasien Kritis di Surakarta: Sorotan Pentingnya Prioritas Jalan dan Sanksi Hukum Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Otomotif EXOBOT: Bukti Ambisi Arab Saudi di Pasar Mobil Listrik Dunia Olahraga Modernisasi Pendataan Atlet: KONI Lampung Buka Pendaftaran Daring Porprov X 2026 Olahraga Porprov X Lampung 2026: Pendaftaran Peserta Resmi Dibuka Secara Daring Eropa & Amerika Delegasi AS Walk Out Saat Presiden Iran Kecam Serangan di Sidang PBB Eropa & Amerika Presiden Iran Kecam AS di PBB: Kami Korban Terorisme, Bukan Pelaku Internasional Ekspresi Tak Terduga Donald Trump Kala Pesawat Pengebom B-1 Meraung di Udara Hukum Mobil Halangi Ambulans Pasien Kritis di Surakarta: Sorotan Pentingnya Prioritas Jalan dan Sanksi Hukum

Project 25

Project 25 (P25 atau APCO-25) adalah seperangkat standar untuk sistem Land Mobile Radio (LMR) yang interoperabel dan dirancang terutama untuk kebutuhan keselamatan publik. Standar ini mendukung sistem analog konvensional, digital konvensional, digital trunking, maupun mode campuran. P25 awalnya dikembangkan untuk layanan keselamatan publik di Amerika Serikat, tetapi juga digunakan dalam sektor keamanan, layanan publik, dan beberapa aplikasi komersial di berbagai negara. Radio P25 menggantikan radio analog UHF, yang umumnya menggunakan FM, dengan menambahkan kemampuan pengiriman data serta suara sehingga memungkinkan penerapan fitur enkripsi dan pesan teks. Radio P25 banyak digunakan oleh organisasi dispatch seperti kepolisian, pemadam kebakaran, ambulans, dan layanan penyelamatan darurat. Sistem ini biasanya menggunakan radio kendaraan yang terhubung dengan repeater, serta perangkat genggam.[1]

Mulai sekitar tahun 2012, produk yang mendukung protokol modulasi Phase II mulai tersedia. Protokol sebelumnya dikenal sebagai P25 Phase I. P25 Phase II menggunakan vocoder AMBE2+ yang lebih efisien, mampu mengalirkan audio melalui bitstream yang lebih terkompresi, dan menyediakan dua kanal suara TDMA dalam lebar pita RF yang sama, yaitu 12,5 kHz. Phase I hanya menyediakan satu kanal suara. Infrastruktur Phase II dapat menyediakan fungsi “dynamic transcoder” yang memungkinkan komunikasi antara Phase I dan Phase II. Selain itu, perangkat Phase II kompatibel dengan modulasi Phase I dan FM analog. Perangkat Phase I tidak dapat beroperasi pada sistem trunking Phase II, tetapi perangkat Phase II dapat berfungsi pada sistem Phase I atau sistem konvensional. Uni Eropa mengembangkan standar Terrestrial Trunked Radio (TETRA) dan Digital Mobile Radio (DMR) yang memiliki fungsi serupa dengan Project 25.

Ringkasan standar

Sejarah

Radio keselamatan publik mulai beralih dari FM analog ke digital sejak 1990-an karena meningkatnya kebutuhan penggunaan data dalam sistem radio, seperti lokasi GPS, trunking, pengiriman pesan teks, metering, dan enkripsi dengan berbagai tingkat keamanan.[2]

Keberagaman protokol pengguna dan perbedaan spektrum radio membuat interoperabilitas antar lembaga keselamatan publik sulit dicapai. Pengalaman dari berbagai bencana di Amerika Serikat mendorong lembaga terkait untuk mengevaluasi kebutuhan komunikasi ketika infrastruktur dasar tidak berfungsi. Untuk memenuhi kebutuhan sistem radio digital keselamatan publik, Federal Communications Commission (FCC) atas arahan Kongres Amerika Serikat memulai pengkajian pada tahun 1988 untuk meminta masukan dari pengguna dan produsen mengenai peningkatan sistem komunikasi.[3]

Berdasarkan masukan tersebut, APCO Project 25 dibentuk pada Oktober 1989 melalui kerja sama antara:[4]

• Association of Public-Safety Communications Officials-International (APCO)

• National Association of State Telecommunications Directors (NASTD)

• National Telecommunications and Information Administration (NTIA)

• National Communications System (NCS)

• National Security Agency (NSA)

• Department of Defense (DoD)

Komite pengarah yang terdiri atas perwakilan lembaga-lembaga tersebut bersama FPIC (Federal Partnership for Interoperable Communication), Coast Guard, dan National Institute of Standards and Technology (NIST), Office of Law Enforcement Standards dibentuk untuk menentukan prioritas serta ruang lingkup pengembangan teknis P25.[5]

Referensi

  1. ↑ Design, Web Boy. "What is P25 Technology?". www.project25.org (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2025-11-14.
  2. ↑ Project 25 Technology Interest Group. "Project 25 Technology Interest Group - Content - General - What is Project 25?". www.project25.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-14.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Nama numerik: daftar penulis (link)
  3. ↑ design, web boy. "What is P25?". project25.org (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-14.
  4. ↑ "Home - National Association of State Technology Directors". www.nastd.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-14.
  5. ↑ "AFC - Public Safety Radio Spectrum Project 25 (P25)". www.apcointl.org. Diakses tanggal 2025-11-14.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan