Jumat, 16 Oktober 2026
23:05 WIB
TERKINI
Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super

Sindrom pascapensiun

Bagikan:

Sindrom pascapensiun atau sindrom masa purnabakti adalah gejala psikologis dalam bentuk krisis batin pada seseorang menghadapi masa purnabaktinya pada satu institusi formal.[1] Pada umumnya, situasi dan kondisi tersebut terjadi atau menimpa orang-orang yang sebelumnya memiliki jabatan atau kekuasaan dengan segala bentuk fasilitas dan kemampanannya. Lalu, secara tiba-tiba saja dan seolah-olah "dipaksakan", ia harus "rela" melepaskan kemapanan yang selama ini senantiasa melekat dan menjadi kebanggaan pada dirinya. Akibatnya, muncul perasaan menurunya harga diri, tidak lagi dihormati, dan mudah tersinggung.[2]

Bias perilaku

Sindrom ini tidak hanya berlaku pada mereka yang berpangkat tinggi saja, terhadap orang-orang yang berpangkat, atau golongan, atau jabatan yang paling rendahpun sekalipun dapat terjadi hal demikian, terlebih lagi mengingat pada jabatan dan posisinya yang disandang sebelumnya. Hal ini, menurut Hery Santoso, -seorang penulis, peneliti dan psikoterapis- secara empiris menyebutkan bahwa semakin tinggi dan "enak" pangkat maupun jabatan yang di sandangnya akan memberikan kontribusi besar dalam menjadikan orang tersebut terjebak dalam sindrom ini.

Mereka yang tidak siap pada kondisi ini akan mengalami tanda-tanda emosional, yang bilamana tidak dapat terkendalikan bisa menggiringnya ke arah fobia --> depresi --> stress --> manusia gagal.

Langkah-langkah strategis

Beberapa langkah yang disarankan dan dapat ditempuh dalam menyiasati sindrom ini, adalah sebagai berikut:1)

  • Pembekalan diri secara fisik, mental dan spiritual, serta yakinkan dalam diri sendiri, bahwa kelak bilamana masa pensiun itu tiba "saya telah siap dan harus siap".
  • Persiapkan diri sejak dini, apa yang harus dan akan saya lakukan setelah memasuki masa pensiun (Plan),
  • Apa yang hendak saya kerjakan sekarang sebagai bahan persiapan, melanjutkan sekolah pada jenjang yang lebih tinggi lagi, ataukah mengumpulkan modal kerja (Do), kemudian
  • Lakukan inventarisasi aset, sekarang apa yang sudah saya miliki sebagai langkah awal (Check),
  • Lakukan tindakan nyata sebagaimana tertuang dalam rencana dan aset yang dimiliki, lalu lakukan verifikasi dan evaluasi ulang (Action).

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Buchori, Mochtar (1994). Transformasi, suksesi & masalah-masalah demokrasi: kumpulan karangan. IKIP Muhammadiyah Jakarta Press. ISBN 978-979-8405-02-0.
  2. ↑ Sulaiman, Muhamad Reza. "Catat! Ini Gejala Seseorang Mengalami Post Power Syndrome". detikHealth. Diakses tanggal 2021-04-27.

1) Stress Management: "101 Jurus Jitu Menyiasati Stres pada 2010 hingga 2012"; HS Harding; Deka, Bandung, 2009.


Ikon rintisan

Artikel bertopik psikologi ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan