Senin, 12 Oktober 2026
23:16 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM
Phaethon

Phaethon

Bagikan:
Phaethon
250px-Plate_12-_The_Death_of_Phaeton_%28Phaetonis_casus.%29%2C_from_Ovid%27s_Metamorphoses_MET_DP866546.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kematian Phaethon (Phaetonis casus), dari Metamorfosis Ovid
Keluarga
Orang tuaHelios dan Klimene
SaudaraPara Heliades

Phaethon (/ˈfeɪ.əθən/; bahasa Yunani Kuno:Φαέθων, translit. Phaéthōn, pengucapan [pʰa.é.tʰɔːn]), juga dieja Phaëthon, adalah putra Okeanid Clymene dan dewa matahari Helios dalam mitologi Yunani. Kisah kematian Phaethon sangat terkenal, dimana ia meminta hadiah pada ayahnya untuk diizinkan mengendarai keretanya. Hal tersebut malah membawa malapetaka bagi dunia, sehingga Zeus menyerangnya dengan petir yang menyebabkan Phaethon terjatuh dan tewas. Versi lain menyebutkan ia seketika tewas karena serangan Dewa.

Etimologi

330px-The_Fall_of_Phaeton_Statue._Marble%2C_circa_1700-1711_CE._By_Dominique_Lefevre._From_Paris%2C_France._The_Victoria_and_Albert_Museum%2C_London.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Patung Marmer Jatuhnya Phaeton, ca 1700–1711 oleh Dominique Lefevre, dari Paris, Prancis, sekarang di Museum Victoria dan Albert, London

Dalam bahasa Yunani Kuno, Phaethon (Φαέθων), berarti "bercahaya", dari kata kerja φαέθω, yang berarti "bersinar."[1] Oleh karena itu, namanya dapat dipahami sebagai, "bersinar/bercahaya (satu)" Pada akhirnya kata tersebut berasal dari φάος, phaos, kata Yunani untuk cahaya, dari akar Proto-Indo-Eropa *bheh2-, untuk bersinar.'[2]

Dalam mitologi

250px-Apollo_and_Phaethon_LACMA_M.86.257.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Apollo and Phaëthon, oleh Giovanni Battista Tiepolo, sekitar 1731

Banyak versi yang menceritakan mitos Phaethon, namun sebagian besar menceritakan perjalanan jauh Phaethon ke timur guna bertemu ayahnya, kadang-kadang untuk meyakinkan Helios ayahnya. Di sana, dia meminta izin kepada Helios untuk mengemudikan kereta matahari ayahnya selama satu hari. Terlepas dari larangan dan bujukan Helios, Phaethon tetap bersikukuh dan dengan demikian Helios dengan enggan mengizinkannya mengendarai keretanya. Namun Phaethon tidak mampu mengendalikan kuda dengan baik. Dalam beberapa versi, Bumi pertama kali membeku ketika kuda-kuda tersebut naik terlalu tinggi, tetapi menghanguskan Bumi ketika berayun terlalu dekat. Zeus memutuskan untuk memukulnya dengan petir demi mencegah bencana yang lebih besar. Phaethon jatuh ke bumi dan tewas.[3][4]

Keluarga

Phaethon dikatakan sebagai putra Okeanid Klymene dan dewa matahari Helios.[5][6] Atau, silsilah yang kurang umum menyatakan ia putra Klymenus dari Okeanid Merope,[7] dari Helios dan Rhodos (dengan demikian saudara kandung Heliadae)[8] atau Helios dan Prote.[9]

Duka untuk Phaethon

Kesedihan saudaranya

330px-Pierre_Br%C3%A9biette_-_La_mort_de_Pha%C3%A8ton_et_la_transformation_des_H%C3%A9liades%2C_ses_soeurs.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Para Heliades dan Kiknus oleh Pierre Brébiette.

Bagian cerita yang sangat umum adalah bahwa saudara perempuan Phaethon, Heliades, meratapi kematiannya di tepi sungai dan berubah menjadi pohon poplar hitam, meneteskan air mata kuning untuk saudara mereka yang hilang. Menurut Plinius Tua, Aeskhilus-lah yang membuat saudara-saudaranya berubah menjadi pohon poplar.[10][11] Jumlah dan nama mereka bervariasi; seorang scholiast di Homer berpendapat di mana Phaethon dan tiga saudara perempuannya (Phaethusa, Lampetia dan Aegle) adalah anak-anak dari Helios dan Rhodos, di sini putri Asopus.[8] Hyginus menyebutkan mereka tujuh; Merope, Helie, Aegle, Lampetia, Phoebe, Aetherie dan Dioxippe.[7] Sedangkan Ovid menganggap setidaknya tiga, tetapi hanya dua (Phaethusa dan Lampetia) yang disebutkan. Servius hanya menyebutkan Phaethusa dan Lampetia.[12]

Meskipun peran dan nasib Heliades dalam mitos tidak disebutkan dalam salah satu fragmen Phaethon yang masih hidup, Euripides secara singkat mengangkat Heliades dan curahan air mata kuning untuk saudara mereka oleh Eridanus dalam drama lain, Hippolytus.[13]

330px-Theodoor_van_Thulden_-_The_Gods_mourning_Phaeton.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Para Dewa berkabung untuk Phaeton oleh Theodoor van Thulden

Ovid dengan jelas menggambarkan para Heliades menangis dan meratapi saudara mereka di tepi Eridanus selama empat bulan tanpa bergerak. Kemudian, ketika mereka mencoba untuk bergerak, mereka baru sadar mereka sudah terpaku di tanah. Ibu mereka Klymene meskipun mencoba untuk membebaskan putrinya dengan mematahkan cabang-cabang yang terbentuk dan mematahkan kulit kayu, tetapi ia tidak dapat menghentikan perubahan mereka.[14]

Murid Odyssey menulis bahwa Zeus, yang merasa kasihan pada mereka, mengubahnya menjadi pohon poplar yang menangis, dan membiarkan mereka menyimpan kenangan akan kehidupan dan kesedihan lama mereka.[8]

Menurut Quintus Smirnaeus, Helios-lah yang mengubahnya menjadi pohon, untuk menghormati Phaethon,[15] dan Hyginus menulis bahwa mereka diubah menjadi pohon karena memasang kereta tanpa persetujuan ayah mereka.[7]

Bagian tentang Heliades mungkin merupakan alat mitos untuk menjelaskan asal-usul amber; mungkin bukan kebetulan bahwa kata Yunani untuk amber, elektron (ἤλεκτρον), mirip dengan kata elektor (ἠλέκτωρ), sebuah julukan Helios.[16] Pohon poplar dianggap suci bagi Helios, karena kecemerlangan seperti matahari yang dimiliki daunnya yang bersinar.[17]

Kesedihan kekasihnya

Penulis kemudian, khususnya orang Romawi, menyebutkan kisah Kiknus, seorang pria yang merupakan kekasih Phaethon dan sangat berduka atas kematiannya sehingga ia berubah menjadi angsa, burung yang dikenal berkabung karena kehilangan pasangannya selama berhari-hari.[18] Dalam catatan Ovid, para dewa mengubah Kiknus yang tidak dapat dihibur menjadi angsa segera setelah kematian Phaethon; bahkan sebagai angsa ia menyimpan kenangan tentang kematian berapi-api Phaethon, dan burung itu akan menghindari panas matahari.[19] Virgil malah menulis bahwa Kiknus berkabung untuk Phaethon sampai usia tuanya, kemudian ia berubah menjadi angsa, rambut putihnya menjadi bulu putih burung.[20] Pausanias dan Servius secara eksplisit menyebut Apollo sebagai dewa yang mengubah Kiknus menjadi angsa, setelah memberinya bakat menyanyi pada beberapa waktu sebelumnya;[12][21][22] Apollo kemudian menempatkannya di antara bintang-bintang, sebagai konstelasi Cygnus , "angsa". Profesi Kiknus sebagai musisi tampaknya langsung merujuk pada lagu swans yang terkenal.[7]

Senama

Nama "Phaethon", yang berarti "Yang Bersinar",[23] diberikan juga kepada Phaethon dari Siria, kepada salah satu kuda Eos (Fajar), Matahari, konstelasi Auriga, dan planet Jupiter; sementara sebagai sebuah kata sifat, digunakan untuk menggambarkan matahari dan bulan.[24] Dalam beberapa catatan, planet yang disebut dengan nama ini bukanlah Jupiter tetapi Saturnus.[25]

Ketika 1 Ceres dan 2 Pallas - asteroid pertama - ditemukan, astronom Heinrich Olbers menyarankan bahwa mereka adalah fragmen dari planet hipotetis yang jauh lebih besar, yang kemudian dinamai Phaethon. Namun, 'hipotesis Phaeton' telah digantikan oleh model akresi, di mana sabuk asteroid mewakili sisa piringan protoplanet yang tidak pernah membentuk planet, karena gangguan gravitasi Jupiter. Namun, ahli teori pinggiran masih menganggap hipotesis Phaeton mungkin sekali.

Di zaman modern, sebuah asteroid yang orbitnya membuatnya dekat dengan matahari diberi nama "3200 Phaethon".

Bentuk Perancis dari nama "Phaethon" adalah "Phaéton". Bentuk kata ini diterapkan pada sejenis gerbong dan mobil.[26][27]

Sebuah ordo, famili, dan genus burung menyandang nama Phaethon dalam nomenklatur taksonomi mereka, burung tropis.

Silsilah

Gaia
Uranus
HiperionTheiaOkeanosTethis
HeliosKlymene
Phaëthon

Galeri

330px-Phaeton_Asking_for_the_Chariot_LACMA_M.71.76.1.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Phaethon minta izin mengendarai kereta pada Helios, oleh Hendrik Goltzius, 1590
330px-Phaeton_Driving_the_Chariot_to_the_Sun_LACMA_54.70.1n.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Phaeton mengendarai kereta ayahnya, Helios, oleh Hendrik Goltzius, (Holland, Mülbracht, 1590)
330px-Bourdon_phaeton.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Jatuhnya Phaeton
330px-Palazzo_Comunale%2C_coat_of_arms_%28Crespino%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Jatuhnya Phaeton pada lambang kota Crespino
330px-Jacob_Jordaens_-_Cancer.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Jatuhnya Phaeton oleh Jacob Jordaens
330px-GustaveMoreau04.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Phaethon oleh Gustave Moreau
330px-Ermit%C3%A1%C5%BE_55_cropped.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Jatuhnya Phaeton pada Sarkofagus Romawi kuno (Museum Ermitáž)
330px-Adolphe_Sunaert_-_De_Val_van_Pha%C3%ABton.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Jatuhnya Phaethon oleh Adolphe Pierre Sunaert
330px-Eichst%C3%A4tt_Residenz_Treppenhaus_%28cropped%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Jatuhnya Phaeton, oleh Johann Michael Franz
330px-Peter_Paul_Rubens_-_The_Fall_of_Phaeton_%28National_Gallery_of_Art%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Jatuhnya Phaethon oleh Rubens

Referensi

  1. ↑ A Greek-English Lexicon s.v. φαέθω
  2. ↑ Beekes 2009, hlm. 1:1551–52. sfn error: tanpa target: CITEREFBeekes2009 (bantuan)
  3. ↑ Gunnell, John A., ed. (2002). Standard Catalog of American Cars 1946–1975 (Edisi Second). Krause Publications. hlm. 14. ... okay to borrow the chariot of the Sun for a day?
  4. ↑ Coolidge, Olivia E. (2001). Greek Myths. Houghton Mifflin Harcourt. hlm. 12–17. ISBN 978-0-61815426-5.
  5. ↑ "Phaethon". Oxford Dictionaries. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-07-01. Diakses tanggal 2022-09-15 – via oxforddictionaries.com.
  6. ↑ "Phaethon". Collins English Dictionary.
  7. 1 2 3 4 Gaius Julius Hyginus. Fabulae. 154.
  8. 1 2 3 Homer. Odyssey. Scholia. 17.208.
  9. ↑ Tzetzes. Chiliades. 4.127.
  10. ↑ Pliny the Elder. Natural History. 37.11.2.
  11. ↑ Diggle, p. 27
  12. 1 2 Maurus Servius Honoratus. On Aeneid. 10.189.
  13. ↑ Euripides, Hippolytus 735-741
  14. ↑ Ovid. Metamorphoses. 2.329-366.
  15. ↑ Quintus Smyrnaeus. Posthomerica. 5.300. The daughters of the Sun, the Lord of Omens, shed (tears) for Phaethon slain, when by Eridanos' flood they mourned for him. These, for undying honour to his son, the god made amber, precious in men's eyes.
  16. ↑ Keightley, p. 58, esp. [note a]
  17. ↑ Decharme, pp 240–241
  18. ↑ Wedderburn, Pete. "Animals grieve just as people do". The Telegraph (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 25 Juli 2019.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  19. ↑ Ovid. Metamorphoses. 2.367-380.
  20. ↑ Virgil. Aeneid. 10.189.
  21. ↑ Pausanias. Description of Greece. 1.30.3.
  22. ↑ Grimal. s.v. Cygnus 4
  23. ↑ Liddell & Scott (ed.). "φαέθω". Lexicon – via perseus.tufts.edu.
  24. ↑ Liddell & Scott (ed.). "Φαέθω". Lexicon – via perseus.tufts.edu.
  25. ↑ "Phaethon". Greek Mythology. Theoi.
  26. ↑ "phaeton". Oxford Dictionaries. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-05-16. Diakses tanggal 2022-09-15 – via oxforddictionaries.com.
  27. ↑ "phaeton". Collins English Dictionary – via collinsdictionary.com.

Bacaan tambahan

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan