Minggu, 01 November 2026
17:32 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Pertempuran Palembang (1942)

Pertempuran Palembang (1942)

artikel daftar Wikimedia

Bagikan:
Untuk Pertempuran Palembang di tahun yang berbeda, lihat Pertempuran Palembang (1947) dan Pertempuran Palembang (1407).
Pertempuran Palembang
Bagian dari Perang Dunia II, Perang Pasifik
330px-IJA_Paratroopers_Teishin_Shudan_in_Palembang_Feb_1942.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pasukan terjun payung Jepang mendarat di Palembang
Tanggal13–15 Februari 1942
Lokasi
Hasil Kemenangan Jepang
Pihak yang terlibat
 Britania Raya
 Belanda
 Australia
 Selandia Baru
 Jepang
Pemimpin atau tokoh terkemuka
Belanda L.N.W. VogelesangBelanda Karel Doorman
Britania Raya Henry Hunter
Britania Raya Stanley Vincent
Kekaisaran Jepang Jisaburo Ozawa
Kekaisaran Jepang Yoshisaburô Tanaka
Kekaisaran Jepang Seiichi Kume
Pasukan yang terlibat

ABDACOM

Kekaisaran Jepang Pasukan Udara Angkatan Darat Kekaisaran Jepang

  • Resimen Parasut ke-2
  • Sentai ke 59, 64, 98

Kekaisaran Jepang Angkatan Laut Kekaisaran Jepang

  • Resimen Infanteri ke-229
  • Resimen Infanteri ke-230
Kekuatan
2.000 infanteri
50 pesawat tempur
3.000 pasukan amfibi
350 pasukan terjun payung
3 skuadron transportasi
1 kelompok pembom
2 kelompok pejuang

Pertempuran Palembang adalah sebuah pertempuran di teater Pasifik pada Perang Dunia II. Pertempuran ini terjadi di dekat Palembang, Sumatra, pada tanggal 13–15 Februari 1942. Kilang minyak Royal Dutch Shell di dekat Plaju (dulu bernama Pladjoe) adalah sasaran utama Kekaisaran Jepang dalam Perang Pasifik, karena embargo minyak yang dijatuhkan Amerika Serikat, Belanda, dan Britania Raya kepada Jepang setelah Jepang menginvasi Tiongkok. Dengan pasokan bahan bakar dan lapangan terbang yang melimpah di daerah tersebut, Palembang menawarkan potensi yang signifikan sebagai pangkalan militer bagi Sekutu dan Jepang.

Latar Belakang

Pada awal 1942, Jepang memperluas serangannya ke wilayah Hindia Belanda setelah sebelumnya menguasai sejumlah wilayah di Asia Tenggara. Palembang menjadi salah satu sasaran utama karena memiliki cadangan dan fasilitas pengolahan minyak yang sangat penting bagi kebutuhan perang Jepang. [1]

Selain sumber minyak, Palembang juga memiliki sejumlah lapangan terbang yang dapat digunakan untuk mendukung operasi militer. Karena itu, penguasaan Palembang tidak hanya memberikan Jepang akses terhadap sumber daya minyak, tetapi juga menyediakan pangkalan strategis untuk operasi selanjutnya di wilayah Sumatra dan sekitarnya. [2]

Di pihak Sekutu, pertahanan Palembang berada di bawah kekuatan gabungan Belanda, Inggris, Australia, dan Selandia Baru. Pasukan Sekutu berusaha mempertahankan lapangan terbang dan fasilitas minyak dari serangan Jepang. Namun, posisi mereka semakin sulit karena Jepang memiliki kekuatan udara dan laut yang lebih besar serta mampu melancarkan serangan dari beberapa arah.

Jalannya Pertempuran

Serangan Jepang terhadap Palembang berlangsung pada Februari 1942. Salah satu unsur penting dalam serangan tersebut adalah penggunaan pasukan terjun payung untuk merebut lapangan terbang dan mengacaukan pertahanan Sekutu. Pasukan Jepang juga melakukan operasi melalui jalur laut dan darat sehingga serangan terhadap Palembang berlangsung secara terpadu. [1]

Pasukan terjun payung Jepang mendarat di sekitar lapangan terbang Palembang, sementara pasukan lainnya bergerak menuju wilayah penting di sekitar kota. Strategi tersebut membuat pertahanan Sekutu menghadapi tekanan dari beberapa arah sekaligus. Penelitian mengenai strategi invasi Jepang menunjukkan bahwa penggunaan kekuatan udara, laut, darat, dan pasukan terjun payung menjadi unsur penting dalam keberhasilan Jepang merebut Palembang. [1]

Pertempuran berlangsung selama beberapa hari. Pasukan Sekutu berusaha mempertahankan lapangan terbang dan fasilitas minyak, tetapi tekanan Jepang semakin kuat. Pada akhirnya, pasukan Sekutu menarik diri dari Palembang dan Jepang berhasil menguasai kota beserta fasilitas strategis di sekitarnya. [2]

Daftar Referensi

  1. 1 2 3 Aderoben, Andromeda; Septiansi, Ira; Syarifuddin, Syarifuddin (2024-08-31). "Strategi Perang antara Belanda Melawan Invasi Jepang di Palembang dan Dampaknya terhadap Lingkungan". Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan. 8 (2): 212–232. doi:10.29408/fhs.v8i2.24822. ISSN 2549-5585.
  2. 1 2 Mita, Arma (2020-09-06). "Palembang Shi pada Masa Pemerintahan Militer Jepang Tahun 1942-1945". Lembaran Sejarah. 15 (2): 103. doi:10.22146/lembaran-sejarah.59530. ISSN 2620-5882.

Pranala luar

Ikon rintisan

Artikel bertopik militer ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan