Senin, 19 Oktober 2026
20:12 WIB
TERKINI
Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global
Perang di Utara 1655–1660

Perang di Utara 1655–1660

konflik tahun 1655–1661 di daerah Laut Baltik

Bagikan:
Perang Utara Kedua
Bagian dari Peperangan Utara
Tanggal1655–1660
Lokasi
Hasil
Perubahan
wilayah
Pihak yang terlibat

Swedia Kekaisaran Swedia
Brandenburg Brandenburg-Prusia (1656–57)
Transilvania

Kepangeranan Transilvania
Hetmanat Cossack (1657)[1]
 Wallachia
 Moldavia
Persemakmuran Polandia-Lituania
(Polandia-Lituania)
Denmark Denmark–Norwegia
 Monarki Habsburg
Ketsaran Rusia (1656–58)
40px-Crimean_Tatar_tamga_icon_%28blue_and_gold%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Kekhanan Krimea
Brandenburg Brandenburg-Prusia (1655–56, 1657–60)
 Republik Belanda
Pemimpin atau tokoh terkemuka
Swedia Karl X Gustav
Swedia Arvid Wittenberg
Swedia Magnus de la Gardie
Swedia Karl Gustaf Wrangel
Swedia Gustaf Otto Stenbock
Swedia Per Brahe yang Muda
Brandenburg Friedrich Wilhelm I
40px-Flag_of_Transylvania_before_1918.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail George II Rákóczi
Kol. Anton Zhdanovich
Jan II Kazimierz
Hetman Potocki
Hetman Lanckoroński
Hetman Lubomirski
Regimentarz Czarniecki
Hetman Sapieha
Hetman Gosiewski
Denmark Frederik III
Denmark Ulrik Frederik Gyldenløve
Denmark Anders Bille †
Denmark Iver Krabbe
Alexis of Russia
Matvey Sheremetev †
Brandenburg Friedrich Wilhelm I
Monarki Habsburg Raimondo Montecuccoli
Monarki Habsburg Jean-Louis Raduit de Souches
Korban jiwa dan kerugian
70.000 pasukan Swedia tewas[2] (tidak termasuk tentara bayaran)

Perang Utara Kedua (1655–60) adalah perang yang berlangsung antara Swedia melawan musuh-musuhnya, yaitu Persemakmuran Polandia-Lituania (1655–60), Ketsaran Rusia (1656–58), Brandenburg-Prusia (1657–60), Monarki Habsburg (1657–60) dan Denmark–Norwegia (1657–58 dan 1658–60). Republik Belanda juga sering kali melakukan intervensi untuk menghentikan ambisi Swedia.

Pada tahun 1655, Raja Karl X Gustav dari Swedia menyerang dan menduduki wilayah barat Polandia-Lituania, sementara bagian timurnya sudah diduduki oleh Rusia. Pergerakan pasukan Swedia yang sangat cepat membuat peristiwa ini dikenal dengan sebutan "air bah Swedia" dalam sejarah Polandia. Keharyapatihan Lituania menjadi wilayah praja (fief) Swedia, pasukan Polandia-Lituania sudah menyerah dan Raja Polandia Jan II Kazimierz melarikan diri ke wilayah Habsburg di Schlesien. Elektor Brandenburg dan Adipati Prusia Friedrich Wilhelm pada awalnya mendukung estates di Prusy Królewskie, tetapi kemudian bersekutu dengan Swedia agar dapat memperoleh wilayah Kadipaten Prusia sebagai wilayah praja. Meskipun begitu, Jan II Kazimierz berhasil memanfaatkan sentimen agama orang Katolik yang diduduki oleh orang Swedia yang beragama Protestan dan mengorganisasi pemimpin-pemimpin militer Polandia-Lituania ke dalam Konfederasi Tyszowce, sehingga Polandia mulai kembali bangkit pada tahun 1656. Rusia memanfaatkan kesempatan ini dengan menyatakan perang kepada Swedia dan menyerbu wilayah Livonia Swedia.

Karl X Gustav kemudian menyerahkan kedaulatan penuh atas Kadipaten Prusia kepada Friedrich Wilhelm untuk memperoleh bantuan militer, dan ia juga bersekutu dengan György II Rákóczi dari Transilvania yang menyerbu Polandia-Lituania dari tenggara. Sementara itu, Jan II Kazimierz dibantu oleh Leopold I dari Habsburg dan pasukan Habsburg memasuki Polandia-Lituania dari barat daya. Frederik III dari Denmark memanfaatkan kesempatan ini dengan menyerbu daratan Swedia pada musim semi tahun 1657 untuk membalas kekalahan dalam Perang Torstenson saat Swedia sedang sibuk di tempat lain. Brandenburg tidak lagi bersekutu dengan Swedia setelah Raja Polandia memberikan kedaulatan penuh atas wilayah Kadipaten Prusia kepada Friedrich Wilhelm berdasarkan Perjanjian Wehlau dan Bromberg.

Perang yang dilancarkan oleh Denmark menjadi alasan bagi Karl X Gustav untuk meninggalkan kebuntuan di Polandia-Lituania dan bertempur di Denmark. Setelah memimpin pasukannya ke barat dan melakukan penyeberangan yang berbahaya di selat yang beku pada musim dingin tahun 1657/58, ia melancarkan serangan kejutan di kepulauan Denmark dan memaksa mereka untuk menyerah. Perjanjian Roskilde kemudian mewajibkan Denmark untuk melepaskan semua provinsi Denmark di Swedia selatan. Sementara itu, persekutuan anti-Swedia berhasil mengalahkan pasukan Transilvania dan pasukan Polandia menyerbu Pommern Swedia.

Pada tahun 1658, Karl X Gustav memutuskan untuk kembali menyerang Denmark daripada kembali ke benteng-benteng Swedia yang tersisa di Polandia-Lituania. Kali ini Denmark berhasil menahan serangan Swedia. Sepanjang tahun 1659, Swedia berupaya mempertahankan bentengnya di Denmark dan pesisir Baltik selatan, tetapi sekutu tidak dapat memperoleh banyak wilayah. Ketika Karl X Gustav meninggal pada Februari 1660, penerusnya menyepakati Perjanjian Oliva dengan Polandia-Lituania, Habsburg dan Brandenburg pada bukan April, dan Perjanjian Kopenhagen dengan Denmark pada bulan Mei. Swedia masih tetap dapat menguasai wilayah yang didapat dari Perjanjian Roskilde, Kadipaten Prusia menjadi negara berdaulat, dan pihak-pihak lain kembali ke status quo ante bellum. Sementara itu, Swedia sudah menyepakati gencatan senjata dengan Rusia pada tahun 1658 dan perang di antara keduanya secara resmi diakhiri oleh Perjanjian Cardis pada tahun 1661.

Catatan kaki

  1. ↑ Hrushevsky (2003), hlm. 327ff.
  2. ↑ Claes-Göran Isacson, Karl X Gustavs Krig (2002) Lund, Historiska Media. Halaman 265. ISBN 91-89442-57-1

Daftar pustaka

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan