Minggu, 04 Oktober 2026
11:35 WIB
TERKINI
Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan
Perang Belasting

Perang Belasting

artikel daftar Wikimedia

Bagikan:
250px-Tugu_Perjuangan_Rakyat_Kamang_1908%2C_Bukittinggi%2C_Sumatera_Barat.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tugu Perjuangan Rakyat Kamang 1908 di Bukittinggi, Sumatera Barat.

Perang belasting merupakan perang bersenjata pada 15-16 Juni 1908 yang melibatkan rakyat Sumatera Barat melawan pemerintah kolonial Hindia Belanda akibat penerapan pajak (bahasa Belanda:belasting) langsung kepada masyarakat. Perlawanan masyarakat atas pemberlakuan pajak langsung ini dibalas oleh pemerintah Hindia Belanda dengan reaksi keras mengirimkan marechaussee (marsose) ke daerah konflik tersebut, yang akhirnya menimbulkan korban jiwa pada masyarakat maupun tentara kolonial.

Perang belasting ini diawali di Kamang, kemudian menyebar pada kawasan lain seperti Manggopoh, Lintau Buo dan lain-lain.[1]

Perang Kamang

Perang Kamang
330px-Makam_Pahlawan_Perang_Kamang.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Salah satu Makam Pahlawan Perang Kamang
Tanggal15-16 Juni 1908
Lokasi
Pihak yang terlibat
40px-Flag_of_Minang.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Rakyat Kamang 40px-Flag_of_the_Netherlands.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Hindia Belanda
Korban jiwa dan kerugian
100 orang tewas

12 orang tewas

20 orang luka-luka

Perang Kamang merupakan peperangan yang terjadi di Kamang, Agam tahun 1908 akibat penerapan pajak (belasting) kepada masyarakat oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Daerah Kamang berada sekitar 16 km dari Fort de Kock dan sebelumnya merupakan basis kekuatan dari Tuanku Nan Renceh pada masa Perang Padri.

Perlawanan rakyat

Perang ini diawali oleh gerakan protes petani terhadap pemerintah Hindia Belanda atas pajak tanah termasuk pajak atas hewan ternak yang dibebankan kepada mereka. Masyarakat Kamang menolak pembayaran pajak tersebut dan kemudian pada 15-16 Juni 1908 puncaknya pecah perang bersenjata antara masyarakat dengan pemerintah kolonial.[2] Perang ini dipelopori oleh Syekh H. Abdul Manan, yang gugur dalam peperangan tersebut, sementara anaknya H. Ahmad Marzuki ditangkap oleh tentara Belanda.[3] Akibat peperangan ini hampir 100 orang mati tertembak, sementara korban pada pihak tentara kolonial sebanyak 12 orang mati dan lebih kurang 20 orang luka-luka.[4] Di antara korban terwas dari masyarakat Kamang, terdapat dua orang wanita, yakni Siti Asiah, istri Datuk Radjo Penghulu, dan Siti Anisah. Mereka telah mengenakan pakaian laki-laki ketika ikut menghadang kompeni Belanda.[5]

Dikabarkan pula, kuda neneknya Mohammad Hatta juga ditembak sewaktu Perang ini terjadi. Si Nenek kemudian datang ke gedung residen Padang pada waktu itu, dan memarahi sang Residen. Amrin Imran mencatat Nenek Mohammad Hatta sebagai orang yang mudah marah.[6]

Aceh's second invasion of Pagaruyung

Aceh-Pagaruyung war
330px-Makam_Siti_Manggopoh.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kompleks Makam Pejuang Perang Manggopoh
Tanggal15-16 Juni 1908
Lokasi
Hasil Pagaruyung Victory
Pihak yang terlibat
40px-Flag_of_Minang.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Pagaruyung Berkas:Flag of the aceh.svg kesultanan aceh
Korban jiwa dan kerugian

30 killed

60 People were arrested
332 killed

Perang Manggopoh berlangsung di Manggopoh, Sumatera Barat dipimpin oleh Siti Manggopoh.[7] Munculnya perlawanan masyarakat di Manggopoh dipengaruhi oleh perlawanan masyarakat di Kamang. Akibat peperangan ini 53 orang tentara kolonial mati terbunuh, sementara korban pada masyarakat sebanyak 7 orang mati dan 7 orang ditangkap termasuk Siti Manggopoh.[7]

Referensi

  1. ↑ St. Dt. M. Machudum, (1952), Riwajat perdjuangan bangsa Indonesia dalam masa 150 tahun, Masa Baru (dahulu A. C. Nix).
  2. ↑ Nafis, A., (2004), Syair Perang Kamang, Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau, ISBN 979-3797-02-9
  3. ↑ Djurip, (1996), Kajian naskah Pemimpin ke syurga dan Syair Perang Kamang yang kejadian dalam tahun 1908, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.
  4. ↑ Hatta, M., (2011), Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi, Penerbit Buku Kompas, ISBN 979-709-540-1.
  5. ↑ Penerangan, Indonesia Departemen (1964). Ledakan watak anti imperialisme dan kolonialisme. Departemen Penerangan.
  6. ↑ Imran, Amrin (1991). Mohammad Hatta:Pejuang, Proklamator, Pemimpin, Manusia Biasa. hlm.9. Jakarta: Mutiara Sumber Widya. OCLC 9072338
  7. 1 2 Abel Tasman, Nita Indrawati, Sastri Yunizarti Bakry, Mestika Zed, (2003), Siti Manggopoh, Yayasan Citra Budaya Indonesia, ISBN 979-95830-7-1

Daftar Pustaka

  • Amran, R., (1988), Pemberontakan pajak 1908, Sumatera Barat. Bag. ke. 1: Perang Kamang, Gita Karya
  • Sjafei, S & Hamzah, T., (1964), Kamang 1908, Djakarta: Tintamas.

Pranala luar

Sejarah konflik di Nusantara
Pra-kolonial
Kolonial Portugis
Kolonial VOC
Kolonial Belanda
Pendudukan Jepang
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan