Selasa, 27 Oktober 2026
23:40 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Perang Benggala

Perang Benggala

Bagikan:

Perang Benggala,[1] atau disebut juga sebagai Perang Inggris-Mughal Kedua[2] adalah perang antara koalisi yang terdiri dari Kekaisaran Mughal, Subah Awadh, dan Subah Benggala melawan Perusahaan Hindia Timur Britania Raya dari tahun 1763 hingga tahun 1765,[3] Perang ini berakhir dengan kemenangan Inggris dan penandatanganan Perjanjian Allahabad pada 16 Agustus 1765.[4]

Perang Benggala
Bagian dari Perang Tujuh Tahun
330px-Sir_Hector_Munro_by_David_Martin.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Potret Sir Hector Munro dalam Pertempuran Buxar
Tanggal25 Juni 1763 - 16 Agustus 1765
Lokasi
Hasil

Kemenangan EIC

Pihak yang terlibat
40px-Flag_of_the_Mughal_Empire.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Kekaisaran Mughal[5]
Subah Awadh
Subah Benggala
Kerajaan Kashi
Perusahaan Hindia Timur Britania Raya
Pemimpin atau tokoh terkemuka
40px-Flag_of_the_Mughal_Empire.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Shah Alam II[5]
40px-Flag_of_the_Mughal_Empire.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Najaf Khan
Shuja-ud-Daula
Mir Qasim
Balwant Singh
Hector Munro dari Novar
John Caillaud
Thomas Adams
William Ellis Dihukum mati

Latar Belakang

Dibawah kekuasaan Kekaisaran Mughal, Benggala digambarkan sebagai Surga Bangsa-Bangsa[6] pernah menjadi salah satu Provinsi Mughal terkaya dan paling makmur.[7] Benggala Sendiri menyumbang 40% dari seluruh ekspor Belanda ke Asia.[8] Dan merupakan pengekspor utama kapas, baja, sendawa, kain sutra serta Hasil pertanian dan Industri.[9]

Perusahaan Hindia Timur Britania Raya mulai berdagang di Benggala sejak abad ke-17, Awalnya kekuasaan mereka lemah karena dibawah otoritas Kekaisaran Mughal. Namun setelah kemunduran Kekaisaran Mughal akibat wafatnya Aurangzeb, Nawab Benggala memperoleh kekuasaan kemandirian secara de facto (1704 hingga 1717),[10] sementara Inggris makin memperluas pengaruhnya lewat hak dagang yang diberikan Kaisar Mughal Farrukhsiyar.[11] Ketegangan semakin meningkat karena pajak dan klaim kedaulatan, Hingga pada masa Siraj-Ud Daulah (1756) konflik pecah antara Nawab Benggala dengan Inggris. Serangan Siraj ke Kalkuta memicu perang yang berpuncak. Hingga pada Pertempuran Plassey (1757), Siraj-Ud Daulah digulingkan oleh Inggris dan menempatkan nawab Boneka yaitu Mir Jafar. Kebijakan perdagangan EIC yang merugikan pedagang lokal memperburuk keadaan, hingga nawab berikutnya, Mir Qasim, mencoba melawan. Perselisihan dagang dan pajak akhirnya membuka jalan menuju Perang Benggala (1763-1765).[12]

Referensi

  1. ↑ Jaques, Tony (2007). Dictionary of Battles and Sieges: F-O. Bloomsbury Academic. ISBN 9780313335389.
  2. ↑ Bayly 2013, hlm. 338.
  3. ↑ Clodfelter 2017.
  4. ↑ Grover, B. L.; Mehta, Alka (2014). A New Look at Modern Indian History (Edisi 30th). S Chand Publishing. hlm. 364. ISBN 978-8121905329.
  5. 1 2 History of the Freedom Movement in India (1857–1947), hlm. 2, pada Google Books
  6. ↑ Steel, Tim (2014-12-19). "The paradise of nations". Op-ed. Dhaka Tribune. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-05-17. Diakses tanggal 2019-05-17.
  7. ↑ "Bengal subah was one of the richest subahs of the Mughal empire". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 Agustus 2012. Diakses tanggal 17 Agustus 2012.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. ↑ Om Prakash (2006). "Empire, Mughal". Dalam John J. McCusker (ed.). History of World Trade Since 1450. World History in Context. Vol. 1. Macmillan Reference USA. hlm. 237–240. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 November 2022. Diakses tanggal 3 Agustus 2017.{{cite encyclopedia}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. ↑ Khandker, Hissam (31 Juli 2015). "Which India is claiming to have been colonised?". The Daily Star (Op-ed). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 Maret 2019. Diakses tanggal 6 Mei 2016.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  10. ↑ "Nawab". Banglapedia. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Oktober 2017. Diakses tanggal 2 Juli 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  11. ↑ Dalrymple, William (2019). The anarchy: the relentless rise of the East India Company. London (GB): Bloomsbury Publishing. ISBN 978-1-63557-433-3.
  12. ↑ Shah, Mohammad (2012). "Mir Qasim". Dalam Islam, Sirajul; Jamal, Ahmed A. (ed.). Banglapedia: National Encyclopedia of Bangladesh (Edisi Second). Asiatic Society of Bangladesh.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan