
Perang Mawar adalah serangkaian konflik dinasti yang berlangsung di Inggris dari tahun 1455 hingga 1487. Konflik ini melibatkan dua cabang utama Wangsa Plantagenet, yaitu Wangsa Lancaster, yang dilambangkan dengan mawar merah, dan Wangsa York, yang dilambangkan dengan mawar putih. Perang ini dinamakan "Perang Mawar" karena lambang heraldik masing-masing wangsa tersebut. Perang ini ditandai oleh perebutan takhta Inggris yang berlangsung selama lebih dari tiga dekade, yang akhirnya membawa akhir era Plantagenet dan memulai era Tudor.
Pada dasarnya, Perang Mawar bisa ditarik mundur dari masalah sosioekonomi yang disebabkan oleh Perang Seratus Tahun (1337-1453) melawan Perancis, dan juga sistem feodalisme gadungan yang berakar dari sistem kepemilikan danah yang dibuat oleh Raja Edward III (meninggal 1377). Ketidakstabilan mental dari Raja Henry VI yang berasal dari Wangsa Lancaster membuat sepupunya, Richard, Adipati York, berusaha untuk merebut tahta. Perang pertama yang terjadi di Perang Mawar dimulai di tahun 1455, ditandai oleh penangkapan Henry yang dilakukan oleh sang Adipati York di Pertempuran St. Albans. Setelah pertempuran terebut, Adipati York disematkan menjadi Lord Protector oleh Parlemen Inggris. Perang kembali terjadi empat tahun kemudian saat anggota Wangsa York yang dipimpin oleh Richard Neville, Earl Warwick, menangkap Henry lagi di Pertempuran Northampton. Setelah berusaha untuk merebut tahta, Richard terbunuh di Pertempuran Wakefield, dimana anak laki-lakinya, Edward, mewarisi klaim atas tahtanya melalui pakta Act of Accord yang kontroversial. Wangsa York kehilangan kontrol atas Henry pada tahun 1461 setelah Pertempuran St. Albans Kedua, namun mampu mengalahkan Wangsa Lancaster di Pertempuan Townton. Edward IV akhirnya dinobatkan menjadi raja Inggris di bulan Juni tahun 1461.
Penamaan dan simbolisme
Nama "Perang Mawar" merujuk pada lambang heraldik yang terkait dengan dua cabang wangsa Plantagenet yang bersaing memperebutkan kendali atas takhta Inggris; Mawar Putih York dan Mawar Merah Lancaster . Istilah ini awalnya digunakan pada tahun 1727 oleh Bevil Higgons, yang mendeskripsikan pertengkaran antara dua mawar[1] dan oleh David Hume dalam The History of England (1754–1761):
Masyarakat, yang terpecah dalam keberpihakan mereka, mengadopsi simbol-simbol partai yang berbeda: para pendukung Wangsa Lancaster memilih mawar merah sebagai tanda pembeda mereka; pendukung Wangsa York dikenal melalui simbol mawar putih; dan dengan demikian, perang saudara ini pun dikenal di seluruh Eropa sebagai perseteruan antara dua mawar.[2]
Istilah "Perang Mawar" sebenarnya tergolong baru, karena nama ini baru populer sekitar awal 1800-an. Sir Walter Scott-lah yang mempopulerkannya lewat novel Anne dari Geierstein yang terbit tahun 1829. Ia terinspirasi dari salah satu adegan dalam lakon Henry VI, Part 1 karya William Shakespeare, tepatnya babak kedua adegan keempat. Adegan itu berlangsung di halaman Gereja Temple, ketika beberapa bangsawan dan seorang ahli hukum masing-masing memilih setangkai mawar merah atau putih sebagai simbol dukungan mereka kepada keluarga Lancaster atau keluarga York.
Pada masa Shakespeare, pertikaian panjang ini belum punya sebutan khusus dan hanya dikenal sebagai "perang saudara"[a]. Setelah Inggris kembali dilanda perang saudara pada abad ke-17, barulah muncul kebutuhan akan nama lain untuk membedakan perebutan takhta antarwangsa yang terjadi lebih dulu itu.
Mawar putih sudah menjadi lambang pihak York sejak pertikaian dimulai. Sebaliknya, mawar merah sebagai simbol Lancaster baru muncul belakangan, yakni setelah Henry Tudor menang dalam Pertempuran Bosworth Field tahun 1485. Henry kemudian menikahi Elizabeth dari York, ahli waris Edward IV, dan sejak itu kedua bunga dipadukan menjadi mawar Tudor sebagai lambang bersatunya dua keluarga yang dulu bermusuhan di bawah satu mahkota.
Tradisi memakai mawar sebagai lencana heraldik sendiri berawal dari masa Edward I, yang menggunakan lambang berupa mawar emas dengan tangkai berwarna alami. Karena banyak bangsawan menyandang beberapa gelar sekaligus, mereka kerap memakai lebih dari satu lencana. Edward IV, contohnya, memakai simbol matahari bersinar sebagai Earl of March, tetapi juga memakai lambang elang dan belenggu warisan ayahnya, sang Adipati York. Lencana-lencana ini pun tidak selalu mudah dibedakan. Dalam Pertempuran Barnet, simbol matahari milik Edward begitu mirip dengan bintang keluarga de Vere yang dipakai Earl of Oxford, sehingga terjadi salah kenal di medan perang yang berakibat fatal.[3]
Tidak sedikit bangsawan yang memakai lencana seragam sebagai tanda keterikatan mereka dengan tuan atau pelindungnya. Namun, hak mengenakan seragam semacam itu hanya diberikan kepada orang-orang yang mengabdi secara tetap kepada seorang tuan, sehingga kelompok seperti pasukan tentara bayaran tidak termasuk di dalamnya. [4] Misalnya saja, pasukan Henry Tudor di Bosworth berperang di bawah panji naga merah, [5] sedangkan pasukan York menggunakan lambang pribadi Richard III yang bergambar babi hutan putih . [6]
Perlu diingat juga bahwa meskipun nama-nama keluarga yang bersaing tersebut berasal dari kota York dan Lancaster, kadipaten dan wilayah kekuasaan yang bersangkutan hampir tidak ada hubungannya dengan kota-kota tersebut. Tanah dan kantor yang terkait dengan Kadipaten Lancaster terutama terletak di Gloucestershire, Wales Utara, Cheshire, dan, ironisnya, di Yorkshire, sedangkan tanah milik Adipati York tersebar di seluruh Inggris dan Wales, dengan banyak yang berada di Welsh Marches . [7]
Latar Belakang
Wangsa Plantagenet dan Konflik Internal Wangsa Plantagenet telah memerintah Inggris sejak abad ke-12, tetapi pemerintahan mereka mulai melemah akibat konflik internal dan persaingan antar cabang keluarga. Krisis politik pada abad ke-15 dipicu oleh kegagalan Raja Henry VI, seorang penguasa dari Wangsa Lancaster, untuk memerintah dengan efektif. Henry VI mengalami gangguan mental, yang membuat banyak bangsawan merasa tidak puas dengan pemerintahannya.
Masalah Suksesi Takhta
Ketidakstabilan Henry VI memunculkan klaim dari Wangsa York, yang merasa memiliki hak yang sah atas takhta. Richard, Adipati York, menjadi tokoh sentral dalam konflik ini, memimpin pemberontakan terhadap kekuasaan Lancaster.
Penyebab Utama
- Krisis Kepemimpinan: Henry VI yang lemah dianggap tidak mampu menjaga stabilitas politik.
- Hak Klaim Takhta: Richard dari York dan para pendukungnya menantang legitimasi Wangsa Lancaster.
- Persaingan Ekonomi dan Kekuasaan: Perebutan tanah dan pengaruh di kalangan bangsawan Inggris memperburuk situasi.
Tahapan Perang
Periode Awal (1455–1460)
- Pertempuran St. Albans (1455): Merupakan pertempuran pertama Perang Mawar. Pasukan York yang dipimpin oleh Richard berhasil menang dan merebut kekuasaan sementara.
- Gencatan Senjata dan Ketegangan: Meskipun ada gencatan senjata singkat, ketegangan antara kedua wangsa tetap membara.
Periode Tengah (1460–1471)
- Pertempuran Wakefield (1460): Richard dari York tewas dalam pertempuran ini, tetapi anaknya, Edward IV, melanjutkan perjuangan.
- Edward IV Dinobatkan (1461): Edward IV dari Wangsa York merebut takhta setelah mengalahkan pasukan Lancaster dalam Pertempuran Towton, yang dikenal sebagai pertempuran paling berdarah dalam Perang Mawar.
- Kembalinya Henry VI (1470): Dengan bantuan sekutu, Henry VI sempat kembali menjadi raja selama beberapa bulan, tetapi kekuasaan ini tidak bertahan lama.
Periode Akhir (1471–1487)
- Pertempuran Tewkesbury (1471): Edward IV kembali memenangkan pertempuran, dan Henry VI ditangkap serta dieksekusi.
- Kematian Edward IV dan Krisis Baru (1483): Setelah kematian Edward IV, konflik kembali pecah ketika Richard III, adik Edward IV, merebut takhta dari keponakannya, Edward V.
- Pertempuran Bosworth Field (1485): Richard III tewas dalam pertempuran ini, dan Henry Tudor dari Wangsa Lancaster merebut takhta sebagai Henry VII, mengakhiri Perang Mawar.
Dampak Perang Mawar
- Akhir Wangsa Plantagenet: Kematian Richard III menandai berakhirnya pemerintahan Plantagenet di Inggris.
- Awal Dinasti Tudor: Pernikahan Henry VII dengan Elizabeth dari York menyatukan dua wangsa yang berseteru, menciptakan simbol baru berupa mawar Tudor.
- Perubahan Struktur Sosial: Kehancuran banyak keluarga bangsawan besar selama perang mengubah dinamika politik Inggris.
- Stabilitas Politik Baru: Dinasti Tudor membawa periode stabilitas setelah konflik yang berkepanjangan.
Warisan Budaya
Perang Mawar menjadi inspirasi bagi karya-karya sastra dan seni, termasuk dalam Henry VI dan Richard III karya William Shakespeare. Lambang mawar merah dan putih juga menjadi simbol nasional Inggris hingga hari ini.
Referensi
- ↑ Higgons, Bevil (1727). A Short View of the English History:: With Reflections Political, Historical, Civil, Physical, and Moral; on the Reigns of the Kings; Their Characters, and Manners; Their Successions to the Throne, and All Other Remarkable Incidents to the Revolution 1688. : Drawn from Authentic Memoirs and Manuscripts. T. Johnston. hlm. 165.
- ↑ Hume, David. "EDWARD IV". The History of England in Three Volumes. Vol. I.B.
- ↑ Cokayne 1945, hlm. 240–241. sfn error: tanpa target: CITEREFCokayne1945 (bantuan)
- ↑ Bellamy 1989, hlm. 19. sfn error: tanpa target: CITEREFBellamy1989 (bantuan)
- ↑ Boutell 1914, hlm. 229. sfn error: tanpa target: CITEREFBoutell1914 (bantuan)
- ↑ Boutell 1914, hlm. 26. sfn error: tanpa target: CITEREFBoutell1914 (bantuan)
- ↑ Rowse 1966, hlm. 109. sfn error: tanpa target: CITEREFRowse1966 (bantuan)
- Carpenter, Christine. The Wars of the Roses: Politics and the Constitution in England, 1437–1509.
- Hicks, Michael. The Wars of the Roses.
- Ross, Charles. The Wars of the Roses: A Concise History.
Pranala luar
- The Wars of the Roses Chronology World History Database Diarsipkan 2007-02-02 di Wayback Machine
- The Wars of the Roses Diarsipkan 2018-03-23 di Wayback Machine Has a large article on 'Soldiers and Warfare during the Wars of the Roses' with interesting information on the fighting and tactics of the day, plus battles and people
- warsoftheroses.com includes a map, timeline, info on major players and summaries of each battle
- A complicated but comprehensive diagram of the Wars of the Roses Diarsipkan 2005-09-06 di Wayback Machine can be found at threetwoone.org
- An extensive chronological account can be found at Wars Of The Roses Diarsipkan 2007-02-08 di Wayback Machine. The historical interpretation which accompanies it is a personal view of the author
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Lain-lain | |
Artikel bertopik sejarah ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya. |
- ↑ During Shakespeare's the term Civil Wars was in common use, cf. e.g., the title of Samuel Daniel's work, the First Four Books of the Civil Wars.