Rabu, 28 Oktober 2026
09:22 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Penyakit Legionnaires

Penyakit Legionnaires

Bagikan:
Legionnaires' disease
Nama lainLegionellosis,[1] legion fever
250px-PMC5258191_cureus-0008-00000000937-i01.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Chest X-ray of a severe case of legionellosis upon admission to the emergency department.
SpesialisasiInfectious disease, pulmonology
GejalaCough, shortness of breath, fever, muscle pains, headaches[2]
Awitan umum2–10 days after exposure[2]
PenyebabBacteria of the Legionella type (spread by contaminated mist)[3][4]
Faktor risikoOlder age, history of smoking, chronic lung disease, poor immune function[5]
Metode diagnostikUrinary antigen test, sputum culture[6]
PencegahanGood maintenance of water systems[7]
PengobatanAntibiotics[8]
Prognosis10% risk of death[8]
Frekuensi~13,000 severe cases a year (US)[9]

Penyakit Legionnaires, atau legionellosis, adalah suatu bentuk pneumonia atipikal yang terjadi karena, semua tipe jenis bakteri dari Legionella. [3] Batuk, sesak, demam yang tinggi, nyeri otot, dan sakit kepala merupakan tanda gejala dari penyakit ini. [2] Kejadian mual, muntah, dan diare juga bisa terjadi pada penyakit ini. [1] Kemunculannya sering kali dimulai saat 2 hingga 10 hari pasca paparan. [2]

Bakteri jenis ini ditemukan umum pada air tawar . [4] Bakteri ini bisa mencemari tempat penyimpanan air seperti tangki air panas, bak mandi air panas, dan menara pendingin AC besar. [4] Umumnya penyebaran penyakit ini udara seperti melalui menghirup kabut yang mengandung bakteri. [4] Penyebarannya juga bisa terjadi saat air yang terkontaminasi masuk kedalam tubuh. [4] Biasanya penularan penyakit ini tidak secara langsung antar manusia, dan sebagian besar orang yang terpapar tidak langsung tertular. [4] Usia tua, adanya riwayat merokok, PPOK dan kekebalan tubuh yang buruk menjadi risiko terinfeksinya penyakit ini. [5] [10] Orang-orang penderita pneumonia berat dan orang-orang dengan penyakit pneumonia juga ada riwayat perjalanan harus melakukan uji tes antigen dari kultur dahak, dan urine. [11] [6]

Belum ada vaksin yang tersedia untuk penyakit ini. [7] Upaya pencegahan diarahkan pada jaringan penyediaan air yang baik. [7] Penggunaan antibiotik salah satu pengobatan yang digunakan untuk penyakit Legionnaires. [8] Golongan obat antibiotik yang direkomendasikan adalah fluoroquinolones, azitromisin, atau doksisiklin . [12] Rawat inap sering kali diperlukan untuk mengatasi kondisi ini. [11] Sekitar 10% dari mereka yang terinfeksi meninggal. [8]

Referensi

  1. 1 2 Cunha BA, Burillo A, Bouza E (23 Januari 2016). "Legionnaires' disease". Lancet. 387 (10016): 376–385. doi:10.1016/s0140-6736(15)60078-2. PMID 26231463.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. 1 2 3 4 "Legionella (Legionnaires' Disease and Pontiac Fever) Signs and Symptoms". Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 26 Januari 2016. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Maret 2016. Diakses tanggal 21 Maret 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 "Legionella (Legionnaires' Disease and Pontiac Fever) About the Disease". Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 26 Januari 2016. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 Maret 2016. Diakses tanggal 21 Maret 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. 1 2 3 4 5 6 "Legionella (Legionnaires' Disease and Pontiac Fever) Causes and Transmission". Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 9 Maret 2016. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 Maret 2016. Diakses tanggal 21 Maret 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. 1 2 "Legionella (Legionnaires' Disease and Pontiac Fever) People at Risk". Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 26 Januari 2016. Diarsipkan dari asli tanggal 27 Maret 2016. Diakses tanggal 21 Maret 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. 1 2 "Legionella (Legionnaires' Disease and Pontiac Fever) Diagnostic Testing". Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 3 November 2015. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Maret 2016. Diakses tanggal 21 Maret 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. 1 2 3 "Legionella (Legionnaires' Disease and Pontiac Fever) Prevention". Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 26 Januari 2016. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 Maret 2016. Diakses tanggal 21 Maret 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. 1 2 3 4 "Legionella (Legionnaires' Disease and Pontiac Fever) Treatment and Complications". Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 26 Januari 2016. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 Maret 2016. Diakses tanggal 21 Maret 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. ↑ "Legionella (Legionnaires' Disease and Pontiac Fever) History and Disease Patterns". Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 22 Januari 2016. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 Maret 2016. Diakses tanggal 21 Maret 2016.
  10. ↑ "Legionella: Causes, How it Spreads, and People at Increased Risk". Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 30 April 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 Maret 2016. Diakses tanggal 17 September 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  11. 1 2 "Legionella (Legionnaires' Disease and Pontiac Fever) Clinical Features". Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 28 Oktober 2015. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Maret 2016. Diakses tanggal 21 Maret 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  12. ↑ Mandell LA, Wunderink RG, Anzueto A, et al. (1 Maret 2007). "Infectious Diseases Society of America/American Thoracic Society consensus guidelines on the management of community-acquired pneumonia in adults". Clinical Infectious Diseases. 44 Suppl 2: S27–72. doi:10.1086/511159. PMC 7107997. PMID 17278083.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan