| Sentigi | |
|---|---|
| Semak Pemphis acidula di pantai Pulau Réunion | |
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Plantae |
| Klad: | Tracheophyta |
| Klad: | Angiospermae |
| Klad: | Eudikotil |
| Klad: | Rosidae |
| Ordo: | Myrtales |
| Famili: | Lythraceae |
| Genus: | Pemphis |
| Spesies: | P. acidula |
| Nama binomial | |
| Pemphis acidula | |
| Sinonim[3] | |
Sentigi, mentigi,[4][5] atau cantigi laut (Pemphis acidula) adalah spesies tumbuhan berbunga dalam famili Lythraceae. Semak ini adalah jenis tumbuhan yang berasosiasi dengan mangrove, yang ditemukan tumbuh di pantai berbatu di sebagian besar wilayah tropis Indo-Pasifik. Dideskripsikan pertama kali pada tahun 1775, sentigi sampai saat ini dianggap sebagai satu-satunya spesies anggota marga Pemphis.[6]: 50, [7] Nama-nama lainnya adalah mentigi, perepat gelang (Mly.); sentigi, setigi (Jw.); santigi (Bug., Mak.); cantigi, cantigi laut (Sd., bukan cantigi gunung).[4][5][8] Di Filipina dikenal sebagai bantigi (atau ditulis bantigue), kabantigi, pantigi, ligad, ligat, dll.[9][10]
Pengenalan

Semak atau perdu (pohon kecil) yang padat bercabang-cabang, tinggi (0,5 –)1 – 5 m, gemang batangnya hingga 10 cm di pangkal. Daun-daunnya terletak berhadapan dan bersilangan, bertangkai pendek hingga 0,2 cm; helai daun keabu-abuan berambut, tebal dan berair (sukulen), bentuk jorong sempit hingga lanset, 1–3 x 0.3 –1.5 cm, pangkalnya menyempit dan ujungnya meruncing atau menumpul, sering berakhir dengan suatu lubang pori hidatoda.[6]: 52

Bunga-bunga muncul di ketiak daun, soliter atau berpasangan, berbilangan-6, aktinomorf. Sepasang daun pelindung kecil terdapat di pangkal tangkai bunga yang panjangnya hanya 5 – 15 mm; tabung kelopak 4 – 6 mm panjangnya, berusuk halus 12, dengan dinding tabung yang tebal; taju kelopak pendek, lk. 1/4 panjang tabung kelopak; taju kelopak tambahan lk. 1/2 panjang; daun mahkota bunga berwarna putih, bentuk jorong, atau bundar telur (terbalik), atau hampir bundar penuh, 5 – 8 x 3 – 5 mm, berkerinyut padat tatkala kuncup. Benang sari 12 helai. Buah kotak beruang-1 (atau beruang-3 tak sempurna), hampir bulat atau bulat telur terbalik, panjang 6 – 9 mm, ujungnya lk. tersembul jika masak. Biji lk. 20 butir, 2 – 3 mm, tak bersayap.[6]: 50, 52
Distribusi, habitat dan ekologi
Pemphis acidula adalah semak halofit yang ditemukan di kawasan pesisir di wilayah tropika Indo-Pasifik. Semak atau perdu ini didapati tumbuh di tanah berpasir dan berkapur di zona litoral Samudra Hindia dan Samudra Pasifik; mulai dari pesisir timur Afrika, pantai-pantai di Asia Selatan dan Tenggara, ke timur hingga Kepulauan Marshall di Pasifik, dan ke utara hingga Kepulauan Ryukyu di Jepang.[6]: 53
Sentigi juga ditemukan di wilayah mangrove, yakni di tepi-tepinya ke arah darat di atas garis pasang. Semak ini acap kali mengkoloni tanah-tanah pasir, laterit, tanah berkapur (karst), dan tanah-tanah berkarang di area pantai yang tidak terkena air pasang. Bunga sentigi diserbuki oleh lebah. Tepi biji sentigi yang bergabus membantunya mengapung di air, dan mengikuti arus laut yang akan memencarkannya ke tempat jauh. Semak ini termasuk jenis yang berasosiasi dengan hutan mangrove.[9]: 637
Kegunaan
Kayu
Kayu dari spesies ini secara tradisional dihargai di banyak kebudayaan karena sifatnya yang keras dan berat, serta tahan terhadap pembusukan dan perubahan bentuk (melengkung). Setelah diolah, kayu ini juga memiliki tekstur akhir yang halus secara alami dan dapat diolah menjadi tongkat jalan, tiang pagar, gagang perkakas, dan bahkan jangkar. Di Réunion dan Mauritius kayu sentigi dikenal sebagai bois matelot. [11] Di Maladewa, kayu keras ini digunakan dalam pembuatan kapal tradisional untuk menyatukan papan lambung kapal, serta untuk membuat "paku" dalam praktik ilmu sihir setempat. Di Pulau Marovo, Tonga, Tahiti, dan kepulauan Pasifik Selatan lainnya, kayu sentigi digunakan untuk membuat perkakas seperti alu, gagang perkakas, senjata, dan sisir.
Sentigi menghasilkan kayu keras yang sangat berat, dengan densitas antara 1100-1210 kg/m3 pada kelembaban 15%. Kayu terasnya berwarna cokelat kemerahan hingga cokelat kemerahan tua, menjadi cokelat gelap dengan berjalannya waktu. Jelas terbedakan dari kayu gubalnya yang berwarna pucat, setebal lk. 1 cm. Serat kayunya berpadu, dengan tekstur yang sangat halus, dan tampak mengkilap. Lingkaran tumbuh terlihat samar hingga cukup jelas; pori-pori kayu tersebar hingga semi membentuk cincin. Pembuluh kayunya berukuran sangat kecil hingga agak kecil, umumnya mengandung endapan berwarna kuning kemerahan.[12]: 435
Penyusutan kayu saat dikeringkan dengan udara tergolong sangat rendah, namun menjadi sangat tinggi jika dikeringkan dengan tanur. Kayu ini dapat dikeringkan dengan baik tanpa banyak mengalami retak atau melengkung. Kayunya sangat keras dan sangat kuat. Meskipun cukup sulit untuk dikerjakan, namun dengan penanganan yang cermat, kayu ini dapat menghasilkan permukaan akhir yang sangat halus dan mengkilap. Kayu sentigi sangat awet, baik saat terpapar cuaca maupun bersentuhan langsung dengan tanah. Kayu terasnya memiliki ketahanan yang sangat tinggi terhadap rayap kayu kering, sementara kayu gubalnya tahan terhadap serangan kumbang bubuk kayu (Lyctus).[12]: 435
Kayu sentigi adakalanya juga dimanfaatkan sebagai kayu bakar.[12]: 435
Bonsai
Pemphis acidula juga merupakan salah satu jenis tanaman yang digunakan dalam bonsai. Karena preferensi tropis dan ketahanannya terhadap topan, ini adalah spesies bonsai yang paling umum di Filipina ; tapi juga ditanam sebagai bonsai di Taiwan dan Kepulauan Ryukyu Jepang .[10][13] Karena popularitas dan nilainya yang tinggi di kalangan penggemar bonsai, tanaman ini termasuk dalam daftar spesies yang diklasifikasikan 'terancam' oleh Departemen Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Filipina. Pengumpulan, penjualan, dan pengangkutan Pemphis acidula liar adalah tindakan ilegal di Filipina dan dapat dikenakan denda serta penjara hingga enam tahun.[14][15]
Di Taman Nasional Kenting Taiwan, pengambilan ilegal sentigi berdampak negatif terhadap ekosistem pesisir.[16]
Referensi
- ↑ Ellison, J., Koedam, N.E., Wang, Y., Primavera, J., Jin Eong, O., Wan-Hong Yong, J. & Ngoc Nam, V. (2010). Pemphis acidula. The IUCN Red List of Threatened Species 2010: e.T178838A7622565. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2010-2.RLTS.T178838A7622565.en. Accessed on 15 October 2026.
- ↑ Forster, J.R. & G. Forster. (1776). Characteres Generum Plantarum:quas in itinere ad insulas maris Australis, ..., annis 1772-1775. Ed. 2: 68, t. 34. Londini: Prostant apud B. White, T. Cadell, & P. Elmsly, 1776.
- ↑ "Pemphis acidula J.R.Forst & G.Forst". Plants of the World Online. Royal Botanic Gardens, Kew. 2023. Diakses tanggal 2 September 2023.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Heyne, K. (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia, jil. 3: 1476-1477. Jakarta: Badan Litbang Kehutanan, Departemen Kehutanan. (versi berbahasa Belanda -1917- III: 335.)
- 1 2 de Clercq, F.S.A.; Greshoff, M. (1909). Nieuw Plantkundig Woordenboek voor Nederlandsch Indië hlm. 300. Amsterdam: J.H. de Bussy.
- 1 2 3 4 de Wilde, W.J.J.O. & B.E.E. Duyfjes. (2016). "Lythraceae". Flora Malesiana, Ser. I, Vol. 22 (2016): 1-64.
- ↑ "Pemphis J.R.Forst & G.Forst". Plants of the World Online. Royal Botanic Gardens, Kew. 2026. Diakses tanggal 15 Oktober 2026.
- ↑ "Mentigi". Wild Fact Sheets. Wild Singapore. Diakses tanggal 13 September 2020.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Giesen, W., S. Wulffraat, M. Zierenand & L. Scholten. (2007). Mangrove Guidebook for Southeast Asia. Bangkok: FAO and Wetlands International. ISBN 974-7946-85-8 (Pemphis acidula, hlm. 636-637)
- 1 2 Enriquez, Marge C. "The Philippine 'bantigue' still rules the bonsai scene". Lifestyle.Inq. Philippine Daily Inquirer. Diakses tanggal 13 September 2020.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ xycol.net Pemphis acidula J.R. Forst., 1775 - Nom pilote : miki miki
- 1 2 3 Purnobasuki, H. & B. Irawan. (1998). "Pemphis J.R. Forster & J.G. Forster". In: M.S.M. Sosef, L.T. Hong & S. Prawirohatmodjo (Eds.) Plant Resources of South-East Asia (PROSEA) No. 5(3) Timber trees: lesser-known timbers: 435-436. Bogor:Prosea Foundation.
- ↑ Yap, Julio. "Proper maintenance and care for bonsai". Agriculture Monthly. Diakses tanggal 13 September 2020.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "P300T worth of threatened PH plant seized". Panay News. Diakses tanggal 13 September 2020.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "DENR seizes P300K worth of threatened plant species". Department of Environment and Natural Resources. Republic of the Philippines. Diakses tanggal 13 September 2020.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Tzu-hsuan, Liu. "Illegal picking of reef pemphis raises concern in Kenting". taipeitimes.com. Taipei Times. Diakses tanggal 30 April 2022.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)