Senin, 19 Oktober 2026
01:15 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten

Pemberontakan Soweto

Bagikan:
Apartheid di Afrika Selatan
Peristiwa dan proyek
Organisasi
Tokoh
Tempat
Topik terkait

Pemberontakan Soweto, yang juga dikenal sebagai 16 Juni, adalah serangkaian unjuk rasa yang dipimpin oleh para pelajar sekolah tinggi di Afrika Selatan yang dimulai pada pagi hari tanggal 16 Juni 1976.[1] Para pelajar dari sejumlah sekolah Sowetan mulai berunjuk rasa di jalanan Soweto dalam menanggapi pengenalan Afrikaans sebagai bahasa yang digunakan di sekolah-sekolah lokal.[2] Sekitar 20,000 students ikut dalam unjuk rasa tersebut. Mereka dihadapkan dengan perlawanan polisi secara brutal. Sejumlah pengunjuk rasa yang polisi bunuh biasanya disebut berjumlah 176 orang, dengan perkiraan lebih dari 700 orang.[3][4][5] 16 Juni sekarang dijadikan hari libur publik dengan nama Hari Pemuda di Afrika Selatan untuk mengenang peristiwa 1976 tersebut.[6]

Referensi

  1. ↑ "The birth and death of apartheid". Diakses tanggal 17 Juni 2002.
  2. ↑ The Youth Struggle http://www.sahistory.org.za/pages/governence-projects/june16/june16.htm Diarsipkan 2011-06-07 di Wayback Machine, 30.10.13
  3. ↑ 16 June 1976 Student Uprising in Soweto Diarsipkan 2017-03-01 di Wayback Machine. africanhistory.about.com
  4. ↑ Harrison, David (1987). The White Tribe of Africa.
  5. ↑ (Les Payne dari Newsday berkata bahwa sekitar 850 pembunuh terdokumentasi) Elsabe Brink; Gandhi Malungane; Steve Lebelo; Dumisani Ntshangase; Sue Krige, Soweto 16 June 1976, 2001, 9
  6. ↑ "16 June 1976: 'This is our day'".

Pranala luar

Audio luar
Guardian Unlimited audio recording of Antoinette Sithole on the Soweto uprising
Video luar
Soweto Uprising (2007) at the Internet Archive
BBC video of the Soweto uprisings
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan