Minggu, 01 November 2026
16:14 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Pemberontakan Kongo-Wara

Pemberontakan Kongo-Wara

Bagikan:
Pemberontakan Kongo-Wara
Tanggal1928–1931
Lokasi
Hasil Pemberontakan dipadamkan
Pihak yang terlibat
Suku Gbaya[1] Prancis Republik Prancis Ketiga[1]
Pemimpin atau tokoh terkemuka
Karnou †
Bissi
Yandjere
Auguste Lamblin
Paul Germain
Gaetan Germain
Pierre Crubillé
Lt. Boutin
Kekuatan
290.000 warga desa
60.000 prajurit
Tidak diketahui
Korban jiwa dan kerugian
10.000-100.000[2] Tidak diketahui
Bagian dari seri mengenai
Sejarah Afrika Tengah
Sejarah awal
Perode kolonial
Kemerdekaan
Kontemporer

Pemberontakan Kongo-Wara (juga dikenal dengan nama Perang Manche de Houe[3] dan Perang Baya)[4] adalah pemberontakan anti-kolonial yang terjadi di wilayah pedesaan di Afrika Khatulistiwa dan Kamerun Prancis. Pemberontakan ini dipicu oleh perekrutan penduduk asli untuk membangun jalur kereta api dan mengambil sumber daya karet.[5] Pemberontakan ini adalah pemberontakan yang kecil dan kurang dikenal bila dibandingkan dengan pemberontakan-pemberontakan lain yang terjadi di wilayah jajahan Prancis.[6]

Latar belakang

Barka Ngainoumbey (yang dikenal dengan sebutan Karnou, yang berarti "ia yang dapat mengubah dunia") adalah seorang nabi Gbaya dari wilayah cekungan Sungai Sangha. Pada tahun 1924, ia mulai mengajak pengikutnya untuk melawan penjajah Prancis tanpa menggunakan kekerasan. Hal ini dilakukan karena Prancis telah merekrut penduduk asli untuk membangun jalur kereta api Kongo-Samudra dan mengambil sumber daya karet, dan perilaku perusahaan-perusahaan Eropa yang terlibat dianggap kejam. Karnou juga mengajak pengikutnya untuk melawan suku Fula yang memerintah sebagian wilayah suku Gbaya di Kamerun Prancis sebagai perwakilan Prancis.[3][7][8] Perlawanan akan dilakukan dengan menggunakan obat-obatan tradisional yang dilambangkan dengan tongkat kecil yang disebut "koŋgo wara".[1] Mereka pun mulai memboikot barang-barang Eropa.[9][10] Pergerakan ini tidak disadari oleh pemerintah Prancis karena mereka tidak memiliki banyak orang di lapangan. Mereka baru sadar pada tahun 1927 setelah orang-orang Gbaya mulai mengangkat senjata. Pada masa ini terdapat 350.000 orang yang mengikuti gerakan Karnou.

Catatan kaki

  1. 1 2 3 Burnham, Philip; Christensen, Thomas (1983). "Karnu's Message and the 'War of the Hoe Handle': Interpreting a Central African Resistance Movement". Africa: Journal of the International African Institute. 53 (4): 3–22. doi:10.2307/1159708.
  2. ↑ Middleton, John (1997). Encyclopedia of Africa south of the Sahara. New York: C. Scribner's Sons. hlm. 163. ISBN 0684804662.
  3. 1 2 Giles-Vernick, Tamara (2002). Cutting the Vines of the Past: Environmental Histories of the Central African Rain Forest (Edisi 1. publ.). Charlottesville: University of Virginia Press. hlm. 31. ISBN 0813921031.
  4. ↑ Kalck, Pierre (2005). Historical dictionary of the Central African Republic (Edisi 3rd). Lanham (Md.): Scarecrow Press. hlm. xxviii. ISBN 0810849135.
  5. ↑ Fage, J.D.; Oliver, Roland Anthony (1986). The Cambridge history of Africa (Edisi Reprint). Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 397. ISBN 0521225051.
  6. ↑ Thomas, Martin (2005). The French empire between the wars: imperialism, politics and society. Manchester: Manchester Univ. Press. hlm. 211–244, 279, 350. ISBN 9780719065187.
  7. ↑ Shillington, Kevin (2004). Encyclopedia of African history (Edisi 1st). London: CRC Press. hlm. 401. ISBN 1579582451.
  8. ↑ Lea, David (2001). A Political Chronology of Africa (Edisi 1). London: Europa Publications. hlm. 72–73. ISBN 1857431162.
  9. ↑ Hill, Robert A.; Garvey, Marcus (2006). The Marcus Garvey and Universal Negro Improvement Association Papers. Berkeley: University of California Press. hlm. xcvi. ISBN 0520932757.
  10. ↑ O'Toole, Thomas (1984). "The 1928-1931 Gbaya Insurrection in Ubangui-Shari: Messianic Movement or Village Self-Defense?". Canadian Journal of African Studies. 18 (2): 329–344. doi:10.2307/484333.


Ikon rintisan

Artikel bertopik sejarah ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan