| Nama lengkap | PS. Pardedetex Medan |
|---|---|
| Nama singkat | Pardedetex |
| Kota/Kabupaten | Medan |
| Negara | Indonesia |
| Federasi | PSSI |
| Berdiri | 1968 |
| Dibubarkan | 1984 |
| Stadion | Gelora Pardede |
Persatuan Sepak Bola Pardedetex atau disingkat PS Pardedetex adalah sebuah bekas klub sepak bola profesional Indonesia yang pernah berbasis di Kota Medan, Sumatera Utara. Klub ini didirikan pada akhir tahun 1968 oleh seorang pengusaha tekstil terkemuka berdarah Batak,
Tumpal Dorianus Pardede (T.D. Pardede). Pardedetex dikenal sebagai pelopor klub sepak bola profesional di Indonesia pada era kompetisi Galatama, sebelum akhirnya secara resmi dibubarkan pada tahun 1984.[1]
Sejarah
Latar Belakang Pendirian
Gagasan pendirian Pardedetex berawal dari minat T.D. Pardede terhadap dunia sepak bola. Ia sendiri pernah bermain sepak bola antarkampung saat remaja di Serbelawan dan pernah tergabung dalam kesebelasan Sahata bersama Kamarudin Panggabean (salah satu pendiri PSMS Medan).Seiring dengan kesuksesan pabrik pemintalan tekstil miliknya, Pardedetex, yang didirikan pada tahun 1960, T.D. Pardede kemudian membentuk sebuah tim sepak bola dengan nama yang sama. Pada awalnya, klub sepak bola Pardedetex (1960-an) masih berstatus amatir yang para pemainnya hanya terdiri dari karyawan PT Pertekstilan TD Pardede. Klub ini mulanya hanya mengikuti pertandingan antartim perusahaan di Kota Medan dan kompetisi internal yang diselenggarakan oleh PSMS Medan.Pada penghujung tahun 1968, T.D. Pardede secara resmi mengubah status kesebelasan Pardedetex menjadi klub profesional. Keputusan ini menjadikan Pardedetex sebagai pionir sepak bola profesional di Indonesia, di saat kompetisi nasional saat itu, Liga Perserikatan, masih berstatus amatir dan klub-klubnya dikelola serta didanai oleh pemerintah daerah.[2]
Era Emas dan Galatama
Untuk memperkuat tim dan menjadikannya disegani di kancah nasional, T.D. Pardede tidak segan-segan mengeluarkan biaya besar. Klub ini merekrut pelatih legendaris, drg. Endang Witarsa, yang harus didatangkan dengan biaya perjalanan pulang-pergi Jakarta-Medan. Di bawah pengelolaan T.D. Pardede, Pardedetex memberikan kesejahteraan yang jauh di atas rata-rata bagi para pemainnya pada masa itu, termasuk gaji, fasilitas asrama, hingga uang saku bulanan.Keseriusan ini menarik banyak pemain bintang nasional untuk bergabung. Beberapa nama besar dari timnas Indonesia era 1970-an pernah merumput bersama Pardedetex, di antaranya adalah Iswadi Idris, Sucipto Suntoro, Abdul Kadir, M. Basri, dan kelak Patar Tambunan.Sejarah juga mencatat bahwa Pardedetex merupakan klub Indonesia pertama yang merekrut pemain asing, yakni gelandang asal Brasil, Jairo Matos, yang bermain pada musim ketiga Galatama. [3]Klub ini bermarkas di Stadion TD Pardede (Gelora Pardede) yang terletak di Jl. Binjai Km. 10,8, Sumatera Utara, menjadikannya salah satu dari sedikit klub di Indonesia pada era 80-an yang memiliki fasilitas stadion dan pusat latihan sendiri.Setelah sempat vakum, T.D. Pardede, yang pada tahun 1975 diangkat menjadi Ketua Umum PSSI, kembali menghidupkan klub ini. Pardedetex kemudian bergabung dengan Liga Sepak Bola Utama (Galatama), kompetisi semi-profesional yang digagas untuk memajukan persepakbolaan nasional. Prestasi terbaik Pardedetex di kompetisi Galatama diraih pada musim 1982-1983, di mana mereka berhasil finis dan nyaris meraih gelar juara.
Kemunduran dan Pembubaran
Meskipun menyandang status sebagai klub mewah dan bergengsi, Pardedetex gagal mengamankan gelar juara yang diidamkan. Memasuki dekade 1980-an, kompetisi Galatama mulai dirundung skandal suap, judi, dan pengaturan skor ("main sabun").Isu suap dan pengaturan skor yang melibatkan bandar judi ini menyeret banyak pihak, dan nama Pardedetex serta manajernya saat itu, Johny Pardede (anak dari T.D. Pardede), turut terkena imbas tudingan dan desas-desus, meskipun pada akhirnya keterlibatan tersebut tidak pernah terbukti secara sah. Tekanan mental akibat tuduhan yang terus-menerus ini, ditambah dengan kondisi persepakbolaan nasional yang dinilai sudah tidak sehat, membuat Johny Pardede jatuh sakit.Kekecewaan T.D. Pardede terhadap maraknya praktik kotor di sepak bola Indonesia, penurunan prestasi tim, serta masalah kesehatan yang menimpa putranya yang menjabat sebagai manajer, akhirnya berujung pada keputusan drastis. Pada tahun 1984, T.D. Pardede secara resmi menarik mundur Pardedetex dari kompetisi Galatama dan membubarkan klub yang telah dibesarkannya tersebut.[4]
Stadion
Pardedetex bermarkas di Stadion TD Pardede atau Gelora Pardede. Stadion dan pusat fasilitas latihan khusus ini dibangun terintegrasi di dekat kawasan industri tekstil Pardedetex, di Jalan Binjai Km. 10,8. Memiliki stadion milik sendiri merupakan sebuah kemewahan yang langka bagi sebuah klub sepak bola di Indonesia pada era Galatama. [5]
Mantan Pemain Terkenal
Jairo Matos (Brasil)
Referensi
- ↑ Simbolon, Sahatmatua I. L. "Klub Sepak Bola PS Pardedetex (1968-1984)". Repositori USU. Diakses tanggal 1 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Lubis, Naufan Silmi (2021). Perdedetex : Sang Pionir Sepakbola Profesional Indonesia. Fandom Football. ISBN 978-623-7564-90-4.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ "Jairo Matos dan Pardedetex: Kisah Pemain Asing Pertama di Liga Indonesia". Onefootball. Diakses tanggal 1 september 2026.
{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam:|access-date= - ↑ "Porak-poranda Galatama karena suap sepak bola". Alinea. 2021-11-11. Diakses tanggal 2026-09-01.
- ↑ "Jaino Matos Ungkap Pardedetex Punya Fasilitas Lengkap di Era 80-an". Indosport. 04 oktober 2019.
{{cite news}}: Periksa nilai tanggal dalam:|date=
