Sabtu, 17 Oktober 2026
06:44 WIB
TERKINI
Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super
Gelanggang Pacuan Kuda Pulomas

Gelanggang Pacuan Kuda Pulomas

bekas gelanggang pacuan kuda di Jakarta, Indonesia

Bagikan:
Defunct horse racing venue in Jakarta, IndonesiaTemplat:SHORTDESC:Defunct horse racing venue in Jakarta, Indonesia
Untuk gelanggang olahraga berkuda, lihat Jakarta International Equestrian Park.
Pacuan Kuda Pulomas
250px-Gelanggang_Pacuan_Kuda_Pulomas_diserahkan_oleh_kontraktor_kepada_Ali_Sadikin_sekaligus_menyaksikan_pacuan.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pacuan Kuda Pulomas, 1971
osm-intl,10,a,a,270x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Gelanggang_Pacuan_Kuda_Pulomas&revid=28945254&groups=_36809ce53e7c311d718aa37d2e2bfc18557955f2&parser=parsoid
Peta interaktif Pacuan Kuda Pulomas
LokasiKayu Putih, Pulo Gadung, Jakarta Timur, Indonesia
Koordinat6°10′47″S 106°53′22″E / 6.1797004°S 106.8893995°E / -6.1797004; 106.8893995
PemilikPT Pulo Mas Jaya
Operator
  • PORDASI
  • Djakarta Racing Management (dulu)
  • PT Amirin Ria (dulu)
Tanggal dibuka1971
Tanggal ditutup2016

Gelanggang Pacuan Kuda Pulomas adalah sebuah gelanggang pacuan kuda yang pernah ada di Pulo Gadung Jakarta Timur, Indonesia. Pacuan kuda ini beroperasi sejak tahun 1971 hingga penutupannya di tahun 2016. Arena pacuan kuda ini sekarang sudah digantikan oleh Jakarta International Equestrian Park.

Sejarah

Gelanggang Pacuan Kuda Pulomas dikembangkan pada akhir tahun 1960-an di bawah Gubernur Jakarta pada masa itu Ali Sadikin sebagai bagian dari proyek modernisasi kota Jakarta. Proyek ini menempati sekitar 86 hektar lahan milik Yayasan Perumahan Pulo Mas sebagai salah satu bagian proyek besar kota satelit Jakarta. Pemerintah provinsi Jakarta memulai pembangunan arena pacuan kuda ini, yang diresmikan oleh Ali Sadikin pada 21 April 1970 dan dibuka untuk umum pada bulan Agustus tahun 1971.[1] Gubernur Ali Sadikin juga bermitra dengan Alex Kawilarang, perwira TNI dan pendiri cikal bakal Kopassus, untuk menjabat sebagai wakil manajer umum Djakarta Racing Management, badan pengelola pacuan kuda tersebut.[2]

Proyek ini memiliki kaitan dengan hubungan bilateral Indonesia dengan Australia. Menurut laporan tahun 1971 di majalah mingguan The Bulletin, proyek tersebut menelan biaya sekitar 10 juta dolar Australia dan dibiayai melalui Djakarta Racing Club Investments Ltd., sebuah perusahaan patungan Australia-Indonesia yang dipimpin oleh pengusaha asal Melbourne, Ron Dabscheck, dengan dukungan pelatih kuda ternama Australia Bart Cummings dan investor lainnya. Perusahaan tersebut memiliki kontrak 15 tahun untuk mengelola lintasan, menyediakan 600 kuda (200 di antaranya telah diterbangkan dari Victoria, Australia), joki, pelatih, penangan, dan manajer.[3]

Pacuan Kuda Pulomas dilaporkan mengalami kerugian berturut-turut, yang menyebabkan Djakarta Racing Club Investments Ltd. menarik investasinya pada pertengahan tahun 1970-an. Awalnya, Gubernur Ali Sadikin mengusulkan pemberian subsidi bulanan sebesar 12 juta rupiah, tetapi dianggap tidak cukup untuk memenuhi untuk biaya operasional. Pada tahun 1979, PT Amirin Ria ikut mengelola lapangan pacuan kuda Pulomas dan membangun "arena ketangkasan" di lantai dua gedung tersebut.[4] Akan tetapi, pengelolaan PT Amirin Ria harus dihentikan pada tahun 1981, ketika pemerintah Indonesia sepenuhnya melarang perjudian di seluruh negeri.[5]

Pacuan Kuda Pulomas menjadi tempat penyelenggaraan berbagai pacuan kuda terkenal dan mengalami masa keemasannya pada tahun 1990-an. Pacuan kuda ini juga menjadi saksi kemenangan tiga pemenang Tiga Mahkota Indonesia, yakni Mystere (1978), Manik Trisula (2002), dan Djohar Manik (2014).[6][7]

Penutupan

Pada awal tahun 2010-an, beberapa bagian fasilitas tempat tersebut nampak terbengkalai dan tidak terawat, ditambah lagi dengan banjir yang rawan terjadi di daerah tersebut, terutama pada tahun 2007.[8][9]

Pada tahun 2016, Pacuan Kuda Pulomas dan area sekitarnya dimasukkan dalam rencana pembangunan kembali perkotaan Jakarta bersama dengan Kalijodo, Penjaringan, dan Bukit Duri. Proyek ini bertujuan untuk merevitalisasi lokasi tersebut sebagai bagian dari pembangunan arena berkuda untuk Asian Games 2018. Proyek ini membutuhkan pembersihan sebagian lintasan pacuan kuda beserta permukiman di sekitar arena. Akibatnya, para penduduk yang tinggal di sana yang merupakan atlet, pelatih, dan pemilik kuda harus segera dipindahkan ke rusun di Pulo Gebang. Langkah ini menuai banyak kritik mulai dari penduduk setempat hingga PORDASI.[10] Meskipun demikian, arena pacuan kuda ditutup pada pertengahan tahun 2016.[11]

Kontroversi

Perjudian

Salah satu kebijakan Gubernur Ali Sadikin yang terkenal kontroversial, terutama di kalangan umat Muslim, yakni mengizinkan perjudian di kota Jakarta dengan memungut pajaknya untuk pembangunan kota Salah satu 'tempat aman perjudian' tersebut termasuk Pacuan Kuda Pulomas.[12] Pada masa pembangunannya, proyek ini dinilai sensitif secara politik karena hubungannya dengan perjudian.[3]

Setelah larangan perjudian nasional pada tahun 1981, taruhan di Pacuan Kuda Pulomas tidak lagi diizinkan secara resmi.[13] Meskipun begitu, praktik kegiatan perjudian diam-diam terus berlanjut.[14]

References

  1. ↑ Bimantara, Johannes Galuh (Agustus 27, 2018). "Kisah Pulau di Tengah Kota". Kompas. kompas.id. Diakses tanggal 2025-10-21.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ Sadikin, Ali; Hadimadja, Ramadhan Karta Hadimadja (1992). Bang Ali demi Jakarta (1966-1977): memoar. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. hlm. 534.
  3. 1 2 Bressiac, Sam (12 Juni 1971). "Something Nobody Talks About". The Bulletin. Vol. 93, no. 4759. Sydney. hlm. 32–33 – via Trove.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ "Pulo Mas, Ketangkasan Atau Apa?". Tempo. 21 April 1979 – via Pusat Data dan Analisa Tempo (2020). Cerita Pacuan Kuda Pulo Mas, Tempo Doeloe dan Sekarang. Jakarta: TEMPO Publishing, pp. 24–30.{{cite magazine}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ "Pelaksanaan Penertiban Perjudian". Peraturan Pemerintah (PP) per . Vol. 9. Pemerintah Pusat Indonesia. JDIH BPK. Diakses tanggal 2025-10-29.
  6. ↑ Soehardjono, Oetari (1990). Kuda. Pamulang: Yayasan Pamulang Equestrian Centre. hlm. 336. ISBN 9798196007.
  7. ↑ Prasetya, Mochamad Hary (8 Juli 2025). "Mengenal Triple Crown di Pacuan Kuda, Kenapa Gelar Ini Begitu Sulit Diraih?". Bolasport. Diakses tanggal 29 Agustus 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. ↑ "Nasib Pacuan Kuda Pulomas yang Dulu Pernah Bersinar". Detik. detik.com. Juni 19, 2014. Diakses tanggal 2025-10-21.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. ↑ "Pulomas Berubah Bak Pasar Kaget". Detik. detik.com. Februari 4, 2007. Diakses tanggal 2025-10-24.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  10. ↑ Belarminus, Robertus (April 22, 2016). "Kekhawatiran Atlet dan Pelatih Kuda jika Pacuan Kuda Pulomas Digusur". Megapolitan Kompas. Kompas. Diakses tanggal 2025-10-11.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  11. ↑ Raya, Mercy (12 Mei 2016). "Pulomas Akan Tertutup untuk Semua Kegiatan, Termasuk untuk Binatang". Detik Sport. detiksport.com. Diakses tanggal 2025-10-23.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  12. ↑ Oswaldo, Ignasio Geordi (Mei 30, 2025). "Saat Jakarta Legalkan Judi: Kasino di Tengah Kota, Toto di Pinggir Pantai". Detik Finance. finance.detik.com. Diakses tanggal 2025-10-21.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  13. ↑ "Gandeng MUI, PT Pulomas Nihilkan Perjudian di Pacuan Kuda". Detik. detik.com. Juni 19, 2014. Diakses tanggal 2025-10-21.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  14. ↑ Almaizon; Refisrul (2009). Potensi Pacu Kudo Sebagai Objek Pariwisata di Nagari Vll Koto Talago, Kecamatan Guguk Kabupaten Lima Puluh Koto (PDF). Padang: BPSNT Padang Press. hlm. 40. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2025-10-26.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan