Senin, 12 Oktober 2026
12:04 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM

O Jawa

ejaan bahasa Jawa Latin non-standar yang banyak dipakai oleh masyarakat. Perbedaan dengan Ejaan Jawa Baku terutama pada penggunaan o untuk O-Jawa â (/ɔ/)

Bagikan:

O Jawa, O Jowo atau ejaan-O adalah fenomena yang timbul karena adanya pertentangan antara cara penulisan ejaan bahasa Jawa baku dan ejaan bahasa Indonesia. Dalam ejaan bahasa Indonesia huruf "a" hanya bisa dibaca /a/, sementara di dalam bahasa Jawa huruf "a" memiliki dua bunyi, yaitu /a/ dan /ɔ/.[1] Awalnya, semua kata dalam bahasa jawa yang dibaca /a/ maupun /ɔ/ ditulis menggunakan huruf "a". Sehingga kata-kata yang berasal dari bahasa Jawa yang mengandung huruf "a" dalam penulisannya semuanya dibaca /a/ walaupun dalam bahasa Jawa seharusnya dibaca /ɔ/. Kemudian, untuk mengakomodasi pembaca yang bukan berasal dari latar belakang bahasa Jawa huruf "a" yang dibaca /ɔ/ akhirnya ditulis menjadi "o" .

Contoh:

Bunyi /a/ dan /ɔ/ dikategorikan sebagai fonem yang berbeda bukan sebagai alofon karena penggunaannya dalam kata dapat mempengaruhi perbedaan makna. Vokal /ɔ/, bukan merupakan alofon dari /o/, namun vokal yang berdiri sendiri. Terletak di awal, tengah dan akhir kata. Contoh: Amba – rata - ula . [2]

Penggunaan

O Jawa ini berlaku untuk sebagian besar bahasa Jawa baku dalam beberapa dialek antara lain dialek Pati, Blora, Kedu, Madiun, Pantura Timur, Pekalongan, Semarang, Surabaya, Solo, dan Yogyakarta. Namun O Jawa tidak berlaku dan sangat jarang ditemukan dalam pembendaharaan kosakata bahasa Jawa dialek Tengger, Banyumasan,[3] Brebes, Bumiayu, Tegal. O Jawa juga bisa dikatakan tidak berlaku sama sekali untuk dialek bahasa Jawa yang didominasi kesundaan dan betawi seperti dialek Banten,[4] Dermayon dan bahasa Cirebon.


Nama tokoh yang jika ditulis menggunakan O Jawa

Referensi

  1. ↑ Max, Sinner. "Client Challenge". id.scribd.com. Diakses tanggal 2026-02-17.
  2. ↑ Sena, Ayu; W.n, Salwa Nurhomilatul; Putri, Sintia (2023-08-25). "Perbandingan Fonologi Bahasa Indonesia Dan Bahasa Jawa". Morfologi : Jurnal Ilmu Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya (dalam bahasa Inggris). 1 (4): 01–10. doi:10.61132/morfologi.v1i4.213. ISSN 3025-6038.
  3. ↑ kecuali sebagian kecil kosakata angka, misal 19 dituturkan songolas tidak sangalas.
  4. ↑ lebih tepatnya akhiran /a/ dibaca e, lih: sira dibunyikan sire
Ikon rintisan

Artikel bertopik bahasa ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan