Jumat, 30 Oktober 2026
12:21 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

O Jawa

ejaan bahasa Jawa Latin non-standar yang banyak dipakai oleh masyarakat. Perbedaan dengan Ejaan Jawa Baku terutama pada penggunaan o untuk O-Jawa â (/ɔ/)

Bagikan:

O Jawa, O Jowo atau ejaan-O adalah fenomena yang timbul karena adanya pertentangan antara cara penulisan ejaan bahasa Jawa baku dan ejaan bahasa Indonesia. Dalam ejaan bahasa Indonesia huruf "a" hanya bisa dibaca /a/, sementara di dalam bahasa Jawa huruf "a" memiliki dua bunyi, yaitu /a/ dan /ɔ/.[1] Awalnya, semua kata dalam bahasa jawa yang dibaca /a/ maupun /ɔ/ ditulis menggunakan huruf "a". Sehingga kata-kata yang berasal dari bahasa Jawa yang mengandung huruf "a" dalam penulisannya semuanya dibaca /a/ walaupun dalam bahasa Jawa seharusnya dibaca /ɔ/. Kemudian, untuk mengakomodasi pembaca yang bukan berasal dari latar belakang bahasa Jawa huruf "a" yang dibaca /ɔ/ akhirnya ditulis menjadi "o" .

Contoh:

Bunyi /a/ dan /ɔ/ dikategorikan sebagai fonem yang berbeda bukan sebagai alofon karena penggunaannya dalam kata dapat mempengaruhi perbedaan makna. Vokal /ɔ/, bukan merupakan alofon dari /o/, namun vokal yang berdiri sendiri. Terletak di awal, tengah dan akhir kata. Contoh: Amba – rata - ula . [2]

Penggunaan

O Jawa ini berlaku untuk sebagian besar bahasa Jawa baku dalam beberapa dialek antara lain dialek Pati, Blora, Kedu, Madiun, Pantura Timur, Pekalongan, Semarang, Surabaya, Solo, dan Yogyakarta. Namun O Jawa tidak berlaku dan sangat jarang ditemukan dalam pembendaharaan kosakata bahasa Jawa dialek Tengger, Banyumasan,[3] Brebes, Bumiayu, Tegal. O Jawa juga bisa dikatakan tidak berlaku sama sekali untuk dialek bahasa Jawa yang didominasi kesundaan dan betawi seperti dialek Banten,[4] Dermayon dan bahasa Cirebon.


Nama tokoh yang jika ditulis menggunakan O Jawa

Referensi

  1. ↑ Max, Sinner. "Client Challenge". id.scribd.com. Diakses tanggal 2026-02-17.
  2. ↑ Sena, Ayu; W.n, Salwa Nurhomilatul; Putri, Sintia (2023-08-25). "Perbandingan Fonologi Bahasa Indonesia Dan Bahasa Jawa". Morfologi : Jurnal Ilmu Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya (dalam bahasa Inggris). 1 (4): 01–10. doi:10.61132/morfologi.v1i4.213. ISSN 3025-6038.
  3. ↑ kecuali sebagian kecil kosakata angka, misal 19 dituturkan songolas tidak sangalas.
  4. ↑ lebih tepatnya akhiran /a/ dibaca e, lih: sira dibunyikan sire
Ikon rintisan

Artikel bertopik bahasa ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan