| Genre | Tari tradisional |
|---|---|
| Asal | Masyarakat Lampung beradat Saibatin |
Nyambai adalah tradisi dan seni pertunjukan masyarakat Lampung beradat Saibatin, terutama yang berkembang di wilayah pesisir Lampung. Dalam pelaksanaannya, Nyambai berkaitan dengan pertemuan sosial antara muli (gadis) dan mekhanai (bujang), serta menjadi bagian dari rangkaian upacara perkawinan adat Nayuh atau Penayuhan.[1]
Dalam kajian seni pertunjukan, Nyambai dapat merujuk pada pertunjukan tari yang melibatkan pasangan atau kelompok muli dan mekhanai. Tradisi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana interaksi sosial, silaturahmi, pewarisan nilai adat, dan dalam konteks tertentu sebagai ruang perkenalan antara pemuda dan pemudi.[2]
Istilah dan pengertian
Istilah Nyambai digunakan untuk menyebut suatu tradisi dan bentuk peristiwa budaya dalam masyarakat Lampung Saibatin. Dalam sejumlah kajian, Nyambai dipahami sebagai pertemuan adat yang mempertemukan muli dan mekhanai dalam suasana yang diatur oleh norma adat.[3]
Nyambai dalam konteks Saibatin tidak semata-mata merupakan nama suatu tari. Istilah tersebut dapat mencakup keseluruhan peristiwa adat, termasuk pertemuan masyarakat, pertunjukan tari, musik, sastra lisan, serta penggunaan simbol dan perlengkapan tertentu.[4]
Penelitian mengenai perubahan adat Nyambai di Marga Liwa menunjukkan bahwa pelaksanaan dan tata cara Nyambai mengalami perubahan seiring perubahan masyarakat. Perubahan tersebut antara lain berkaitan dengan tata busana, motif pakaian, perlengkapan, dan tata pelaksanaan kegiatan.[5]
Lingkungan budaya
Masyarakat Saibatin
Nyambai berkembang dalam lingkungan masyarakat Lampung yang menggunakan sistem adat Saibatin. Kajian mengenai kebudayaan Nyambai menyebut masyarakat Saibatin di kawasan pesisir sebagai pendukung utama tradisi tersebut.[6]
Penelitian mengenai masyarakat Saibatin menunjukkan bahwa adat berperan dalam mengatur hubungan kekerabatan, struktur sosial, serta berbagai kegiatan masyarakat. Dalam konteks tersebut, Nyambai menjadi salah satu bentuk ekspresi kebudayaan yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan adat.[7]
Kajian tentang eksistensi adat Saibatin pada masa modern juga menunjukkan bahwa masyarakat menghadapi perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi yang memengaruhi keberlanjutan praktik adat.[8]
Wilayah persebaran
Dokumentasi akademik mengenai Nyambai banyak berasal dari wilayah Pesisir Barat dan Lampung Barat, tetapi praktik dan bentuk yang berkaitan dengan Nyambai juga ditemukan dalam lingkungan adat Saibatin di wilayah Lampung lainnya.[9]
Di Lampung Barat, penelitian mengenai Nyambai antara lain dilakukan di kawasan Liwa dan Padang Cahya. Sementara itu, penelitian mengenai nilai keagamaan Nyambai dilakukan di Pekon Kembahang dan Negeri Ratu, Kecamatan Batu Brak.[10][11]
Nyambai dan upacara Nayuh
Nyambai memiliki hubungan erat dengan Nayuh atau Penayuhan, yaitu rangkaian upacara perkawinan adat dalam masyarakat Lampung Saibatin. Penelitian Cintia Restia Ningrum menempatkan Tari Nyambai sebagai salah satu bagian dari rangkaian upacara perkawinan adat tersebut.[12]
Dalam upacara Nayuh, masyarakat yang berada dalam lingkungan adat memiliki peran masing-masing. Muli dan mekhanai dapat menjadi wakil masyarakat dalam pelaksanaan Nyambai, sementara tokoh adat mempunyai peran dalam mengatur jalannya kegiatan.[13]
Dalam sejumlah penelitian, Nyambai dipahami sebagai bagian dari proses sosial yang berkaitan dengan perubahan status dari masa lajang menuju kehidupan perkawinan.[14]
Nyambai adat dan Nyambai Tuan
Penelitian Ningrum mengenai masyarakat Saibatin mencatat adanya pembagian Nyambai menjadi Nyambai adat dan Nyambai Tuan dalam konteks tertentu di dalam rangkaian Nayuh. Pembagian tersebut berkaitan dengan kedudukan dan struktur adat masyarakat pendukungnya.[15]
Pembagian tersebut tidak selalu dapat digeneralisasi untuk seluruh wilayah yang mengenal Nyambai karena bentuk pelaksanaan adat dapat berbeda menurut komunitas dan perkembangan setempat.[16]
Bentuk pertunjukan
Nyambai sebagai seni pertunjukan umumnya mempertemukan penari laki-laki dan perempuan dari kalangan muda. Dalam literatur akademik, kelompok perempuan disebut muli, sedangkan kelompok laki-laki disebut mekhanai.[17]
Bentuk pertunjukan Nyambai mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Penelitian Fitri Daryanti menunjukkan perubahan pada unsur gerak, pola lantai, musik, tata rias, busana, properti, tempat, dan waktu pertunjukan.[18]
Perubahan tersebut dipengaruhi antara lain oleh faktor ekonomi, pendidikan, teknologi, dan perubahan nilai budaya. Perkembangan Nyambai sebagai seni pertunjukan wisata juga turut memengaruhi bentuk pementasannya.[19]
Gerak dan koreografi
Unsur koreografi Nyambai dapat berbeda menurut komunitas, bentuk pertunjukan, dan perkembangan yang terjadi. Penelitian mengenai perubahan pertunjukan Nyambai menunjukkan bahwa gerak merupakan salah satu unsur yang mengalami penambahan dan pengembangan.[20]
Salah satu bentuk yang terdokumentasi adalah Tari Kipas Nyambai Bebai. Penelitian mengenai pembelajarannya di Sanggar Teluk Stabas, Pesisir Barat, menilai kemampuan penari berdasarkan urutan gerak, ketepatan gerak dengan iringan musik, dan penggunaan properti.[21]
Penelitian lain mengenai Tari Nyambai Kipas menganalisis berbagai ragam gerak pada pelaksanaan Nayuh di masyarakat Lampung Saibatin, termasuk pertunjukan yang terdokumentasi di Desa Tanjung Way Batang.[22]
Nyambai Kipas dan Nyambai Bebai
Nyambai Kipas merupakan bentuk pertunjukan yang menggunakan kipas sebagai properti. Dokumentasi akademik mengenai bentuk ini menunjukkan bahwa kipas menjadi bagian dari unsur koreografi dan teknik penggunaan properti dalam pertunjukan.[23]
Istilah Nyambai Bebai juga ditemukan dalam penelitian pembelajaran tari di Sanggar Teluk Stabas, Kabupaten Pesisir Barat. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa bentuk ini dipelajari melalui latihan kelompok dan menggunakan properti kipas.[24]
Penggunaan istilah bebai dalam berbagai sumber perlu dipahami berdasarkan konteks lokalnya dan tidak selalu dapat dianggap sebagai nama tunggal untuk semua bentuk Nyambai di Lampung.
Musik pengiring
Musik merupakan salah satu unsur pertunjukan Nyambai. Dalam penelitian mengenai perubahan bentuk pertunjukan, musik termasuk unsur yang mengalami perkembangan bersama gerak, pola lantai, tata rias, busana, dan properti.[25]
Musik dan sastra lisan dalam Nyambai dapat saling berhubungan karena pertunjukan juga disertai pantun atau syair. Penelitian mengenai Nyambai di Negeri Ratu menunjukkan bahwa pantun atau syair dapat mengandung pesan nasihat, doa, dan perkenalan.[26]
Sastra lisan, pantun, dan syair
Sastra lisan merupakan salah satu unsur penting dalam peristiwa Nyambai. Kajian terhadap sastra lisan Nyambai menunjukkan bahwa teks yang digunakan dalam tradisi tersebut mengandung nilai dan pesan yang berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat.[27]
Kajian terhadap Nyambai di Marga Pugung Tampak, Pesisir Barat, juga menganalisis pantun pengiring dari perspektif semiotika. Pantun dipahami sebagai bagian dari unsur yang menyampaikan nilai etika dan makna sosial dalam pelaksanaan tradisi.[28]
Di Negeri Ratu, penelitian mengenai Nyambai sebagai media dakwah mencatat adanya pesan tentang silaturahmi, sopan santun, tanggung jawab, ta'aruf, amal, adab berpakaian, dan penghormatan kepada tamu.[29]
Sirih dan pinang
Sirih dan pinang merupakan salah satu simbol penting dalam peristiwa Nyambai. Penelitian Fitri Daryanti dan kolega menunjukkan bahwa sirih pinang digunakan sebagai simbol yang berkaitan dengan persatuan, penghormatan, kebersamaan, silaturahmi, gotong royong, dan toleransi.[30]
Sirih juga dikaitkan dengan istilah Nyambai dalam sebagian literatur. Ningrum mencatat hubungan istilah tersebut dengan kata cambai, yang dalam bahasa Lampung merujuk pada sirih. Penjelasan tersebut berasal dari konteks penelitian lapangan dan tidak harus dianggap sebagai satu-satunya etimologi yang diterima.[31]
Fungsi sosial
Pertemuan muli dan mekhanai
Salah satu fungsi yang banyak dicatat dalam penelitian adalah sebagai ruang pergaulan antara muli dan mekhanai. Dalam konteks tradisional, pertemuan tersebut dapat berfungsi sebagai sarana berkenalan dan mencari pasangan.[32]
Kajian kontemporer juga membahas Nyambai sebagai bentuk ta'aruf budaya dalam masyarakat adat Lampung. Penelitian tersebut menempatkan interaksi antara muli dan mekhanai dalam konteks etika hubungan sosial dan perkawinan.[33]
Silaturahmi
Nyambai berfungsi sebagai sarana mempertemukan anggota masyarakat dan mempererat hubungan sosial. Fungsi tersebut terlihat dalam penelitian mengenai bentuk, fungsi, dan makna Nyambai pada masyarakat pesisir.[34]
Nilai silaturahmi juga muncul dalam penelitian mengenai simbol sirih pinang yang digunakan pada peristiwa Nyambai.[35]
Solidaritas sosial
Nyambai melibatkan berbagai unsur masyarakat sehingga pelaksanaannya dapat menjadi ruang kerja bersama. Penelitian tentang nilai Islam dalam tradisi Nyambai di Kembahang mengaitkannya dengan nilai Nemui Nyimah, Nengah Nyampur, dan Sakai Sambayan.[36]
Nilai gotong royong dalam kehidupan masyarakat Lampung juga banyak dikaji sebagai bagian dari kearifan lokal yang lebih luas dan dapat menjadi konteks sosial bagi pelaksanaan berbagai kegiatan adat.[37]
Nilai budaya
Nyambai dipahami sebagai salah satu bentuk identitas budaya masyarakat Lampung Saibatin. Penelitian mengenai fungsi, bentuk, dan maknanya menunjukkan bahwa Nyambai berkaitan dengan pola kehidupan masyarakat pesisir dan menjadi bagian dari proses akulturasi kebudayaan.[38]
Penelitian terbaru juga menggambarkan Nyambai sebagai bagian dari identitas budaya Lampung dan sebagai media interaksi serta penyebaran nilai budaya. Puisi dan pantun dalam Nyambai dipandang memiliki fungsi dalam mempertahankan unsur bahasa dan nilai moral.[39]
Hubungan dengan Piil Pesenggiri
Nyambai sering dibahas dalam kaitannya dengan nilai-nilai kehidupan masyarakat Lampung dan falsafah Piil Pesenggiri. Penelitian mengenai Nyambai di Sebarus, Lampung Barat, mengidentifikasi nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan dalam pelaksanaannya.[40]
Piil Pesenggiri sendiri merupakan salah satu konsep penting dalam kajian masyarakat Lampung dan mencakup seperangkat nilai yang berkaitan dengan kehidupan sosial, martabat, hubungan antarmanusia, dan kehidupan bermasyarakat.[41]
Kajian lain mengenai Piil Pesenggiri pada masyarakat Saibatin juga menunjukkan hubungan falsafah tersebut dengan perilaku sosial, sastra lisan, dan kehidupan adat.[42]
Nilai keagamaan
Nyambai berkembang dalam masyarakat Lampung yang mayoritas beragama Islam. Sejumlah penelitian secara khusus mengkaji hubungan antara praktik Nyambai dengan nilai-nilai Islam.[43]
Penelitian mengenai Nyambai di Marga Pugung Tampak menelaah nilai etika Islam yang muncul dalam tarian dan pantun pengiringnya.[44]
Sementara itu, penelitian di Negeri Ratu menempatkan pesan keagamaan dalam Nyambai sebagai salah satu aspek yang dapat digunakan sebagai media dakwah, khususnya melalui interaksi sosial, pantun, dan pelaksanaan adat.[45]
Hubungan dengan masyarakat dan nilai Pancasila
Penelitian di Pekon Sebarus menunjukkan bahwa pelaksanaan Nyambai dapat dibaca sebagai ruang praktik nilai-nilai Pancasila. Musyawarah sebelum pelaksanaan, pembagian tugas, pertemuan muli dan mekhanai, serta keterlibatan masyarakat menjadi bagian dari temuan penelitian tersebut.[46]
Temuan tersebut sejalan dengan kajian yang melihat Nyambai sebagai institusi budaya yang memiliki fungsi sosial dan memengaruhi pola hubungan masyarakat.[47]
Perubahan dan modernisasi
Nyambai mengalami perubahan bentuk dan fungsi dalam perkembangan masyarakat. Penelitian Daryanti menunjukkan bahwa perubahan dapat terjadi pada gerak, musik, pola lantai, busana, tata rias, properti, tempat, dan waktu pertunjukan.[48]
Penelitian tentang makna adat Nyambai di Marga Liwa juga menemukan perubahan pada tata rias, motif busana, perlengkapan, dan proses pelaksanaan.[49]
Modernisasi juga menjadi perhatian dalam penelitian mengenai keberlanjutan tradisi Nyambai di Lampung Barat. Kajian tersebut menunjukkan bahwa masyarakat melakukan berbagai bentuk adaptasi untuk mempertahankan tradisi dalam perubahan sosial.[50]
Perubahan minat masyarakat
Keberlanjutan Nyambai juga dipengaruhi oleh tingkat pemahaman dan keterlibatan masyarakat. Penelitian di Desa Kejadian, Lampung Barat, mengidentifikasi faktor pemahaman, kesadaran, kecintaan terhadap budaya, waktu, serta mobilitas remaja sebagai faktor yang berkaitan dengan minat masyarakat menjalankan adat Nyambai.[51]
Temuan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian Nyambai tidak hanya bergantung pada keberadaan pertunjukan, tetapi juga pada pewarisan pengetahuan, keterlibatan generasi muda, dan kemampuan masyarakat menyesuaikan bentuk tradisi dengan kondisi sosial baru.
Pewarisan dan pembelajaran
Nyambai diwariskan melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan adat dan latihan seni. Pembelajaran tari Kipas Nyambai Bebai di Sanggar Teluk Stabas menunjukkan bahwa latihan dapat dilakukan secara terstruktur melalui kegiatan kelompok.[52]
Pembelajaran tari Lampung di sekolah juga telah menggunakan unsur gerak Nyambai Kipas sebagai salah satu materi gerak dasar. Penelitian tahun 2025 mendokumentasikan penggunaan unsur Nyambai Kipas dalam pendekatan Brain Dance untuk pembelajaran gerak tari Lampung.[53]
Kajian mengenai sistem pewarisan tari masyarakat Saibatin juga menunjukkan pentingnya transmisi antargenerasi dan pendidikan budaya dalam mempertahankan seni tradisi.[54]
Nyambai dalam perkembangan seni pertunjukan
Perubahan Nyambai menunjukkan pergeseran dari peristiwa adat menuju bentuk pertunjukan yang juga dapat dipresentasikan dalam konteks pariwisata dan kegiatan kebudayaan.[55]
Di Kabupaten Lampung Barat, Tari Nyambai juga dipromosikan sebagai salah satu atraksi budaya di desa wisata. Portal Jadesta Kementerian Pariwisata mencatat Tari Nyambai sebagai atraksi di Desa Wisata Rigis Jaya.[56]
Perubahan fungsi tersebut tidak selalu berarti hilangnya fungsi adat. Sebaliknya, penelitian mengenai perubahan Nyambai menunjukkan bahwa unsur-unsur pertunjukan dapat mengalami adaptasi ketika Nyambai dipindahkan ke ruang pertunjukan publik atau pariwisata.[57]
Nyambai dalam konteks ritual lain
Istilah Nyambai juga digunakan dalam penelitian mengenai sejumlah kesenian yang hadir dalam rangkaian upacara adat. Di Keratuan Darah Putih, misalnya, Tari Selapanan diteliti sebagai bagian dari upacara adat Nyambai yang berkaitan dengan perkawinan dan pemberian gelar adat.[58]
Penelitian mengenai Tari Setiakh juga menempatkan tarian tersebut dalam konteks upacara Nyambai atau perkawinan adat keturunan Keratuan Darah Putih di Lampung Selatan.[59]
Hal tersebut memperlihatkan bahwa Nyambai dapat menjadi istilah yang lebih luas daripada satu koreografi tari tertentu dan dapat merujuk pada suatu konteks peristiwa adat yang di dalamnya terdapat beberapa bentuk seni pertunjukan.
Kedudukan perempuan dan laki-laki
Nyambai secara tradisional mempertemukan muli dan mekhanai. Pola tersebut mencerminkan fungsi sosial Nyambai sebagai ruang interaksi antara laki-laki dan perempuan muda dalam kerangka adat.[60]
Kajian etika relasional terhadap Nyambai juga menunjukkan bahwa hubungan antara muli dan mekhanai dibahas dalam kerangka interaksi sosial, perkenalan menuju perkawinan, serta norma hubungan antara laki-laki dan perempuan.[61]
Namun, bentuk pelaksanaan kontemporer dapat berbeda dari bentuk tradisional. Perubahan bentuk pertunjukan dan perubahan status peserta merupakan bagian dari dinamika Nyambai dalam masyarakat modern.[62]
Dokumentasi dan penelitian
Nyambai telah menjadi objek penelitian dalam berbagai disiplin, termasuk antropologi, sosiologi, seni pertunjukan, pendidikan seni, pendidikan agama, kajian sastra, dan studi hukum atau etika keluarga.[63]
Dokumentasi akademik tersebut penting karena pelaksanaan Nyambai tidak selalu seragam. Perbedaan antarkomunitas dapat muncul pada struktur acara, busana, gerak, musik, properti, peserta, tempat, serta hubungan Nyambai dengan rangkaian upacara adat.[64]
Pelestarian
Pelestarian Nyambai dilakukan melalui pewarisan dalam keluarga dan komunitas, latihan di sanggar, pendidikan seni, dokumentasi, serta pelaksanaan dalam kegiatan adat dan kebudayaan.[65]
Keterlibatan generasi muda menjadi salah satu perhatian penting. Penelitian mengenai minat masyarakat terhadap adat Nyambai menunjukkan bahwa pemahaman, kesadaran, kecintaan terhadap budaya, waktu, dan mobilitas generasi muda dapat memengaruhi keberlanjutan tradisi.[66]
Penggunaan Nyambai sebagai materi pendidikan budaya juga dapat menjadi salah satu bentuk pewarisan. Penelitian mengenai pembelajaran Nyambai Kipas dan Nyambai Bebai menunjukkan bahwa unsur tari dapat diajarkan melalui kegiatan sanggar maupun pembelajaran seni.[67]
Kajian terkait masyarakat Lampung Saibatin
Konteks Nyambai tidak dapat dilepaskan sepenuhnya dari sistem sosial masyarakat Saibatin. Kajian tentang adat Saibatin menunjukkan bahwa adat memiliki peranan dalam menjaga solidaritas sosial dan hubungan antara individu dengan komunitas.[68]
Nilai Nemui Nyimah, misalnya, dikaji sebagai bentuk kearifan lokal yang berkaitan dengan sikap menerima, menghormati, dan menjalin hubungan sosial dengan orang lain.[69]
Penelitian lain mengaitkan Nemui Nyimah dengan toleransi, multikulturalisme, pluralisme, dan humanisme dalam kehidupan masyarakat Lampung.[70]
Nilai Sakai Sambayan yang berkaitan dengan gotong royong dan saling membantu juga menjadi bagian dari kajian mengenai kehidupan masyarakat adat Lampung.[71]
Perbandingan dengan bentuk seni lain
Nyambai memiliki hubungan dengan berbagai bentuk seni pertunjukan dalam rangkaian upacara adat Lampung Saibatin. Penelitian mengenai Tari Bujantan Budamping, misalnya, membandingkannya dengan Tari Nyambai dalam konteks upacara perkawinan adat Nayuh.[72]
Di Lampung Selatan, Tari Selapanan juga diteliti sebagai bagian dari upacara adat Nyambai di Keratuan Darah Putih. Tarian tersebut berkaitan dengan pernikahan dan pemberian gelar adat.[73]
Dengan demikian, Nyambai dapat ditempatkan sebagai salah satu konteks penting dalam sistem seni pertunjukan dan upacara adat masyarakat Lampung Saibatin, tetapi bentuk kesenian yang tampil di dalamnya dapat berbeda menurut wilayah dan komunitas.
Lihat pula
- Lampung
- Budaya Lampung
- Saibatin
- Piil Pesenggiri
- Nayuh
- Pesisir Barat
- Lampung Barat
- Sastra Lampung
- Tari Lampung
- Tari Selapanan
- Tari Kipas Nyambai Bebai
Referensi
- ↑ Ningrum, Cintia Restia (2017). "Fungsi Tari Nyambai Pada Upacara Perkawinan Adat Nayuh Pada Masyarakat Saibatin di Pesisir Barat Lampung". JOGED. 10 (2): 533–546.
- ↑ Ningrum, Cintia Restia (2017). "Fungsi Tari Nyambai Pada Upacara Perkawinan Adat Nayuh Pada Masyarakat Saibatin di Pesisir Barat Lampung". JOGED. 10 (2): 533–546.
- ↑ Andika, Andika; Nurdin, Bartoven Vivit (2012). "Makna Adat Nyambai dan Perubahannya". Sosiologi: Jurnal Ilmiah Kajian Ilmu Sosial dan Budaya. 14 (1): 21–32. doi:10.23960/sosiologi.v14i1.104.
- ↑ Daryanti, Fitri; Jazuli, Muhammad; Sumaryanto, Totok; Hartono, Hartono (2019). "The Nyambai Culture in Coastal Communities: A Relationship to the Concept of Functions, Forms and Meanings". 2nd Workshop on Language, Literature and Society for Education (WOL2SED). EAI. doi:10.4108/eai.21-12-2018.2282704.
- ↑ Andika, Andika; Nurdin, Bartoven Vivit (2012). "Makna Adat Nyambai dan Perubahannya". Sosiologi: Jurnal Ilmiah Kajian Ilmu Sosial dan Budaya. 14 (1): 21–32. doi:10.23960/sosiologi.v14i1.104.
- ↑ Daryanti, Fitri; Jazuli, Muhammad; Sumaryanto, Totok; Hartono, Hartono (2019). "The Nyambai Culture in Coastal Communities: A Relationship to the Concept of Functions, Forms and Meanings". 2nd Workshop on Language, Literature and Society for Education (WOL2SED). EAI. doi:10.4108/eai.21-12-2018.2282704.
- ↑ Yusha, Bina; Sinaga, Risma Margaretha; Widodo, Sugeng (2021). "Kedudukan Anak Perempuan dalam Sistem Pewarisan pada Adat Ulun Lampung Saibatin di Kecamatan Pesisir Tengah Kabupaten Pesisir Barat". Socia: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial. 18 (1). doi:10.21831/socia.v18i1.39763.
- ↑ "Eksistensi dan Peran Adat dalam Kehidupan Masyarakat Suku Lampung Sai Batin di Era Modernisasi". Jurnal Punyimbang. 5 (2). 2025. doi:10.23960/punyimbang.v5i2.800.
- ↑ Ningrum, Cintia Restia (2017). "Fungsi Tari Nyambai Pada Upacara Perkawinan Adat Nayuh Pada Masyarakat Saibatin di Pesisir Barat Lampung". JOGED. 10 (2): 533–546.
- ↑ Andika, Andika; Nurdin, Bartoven Vivit (2012). "Makna Adat Nyambai dan Perubahannya". Sosiologi: Jurnal Ilmiah Kajian Ilmu Sosial dan Budaya. 14 (1): 21–32.
- ↑ Ambara, Heri (2020). Nilai-Nilai Islam dalam Tradisi Nyambai Adat Lampung Sai Batin di Pekon Kembahang Kecamatan Batu-Brak Lampung Barat (Tesis). UIN Raden Intan Lampung.
- ↑ Ningrum, Cintia Restia (2017). "Fungsi Tari Nyambai Pada Upacara Perkawinan Adat Nayuh Pada Masyarakat Saibatin di Pesisir Barat Lampung". JOGED. 10 (2): 533–546.
- ↑ Ningrum, Cintia Restia (2017). "Fungsi Tari Nyambai Pada Upacara Perkawinan Adat Nayuh Pada Masyarakat Saibatin di Pesisir Barat Lampung". JOGED. 10 (2): 533–546.
- ↑ Andika, Andika; Nurdin, Bartoven Vivit (2012). "Makna Adat Nyambai dan Perubahannya". Sosiologi: Jurnal Ilmiah Kajian Ilmu Sosial dan Budaya. 14 (1): 21–32.
- ↑ Ningrum, Cintia Restia (2017). "Fungsi Tari Nyambai Pada Upacara Perkawinan Adat Nayuh Pada Masyarakat Saibatin di Pesisir Barat Lampung". JOGED. 10 (2): 533–546.
- ↑ Daryanti, Fitri (2016). "Perubahan Bentuk Pertunjukan Tari Nyambai di Lampung Barat". Dewa Ruci: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni. 6 (3): 408–420. doi:10.33153/dewaruci.v6i3.959.
- ↑ Ningrum, Cintia Restia (2017). "Fungsi Tari Nyambai Pada Upacara Perkawinan Adat Nayuh Pada Masyarakat Saibatin di Pesisir Barat Lampung". JOGED. 10 (2): 533–546.
- ↑ Daryanti, Fitri (2016). "Perubahan Bentuk Pertunjukan Tari Nyambai di Lampung Barat". Dewa Ruci: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni. 6 (3): 408–420. doi:10.33153/dewaruci.v6i3.959.
- ↑ Daryanti, Fitri (2016). "Perubahan Bentuk Pertunjukan Tari Nyambai di Lampung Barat". Dewa Ruci: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni. 6 (3): 408–420.
- ↑ Daryanti, Fitri (2016). "Perubahan Bentuk Pertunjukan Tari Nyambai di Lampung Barat". Dewa Ruci: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni. 6 (3): 408–420. doi:10.33153/dewaruci.v6i3.959.
- ↑ Rinjani, Dewi; Habsary, Dwiyana; Wendhaningsih, Susi (2019). "Kemampuan Peserta Didik Menarikan Tari Kipas Nyambai Bebai di Sanggar Teluk Stabas". Jurnal Seni dan Pembelajaran. 7 (4).
- ↑ "Analisis Ragam Gerak Tari Nyambai Kipas pada Acara Nayuh Masyarakat Lampung Saibatin". Oriental: Jurnal Kajian Mutu Pendidikan. 1 (1). 2025. doi:10.23960/oriental.v1i1.1214.
- ↑ "Analisis Ragam Gerak Tari Nyambai Kipas pada Acara Nayuh Masyarakat Lampung Saibatin". Oriental: Jurnal Kajian Mutu Pendidikan. 1 (1). 2025. doi:10.23960/oriental.v1i1.1214.
- ↑ Rinjani, Dewi; Habsary, Dwiyana; Wendhaningsih, Susi (2019). "Kemampuan Peserta Didik Menarikan Tari Kipas Nyambai Bebai di Sanggar Teluk Stabas". Jurnal Seni dan Pembelajaran. 7 (4).
- ↑ Daryanti, Fitri (2016). "Perubahan Bentuk Pertunjukan Tari Nyambai di Lampung Barat". Dewa Ruci: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni. 6 (3): 408–420.
- ↑ Yaroza, Hegi (2023). Tradisi Nyambai sebagai Media Dakwah di Desa Negeri Ratu Kecamatan Batu-Brak Kabupaten Lampung Barat (Tesis). UIN Raden Intan Lampung.
- ↑ Kesuma Aini, Erika Oktora; Suyanto, Edi; Ariyani, Farida (2020). "Religious Value in Nyambai Oral Literature". IOSR Journal of Research & Method in Education. 10 (5): 26–31. doi:10.9790/7388-1005032631.
- ↑ Firdausa, Riski (2022). Nilai Etika Islam pada Tradisi Nyambai di Marga Pugung Tampak Pesisir Barat: Analisis Semiotika Model Roland Barthes (Tesis). UIN Raden Intan Lampung.
- ↑ Yaroza, Hegi (2023). Tradisi Nyambai sebagai Media Dakwah di Desa Negeri Ratu Kecamatan Batu-Brak Kabupaten Lampung Barat (Tesis). UIN Raden Intan Lampung.
- ↑ Daryanti, Fitri; Jazuli, Muhammad; Sumaryanto Florentinus, Totok; Hartono, Hartono (2020). "Values of Character Education in the Sirih Pinang Symbol: A Cultural Value of Coastal Society". Jurnal Pendidikan Progresif. 10 (2): 292–297. doi:10.23960/jpp.v10.i2.202013.
- ↑ Ningrum, Cintia Restia (2017). "Fungsi Tari Nyambai Pada Upacara Perkawinan Adat Nayuh Pada Masyarakat Saibatin di Pesisir Barat Lampung". JOGED. 10 (2): 533–546.
- ↑ Ningrum, Cintia Restia (2017). "Fungsi Tari Nyambai Pada Upacara Perkawinan Adat Nayuh Pada Masyarakat Saibatin di Pesisir Barat Lampung". JOGED. 10 (2): 533–546.
- ↑ Jafar, Wahyu Abdul; Jasim, Widad Mahdi; Al-Hayani, Ahmed Adil Musa; Mulyono, Edi; Mursalin, Supardi (2026). "Gender Relational Ethics in the Nyambai Tradition: A Living Fiqh al-Munākahāt Perspective on Ta'āruf among the Lampung Indigenous Community". AHKAM: Jurnal Ilmu Syariah. 26 (1). doi:10.15408/ajis.v26i1.50150.
- ↑ Daryanti, Fitri; Jazuli, Muhammad; Sumaryanto, Totok; Hartono, Hartono (2019). "The Nyambai Culture in Coastal Communities: A Relationship to the Concept of Functions, Forms and Meanings". 2nd Workshop on Language, Literature and Society for Education (WOL2SED). EAI. doi:10.4108/eai.21-12-2018.2282704.
- ↑ Daryanti, Fitri; Jazuli, Muhammad; Sumaryanto Florentinus, Totok; Hartono, Hartono (2020). "Values of Character Education in the Sirih Pinang Symbol: A Cultural Value of Coastal Society". Jurnal Pendidikan Progresif. 10 (2): 292–297. doi:10.23960/jpp.v10.i2.202013.
- ↑ Ambara, Heri (2020). Nilai-Nilai Islam dalam Tradisi Nyambai Adat Lampung Sai Batin di Pekon Kembahang Kecamatan Batu-Brak Lampung Barat (Tesis). UIN Raden Intan Lampung.
- ↑ Abdulsyani, Abdulsyani; et al. (2020). "Nilai Kearifan Lokal Sakai Sambayan pada Kehidupan Masyarakat Adat". Sosiologi: Jurnal Ilmiah Kajian Ilmu Sosial dan Budaya. 22 (1). doi:10.23960/sosiologi.v22i1.50.
{{cite journal}}: Penggunaan et al. secara eksplisit dalam:|last2= - ↑ Daryanti, Fitri; Jazuli, Muhammad; Sumaryanto, Totok; Hartono, Hartono (2019). "The Nyambai Culture in Coastal Communities: A Relationship to the Concept of Functions, Forms and Meanings". 2nd Workshop on Language, Literature and Society for Education (WOL2SED). EAI. doi:10.4108/eai.21-12-2018.2282704.
- ↑ Herlandani, Arika; Puspa, Tiara (2025). "Peran Nyambai sebagai Identitas dan Tradisi Budaya Lampung". Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar. 10 (4): 240–249. doi:10.23969/jp.v10i04.34564.
- ↑ Hidayat, Ally Nafal; Adha, Muhammad Mona; Nurhayati, Nurhayati (2023). "Implementasi Budaya Nyambai dalam Memperkuat Nilai-Nilai Pancasila di Pekon Sebarus Lampung Barat". De Cive: Jurnal Penelitian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. 3 (8): 257–264. doi:10.56393/decive.v3i8.1698.
- ↑ Kurniawan, Robi Cahyadi (2017). "Piil Pesenggiri: A Concept of Political Power in Lampung Culture". Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. 21 (1). doi:10.22146/jsp.28702.
- ↑ Fakhrurozi, Jafar; Puspita, Dian (2021). "Konsep Piil Pesenggiri dalam Sastra Lisan Wawancan Lampung Saibatin". Jurnal Pesona. 7 (1). doi:10.52657/jp.v7i1.1376.
- ↑ Ambara, Heri (2020). Nilai-Nilai Islam dalam Tradisi Nyambai Adat Lampung Sai Batin di Pekon Kembahang Kecamatan Batu-Brak Lampung Barat (Tesis). UIN Raden Intan Lampung.
- ↑ Firdausa, Riski (2022). Nilai Etika Islam pada Tradisi Nyambai di Marga Pugung Tampak Pesisir Barat: Analisis Semiotika Model Roland Barthes (Tesis). UIN Raden Intan Lampung.
- ↑ Yaroza, Hegi (2023). Tradisi Nyambai sebagai Media Dakwah di Desa Negeri Ratu Kecamatan Batu-Brak Kabupaten Lampung Barat (Tesis). UIN Raden Intan Lampung.
- ↑ Hidayat, Ally Nafal; Adha, Muhammad Mona; Nurhayati, Nurhayati (2023). "Implementasi Budaya Nyambai dalam Memperkuat Nilai-Nilai Pancasila di Pekon Sebarus Lampung Barat". De Cive: Jurnal Penelitian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. 3 (8): 257–264. doi:10.56393/decive.v3i8.1698.
- ↑ Daryanti, Fitri; Jazuli, Muhammad; Sumaryanto, Totok; Hartono, Hartono (2019). "The Nyambai Culture in Coastal Communities: A Relationship to the Concept of Functions, Forms and Meanings". 2nd Workshop on Language, Literature and Society for Education (WOL2SED). EAI. doi:10.4108/eai.21-12-2018.2282704.
- ↑ Daryanti, Fitri (2016). "Perubahan Bentuk Pertunjukan Tari Nyambai di Lampung Barat". Dewa Ruci: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni. 6 (3): 408–420. doi:10.33153/dewaruci.v6i3.959.
- ↑ Andika, Andika; Nurdin, Bartoven Vivit (2012). "Makna Adat Nyambai dan Perubahannya". Sosiologi: Jurnal Ilmiah Kajian Ilmu Sosial dan Budaya. 14 (1): 21–32. doi:10.23960/sosiologi.v14i1.104.
- ↑ Tashya, Nabila Anas; Mardhotillah, Sifa (2025). "Mempertahankan Tradisi Kebudayaan Sakura dan Nyambai di Lampung Barat dalam Era Modernisasi". Jurnal Tiyuh Lampung: Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan. 9 (1): 1–14. doi:10.23960/tiyuhlampung.v9i1.801.
- ↑ Nurhasan, Tambat; Holilluloh, Holilluloh; Yanzi, Hermi. "Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Menurunnya Minat Masyarakat untuk Menjalankan Adat Budaya Nyambai di Desa Kejadian". Jurnal Kultur Demokrasi.
- ↑ Rinjani, Dewi; Habsary, Dwiyana; Wendhaningsih, Susi (2019). "Kemampuan Peserta Didik Menarikan Tari Kipas Nyambai Bebai di Sanggar Teluk Stabas". Jurnal Seni dan Pembelajaran. 7 (4).
- ↑ Sari, Bela Rahma; Daryanti, Fitri; Juwita, Dwi Tiya (2025). "Pembelajaran Gerak Tari Dasar dengan Metode Pembelajaran Brain Dance di SD Negeri 2 Beringin Raya Bandar Lampung". Jurnal Seni dan Pembelajaran. 13 (2).
- ↑ Daryanti, Fitri; Sinaga, Risma Margaretha; Saputri, Amelia Hani (2025). "The Traditional Dance Inheritance System of the Saibatin Indigenous People in Keratuan Darah Putih as a Source of Cultural Literacy". Mudra Jurnal Seni Budaya. 40 (2): 143–155. doi:10.31091/mudra.v40i2.3138.
- ↑ Daryanti, Fitri (2016). "Perubahan Bentuk Pertunjukan Tari Nyambai di Lampung Barat". Dewa Ruci: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni. 6 (3): 408–420. doi:10.33153/dewaruci.v6i3.959.
- ↑ "Atraksi Tari Nyambai". Jadesta Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Diakses tanggal 15 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Daryanti, Fitri (2016). "Perubahan Bentuk Pertunjukan Tari Nyambai di Lampung Barat". Dewa Ruci: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni. 6 (3): 408–420.
- ↑ Adila, Heni Julia; Narawati, Tati; Supriatna, Agus (2023). "Fungsi Tari Selapanan pada Upacara Adat Nyambai". Ringkang: Kajian Seni Tari dan Pendidikan Seni Tari. 3 (2).
- ↑ Ramadhani, Amalia; Narawati, Tati; Dyani, Putri Lilis (2023). "Nilai Spiritual pada Koreografi Tari Setiakh di Keratuan Darah Putih". Ringkang: Kajian Seni Tari dan Pendidikan Seni Tari. 3 (2).
- ↑ Ningrum, Cintia Restia (2017). "Fungsi Tari Nyambai Pada Upacara Perkawinan Adat Nayuh Pada Masyarakat Saibatin di Pesisir Barat Lampung". JOGED. 10 (2): 533–546.
- ↑ Jafar, Wahyu Abdul; Jasim, Widad Mahdi; Al-Hayani, Ahmed Adil Musa; Mulyono, Edi; Mursalin, Supardi (2026). "Gender Relational Ethics in the Nyambai Tradition: A Living Fiqh al-Munākahāt Perspective on Ta'āruf among the Lampung Indigenous Community". AHKAM: Jurnal Ilmu Syariah. 26 (1). doi:10.15408/ajis.v26i1.50150.
- ↑ Andika, Andika; Nurdin, Bartoven Vivit (2012). "Makna Adat Nyambai dan Perubahannya". Sosiologi: Jurnal Ilmiah Kajian Ilmu Sosial dan Budaya. 14 (1): 21–32.
- ↑ Daryanti, Fitri (2016). "Perubahan Bentuk Pertunjukan Tari Nyambai di Lampung Barat". Dewa Ruci: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni. 6 (3): 408–420. doi:10.33153/dewaruci.v6i3.959.
- ↑ Daryanti, Fitri (2016). "Perubahan Bentuk Pertunjukan Tari Nyambai di Lampung Barat". Dewa Ruci: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni. 6 (3): 408–420.
- ↑ Tashya, Nabila Anas; Mardhotillah, Sifa (2025). "Mempertahankan Tradisi Kebudayaan Sakura dan Nyambai di Lampung Barat dalam Era Modernisasi". Jurnal Tiyuh Lampung: Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan. 9 (1): 1–14. doi:10.23960/tiyuhlampung.v9i1.801.
- ↑ Nurhasan, Tambat; Holilluloh, Holilluloh; Yanzi, Hermi. "Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Menurunnya Minat Masyarakat untuk Menjalankan Adat Budaya Nyambai di Desa Kejadian". Jurnal Kultur Demokrasi.
- ↑ Rinjani, Dewi; Habsary, Dwiyana; Wendhaningsih, Susi (2019). "Kemampuan Peserta Didik Menarikan Tari Kipas Nyambai Bebai di Sanggar Teluk Stabas". Jurnal Seni dan Pembelajaran. 7 (4).
- ↑ "Eksistensi dan Peran Adat dalam Kehidupan Masyarakat Suku Lampung Sai Batin di Era Modernisasi". Jurnal Punyimbang. 5 (2). 2025. doi:10.23960/punyimbang.v5i2.800.
- ↑ Pairulsyah, Abdulsyani; Abdulsyani; Suwarno, Suwarno; Damayantie, Anita (2019). "Nemui-Nyimah: Studi pada Penduduk Ragam Etnis dan Budaya di Wilayah Kabupaten Lampung Selatan". Sosiologi: Jurnal Ilmiah Kajian Ilmu Sosial dan Budaya. 21 (2). doi:10.23960/sosiologi.v21i2.42.
- ↑ Syahputra, Muhammad Candra; Ruslan, Idrus (2021). "Nemui Nyimah: Lampung Local Wisdom with Religious Moderation Insight". Akademika: Jurnal Pemikiran Islam. 26 (1). doi:10.32332/akademika.v26i1.3235.
- ↑ Abdulsyani, Abdulsyani; et al. (2020). "Nilai Kearifan Lokal Sakai Sambayan pada Kehidupan Masyarakat Adat". Sosiologi: Jurnal Ilmiah Kajian Ilmu Sosial dan Budaya. 22 (1). doi:10.23960/sosiologi.v22i1.50.
{{cite journal}}: Penggunaan et al. secara eksplisit dalam:|last2= - ↑ Nuraini, Lilis; Kuriawan, Agung; Bulan, Indra (2025). "Tari Bujantan Budamping vs Tari Nyambai: Kesetaraan dalam Upacara Adat Pernikahan Lampung Sai Batin (Nayuh)". Jurnal Seni dan Pembelajaran. 13 (3).
- ↑ Adila, Heni Julia; Narawati, Tati; Supriatna, Agus (2023). "Fungsi Tari Selapanan pada Upacara Adat Nyambai". Ringkang: Kajian Seni Tari dan Pendidikan Seni Tari. 3 (2).
Pranala luar
- Tari Nyambai di Jadesta, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia
- Perubahan Bentuk Pertunjukan Tari Nyambai di Lampung Barat di Repositori Universitas Lampung
- Fungsi Tari Nyambai pada Upacara Perkawinan Adat Nayuh di JOGED
- The Nyambai Culture in Coastal Communities di EAI