Minggu, 08 November 2026
21:34 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis

Naval Group

Bagikan:
Naval_Group_Logo.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail_unscaled
Logo perusahaan Naval Group dari Prancis

Naval Group adalah grup perusahaan asal Prancis yang bergerak di industri pertahanan, yang memiliki spesialisasi dalam pendesainan, pengembangan dan pembangunan pertahanan angkatan laut. Memiliki kantor pusat yang terletak di Kota Paris.

Sejarah

Grup perusahaan ini mempekerjakan lebih dari 18.000 orang di 18 negara. Naval Group, sebuah perusahaan swasta berbadan hukum di mana menurut data yang tercatat sejak tanggal 31 Desember 2021, bahwa negara Prancis memegang saham sebesar 62,25% pada perusahaan ini, dan sisanya dipegang oleh Thales sebesar 35% serta sejumlah kecil porsi 1,58% saham dipegang oleh karyawan dan mantan karyawan melalui reksa dana perusahaan yang dikelola sendiri. Naval Group adalah ahli waris galangan kapal angkatan laut Prancis dan "Direction des Constructions et Armes Navales" (DCAN) yang kemudian menjadi DCN ("Direction des Constructions Navales") pada tahun 1991 dan DCNS sejak 2007, lalu dari DCNS menjadi Naval Group di tahun 2017.[1][2]

Kontroversi

Australia

Naval Group terlibat kasus pembatalan kontrak dengan salah satu negara di kawasan Pasifik yaitu Australia. Yang mana kontrak senilai US$ 90 miliar dibatalkan secara sepihak oleh pemerintah Australia.[3] Sebelumnya pemerintah Australia dengan pemerintah Prancis telah bersepakat akan kontrak pengadaan 12 kapal selam melalui kontraktor galangan kapal dalam negeri mereka yakni Naval Group pada tahun 2016.[4] Kontrak tersebut berisi perjanjian pendesainan dan pembangunan sebanyak 12 unit kapal selam kelas barracuda. Latar belakang Australia membatalkan kontrak perjanjian pertahanan ini adalah karena disebabkan adanya perubahan haluan strategi pemerintah dalam membuat keputusan yang berhubungan dengan kepentingan nasional.[5] Intinya kapal selam konvensional yang bertenagakan diesel-elektrik sudah tidak mampu lagi mencukupi kebutuhan yang dimiliki angkatan laut Australia, terlebih lagi semenjak dibentuknya pakta pertahanan negara ini dengan dua negara di Samudra Atlantik yakni Amerika Serikat dan Britania Raya, dimana pakta pertahanan tersebut dinamakan AUKUS. Maka dari itu, dengan terbentuknya AUKUS, maka pemerintah Australia lebih berminat pada kapal selam dengan teknologi yang bertenagakan nuklir.

Tetapi perselisihan ini akhirnya dapat diselesaikan, dengan niat Australia untuk melakukan normalisasi hubungan dengan Prancis, melalui persetujuan pembayaran kompensasi atas pembatalan kontrak pembangunan kapal selam sebesar US$ 835 juta.[6]

Referensi

  1. ↑ navaltoday (2017-06-28). "French DCNS changes name to Naval Group". Naval Today (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2022-11-07.
  2. ↑ "DCNS changes its name to Naval Group". www.austandnzdefence.com. Diakses tanggal 2022-11-07.
  3. ↑ "Australia tore up French submarine contract 'for convenience' Naval Group says". the Guardian (dalam bahasa Inggris). 2021-09-29. Diakses tanggal 2022-11-07.
  4. ↑ Gady, Franz-Stefan. "Australia, France Sign Deal to Build 12 Submarines". thediplomat.com (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2022-11-07.
  5. ↑ "French President accuses PM of lying about submarine contract". ABC News (dalam bahasa Australian English). 2021-10-31. Diakses tanggal 2022-11-07.
  6. ↑ "Australia settles French submarine bill as total cost blows out to $3.4 billion". ABC News (dalam bahasa Australian English). 2022-06-11. Diakses tanggal 2022-11-07.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan