| Rukn al-Din Muhammad II | |
|---|---|
Muhammad II mourning for his wife (the daughter of Abbasid Caliph Al-Muqtafi). Folio from a manuscript of Nigaristan, Iran, probably Shiraz, dated 1573–74. | |
| Sultan of the Seljuq Empire | |
| Berkuasa | 1153–1159 |
| Pendahulu | Malik-Shah III |
| Penerus | Suleiman-Shah |
| Wali | Ahmad Sanjar (1153–1157) |
| Lahir | April 1128[1] |
| Meninggal | December 1159 – January 1160[1] Hamadan |
| Ayah | Mahmud II |
| Ibu | Zahida Khatun (?)[2] |
| Pasangan | Templat:Unbulletedlist |
| Wangsa | House of Seljuq |
| Agama | Sunni Islam |
Rukn al-Din Muhammad II ibn Mahmud (1128–1159) adalah Sultan Kekaisaran Seljuk Seljuq Empire sejak tahun 1153 hingga 1159. Ia anak dari Mahmud II dan saudara dari Malik Syah III. Buku The Cambridge History of Iran menulis bahwa Sultan Muhammad "berusaha sekuat tenaga memulihkan kekuasaannya yang tergelincir sebagai dinasti penguasa di Irak"..[3]
Kehidupan
Dia dibesarkan di Fars bersama saudaranya Malik Syah III. Pada tahun 1148, paman mereka Sultan Ghiyath ad-Din Mas'ud, yang tidak memiliki ahli waris dan berada dalam posisi yang lemah, menunjuk Malik Syah III sebagai ahli waris, dan menyerahkan putrinya untuk dinikahkan dengannya. Pada tanggal 13 September 1152, Mas'ud meninggal di Hamadan, dan Malik Syah III naik takhta. Pada tahun 1153, Muhammad, yang saat itu berada di Khuzestan, bersama pasukannya berbaris menuju Iraq untuk menggulingkan saudaranya dari tahta Seljuk, lalu merebut singgasana untuk dirinya sendiri.[3] Sementara itu, pemberontak Abbasiyah di bawah Kalifah ] al-Muqtafi menangkapi orang-orang Turki di Irak, dan pada tahun 1155 mendukung klaim tandingan atas takhta, Sulaiman Syah. Selain itu, al-Muqtafi juga mengirim pasukan untuk menaklukkan Jibal, namun pasukan tersebut dikalahkan oleh Muhammad.[3][3] Pada tahun 1157, Muhammad berbaris ke ibu kota Abbasia di Baghdad dengan pasukan berkekuatan 30.000 orang, sementara sekutunya dari Zangid, Qutb ad-Din Mawdud, berbaris dari Mosul untuk merebut provinsi-provinsi Kekhalifahan di Irak Tengah. Pada tanggal 12 Januari, Muhammad mencapai tembok Baghdad bagian barat.
Sebagai tanggapan, Khalifah mengumpulkan seluruh pasukannya dari Hillah dan Wasit untuk mempertahankan ibu kota. Pada bulan Februari, karena tidak mampu mempertahankan Baghdad bagian barat, khalifah meninggalkan sisi barat dan memerintahkan seluruh jembatan di atas sungai Tigris, yang memisahkan sisi barat Baghdad dari sisi timurnya, untuk dihancurkan. Karena komunikasi sudah terputus, Muhammad menyeberang ke sisi barat dan merebutnya dengan mudah, lalu mendirikan kampnya sementara pada saat yang sama khalifah memperkuat tembok Baghdad bagian timur. Beberapa catapult dan balista dipasang di dinding kota. Khalifah juga mempersenjatai penduduk asli Baghdad dengan memberi mereka baju besi dan senjata, serta menghasut mereka untuk melawan musuh kekhalifahan, yang ia sebut sebagai orang kafir karena mereka berperang melawan khalifah, penerus nabi dan pemimpin umat. Ia juga memerintahkan wazirnya Awn ad-Din ibn Hubayra untuk memberikan 5 dinar emas kepada setiap prajurit yang terluka.
Pada tanggal 4 Maret, Sultan Muhammad dan sekutunya Zayn ad-Din, wazir Qutb ad-Din, menyerang Baghdad bagian timur dan membombardir kota tersebut. Pasukan Baghdad berhasil memukul mundur serangan itu berkat keberanian penduduk asli Baghdad dan para naffatun.
Pada tanggal 29 Maret, orang-orang Seljuk memperbaiki salah satu jembatan dan menyeberang ke sisi timur kota, di mana mereka terlibat bentrokan dengan pasukan Khalifah dan milisi warga lokal Baghdad. Para naffatun menghancurkan beberapa katapel. Seljuk mencoba membobol gerbang dengan ram, tetapi dihancurkan oleh catapult yang berbaris di atas tembok. Hasil pertempuran tetap tidak menentu bagi kedua belah pihak. Pada tanggal 29 Juni, Sultan Muhammad memerintahkan anak buahnya untuk memanjat tembok. Dia telah membuat 400 tangga untuk memanjat tembok Baghdad, tetapi serangan itu berhasil dipukul mundur dan banyak jatuh korban jiwa. Sementara itu Nur ad-Din Zangi menyalahkan saudaranya Qutb ad-Din karena menyerang wilayah kekhalifahan, sehingga merusak aliansi Zangidiyah dan Seljuk. Zayn ad-Din menghentikan pengepungan dan kembali ke Mosul.
Muhammad sendiri juga terpaksa menghentikan pengepungan setelah anak buahnya memberi tahu bahwa saudaranya Malik-Shah III telah merebut Hamadan. Dia akhirnya menyadari bahwa pengepungan itu sia-sia, dan lebih baik memilih merebut tahta untuk dirinya sendiri. Dengan demikian Pengepungan Baghdad berakhir pada 13 Juli 1157. Muhammad berhasil memukul mundur Malik Syah III dalam waktu singkat, namun jatuh sakit pada periode ini, dan akhirnya meninggal pada tahun 1159 di Hamadan.[4] amir yang cukup kuat dari Ray, Ïnanch Sonqur, kemudian mendudukkan Sulaiman Syah ke atas takhta Seljuk.[5]
Referensi
- 1 2 al-Athīr, I.D.I.; Richards, D.S. (2006). The Chronicle of Ibn Al-Athīr for the Crusading Period from Al-Kāmil Fīʼl-taʼrīkh: The years 541-589. Crusade texts in translation. Ashgate. hlm. 110. ISBN 978-0-7546-4078-3.
- ↑ Lambton, A.K.S. (1988). Continuity and Change in Medieval Persia. Bibliotheca Persica. Bibliotheca Persica. hlm. 271. ISBN 978-0-88706-133-2.
- 1 2 3 4 Bosworth 1968, hlm. 175. sfn error: tanpa target: CITEREFBosworth1968 (bantuan)
- ↑ Bosworth 1968, hlm. 176. sfn error: tanpa target: CITEREFBosworth1968 (bantuan)
- ↑ Bosworth 1968, hlm. 177. sfn error: tanpa target: CITEREFBosworth1968 (bantuan)