Senin, 12 Oktober 2026
07:49 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka
Mirah darah

Mirah darah

Batu Permata

Bagikan:
Mirah darah
330px-Carneol-Kristalle_Magic_Stones.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Umum
KategoriMineral
Rumus kimiaSilika (silikon dioksida, SiO2)
Identifikasi
Massa rumus60 g/mol
Kekerasan skala Mohs6–7

Mirah darah atau batu ahmar adalah batuan mineral akik merah kecokelatan yang biasanya digunakan sebagai batu permata. Batu ini adalah ragam dari mineral silika kalsedon. Warnanya berasal dari noda bijih besi. Warna dari batu ini bisa sangat beragam, mulai dari jingga pucat sampai hitam sangat pekat. Batu ini umumnya ditemukan di Indonesia, Brasil, India, Rusia (Siberia), dan Jerman.

250px-Carnelian_intaglio_Prolemaic_queen_CdM_Paris.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
ukiran Mirah darah berupa seorang ratu Ptolemaik, karya Yunani kuno, Cabinet des Médailles
250px-Korwin_signet-ring1.PNG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ukiran cincin cap Polandia dalam Mirah darah berwarna jingga terang yang menunjukkan lambang Korwin

Rujukan

Bacaan lanjut

  • Allchin, B. 1979. "The agate and carnelian industry of Western India and Pakistan". – In: South Asian Archaeology 1975. E. J. Brill, Leiden, 91–105.
  • Beck, H. C. 1933. "Etched carnelian beads". – The Antiquaries Journal, 13, 4, 384–398.
  • Bellina, B. 2003. "Beads, social change and interaction between India and South-east Asia". – Antiquity, 77, 296, 285–297.
  • Brunet, O. 2009. "Bronze and Iron Age carnelian bead production in the UAE and Armenia: new perspectives". – Proceedings of the Seminar for Arabian Studies, 39, 57–68.
  • Carter, A. K., L. Dussubieux. 2016. "Geologic provenience analysis of agate and carnelian beads using laser ablation-inductively coupled plasma-mass spectrometry (LA-ICP-MS): A case study from Iron Age Cambodia and Thailand". – J. Archeol. Sci.: Reports, 6, 321–331.
  • Cornaline de l'Inde. Des pratiques techniques de Cambay aux techno-systèmes de l'Indus (Ed. J.-C. Roux). 2000. Éditions de la Maison des sciences de l'homme, Paris, 558 pp.
  • Glover, I. 2001. "Cornaline de l'Inde. Des pratiques techniques de Cambay aux techno-systèmes de l'Indus (sous la direction de V. Roux). – Bulletin de l'École française d'Extrême-Orient, 88, 376–381.
  • Inizan, M.-L. 1999. "La cornaline de l’Indus à la Mésopotamie, production et circulation: la voie du Golfe au IIIe millénaire". – In: Cornaline et pierres précieuses. De Sumer à l'Islam (Ed. by F. Tallon), Musée du Louvre, Paris, 127–140.
  • Insoll, T., D. A. Polya, K. Bhan, D. Irving, K. Jarvis. 2004. "Towards an understanding of the carnelian bead trade from Western India to sub-Saharan Africa: the application of UV-LA-ICP-MS to carnelian from Gujarat, India, and West Africa". – J. Archaeol. Sci., 31, 8, 1161–1173.
  • Kostov, R. I.; Pelevina, O. (2008). "Complex faceted and other carnelian beads from the Varna Chalcolithic necropolis: archaeogemmological analysis". Proceedings of the International Conference "Geology and Archaeomineralogy". Sofia, 29–30 October 2008. Sofia: Publishing House "St. Ivan Rilski": 67–72.
  • Mackay, E. 1933. "Decorated carnelian beads". – Man, 33, Sept., 143–146.
  • Theunissen, R. 2007. "The agate and carnelian ornaments". – In: The Excavations of Noen U-Loke and Non Muang Kao (Eds. C. Higham, A. Kijngam, S. Talbot). The Thai Fine Arts Department, Bangkok, 359–377.

Pranala luar

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Carnelian.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan