Minggu, 11 Oktober 2026
01:37 WIB
TERKINI
Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober

Midodareni

Bagikan:

Midodareni adalah salah satu tahapan krusial dalam rangkaian upacara pranikah pada pernikahan adat Jawa.[1] Prosesi ini diselenggarakan pada malam hari menjelang acara inti, yakni akad nikah (ijab kabul) atau pemberkatan pada keesokan harinya. Malam midodareni sering disebut sebagai malam "pingitan" terakhir bagi calon pengantin wanita sebelum ia resmi bergelar istri.

Etimologi

Secara etimologis, istilah midodareni berasal dari akar kata dalam bahasa Jawa, yakni widodari yang berarti bidadari.[2] Dalam kepercayaan masyarakat Jawa tradisional, diyakini bahwa pada malam tersebut para bidadari dari kahyangan turun ke bumi untuk menyambangi dan memberikan aura kecantikan kepada calon pengantin wanita. Oleh karena itu, calon pengantin wanita dipingit di dalam kamar dan tidak diperkenankan menemui tamu atau keluar rumah, dengan harapan esok harinya ia akan tampil cantik dan bercahaya layaknya seorang bidadari.

Tata Cara dan Rangkaian

Meskipun calon pengantin wanita berdiam diri di dalam kamar (biasanya hanya ditemani oleh kerabat dan sesepuh perempuan yang memberikan wejangan), malam midodareni melibatkan interaksi penting antara keluarga pihak laki-laki dan perempuan. Beberapa prosesi utama di malam midodareni meliputi:[3]

  1. Jonggolan (Nyantri): Calon pengantin pria beserta perwakilan keluarganya datang ke rumah calon pengantin wanita. Tujuannya adalah untuk menunjukkan fisik atau "menampakkan diri" (jonggol) guna membuktikan bahwa sang pria dalam keadaan sehat jasmani, rohani, dan mantap untuk melangsungkan pernikahan esok harinya. Calon pengantin pria tidak diperbolehkan melihat calon istrinya. Ia hanya dijamu dengan segelas air putih hangat (banyu wening) yang melambangkan kemurnian dan ketenangan hati.
  2. Tantingan: Kedua orang tua calon pengantin wanita akan mendatangi kamar putrinya dan bertanya (menanting) untuk memastikan kembali kemantapan hati sang anak. Sang anak kemudian akan menjawab bahwa ia telah siap dan ikhlas dinikahkan dengan pria pilihannya.
  3. Turunnya Kembar Mayang: Pembawaan sepasang hiasan janur (kembar mayang) yang melambangkan peneduh, pengayoman, dan perlindungan bagi keluarga yang baru akan dibentuk.
  4. Catur Wedha: Calon pengantin pria akan menerima wejangan (nasihat) dari ayah calon pengantin wanita. Nasihat ini biasanya berisi empat pedoman hidup (catur wedha) yang meliputi: bersikap religius, menjaga sikap kekeluargaan, menjaga kesopanan (tata krama) di masyarakat, serta bertindak bijaksana sebagai calon kepala rumah tangga.

Makna Filosofis

Prosesi midodareni bukan sekadar ritual menyambut hari pernikahan, melainkan sebuah medium pendidikan prapengantin. Bagi calon pengantin pria, prosesi ini adalah ujian kesabaran (karena belum boleh menemui calon istri) sekaligus momen transisi untuk mendengarkan wejangan terakhir dari calon mertuanya. Sementara bagi calon pengantin wanita, ini adalah fase pembersihan diri dan pemusatan pikiran agar mentalnya siap memasuki gerbang Salaki Rabi (berumah tangga).[4]

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Bratawijaya, Thomas Wiyasa (1990). Upacara Tradisional Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Hal. 54.
  2. ↑ Koentjaraningrat (1994). Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka. Hal. 132.
  3. ↑ Endraswara, Suwardi (2006). Falsafah Hidup Jawa. Yogyakarta: Cakrawala. Hal. 92-95.
  4. ↑ Geertz, Hildred (1961). The Javanese Family: A Study of Kinship and Socialization. New York: Free Press.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan